NovelToon NovelToon
Penjara Suci

Penjara Suci

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Perjodohan / Romansa pedesaan
Popularitas:95.7k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.

Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.

Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.

Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.

Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Dua

Tangis Hanin berlangsung cukup lama.

"Sebenarnya apa rencana-Mu Tuhan. Aku rasanya ingin menyerah dengan ujianmu ini. Mentalku benar-benar terkuras. Jiwaku tidak sedang baik-baik saja. Aku memendam semuanya tanpa seorangpun yang mengetahui keadaanku. Mereka tertipu dengan senyum manisku, wajah ceriaku, dan dengan tawaku. Kepalaku hampir pecah dan aku benar-benar lelah. Rasanya ingin berhenti sejenak untuk bernapas dengan lega," gumam Hanin pada dirinya sendiri. Air matanya turun dengan deras membasahi pipinya

Entah berapa menit ia duduk di tepi ranjang dengan tubuh yang masih bergetar. Sesak di dadanya tak juga reda. Perasaan yang selama ini ia simpan rapat, yang ia kubur dalam-dalam dengan doa dan kesibukan, malam ini seperti bangkit serentak tanpa permisi.

Ia merasa lelah. Lelah menahan kepura-puraan. Lelah terlihat baik-baik saja.

Tangannya terangkat kembali dengan perlahan, mengusap air mata yang tak henti mengalir. Dadanya naik turun. Nafasnya belum stabil. Ia mencoba menarik napas panjang, tapi justru terasa semakin berat.

Ruangan itu sunyi. Tidak ada suara dari luar selain gema samar acara yang masih berlangsung di lantai bawah.

Hanin memejamkan mata.

“Ya Allah …,” lirihnya dalam hati.

Ia tahu, jika ia terus duduk seperti ini, ia akan tenggelam lebih jauh dalam kesedihan yang sama. Perlahan ia berdiri.

Langkahnya ringan, hampir goyah, saat menuju kamar mandi kecil di dalam kamar. Ia membuka keran. Air dingin mengalir, menyentuh telapak tangannya.

Ia mengambil wudhu. Satu per satu di basah. Membasuh wajah. Air dingin itu seperti meredakan panas di matanya.

Membasuh tangan. Seolah membersihkan beban yang menempel.

Mengusap kepala. Seperti ingin menenangkan pikiran yang berisik.

Membasuh kaki. Seperti menuntun langkahnya kembali.

Setelah selesai, Hanin duduk di atas sajadah yang ia bentangkan di dekat ranjang. Ia tidak shalat. Ia hanya duduk. Tangannya meraih mushaf kecil yang selalu ia bawa.

Hanin membukanya. Huruf-huruf itu tampak tenang. Tidak menuntut. Tidak menghakimi. Hanya hadir sebagai penenang baginya.

Hanin mulai membaca. Pelan. Terbata di awal. Lalu perlahan mulai mengalir.

Suara bacaan itu lembut. Hampir seperti bisikan. Namun cukup untuk memenuhi ruang kosong dalam dirinya.

Setiap ayat seperti menenangkan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Dadanya yang sempit perlahan terasa lebih lapang. Tangisnya berhenti.

Air mata masih jatuh sesekali, tapi bukan lagi karena sesak, melainkan karena lega.

Nikmati saja dulu hancurmu, kamu masih muda, masih banyak kejutan di umur selanjutnya. Teruslah semangat, karena kamu sedang diproses untuk menjadi pribadi yang kuat, yang sabar, dan pribadi yang ikhlas dalam menerima setiap rasa sakit. Mungkin ini terlalu melelahkan, tapi percayalah Tuhan tidak pernah salah dalam memilih takdir hidup seseorang. Akan ada suatu hal yang indah, yang akan kamu temui di balik semua yang kamu jalani saat ini.

Waktu berlalu tanpa ia sadari. Hanin memutuskan tidak kembali ke acara. Tidak ingin kembali.

Malam semakin larut. Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas ketika pintu kamar terbuka pelan.

Ghania masuk. Langkahnya pelan, mungkin tidak ingin mengejutkan. Namun ia langsung melihat Hanin yang masih duduk dengan mushaf di pangkuannya.

Ghania menghampiri. Ia duduk di samping Hanin tanpa berkata apa-apa terlebih dahulu.

Beberapa detik mereka hanya diam.

Lalu Ghania bertanya lembut, “Hanin … kenapa tadi pergi dan nggak kembali ke acara?”

Hanin menutup mushafnya perlahan. Ia menunduk. “Kepalaku sedikit pusing,” jawabnya pelan. “Maaf ya, Nia.”

Ghania langsung mengangguk. “Ya sudah, nggak apa-apa. Kalau gitu minum obat dulu.”

Ia berdiri tanpa menunggu jawaban. Mulai membuka tas, laci kecil, dan kotak obat yang ada di meja.

Ghania memang selalu seperti itu. Praktis dan perhatian. Tidak banyak bertanya sebelum memastikan keadaan orang lain.

Ia kembali dengan segelas air dan obat di tangannya. “Nih, diminum dulu.” Hanin menerimanya.

Dan entah kenapa, melihat perhatian sederhana itu justru membuat sesuatu di dalam dadanya runtuh lagi. Air matanya jatuh.

Ia menggigit bibir, mencoba menahan, tapi tidak berhasil. “Nia …” Suaranya bergetar. “Makasih.”

