Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.
Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)
untuk mengubah sejarah Grand Line.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA TAHUN PERSIAPAN
Dua minggu setelah pertarungan dengan Doberman, aku dan Sabo akhirnya bisa bangun dari kasur.
Luka-luka sudah sembuh sebagian besar—tubuh anak-anak memang recovery lebih cepat. Tapi bekas luka tetap ada, terutama di perut dan dada dimana pukulan Doberman paling keras mengenai.
"Kalian beruntung tulang tidak patah permanen," Yamamoto berkomentar sambil periksa kondisi kami. "Doberman menahan kekuatan di menit terakhir. Kalau dia serius penuh, kalian sudah mati."
"Kami tahu," aku menjawab sambil menyentuh bekas luka di perut. "Perbedaan level sangat jelas."
"Tapi kalian juga berhasil lukai dia. Itu pencapaian luar biasa. Bahkan bajak laut bounty seratus juta kadang tidak bisa sentuh Rear Admiral level Doberman."
"Tapi tetap kalah," Sabo bergumam frustrasi. "Kami bahkan tidak bisa bertahan sepuluh menit melawan dia yang serius."
"Karena kalian masih muda. Tubuh kalian belum fully developed. Haki kalian belum mature. Devil Fruit belum awakening. Masih banyak ruang untuk tumbuh."
Yamamoto duduk di depan kami dengan ekspresi serius.
"Doberman kasih kalian waktu beberapa bulan. Aku perkirakan empat sampai enam bulan sebelum Marine kirim pasukan lagi—dan kali ini mungkin lebih kuat dari Doberman."
"Lalu apa yang harus kami lakukan?" aku bertanya.
"Dua pilihan. Pertama, kabur dari East Blue sekarang. Masuk Grand Line dimana kalian bisa sembunyi di antara bajak laut kuat lainnya. Kedua, tetap disini dan latihan lebih keras—tapi dengan risiko Marine datang lagi."
Kami diam—memikirkan pilihan.
Kabur sekarang berarti tinggalkan Luffy yang baru enam tahun. Terlalu kecil untuk ikut berlayar. Tapi tetap disini berarti bahaya konstan.
"Aku punya pilihan ketiga," Yamamoto melanjutkan. "Kalian latihan di tempat rahasia yang kuketahui. Pulau kecil tidak berpenghuni di East Blue yang tidak tercatat di map Marine. Disana kalian bisa latihan tanpa gangguan selama beberapa tahun."
"Berapa tahun?" Sabo bertanya.
"Setidaknya tiga tahun. Sampai Ace umur dua belas dan Sabo lima belas. Di usia itu, dengan latihan intensif, kalian seharusnya bisa mencapai level setara Vice Admiral—mungkin bahkan lebih tinggi."
Tiga tahun. Waktu yang lama. Tapi mungkin perlu.
"Tapi Luffy—" aku mulai protes.
"Luffy bisa kulatih disini. Dia masih terlalu kecil untuk latihan ekstrim seperti kalian. Tapi fondasi dasar bisa kubangun. Saat kalian kembali tiga tahun lagi, dia akan siap untuk latihan lebih serius."
Aku menatap Sabo. Dia menatap balik.
Kami sudah bersama bertahun-tahun. Bisa komunikasi tanpa kata.
Dan kami sampai pada kesimpulan sama.
"Kami akan pergi," aku memutuskan. "Tiga tahun latihan intensif. Lalu kembali untuk Luffy."
"Bagus. Besok kita berangkat. Siapkan mental—pulau itu keras. Tidak ada kenyamanan. Tidak ada distraksi. Hanya latihan dan survival."
Pagi berikutnya, kami berkumpul di depan gubuk untuk pamit.
Dadan menangis—tidak malu lagi menyembunyikannya. "Kalian pergi lagi... dan kali ini tiga tahun..."
"Kami akan kembali, Dadan-san. Dan saat kami kembali, kami akan jauh lebih kuat," aku berjanji sambil memeluknya.
"Kalian sudah seperti anak sendiri... rasanya berat ninggalin..."
"Kami juga berat. Tapi ini harus dilakukan."
Luffy paling berat. Dia pegang tangan kananku erat—tidak mau lepas.
