Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Tahu Rasa
Matahari mulai tergelincir ke ufuk barat saat Sierra memutuskan untuk pamit dari kediaman Jasper. Namun, Adrian tidak akan membiarkan Sierra pulang sendirian.
"Aku akan mengantarmu," ucap Adrian dengan nada final yang tidak menerima bantahan.
James, yang sudah bertahun-tahun menjadi asisten kepercayaan Adrian, segera menangkap sinyal itu. Dengan senyum penuh arti, ia berdehem pelan. "Bos, sepertinya aku harus mampir ke kantor pusat sebentar untuk mengambil dokumen yang tertinggal. Aku akan naik taksi saja. Tidak eprlu khawatirkan aku."
Tanpa menunggu jawaban, James menghilang dengan cepat, meninggalkan Sierra dan Adrian dalam keheningan yang sedikit canggung di teras rumah. Sierra ingin menolak, namun tatapan Adrian begitu intens.
Adrian langsung membukakan pintu untuk Sierra. Setelah menimbang-nimbang, Sierra akhirnya memutuskan masuk.
Di dalam mobil, keheningan menyelimuti mereka. Adrian yang biasanya dingin dan irit bicara, tiba-tiba memecah suasana. "Kau pasti lapar. Ada sebuah restoran di dekat sini. Masakannya tidak akan mengecewakanmu."
Restoran yang dimaksud adalah restoran mewah yang masih di bawah Blackwood Group bernama Lignum.
Awalnya, Sierra ingin menggeleng. Ia hanya ingin pulang, mandi, dan tidur. Namun, saat Adrian menyebutkan nama restorannya, sebuah tempat legendaris yang daftar tunggunya bisa mencapai berbulan-bulan, rasa penasaran Sierra bangkit. Sebagai seseorang yang jarang memanjakan diri dengan kemewahan, ia tidak bisa menolak kesempatan mencicipi masakan koki bintang lima.
"Baiklah," jawab Sierra pendek. "Tapi aku masih pakai seragam."
"Restoran itu adalah milik Blackwood," sahut Adrian santai. "Kau bisa memakai apa saja, bahkan jika kau ingin memakai piyama sekalipun."
Sesampainya di sana, manajer restoran yang diberitahu oleh security bahwa ia melihat mobil Adrian datang, langsung berlari tergopoh-gopoh keluar. Ia membungkuk hormat, namun matanya hampir keluar saat melihat Adrian Blackwood, pria paling berkuasa di Metropolia membukakan pintu mobil untuk seorang gadis muda berseragam sekolah.
Sang manajer awalnya mengira itu adalah keponakan Adrian yang selama ini dirahasiakan oleh keluarga Blackwood. Namun, saat melihat bagaimana cara Adrian menatap Sierra dengan binar lembut yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun, dan berbicara dengan nada yang sangat lembut hampir menyerupai bisikan penuh perhatian, manajer itu shock. Hubungan ini jelas bukan paman dan keponakan. Lebih mengejutkan lagi, gadis itu menanggapi setiap perhatian Adrian dengan wajah datar, seolah-olah dilayani oleh seorang Adrian adalah hal yang biasa ia dapatkan setiap hari.
"Siapkan hidangan terbaik kita di private roomku," perintah Adrian.
Di dalam ruangan yang elegan itu, hidangan mulai bermunculan satu per satu. Aroma truffle, daging wagyu premium, dan saus artisan memenuhi udara.
"Semuanya tampak lezat, aku tidak tahu harus mulai dari mana," gumam Sierra, matanya sedikit berbinar melihat presentasi makanan yang artistik.
"Cobalah ini dulu," Adrian mengambilkan sepotong daging lembut dan meletakkannya di piring Sierra.
Sierra memakannya. Matanya membulat. "Enak."
