NovelToon NovelToon
One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

One Piece: Sang Kaisar Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Time Travel / Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / One Piece / Fantasi Isekai
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.

Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)

untuk mengubah sejarah Grand Line.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LATIHAN NERAKA VERSI DUA

Garp tidak bohong soal latihan neraka versi dua.

Versi pertama setahun lalu sudah brutal—lari dengan beban, sparring sampai babak belur, bertahan di hutan berbahaya. Tapi versi dua ini? Ini level yang sama sekali berbeda.

"Kalian sudah lebih kuat dari setahun lalu. Jadi latihannya harus disesuaikan!" Garp berteriak dengan semangat yang terlalu tinggi untuk jam empat pagi. "Sekarang kita ke pantai!"

Kami mengikuti dengan setengah sadar—masih mengantuk berat.

Di pantai, Garp menunjuk laut yang gelap.

"Kalian akan berenang ke pulau kecil itu. Lihat? Yang ada pohon kelapa tunggal?"

Kami menatap ke arah yang ditunjuk. Pulau kecil itu jauh. Sangat jauh. Setidaknya lima kilometer dari pantai.

"LIMA KILOMETER?!" Sabo berteriak shock. "Itu mustahil untuk anak-anak!"

"Tidak mustahil kalau kalian cukup termotivasi. Oh ya—" Garp menyeringai jahat. "Ada monster laut di perairan ini. King of the Shore namanya. Panjangnya dua puluh meter. Suka makan manusia. Jadi berenang cepat atau jadi santapan. Pilih sendiri!"

King of the Shore. Monster laut yang di timeline asli akan makan lengan Shanks saat menyelamatkan Luffy.

"Tapi Ace tidak bisa berenang! Dia pengguna Devil Fruit!" aku protes keras.

"Makanya belajar berenang sambil tidak tenggelam! Itu skill penting! Banyak user Devil Fruit mati karena jatuh ke laut dan tidak tahu cara bertahan!"

Logika gila tapi... ada benarnya juga.

"Kalian punya lima menit untuk siap. Lalu... LOMPAT!"

Lima menit?! Itu bahkan tidak cukup untuk pemanasan!

Tapi kami tidak punya pilihan. Mulai peregangan cepat—siapkan tubuh untuk berenang jarak jauh.

"Ace, bagaimana kau akan bertahan? Kau akan lemas begitu masuk air," Sabo berbisik khawatir.

"Aku tidak akan masuk sepenuhnya. Aku akan 'mengapung' di permukaan air—kontrol tubuh jadi ringan seperti api. Harusnya bisa mengurangi efek laut."

"Itu hanya teori!"

"Maka sekarang saatnya test!"

"WAKTU HABIS! LOMPAT SEKARANG!"

Kami terpaksa lompat ke laut.

BYUUURR!

Air dingin langsung menusuk tulang. Dan lebih buruk—aku langsung merasakan kelemahan Devil Fruit. Tubuh lemas. Energi terkuras. Seperti ada beban berat menarik ke bawah.

"ACE!" Sabo berenang mendekatiku—pegang lenganku supaya tidak tenggelam.

"Aku... oke..." aku memaksa tubuh tetap fokus. Bayangkan tubuh ringan. Bayangkan api yang mengapung di udara—bukan tenggelam.

Perlahan, sensasi lemas berkurang sedikit. Masih ada tapi tidak separah tadi.

"Aku bisa... ayo..."

Kami mulai berenang. Sabo di sampingku—siap bantu kalau aku mulai tenggelam lagi.

Seratus meter pertama masih oke. Tapi setelah itu, lengan mulai berat. Kaki mulai kram.

"Jangan berhenti! Terus bergerak!" Sabo menyemangati sambil berenang mundur di depanku—pastikan aku tidak ketinggalan.

Dua ratus meter. Tiga ratus meter. Setiap meter terasa seperti satu kilometer.

Lalu—getaran di dalam air.

Sesuatu yang besar mendekat.

"SABO! Ada sesuatu!"

Dari bawah, bayangan besar muncul. Sirip raksasa. Tubuh panjang seperti ular laut.

King of the Shore.

Mulutnya terbuka lebar—penuh gigi tajam—langsung menyerang dari bawah.

"BERENANG CEPAT!"

Kami berenang sekuat tenaga. Monster itu mengejar dengan kecepatan mengerikan.

"ACE! Kau harus gunakan api! Takuti dia!" Sabo berteriak.

"Tapi aku di air! Api tidak akan—"

Tunggu. Api tidak akan menyala di air. Tapi bagaimana kalau aku ubah bentuk?

Aku fokus keras. Energi spiritual mengalir. Tangan kanan menyala—tidak besar tapi cukup terang—dan aku celupkan ke air.

SSSSSHHH!

Air mendidih di sekitar tangan. Uap panas naik.

Monster itu ragu—mundur sedikit karena panas.

"BERHASIL! Terus lakukan itu!"

Aku terus jaga api menyala di tangan meski sangat sulit di dalam air. Monster tetap mengikuti tapi tidak berani terlalu dekat.

Akhirnya—setelah terasa seperti selamanya—kami sampai di pulau kecil. Naik ke pantai dan langsung kolaps.

"Hah... hah... aku... tidak yakin... bisa hidup..." aku terengah-engah berat.

"Sama... tubuhku... mati rasa semua..."

"BAGUS! KALIAN SAMPAI!" Garp tiba-tiba muncul dari balik pohon kelapa—ternyata dia sudah ada di pulau sejak awal. Mungkin lompat atau pakai kapal cepat.