"Ace-nii... tiga tahun itu lama sekali... Luffy mau ikut..."
"Luffy masih kecil. Nanti kalau sudah besar, kita akan berlayar bersama. Ini janji kakak."
"Janji harus ditepati ya?"
"Selalu. Kakak tidak pernah ingkar janji."
Aku jongkok dan lepas kalung yang Luffy pegang sejak pertarungan dengan Doberman.
"Ini kakak ambil kembali. Tapi topi jerami itu—" aku sentuh topi di kepala Luffy. "—jaga baik-baik. Itu simbol janji Luffy dengan Shanks. Dan saat kakak kembali, kita akan latihan lebih keras supaya Luffy bisa jadi Raja Bajak Laut."
"YOSH! Luffy akan jaga topi ini! Dan akan latihan keras sama Yamamoto-san!" dia menyeka air mata dengan tangan kecil. "Lalu saat Ace-nii dan Sabo-nii balik, kita akan jadi kru bajak laut terkuat!"
"Betul sekali."
Aku berdiri dan menatap semua orang—Dadan, anak buahnya, Makino yang datang khusus untuk pamit, bahkan beberapa penduduk desa yang sudah kenal kami bertahun-tahun.
"Kami akan kembali. Lebih kuat. Dan saat itu, tidak ada yang bisa ganggu keluarga kami lagi."
Dengan tekad itu, kami naik ke kapal kecil yang sudah disiapkan Yamamoto. Berlayar meninggalkan Dawn Island menuju pulau rahasia untuk latihan tiga tahun.
Pulau itu tidak punya nama resmi. Yamamoto cuma menyebutnya "Shura no Shima"—Pulau Neraka.
Begitu sampai, aku langsung mengerti kenapa.
Pulau kecil dengan hutan lebat penuh binatang buas raksasa. Gunung berapi aktif di tengah yang kadang erupsi kecil. Pantai dengan ombak ganas yang bisa tenggelamkan kapal. Dan cuaca ekstrim—panas terik di siang hari, dingin membekukan di malam hari.
"Ini tempat dimana dulu aku latihan saat masih Marine Captain muda," Yamamoto menjelaskan sambil menatap pulau. "Disini aku mengembangkan semua teknik yang kugunakan sekarang. Dan disini kalian akan jadi lebih kuat dari yang pernah kubayangkan."
Kami turun dari kapal. Langsung merasakan tekanan dari aura pulau ini—seperti pulau itu sendiri hidup dan menantang siapapun yang datang.
"Aturan sangat simple," Yamamoto mulai briefing. "Kalian akan hidup di pulau ini selama tiga tahun. Aku akan kasih panduan dan koreksi, tapi sebagian besar kalian harus survive dan latihan sendiri."
"Tidak ada makanan yang disiapkan. Kalian harus berburu. Tidak ada tempat tidur nyaman. Kalian harus bangun sendiri. Tidak ada waktu istirahat terjadwal. Kalian yang atur."
"Tapi ada target yang harus dicapai dalam tiga tahun."
Dia mengeluarkan dua gulungan kertas dan serahkan pada kami.
Aku buka gulungan—isinya list target yang membuat kepalaku pusing:
TARGET ACE - 3 TAHUN:
Armament Haki: Maintain Hardening 2 jam nonstop. Master Internal Destruction dan Emission level expert.
Observation Haki: Radius 100 meter. Future Sight 10 detik minimum.
Conqueror's Haki: Full control. Coating maintain 30 menit. Bisa knock out 1000 orang lemah sekaligus.
Mera Mera no Mi: Mencapai Awakening. Kontrol suhu dari 100°C sampai 3000°C. Bisa ubah lingkungan jadi lautan api.
Fisik: Kekuatan setara mengangkat 50 ton. Kecepatan setara Soru Marine Captain level. Endurance bertarung 24 jam nonstop.
Teknik: Develop minimal 20 teknik baru yang masing-masing punya destructive power level Vice Admiral.
List Sabo tidak kalah gila—semua target di level yang sama tingginya.
"Ini... mustahil..." Sabo bergumam setelah baca.
