Sinopsis:
Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.
Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEMBAH TANPA ATURAN
Tubuh pria berwajah pucat itu roboh dengan suara berat yang tumpul. Debu tipis terangkat dari tanah lembah, lalu perlahan turun kembali bersama bau darah yang semakin pekat.
Tidak ada yang bertepuk tangan.
Tidak ada yang berseru kagum.
Di Lembah Angin Selatan, kematian bukan tontonan yang mengejutkan. Ia hanya bagian dari aturan tak tertulis.
Liang Chen berdiri beberapa langkah dari mayat itu. Napasnya berat, bahu kirinya bergetar halus akibat luka tusukan yang belum sempat ditangani dengan benar. Darah mengalir turun melewati lengan, menetes dari ujung jari ke tanah.
Ia tahu pertarungan belum selesai.
Ia hanya tidak menyangka akan dimulai secepat ini.
Pria bertubuh besar yang sebelumnya menghadangnya kini melangkah maju. Tubuhnya seperti tembok, lengannya penuh urat menonjol. Di punggungnya tergantung golok besar dengan bilah tebal dan berat.
“Kau membunuhnya,” ucap pria itu, suaranya dalam.
“Dia mencoba membunuhku,” jawab Liang Chen datar.
“Di sini,” pria itu menatap mayat di tanah, “yang penting bukan siapa mulai duluan.”
“Lalu?”
“Siapa yang berhak berdiri.”
Kalimat itu menjadi isyarat.
Dua orang bergerak dari kiri dan kanan tanpa aba-aba. Mereka tidak memberi kesempatan bernapas, tidak memberi waktu mengikat luka.
Serangan pertama datang dari kanan—pedang pendek meluncur rendah, mengincar perut.
Liang Chen mundur setengah langkah, menangkis dengan sisi bilahnya. Benturan keras membuat pergelangan tangannya bergetar. Bahunya seperti tersengat api.
Dari kiri, kapak melengkung menghantam ke arah rusuk.
Ia memutar tubuh, membiarkan kapak itu menyayat sisi pakaiannya. Kulitnya tergores, darah muncul tipis, tetapi ia tidak peduli.
Ia menendang lutut si pemegang kapak.
Terdengar bunyi retak yang jelas.
Jeritan melengking memecah udara.
Namun sebelum ia sempat menyelesaikan orang itu, pria bertubuh besar sudah mencabut goloknya.
Bilah tebal itu mengayun dari atas ke bawah seperti batang kayu tumbang.
Liang Chen meloncat mundur.
Tanah tempat ia berdiri sebelumnya terbelah, serpihan batu kecil terpental.
Kekuatan mentah.
Kalau satu tebasan itu mengenai kepalanya, tidak akan ada kesempatan kedua.
Kini tiga orang mengelilinginya.
Yang lain di lembah tidak bergerak membantu—mereka hanya menonton. Sebagian bersedekap, sebagian menyandarkan diri pada dinding batu.
Bagi mereka, ini seleksi alam.
Yang lemah akan terkubur. Yang kuat akan tinggal.
Pria bertubuh besar menyerang lagi, kali ini menyamping, memaksa Liang Chen bergerak ke arah dua penyerang lain.
Strategi sederhana, tetapi efektif.
Liang Chen menunduk saat golok itu lewat di atas kepalanya, lalu segera mengangkat pedangnya untuk menahan tusukan dari kanan.
Dentang keras kembali terdengar.
Tangannya semakin berat.
Luka di bahu mulai mengganggu ritme geraknya.
Satu kesalahan kecil saja cukup untuk mengakhiri semuanya.
Ia mengubah posisi.
Alih-alih bertahan di tengah, ia bergerak cepat ke arah dinding batu lembah, memaksa mereka menyerang dari satu arah.
Langkah itu berhasil mengurangi sudut serangan.
Penyerang dengan kapak, yang lututnya retak, tetap memaksakan diri maju dengan wajah pucat. Ia mengangkat kapaknya dengan tangan gemetar.
Liang Chen tidak memberi ampun.
Ia menangkis kapak itu, lalu memutar pergelangan tangan dan menebas lurus ke leher.
Bilahnya masuk setengah, tersangkut tulang.
Darah menyembur deras, membasahi dada Liang Chen.
Ia menarik pedangnya dengan kasar.
Tubuh itu jatuh tanpa suara.
Kini tinggal dua.
Pria bertubuh besar menyeringai, bukan takut—melainkan semakin bersemangat.
“Lumayan,” katanya.
Ia menyerbu dengan teriakan pendek, goloknya berputar lebar.
Benturan berikutnya hampir membuat pedang Liang Chen terlepas. Tenaganya jauh lebih besar.
Liang Chen mundur satu langkah, lalu dua.
Penyerang ketiga memanfaatkan celah, menusuk dari sisi yang tidak terlihat.
Ujung pedang itu menembus punggung Liang Chen, tidak dalam, tetapi cukup untuk membuatnya tersentak.
