Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.
Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.
Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.
Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KASUS 1 bagian 4
Acara malam itu berlalu begitu saja, hingga seminggu berlalu gosip tentang Andre dan Sora sudah menyebar dan mengema di setiap sudut sekolah. Mitha juga tidak membaik dan rumor tentang keretakan geng sosialita juga mulai terdengar hampir di sepanjang koridor sekolah, semua orang membicarakan hal tersebut. Membuat orang-orang yang terlibat bosan dan muak.
Senin itu matahari bersinar cerah dan Daniel datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Belum ada satu pun siswa yang terlihat di gedung IPS, bahkan tempat parkir pun baru terisi satu motor. Dia duduk di kursinya dan menghela nafas, namun pandangannya teralih pada meja paling depan di barisan pertama. Ada sosok arwah siswi berseragam OSIS duduk di sana menatap ke papan tulis. Daniel belum pernah melihat arwah itu sebelumnya. Kenapa ia muncul hari ini?
Namun sebelum Daniel sempat menganalisis keadaan, pintu kelas telah dibuka dan arwah itu meghilang secepat kilat. Hani masuk dengan wajah yang ditekuk dan memelototi Daniel begitu melihatnya sudah duduk di kursinya.
“Kemana kamu pergi setelah jam terakhir di hari Jum’at?” tanya Hani.
“Pergi ke mushola bersama Andre, lalu pulang” jawab Daniel jujur.
“Kamu tahu apa yang terjadi sama motor Andre?” tanya Hani lagi.
“Ya tidak lah, aku pulang. Memangnya kenapa?”
Hani menghela nafas lelah, membanting tasnya ke meja dan duduk dengan dramatis.
“Motor Andre dirusak orang, belum ketemu pelakunya siapa. CCTV tiba-tiba rusak dan yang terpenting pelaku tidak meninggalkan jejak sama sekali” ucap Hani. Dia duduk di bangku depan Daniel, menjelaskan tanpa menatapnya.
Daniel ingin mengajukan pertanyaan lainnya tapi pintu kelas sudah kembali terbuka. Jonatan masuk dengan wajah yang sangat kesal, disusul Ilyas yang mengoceh marah dengan logat khas timurnya. Lalu tidak lama kemudian Andre masuk dengan wajah malas.
“Sepertinya semester ini aku mau cuti dulu, berangkat pas ujian saja” ucap Andre setelah duduk di sebelah Daniel.
“Apa nih pagi-pagi ribut?” tanya Hani ikut panik.
“Kau tau anak haram kepala sekolah itu? Tidak tau ada masalah apa tiba-tiba marah-marah pada kami seperti orang kesurupan. Untung ada bapak satpam kalau tidak, kita akan masuk ruang rawat hari ini bukan ruang kelas” jawab Ilyas. Hani menghela nafas keras mendengarnya. Merasa ada yang tidak beres ia segera keluar dari kelas tanpa mengatakan sepatah kata pun. Biarkan ratu gosip mencari biang masalah.
Satu persatu anak pun masuk ke kelas dengan raut wajah yang hampir sama. Antara kesal, malas dan pasrah. Daniel tidak mengerti apa yang terjadi saat ini. Sebenarnya ia ingin tahu, tapi egonya menahannya untuk bertanya. Ia lebih memikirkan arwah di bangku depan itu. Bangku itu kini sudah diduduki seorang gadis bernama Hana, apa yang akan ia lakukan jika ia tahu tempat duduknya pernah diduduki oleh arwah?
Ketika kelas hampir penuh akhirnya Hani kembali. Dia terlihat berapi-api, kerudungnya telah tersingkap sebelah dan roknya telah diangkat sebatas lutut. Beruntung dia tidak membawa buku kas-nya, kalau tidak Daniel akan berfikir kalau Hani adalah seorang ibu kost yang menagih uang sewa. Apalagi dengan teriakannya yang nyaring dan wajahnya yang berapi-api.
