Hidup bergelimang harta, tetapi tanpa kasih sayang seorang ibu, membuat Abiyan tumbuh menjadi sosok pemuda yang keras kepala dan pembangkang. Suatu hari dia melakukan kesalahan fatal dengan terlibat balapan liar yang mengakibatkan dirinya tertangkap polisi.
Akibat perbuatannya, Bastian sang ayah murka dan Abiyan harus menerima hukuman terberat: dia terbuang dari rumah yang selama ini menjadi istananya. Tanpa kemewahan, tanpa perlindungan, Abiyan terpaksa harus menghadapi dunia yang keras dan penuh tantangan seorang diri.
Mampukah Abiyan sang tuan muda yang terbuang, bertahan hidup dan belajar menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Atau justru dia akan semakin terpuruk dalam kesengsaraan?
Ikuti kisahnya hanya di sini:
"Abiyan, Tuan Muda Terbuang" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Tugas dan tantangan
Pak Joni tersenyum penuh arti dan menjabat tangan Abiyan dengan erat. "Bagus! Saya akan memberimu beberapa tugas dan tantangan selama satu minggu ke depan. Anggap saja ini semacam masa percobaan. Jika kamu berhasil melewati semua tantangan ini, maka kamu akan resmi menjadi asisten saya."
Abiyan mengangguk, meskipun dalam hatinya masih dilanda keraguan. "Baik, Pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin."
"Tugas pertamamu adalah membuat analisis sederhana tentang kinerja kafe selama sebulan ini. Saya ingin kamu melihat apa saja yang menjadi kekuatan dan kelemahan kita, serta memberikan saran untuk meningkatkan keuntungan," jelas Pak Joni.
Abiyan sedikit terkejut. Tugas yang cukup berat, mengingat dirinya belum memiliki pengalaman dalam bidang ini. Namun, dia berusaha untuk tetap tenang. "Baik, Pak. Saya akan mengerjakannya dengan baik."
"Tugas kedua adalah menggantikan saya untuk memimpin rapat karyawan besok pagi," lanjut Pak Joni. "Saya ingin melihat bagaimana caramu berkomunikasi dengan tim dan memberikan arahan yang jelas."
Mata Abiyan melebar mendengar tugas kedua ini. Apalagi dia belum pernah memimpin rapat sebelumnya. "Maaf, Pak. Saya... saya khawatir tidak bisa melakukannya dengan baik."
"Justru itu tantangannya." Pak Joni menepuk pundak Abiyan. "Saya percaya kamu bisa. Persiapkan diri dengan baik. Jangan takut untuk bertanya jika kamu merasa bingung."
"Baik, Pak." Abiyan berusaha untuk menenangkan diri.
"Dan tugas terakhir adalah mencari cara untuk meningkatkan omset penjualan kafe kita ini," kata Pak Joni. "Saya ingin kamu membuat promosi baru yang bisa menarik pelanggan."
Abiyan mengangguk, kali ini dia sedikit lebih percaya diri. Merasa bahwa tugas ini lebih sesuai dengan minat dan kemampuannya. "Baik, Pak. Saya akan mencari ide-ide kreatif untuk mempromosikan kafe kita," kata Abiyan.
"Saya akan memberimu waktu satu minggu untuk menyelesaikan semua tugas ini," kata Pak Joni. "Saya akan menilai kinerjamu berdasarkan hasil analisis, kemampuan kepemimpinan, dan kreativitasmu dalam membuat promosi. Apakah kamu siap?"
Abiyan menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk dengan mantap. "Siap, Pak! Saya akan berusaha dengan keras."
Pak Joni tersenyum puas. "Bagus. Saya percaya kamu bisa. Sekarang, kembali bekerja dan tunjukkan pada saya bahwa kamu memang pantas mendapatkan posisi ini."
Abiyan mengangguk. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini, meski perasaannya dibalut kekhawatiran. Namun, dia bertekad akan membuktikan kepada Pak Joni bahwa dirinya layak mendapatkan kepercayaan tersebut. Dan yang lebih penting lagi, dia mampu berdiri sendiri tanpa bayang-bayang nama besar ayahnya.
.