Ghania langsung duduk lagi di sampingnya.

“Kamu baik banget,” lanjut Hanin.

Ia menatap sahabatnya itu dengan mata yang basah. “Semoga pernikahan kamu nanti berjalan lancar.”

Ghania tersenyum. Dan tanpa ragu ia menjawab, “Aku ingin kamu ada di sampingku terus kalau nanti aku menikah.”

Ia menepuk tangan Hanin pelan. “Makanya jaga kesehatan. Jangan kayak sekarang, kamu pergi di tengah acara.”

Hanin mengangguk. "InshaAllah.”

Namun di dalam hatinya, ada kalimat lain yang muncul. "Nia … apa aku sanggup berada di sisi kamu terus? Sedangkan pria itu ... Pria yang membuat hidupku berubah begini"

Ia menelan ludah. Melanjutkan kalimat lain dalam hatinya, "Bukan karena aku tak ikhlas. Bukan karena aku belum move on. Tapi aku masih belum bisa menerima caranya. Aku kecewa. Ia menghilang di saat aku butuh. Seolah aku ini tak ada berarti apa-apa."

Setelah minum obat, suasana kembali hening. Hanin berdiri. “Aku ganti baju dulu ya.”

Ghania mengangguk. Hanin mengambil baju tidurnya. Gerakannya tenang. Tidak tergesa. Seolah semua sudah kembali normal.

Namun hanya ia yang tahu, tidak ada yang benar-benar normal malam ini.

Beberapa menit kemudian mereka berbaring di ranjang. Lampu dimatikan. Hanya menyisakan lampu tidur redup. Sunyi terasa. Namun tidak benar-benar kosong.

Hanin menatap langit-langit. “Nia …”

“Hmm?”

“Besok aku mau kembali ke pondok.”

Ghania langsung menoleh. “Apa?”

Nada suaranya jelas terkejut. “Besok?”

Hanin mengangguk pelan. Ghania bangkit sedikit dari posisi tidurnya.

“Kenapa besok? Bukankah kita janji mau pulang bareng dua hari lagi?”

Hanin tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap lurus ke atas. Ghania menatapnya lebih lama.

Lalu bertanya lagi, kali ini lebih pelan. “Sebenarnya ada apa, Hanin?”

Tidak ada jawaban, hanya sunyi.

Ghania menarik napas. “Apa ada yang membuat kamu tersinggung di sini?”

1
Teh Euis Tea
yg datang pasti di fahri nih
Teh Euis Tea
syukurlah hanin sudah berdamai dgn hatinya, memaafkan arsen wlu tdk terucap tp dari tingkahnya udah membuktikan klu hanin memaafkan arsen, tinggal emaknya di fahri nih yg blm jujur, berani ga dia jujur sm hanin?
ken darsihk
Lupakan masa lalu mu yng menyakitkan Hanin , ambil sisi baik nya sajah sekarang saat nya meniti hari bersama Arsenio suami mu
Eka ELissa
Hanin udh berdamai dgn. knyataan Fahmi dan dia udh bahagia..
jdi kini giliran kmu bhgia...dn bhgiain gania clon bini mu
vania larasati
lanjut kak
Ida Nur Hidayati
saling memaafkan itu membawa kita kekedamaian
Ilfa Yarni
alhamdulillah udah berdamai semuanya ske hanin tinggal menara masa sekarang apan dgn kluarga kecilnya nanti dan bahagia
Radya Arynda
semangaaat hanin,,arsen,,,selalu ber sama dalam suka duka,,,biar kan orang orang yang sudah jahat sama kamu mendapat karma ya sepadan...
Maulana ya_Rohman
lanjut lagi thor
Lela Angraini
uuhhh so sweet 😍😍🥰🥰. semga kebahagiaan sellu berlimpah utk mu haniin amiinnn 🙏🙏
Ayu Ayuningtiyas
Suka sama Hanin yg sdh ikhlas dan sdh bisa move on dgn masa lalunya.
Nani Rahayu
sudah saatnya Hanin bahagia setelah kesakitan yg dilewati nya♥️..semoga ghania juga bisa menemukan kebahagiaan nya
Rieya Yanie
bagus hanin..berdamia dengan masa lalu dan memaafkan semua takdir..
semoga bahagia selalu..
Hikari_민윤기
aihhh thorrr, kebalik..

masak orang hidup minta do'a sama yg udah almarhum, Pak Ustadz lihat author ini Pak Ustadz... 🤭
Hikari_민윤기: iyupss itu nyata,
but, keliru...
total 3 replies
Retno ataramel
kaya si weni udah ngaku kefahmi makanya dia kemakam
Eka ELissa
mo ngapain....kmu Fahmi...
GK usah bikin huru hara...
lah.... ribet bgt....
Ida Nur Hidayati
pasti Fahmi....
ken darsihk
Fahmi kah ??
Ilfa Yarni
loh fahmi ngapain datang ke kuburannya orangtua hanin apa tujuannya
ken darsihk: Mungkin Fahmi mau minta maaf ke makam abi da umi nya Hanin
Karena secara tidak langsung penyebab kematian orang tua nya Hanin ya dia dan mama nya Fahmi
total 1 replies
Oma Gavin
ngapain fahmi datang ngga ngaruh sama hanin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!