“Gila ya bisa-bisanya kita dituduh sebagai penyebar berita bohong, menganiaya Sora merusak fasilitas sekolah pula. Sudah jelas yang rusak itu motor Andre, kenapa bisa kita yang tertuduh merusak CCTV benar-benar tidak masuk akal” teriak Hani kesal.
Hani masih ingin melampiaskan semua berita yang ia dapat dari sumber terpercayanya namun bell masuk sudah berbunyi dan mereka harus segera bergegas ke lapangan untuk upacara. Gedung mereka adalah tempat yang tidak strategis jadi perlu waktu untuk sampai ke sana. Pagi ini sebelum rutinitas dilaksanakan mereka sudah mendapatkan masalah, jangan sampai mereka dihukum karena telat berada di lapangan.
Hari Senin yang diawali dengan kekacauan tentu tidak akan berjalan dengan baik. Sepanjang mata pelajaran mereka memanen begitu banyak kemarahan dari guru. Daniel tidak ingat apa saja sumpah serapah yang telah diucapkan teman-temannya karena sebenarnya ia juga kesal. Meski ia tidak secara pribadi tertuduh, rumor itu beredar dengan nama kelas mereka jadi mau tidak mau ia harus ikut terlibat.
Masalah Mitha pun tiba-tiba mencuat di kelas mereka, Andre kembali dibingkai dengan kasus yang tidak menyenangkan. Ia dituduh tidak peduli pada teman yang kesusahan, dan hanya mementingkan egonya.
“Aku sudah bilang aku tidak bisa melakukannya! Bagaimana aku bisa membantunya jika aku bahkan tidak tahu apa yang mengganggunya, kalian semua mendengar apa yang dikatakan penjaga malam ‘tidak ada satu pun hantu yang tinggal di pondok itu’. Dan bahkan jika penjaga malam itu salah aku tetap tidak bisa membantunya karena sekali lagi aku tekankan, aku sama seperti kalian aku tidak bisa melihat apa yang tidak kalian lihat!”
Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Andre katakan dalam satu tarikan nafas. Pagi ini ia masuk dengan mood yang hancur, dan disambut dengan bogem mentah dari Vito, dijemur untuk upacara, dimarahi kepala sekolah, dan dituduh oleh teman-temannya. Emosinya berkumpul di ubun-ubun seolah akan meledak kapan saja. Selama ini ia diam bukan karena dia tidak ingin berbicara, ia hanya tidak ingin ada keributan.
“Bukan begitu maksudnya kami tidak menuduh mu tidak mau membantu, kalau memang tidak bisa ya sudah kita bisa apa? Ku pikir masalah motormu itu lebih penting daripada ini” ujar Ilyas menenangkan. Namun Andre yang sudah kepalang kesal akhirnya tidak mengatakan apa pun. Sepanjang jam pelajaran berlangsung kelas pun terasa aneh, hening dan mencekam. Tidak seperti rutinitas biasanya.
Jam terasa sangat lambat berjalan, kelas berakhir setelah adzan Ashar berkumandang, sekolah yang tadinya hening sekejap dipenuhi oleh siswa yang terburu-buru pulang. Suara deru motor dan keributan beberapa siswi mengema di halaman belakang sekolah menciptakan suasana yang penuh dengan kenangan. Atau mungkin kekesalan.
Daniel dan Andre segera keluar dari kelas begitu bell berbunyi, mereka tidak peduli pada teman-temannya yang membujuk untuk berdiskusi. Dan saat ini mereka tengah duduk di depan masjid ketika 5 orang siswa yang tampak berantakan masuk ke dalam ruang kesenian yang terletak di seberang masjid. Daniel menyipitkan matanya mencoba mengingat satu persatu wajah asing itu. Hanya satu yang ia kenal. Itu adalah siswa berantakan dengan khodam pelindung yang ia temui di lobi tempo hari.
“Ndre kita tinggal di kota kan?” tanya Daniel.
“Iya, kenapa?”
“Tapi masih ada yang percaya sama Khodam pelindung” gumam Daniel.