"Bukan mustahil. Sulit. Sangat sulit. Tapi achievable kalau kalian dedikasikan diri sepenuhnya," Yamamoto mengoreksi. "Aku sudah hitung—dengan potensi kalian, latihan intensif, dan environment ekstrim pulau ini, target itu realistis."
"Kalau kami berhasil capai semua ini—" aku menatap list lagi. "—kami akan setara siapa?"
"Setara Vice Admiral level menengah. Mungkin bahkan bisa bertarung sejajar dengan Rear Admiral level Doberman—dan menang."
Itu yang kami butuhkan. Kekuatan untuk melindungi keluarga. Kekuatan untuk bertahan di Grand Line nanti.
"Kami siap," kami menjawab bersamaan.
"Bagus. Latihan dimulai besok pagi. Hari ini, eksplor pulau dan cari tempat untuk bangun shelter. Itu bagian dari survival training."
Yamamoto meninggalkan kami untuk setup camp sendiri di area terpisah.
Aku dan Sabo mulai eksplor. Pulau ini lebih besar dari perkiraan—diameter sekitar sepuluh kilometer. Hutan lebat di sebagian besar area. Gunung berapi di tengah. Beberapa gua yang bisa dijadikan shelter.
"Disana—" Sabo menunjuk gua besar di kaki gunung. "Cukup tinggi untuk aman dari banjir tapi tidak terlalu dekat dengan gunung berapi. Posisi strategis."
Kami mendekati gua. Di dalam cukup luas—bisa muat lima orang dengan nyaman. Kering dan tidak ada tanda binatang buas menghuni.
"Ini cocok. Kita setup disini."
Kami mengumpulkan kayu untuk api unggun, daun-daun besar untuk kasur improvisasi, dan batu-batu untuk border area. Butuh tiga jam untuk setup semuanya.
Saat malam tiba, kami duduk di depan api unggun dengan ikan hasil tangkapan dari sungai dekat gua.
"Tiga tahun..." Sabo bergumam sambil menatap api. "Terakhir kali kita lihat Luffy, dia masih enam tahun. Saat kembali, dia sudah sembilan tahun."
"Waktu berlalu cepat. Tapi kita harus fokus. Tiga tahun ini akan tentukan masa depan kita—dan masa depan Luffy juga."
"Kau yakin kita bisa capai semua target itu?"
Aku menatap list yang sudah kumemorisasi. Target yang mustahil untuk anak-anak biasa.
Tapi kami bukan anak-anak biasa.
"Kita akan capai. Karena tidak ada pilihan lain. Kalau kita gagal, Marine akan datang lagi. Dan kali ini kita tidak akan seberuntung dengan Doberman."
"Lalu kita mulai dari mana?"
"Dari yang paling basic. Fisik. Kita perkuat tubuh sampai batas maksimal. Lalu baru focus ke Haki dan Devil Fruit."
Kami merencanakan schedule—bangun jam empat pagi, latihan fisik sampai jam delapan, berburu untuk makan sampai jam sepuluh, latihan Haki sampai jam tiga sore, latihan Devil Fruit dan teknik sampai jam tujuh malam, review dan planning sampai jam sembilan, tidur.
Delapan belas jam latihan dan aktivitas setiap hari. Enam jam tidur. Selama tiga tahun tanpa henti.
Ini akan jadi tiga tahun tersulit dalam hidup kami.
Tapi juga tiga tahun yang akan ubah kami jadi monster sejati.
"Untuk keluarga," aku mengangkat tangan.
"Untuk mimpi," Sabo menyambut dengan tangan.
Kami high-five—janji untuk survive dan succeed dalam tiga tahun ini.
Api unggun menyala terang di malam yang gelap.
Simbol dari api takdir yang akan terus berkobar.
Tidak peduli seberapa keras tantangan yang menanti.
Kami akan melewati semuanya.
Dan keluar sebagai yang terkuat.
[TIGA TAHUN KEMUDIAN]
Pagi itu, aku bangun dengan tubuh yang sangat berbeda dari tiga tahun lalu.
Tinggi sekarang seratus tujuh puluh lima sentimeter—tinggi normal untuk remaja lima belas atau enam belas tahun meskipun usiaku baru dua belas. Otot terbentuk sempurna—tidak besar berlebihan tapi padat dan efisien. Setiap gerakan memancarkan kekuatan yang terkontrol.