Abiyan kembali bekerja seperti biasa. Sambil melayani pelanggan, pikiran Abiyan terus berputar memikirkan tugas-tugas dari Pak Joni yang semuanya tampak begitu menantang.
Dalam benaknya, Abiyan mulai menyusun rencana. Dia akan mempelajari laporan keuangan, membuat agenda rapat karyawan yang jelas, dan mencari inspirasi promosi dari media sosial dan tren kopi terbaru.
"Tenang, Bi. Kamu pasti bisa melakukannya," gumamnya penuh semangat. "Inilah saat yang tepat untuk membuktikan kemampuanmu."
Salah seorang rekan kerja memperhatikan Abiyan lantas menghampirinya. "Ada apa Pak Joni memanggilmu, Bi?" tanyanya.
"Oh, nggak ada apa-apa, kok. Hanya menyuruhku untuk bekerja lebih rajin, itu saja, sih," jawab Abiyan sambil tersenyum.
"Permisi, Mas. Saya pesan kopi latte satu, ya," kata seorang pelanggan yang datang membuyarkan mereka.
"Siap, mohon ditunggu sebentar." Abiyan tersenyum ramah dan segera membuatkan kopi pesanan pelanggan tersebut.
.
"Capek banget hari ini." Naraya membuka obrolan sambil menguap.
Mereka berdua sedang menunggu angkot setelah jam pulang kafe.
"Iya, ramai banget dari siang," sahut Abiyan. "Tapi, kamu nggak apa-apa kan, Ra? Bayimu nggak rewel, kan?"
Naraya menoleh dan tersenyum. Ia terharu dengan perhatian Abiyan. "Alhamdulillah, dia anak yang baik," jawabnya.
"Oh, ya. Tadi aku lihat Pak Joni memanggilmu ke ruangannya, ada apa?" tanyanya ingin tahu.
Abiyan menatap Naraya dengan serius. "Sebenarnya... Pak Joni menawari aku posisi asisten manajer," ucapnya.
"Serius?" Mata Naraya berbinar. "Wah, selamat ya, Bi! Aku turut senang mendengarnya!" serunya antusias.
"Makasih, Ra," jawab Abiyan sambil tersenyum tipis. "Pak Joni memberiku masa percobaan satu minggu. Tadinya aku sempat bersemangat, tapi sekarang aku bingung harus mengerjakan tugas untuk analisis kinerja kafe itu di mana, sedangkan aku nggak punya komputer."
"Astaga... kenapa kamu bingung, Bi?" kata Naraya. "Kan, kamu bisa mengerjakan tugas itu di warnet."
"Ah... iya. Kenapa aku bisa nggak kepikiran, ya?" Abiyan menggaruk rambut kepalanya bagian belakang.
Naraya tersenyum kecil melihat tingkah Abiyan yang menurutnya sangat lucu.
"Semangat ya, Bi. Aku yakin kamu pasti bisa!"
"Tapi tugasnya bukan itu saja, Ra. Selain harus bikin analisis kinerja kafe, aku juga harus menggantikan Pak Joni memimpin rapat karyawan, terus nyari ide buat promosi kafe juga," jelas Abiyan.
"Itu namanya tantangan, Bi. Justru bagus buat mengembangkan diri kamu," ujar Naraya.
"Iya, sih," kata Abiyan. "Tapi aku nggak yakin jika harus memimpin rapat, Ra. Aku ragu, mampu melakukannya dengan baik."
"Tapi kamu bisa belajar, Bi. Aku yakin, Pak Joni pasti punya alasan kenapa dia memilihmu." Naraya mencoba meyakinkan.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kamu pasti bisa mengatasinya. Aku akan selalu ada jika kamu butuh teman berbagi cerita."
"Pasti, Ra. Makasih ya, sudah menyemangati aku," balas Abiyan tulus.
Angkot yang ditunggu akhirnya tiba. Abiyan dan Naraya segera naik ke dalam angkot tersebut. Rupanya tanpa mereka sadari, seseorang mendengar percakapan mereka dengan jelas. Ekspresinya seketika berubah menjadi sinis.
"Asisten manajer? Kita lihat saja nanti," gumamnya seraya mengepalkan kedua tangannya lalu berbelok menuju arah yang berlawanan.
Terus pemuda itu anak tirinya. Nggak punya sopan santun banget ....