Andre mengarahkan pandangnya ke arah pandang Daniel, menemukan Vito yang masuk ke ruang musik dengan teman-temannya. Ia menyeringai kecil, mengikatkan tali sepatunya dan menghela nafas keras. Ia tahu betul apa yang Daniel lihat karena sebelumnya ia juga menanyakan hal itu pada teman-temannya. Perlindungan gaib atau Kodam pelindung itu yang mereka katakan.
“Itu Vito, anak MIPA 3. Gosipnya ia adalah anak haram kepala sekolah. Dari gosip yang beredar ibunya adalah seorang gadis desa yang masih percaya takhayul dan klenik. Jadi wajar saja jika dia punya pelindung gaib yang dipanggil. Padahal tanpa hal seperti itu dia sudah menjadi preman sekolah, apalagi ayahnya kepala sekolah” jawab Andre. Ia berdiri dan mengetuk-ngetuk kan ujung kakinya untuk mencari kenyamanan. Seolah kebiasaan saat ia berbicara sedikit serius.
“Pagi tadi Ilyas bilang kalian hampir dipukuli oleh anak haram kepala sekolah, itu dia?”
Andre mengangguk dan berkacak pinggang memperhatikan aula sekolah yang kini kosong, hanya ada sebuah bola basket yang tertinggal di ujung halaman.
“Iya itu dia. Anggota gengnya ada 6 orang. Sepetinya Vito menyukai Sora dan dia pasti mendengar apa yang terjadi di kelas kita Minggu lalu, Ilyas dan Edo juga curiga bahwa orang yang merusak CCTV dan motorku adalah dia. Gengnya sangat brutal, namun mereka punya backing kepala sekolah” jawab Andre.
“Tapi ndre, jika itu memang dia untuk apa repot-repot merusak CCTV? Dia punya akses untuk menghapus semua jejak kejahatannya. Lalu tentang Sora, jelas gadis itu yang memulai, kenapa kita terkena masalah?” bantah Daniel.
“Itu juga hal yang aku pikirkan, tapi kita tidak tahu apa yang ada dalam otak mereka. Mungkin saja dia ingin kelas kita dihukum semakin keras. Terkadang rasa suka juga dapat membutakan seseorang” jawab Andre pelan. Mereka mulai berjalan ke parkiran mobil, motor Andre masih rusak jadi sopir menjemputnya.
“Ndre kamu bilang mereka ber-6?” tanya Daniel lagi.
“Iya”
“Tapi tadi mereka cuman ber-5”
“Hani bilang Langga tidak terlalu setuju dengan Vito, ditambah beberapa hari yang lalu dia ketahuan kumpul dengan geng motor lainnya” jawab Andre. Namun setelah kalimat itu selesai ia segera menghentikan langkahnya karena menyadari sesuatu, apa tadi Daniel bilang melihat Kodam milik Vito?
“Dan kamu bisa lihat hantu? Kamu tidak pernah mengatakannya pada kami” tanya Andre.
“Kalian tidak pernah bertanya. Sebenarnya bukan hantu saja, aku juga bisa melihat arwah dan jin sesekali. Di masa lalu aku dijauhi karena hal ini, aku takut kalian akan melakukan hal yang sama. Dianggap berbeda dan ditakuti terkadang itu menyenangkan, tapi jika itu berlebihan tentu itu akan menyebalkan” jawab Daniel tenang.
“Pantas aja kamu bisa melihat makhluk apa yang melindungi Vito. Soal dijauhi, aku yakin teman-teman kita tidak sebodoh itu. Di masa lalu aku juga pernah berpikir begitu, namun mereka malah menghampiriku dengan tatapan antusias, menanyakan banyak hal yang membuatku berpikir ‘aku tidak lagi sendiri’. Menjauhi seseorang yang seharusnya ditemani, itu seperti meninggalkan orang yang ingin bunuh diri” jawab Andre.
Daniel tidak tahu harus tertawa atau simpati mendengar ucapan Andre. Mungkin jika di masa lalu ia tidak menerima tawaran kakeknya untuk tinggal, ia tidak akan merasakan kekecewaan.
“Ndre makhluk itu bukan pelindung itu hanya entitas gaib yang diambil untuk melayani bukan melindungi”
Daniel menjeda kalimatnya untuk mengamati perubahan ekspresi Andre.