Bekas luka dimana-mana—di lengan, kaki, dada, punggung. Bukti dari ribuan pertarungan dengan binatang buas, latihan ekstrim, dan sparring brutal dengan Yamamoto dan Sabo.
Sabo bangun di sebelahku. Dia bahkan lebih tinggi—seratus delapan puluh sentimeter. Tubuhnya lebih ramping tapi sama padatnya. Matanya tajam—mata seorang fighter yang sudah melihat banyak pertempuran.
"Hari terakhir," dia bergumam sambil stretching.
"Ya. Besok kita pulang ke Dawn Island."
Tiga tahun berlalu seperti mimpi panjang. Atau lebih tepatnya—mimpi buruk panjang yang akhirnya berakhir.
Tiga tahun survival di pulau neraka. Tiga tahun latihan tanpa henti. Tiga tahun bertarung melawan binatang buas, alam ekstrim, dan batas diri sendiri.
Tapi hasilnya—
Aku angkat tangan. Armament Haki Hardening aktif instant—warna hitam pekat dengan kilatan merah Conqueror's Haki. Tidak butuh fokus atau usaha. Sudah jadi reflex seperti bernapas.
Observation Haki aktif—bisa merasakan semua presence dalam radius seratus meter dengan detail tinggi. Bahkan bisa prediksi gerakan sepuluh detik ke depan kalau fokus penuh.
Mera Mera no Mi sudah mencapai Awakening enam bulan lalu. Sekarang bukan hanya bisa ubah tubuh jadi api—tapi bisa ubah lingkungan sekitar jadi lautan api. Bisa kontrol suhu dari api dingin yang tidak bakar sampai api putih 3000°C yang bisa lelehkan baja dalam sekejap.
Dan yang paling penting—fisik sudah mencapai level monster. Bisa angkat lima puluh ton tanpa Haki. Bisa berlari secepat Soru level Captain. Bisa bertarung nonstop dua puluh empat jam tanpa istirahat.
Semua target dalam list tercapai. Bahkan beberapa terlampaui.
"Yamamoto bilang hari ini test terakhir," Sabo mengingatkan sambil pakai baju latihan. "Kita harus bertarung melawan dia dengan kekuatan penuh."
"Akhirnya. Sudah lama mau test seberapa jauh kita berkembang dibanding dia."
Kami berjalan ke area latihan—tanah lapang di kaki gunung yang sudah hancur berkali-kali dari latihan kami dan selalu kami perbaiki.
Yamamoto sudah menunggu dengan pedang terhunus. Tapi ada yang berbeda—aura di sekitarnya jauh lebih intense dari biasanya.
"Hari ini adalah test final," dia berkata dengan nada serius. "Kalian akan bertarung melawan aku dengan semua kekuatan. Aku juga akan gunakan semua yang kupunya—tidak ada yang ditahan."
"Kalau kalian bisa bertahan tiga puluh menit atau membuatku mundur, kalian lulus. Kalau tidak—kita extend training enam bulan lagi."
Tidak ada yang mau extend. Kami sudah rindu Luffy, Dadan, dan rumah.
"Kami siap," aku menjawab sambil tarik Hinokami dari sarung. Api langsung menyala di blade—putih kebiruan dengan intensitas yang membuat udara bergetar.
Sabo spin Ryuseikon—aura Conqueror's Haki menyelimuti tongkat dengan kilatan hitam-merah.
"Bagus. Kalian benar-benar sudah beda level," Yamamoto tersenyum tipis. "Maka aku tidak akan tahan diri."
Aura meledak dari tubuhnya—jauh lebih kuat dari yang pernah kami rasakan. Ini Yamamoto yang serius penuh.
"MULAI!"
Pertempuran terakhir dimulai.
Pertempuran yang akan tentukan apakah tiga tahun neraka ini berhasil.
Apakah kami sudah cukup kuat untuk hadapi apapun yang menanti di luar sana.
Apakah kami siap untuk pulang.
Dan apakah kami siap untuk melindungi keluarga dengan kekuatan sejati.