Adrian tersenyum tipis, sebuah pemandangan langka. Ia kemudian mengambilkan hidangan laut, lalu hidangan penutup kecil, dan terus mengisi piring Sierra. Sierra yang biasanya makan sedikit seperti burung, malam itu justru kalap. Ia merasa makanan itu terlalu sayang untuk dilewatkan. Ia tidak sadar bahwa Adrian hampir tidak makan, pria itu lebih sibuk "melayani" Sierra, memotongkan dagingnya, dan memastikan gelas minumnya selalu terisi.
"Kenapa kau tidak makan?" tanya Sierra di tengah kunyahannya.
"Melihatmu makan dengan lahap sudah cukup membuatku kenyang," jawab Adrian tulus.
Sebelum mereka pulang, Adrian mengeluarkan ponselnya. "Berikan nomor ponselmu. Jika terjadi sesuatu lagi pada Anastasia, kau bisa mengabariku langsung tanpa melalui James."
Sierra tidak curiga dan memberikannya. Adrian menambahkan, "Jika kau butuh bantuan dalam hal apa pun, jangan sungkan. Bahkan jika kau hanya bosan dan butuh teman bicara, aku bersedia."
Sierra menatap Adrian sejenak. Di luar sana, orang-orang menyebut Adrian sebagai iblis dingin yang kejam. Namun, pria di depannya ini terasa hangat. "Rumor memang tidak pernah bisa dipercaya," pikir Sierra, tanpa tahu bahwa kelembutan itu adalah edisi terbatas yang khusus hanya untuknya.
Malam itu, setelah mandi, ponsel Sierra bergetar di atas nakas.
Adrian: "Selamat malam, Sierra. Mimpi indah."
Sierra tertegun sejenak, lalu membalas singkat: "Hm. Kau juga."
Keesokan harinya di sekolah, Sierra sudah menyiapkan rencana untuk Yara Holland. Ia tahu Yara adalah otak di balik perundungan Anastasia.
Saat jam pulang sekolah, Sierra berjalan melewati bangku Yara di ruangan kelas yang mulai sepi. Dengan gerakan yang terlihat seperti kecelakaan murni, Sierra menyenggol bahu Yara hingga isi tumblernya, kopi hitam pekat, tumpah tepat di seragam putih bersih Yara.
"AAAHHH! SIALAN! APA YANG KAU LAKUKAN, SIERRA?!" Yara berteriak histeris, menatap noda besar yang merembes di dadanya.
Sierra hanya melirik sekilas tanpa ekspresi. Ia terus berjalan tanpa mengucapkan kata maaf. Yara hendak mengejar dan mencekal lengan Sierra, namun ia mendadak teringat bagaimana nasib Wanda Steel yang lengannya dislokasi. Ia mengurungkan niatnya, hanya bisa menghentak-hentakkan kaki dengan kesal.
"Dasar jalang! Lihat saja nanti! Aku pasti membalasmu, Sierra!!" teriak Yara sebelum berlari menuju toilet untuk membersihkan noda itu dengan membawa tas punggungnya.
Sierra tidak pulang. Ia bersembunyi di balik pilar, mengamati Yara masuk ke toilet. Ia menunggu hingga murid terakhir keluar dari toilet tersebut. Sekolah mulai sepi. Suasana sudah sangat sunyi, hanya tinggal beberapa orang berlalu lalang di koridor.
Yara di dalam toilet sedang sibuk menggosok rok dan bajunya dengan air, namun bekas kopi itu justru makin melebar. Ia menyerah membersihkannya. Ia lantas masuk ke salah satu bilik untuk mengganti seragamnya dengan baju olahraga yang bekas dia pakai tadi pagi. Saat itulah, Sierra bergerak.
Srak!
Sierra mengganjal pintu bilik Yara dengan batang besi yang ia ambil dari ruang petugas kebersihan, Sierra bahkan membengkokkan batang besi itu dengan tangan kosongnya supaya lebih sulit dibuka. Kemudian, ia mengambil ember berisi air bekas pel yang hitam dan berbau amis, lalu mengguyurkannya dari atas celah pintu bilik.