“Ndre, aku bisa melihat arwah yang belum selesai urusan dunianya, dan arwah pertama yang ku lihat di sekolah ini ada di ruang kepala sekolah. Dia berdiri tidak jauh dari sofa yang kita duduki, seorang wanita dengan kebaya merah tua dengan rambut yang disanggul rapi, lalu arwah yang kedua baru kulihat tadi pagi sebelum kalian masuk ke kelas. Itu seorang gadis dengan pakaian OSIS. Kau tahu siapa mereka?” tanya Daniel.
Andre menghela nafas kasar dan bingung dengan pertanyaan Daniel. Dia bukan lagi anak indigo, tidak ada satu pun hantu yang ia lihat sejak awal semester. Saat kelas 10 pun ia tidak melihat banyak entitas di sekolah ini. Ia hanya melihat beberapa entitas di gerbang depan, itu pun tidak sesering yang ia bayangkan. Mereka tidak menganggu dan hanya akan muncul ketika hari sudah gelap atau di saat gerimis. Ia tidak tahu yang mana arwah orang yang mati.
“Apa kau baru saja mengatakan ada arwah di kelas kita?” tanya Andre kaget.
Daniel hanya mengangguk dan kembali duduk di kursi parkiran. Dia pikir Andre tahu, mengapa ia begitu kaget?
“Aku tidak pernah melihat keduanya, aku tidak terlalu aktif dalam organisasi jadi tidak pernah memasuki ruang kepala sekolah atau kelas lain. Dari gosip yang beredar arwah yang ada di ruang kepala sekolah adalah kepala sekolah yang sebelumnya. Dia meninggal karena serangan jantung. Kalau tentang siswa di kelas, aku rasa aku belum pernah mendengarnya” jawab Andre.
“Memangnya ada kasus siswa meninggal?” tanya Daniel lagi.
Mendengar pertanyaan itu Andre menengok ke kanan dan kiri memastikan tidak ada satu orang pun yang mendengar.
“Hampir setiap tahun ada warga sekolah yang meninggal. Entah itu staff, guru, siswa atau bahkan tamu. Tidak ada yang tahu pasti mengapa itu terjadi, rumor yang beredar itu tumbal tahunan sekolah. Namun anehnya beberapa dari mereka tidak mati di sekolah, tapi di luar sekolah. Tahun lalu yang meninggal itu teman kami, dia tewas dalam perjalanan ke sekolah. Motornya oleng dan dia masuk ke kolong truk, walau tidak ada luka dia meninggal di tempat.” Andre bercerita sambil menerawang.
“Setelah kejadian itu ia masih tidak dikeluarkan dari grup tari untuk pementasan akhir tahun ajaran. Sebagai penghormatan terakhir posisinya sebagai penari dibiarkan kosong, namun hal tidak diinginkan terjadi saat hari pementasan. Seorang penari mengalami kesurupan, dia berteriak dan bergumam tentang kebebasan, tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku pun begitu, yang aku tahu saat itu aku melihat seekor ular besar yang tubuhnya mengelilingi sekolah dan kepalanya berada tepat di atas panggung pementasan, itu benar-benar membuatku trauma. Bahkan guru agama kita memutuskan untuk mutasi setelah kejadian ini.”
Daniel benar-benar memperhatikan cerita Andre dan bertanya ketika ia selesai.
“Itu yang membuatmu membuang kemampuan melihatmu?”
“Itu hanya sebagian. Ayahku bilang itu bukan kemampuan tapi kutukan. Dia bilang aku adalah manusia yang disukai oleh jin jadi aku dapat melihat mereka. Setelah kejadian itu aku mulai membuatkan tekat untuk menutup semua pintu komunikasi” jawab Andre lelah.
Daniel tidak membatah, namun tidak juga setuju dengan kalimat itu. Ia tahu terkadang berbeda memang tidak menyenangkan, apalagi menghadapi pertanyaan yang tidak bisa dengan hidupnya. Tentu itu sangat tidak menyenangkan.