Rasa panas menjalar.
Darah kembali mengalir.
Tubuhnya mulai kehilangan stabilitas.
Pria bertubuh besar melihat kesempatan.
Ia mengangkat golok tinggi-tinggi untuk tebasan pemungkas.
Liang Chen tidak menghindar sepenuhnya.
Ia justru maju setengah langkah.
Golok itu menghantam bahunya, merobek daging lebih dalam, tetapi tidak memutus tulang.
Dalam jarak sedekat itu, golok besar kehilangan ruang ayun.
Dan Liang Chen memanfaatkannya.
Ia menusuk lurus ke perut pria itu.
Bilahnya masuk dalam.
Sangat dalam.
Mata pria bertubuh besar membelalak.
Tangannya masih menggenggam golok, tetapi tenaganya menghilang.
Liang Chen memutar pedangnya di dalam luka sebelum menariknya keluar.
Darah mengucur deras, mengalir seperti aliran kecil di tanah lembah.
Tubuh besar itu jatuh berlutut, lalu ambruk ke samping.
Tersisa satu orang.
Penyerang yang menusuk punggungnya kini mundur satu langkah.
Ketakutan mulai terlihat jelas.
Namun ia tetap mencoba.
Dengan teriakan putus asa, ia menyerang bertubi-tubi.
Tusukan cepat. Tebasan pendek. Gerakan tanpa pola.
Liang Chen tidak lagi mencoba membaca teknik.
Ia hanya fokus pada satu hal: mengakhiri.
Saat lawan menusuk terlalu lurus, Liang Chen menggeser tubuh, membiarkan bilah itu meluncur di sisi tulangnya, lalu menghantamkan kepalanya ke wajah lawan.
Tulang hidung patah.
Sebelum pria itu sempat sadar, pedang Liang Chen sudah menebas dari bawah ke atas.
Dari perut hingga dada.
Kain terbelah. Kulit terbuka. Darah menyembur hangat.
Pria itu jatuh sambil memegangi tubuhnya sendiri, tak percaya pada apa yang baru saja terjadi.
Beberapa detik kemudian, ia tidak bergerak lagi.
Sunyi.
Hanya suara napas Liang Chen yang berat dan angin lembah yang kembali berembus pelan.
Empat tubuh tergeletak di tanah.
Darah menyerap ke dalam debu dan batu.
Orang-orang yang menonton tadi kini saling pandang.
Tidak ada yang berani maju.
Liang Chen berdiri dengan goyah, tubuhnya penuh luka—bahu robek, punggung berdarah, paha masih perih.
Namun matanya belum padam.
Ia mengangkat pedangnya sedikit, cukup untuk memperlihatkan bahwa ia masih mampu bertarung.
“Siapa lagi?” suaranya rendah, serak, tetapi jelas.
Tidak ada yang menjawab.
Satu per satu, orang-orang di lembah mulai mundur.
Bukan karena iba.
Karena hitungan mereka berubah.
Untuk membunuh Liang Chen sekarang, mungkin butuh lima atau enam orang lagi.
Dan tidak ada yang mau menjadi dua atau tiga mayat pertama.
Di tempat tanpa aturan seperti ini, keberanian selalu dihitung dengan peluang selamat.
Liang Chen perlahan menurunkan pedangnya.
Ia tahu tubuhnya tidak akan mampu bertarung lagi hari ini.
Ia berjalan ke arah salah satu bangunan kayu kosong, mengambil kain kasar dari dalamnya tanpa meminta izin.
Tak ada yang menghentikan.
Ia mengikat bahunya lebih kuat, menahan pendarahan sebisanya.
Rasa pusing mulai datang.
Namun ia tidak boleh tumbang di tengah lembah.
Ia melangkah keluar lagi, melewati mayat-mayat yang masih hangat.
Tidak ada upacara. Tidak ada penguburan.
Hanya tanah dan waktu.
Saat ia mencapai jalur keluar, seorang lelaki tua yang sejak tadi bersandar pada batu akhirnya bersuara.
“Kau tahu apa artinya ini?” tanyanya.
Liang Chen berhenti tanpa menoleh.
“Apa?”
“Mulai hari ini, kau bukan lagi orang luar.”
Liang Chen terdiam.
“Di lembah ini, siapa yang bertahan akan dikenang. Siapa yang membunuh cukup banyak, akan dicari.”
“Dicari oleh siapa?”
Lelaki tua itu tersenyum samar.
“Oleh mereka yang lebih tinggi dari lembah.”
Liang Chen tidak menjawab.
Ia melangkah keluar tanpa melihat ke belakang.
Angin sore menyapu wajahnya yang lengket oleh darah.
Langkahnya berat, tetapi mantap.
Ia masuk ke lembah sebagai orang yang diuji.
Ia keluar sebagai orang yang telah menumpahkan cukup darah untuk mengundang perhatian.
Dan di dunia persilatan, perhatian adalah awal dari perang yang lebih besar.