"KYAAAAA!! SIAPA ITU?! KURANG AJAR! SIERRA, PASTI KAU KAN YANG ADA DI LUAR?!!" Yara berteriak panik di dalam bilik yang sempit.
Sierra tidak menjawab. Ia berjalan ke arah wastafel, mendekati tas Yara dan melihat ponsel gadis itu ada di sana. Sierra pikir tanpa ponsel, Yara tidak punya cara untuk meminta bantuan dari dalam bilik.
Sierra membiarkan ponsel itu tetap ada di wastafel karena dia yakin Yara tidak akan semudah itu keluar dari bilik toilet.
Sierra kemudian melangkah keluar, menggembok pintu utama toilet dari luar lalu mematikan saklar lampu toilet.
Klik.
Toilet itu menjadi gelap gulita. Yara di dalam bilik terus berteriak hingga mulai menangis sesenggukan. Ia berusaha mendobrak pintu bilik, namun pintu itu tetap kuat bertahan. Ia mencoba merangkak lewat celah bawah, namun tubuhnya yang cukup berisi tidak muat. Saat mencoba memanjat dudukan toilet untuk melompat keluar lewat celah atas bilik, kakinya tergelincir hingga ia jatuh ke lantai yang licin akibat air pel.
"ADUH! Kakiku... tolong! Siapa pun, tolong!" Yara mengerang kesakitan, kakinya terkilir hebat.
Di luar gedung, Sierra duduk di bangku taman sambil membuka laptopnya. Pertama-tama ia menghapus rekaman cctv sekolah di lantai 2. Lalu, ia meretas sistem ponsel Yara. Ia mengaktifkan speaker ponsel tersebut dan memutar suara rekaman tangisan wanita yang melengking secara repetitif.
Di dalam toilet yang gelap dan bau, Yara membeku. Suara tangisan itu menggema di dinding porselen. "Siapa itu?! Jangan ganggu aku!! Jangan... kumohon, siapa pun... tolong aku!" Yara meringkuk di sudut bilik, gemetar hebat karena ketakutan yang luar biasa.
Hingga pukul tujuh malam, belum ada yang menemukan Yara. Supir pribadinya mulai panik karena panggilannya pada Yara belum dijawab. Ia meminta security sekolah memeriksa di dalam, namun mereka melaporkan bahwa semua kelas sudah kosong. Bahkan area lapangan juga sudah tidak ada orang. Tapi mereka lupa tidak memeriksa area toilet.
Supir itu akhirnya menghubungi Mrs. Holland yang sedang asyik arisan berlian dengan para nyonya sosialita lainnya. "Mrs Holland, Ms Holland belum juga terlihat. Saya sudah menelpon berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Apa Ms Holland mungkin sudah pulang lebih dulu?"
Mrs. Holland awalnya tidak peduli. "Mungkin dia sedang belanja di mall. Anak itu kan memang tidak tahu waktu. Atau mungkin main ke rumah temannya"
Setelah mematikan telpon supirnya, Mrs Holland akhirnya menghubungi Yara secara langsung. Namun, setelah mencoba menelpon berkali-kali dan mendapati ponsel Yara mati. Hal itu karena batere ponsel Yara habis, Mrs. Holland mulai merasa ada yang tidak beres karena anaknya itu tidak pernah mematikan ponselnya.
Dengan hati yang mulai was-was, ia kembali menelpon supirnya agar tetap menunggu di sekolah, karena ia juga akan menyusul ke sana. Ia yakin lokasi terakhir Yara terlihat pasti di sekolah, karena tadi pagi ia yang mengantar Yara ke sekolah.
Di sepanjang perjalanan, Mrs Holland juga berusaha menghubungi satu per satu teman dekat Yara. Tapi tetap tidak ada yang mengetahui dimana keberadaan Yara. Semuanya mengatakan hal sama bahwa sampai jam pulang mereka masih melihat Yara bermain ponselnya di kelas.