"Sekarang kalian istirahat sepuluh menit. Lalu berenang balik ke pantai utama!"

"BALIK?!" kami berteriak bersamaan.

"Tentu! Kau pikir cuma sekali? Kalian harus bisa pulang-pergi sepuluh kali sebelum latihan hari ini selesai!"

SEPULUH KALI?! ITU SERATUS KILOMETER TOTAL!

"Kami akan mati!" Sabo protes.

"Tidak akan. Kakek akan awasi. Kalau benar-benar bahaya, kakek akan selamatkan. Tapi selain itu, kalian harus selesaikan sendiri!"

Ini gila. Benar-benar gila.

Tapi kami tidak punya pilihan.

Sepuluh menit istirahat berlalu terlalu cepat. Kami harus berenang lagi.

Pulang-pergi pertama sudah menyiksa. Pulang-pergi kedua lebih buruk. Pulang-pergi ketiga, lenganku hampir tidak bisa bergerak.

Tapi entah bagaimana—dengan kemauan keras atau karena takut mati—kami menyelesaikan sepuluh kali pulang-pergi.

Total seratus kilometer berenang.

Saat sampai pantai utama terakhir kali, kami langsung pingsan di pasir.

"Lumayan! Waktu kalian sembilan jam! Besok target tujuh jam!" Garp berkata santai sambil makan pisang.

Sembilan jam berenang nonstop. Dan dia bilang lumayan.

Sadis.

Hari kedua dimulai dengan latihan berbeda—tapi tidak kalah brutal.

"Hari ini kalian akan memanjat tebing!" Garp menunjuk tebing curam setinggi dua ratus meter. "Tanpa alat bantu! Hanya tangan kosong!"

Tebing itu hampir vertikal. Bebatuan licin karena air terjun di sampingnya. Satu kesalahan langkah artinya jatuh dan mati.

"Dan untuk memotivasi kalian—" Garp mengangkat dua ransel besar. "Kalian akan bawa ini! Masing-masing seratus kilogram!"

"SERATUS?!" itu dua kali lipat dari latihan setahun lalu!

"Ya! Tubuh kalian sudah lebih kuat! Jadi beban harus disesuaikan!"

Dia memasangkan ransel di punggung kami—beratnya langsung bikin lutut hampir menyerah.

"Naik sekarang! Dan kalau jatuh, pastikan jatuh di kolam bawah—bukan di bebatuan!"

Kami mulai memanjat dengan sangat hati-hati. Setiap pegangan harus kuat. Setiap pijakan harus stabil. Satu kesalahan bisa fatal.

Sepuluh meter pertama masih bisa. Tapi setelah itu, beban di punggung mulai terasa menyiksa. Tangan gemetar setiap kali pegang bebatuan.

"Sabo... tanganku... tidak kuat..." aku berkata sambil bergelantungan di ketinggian tiga puluh meter.

"Bertahan! Fokus pada pegangan berikutnya! Jangan lihat bawah!"

Kami terus naik. Perlahan. Sangat perlahan.

Lima puluh meter. Tujuh puluh meter. Seratus meter.

Di ketinggian seratus dua puluh meter, tanganku mulai tergelincir—keringat membuat pegangan licin.

"SABO! AKU JATUH!"

Pegangan lepas. Tubuh mulai jatuh bebas—

Tapi di detik terakhir, aku aktifkan Mera Mera no Mi. Ubah kaki jadi api dan semburkan ke bawah seperti roket—menciptakan dorongan ke atas yang cukup untuk melambatkan jatuh.

Tangan kiri berhasil tangkap bebatuan lain. Bergelantungan dengan satu tangan.

"ACE!"

"Aku... oke... lanjut..."

Dengan susah payah, aku tarik tubuh naik lagi.

Dua jam kemudian—DUA JAM—kami akhirnya sampai puncak tebing. Kolaps dengan napas terengah-engah seperti ikan di darat.

"Bagus! Sekarang turun!"

"TURUN?!"

"Ya! Tapi turun lebih mudah. Kalian cuma perlu... melompat!"

Dia menunjuk kolam dalam di bawah—dua ratus meter turun vertikal.

"Itu bunuh diri!" Sabo protes.

"Bukan kalau kalian tahu cara landing yang benar! Tonton ini!"

Garp melompat tanpa ragu. Jatuh bebas dengan kecepatan mengerikan—lalu tepat sebelum menghantam air, dia putar tubuh jadi posisi tegak lurus dan masuk air dengan sempurna.

BYUUURRR!

Dia muncul lagi dengan senyum lebar.

"LIHAT?! MUDAH! SEKARANG GILIRAN KALIAN!"

"Aku tidak yakin ini ide bagus..." aku bergumam.

"Tidak ada pilihan. Kalau tidak lompat, dia akan lempar kita," Sabo menjawab dengan pasrah.

"Oke. Hitungan tiga?"

"Tiga."

"Satu... dua... TIGA!"

Kami lompat bersamaan.

Sensasi jatuh bebas dari ketinggian dua ratus meter adalah hal paling menakutkan yang pernah kualami. Angin menampar wajah. Perut terasa naik ke tenggorokan. Jantung berdetak gila.

Tepat sebelum menghantam air—aku ingat instruksi Garp. Putar tubuh jadi tegak lurus. Kaki rapat. Tangan di samping.

BYUUURRR!

Air menghantam keras—tapi tidak separah yang kukira. Masuk cukup dalam tapi akhirnya naik lagi ke permukaan.

"BERHASIL!" aku berteriak lega.

Sabo juga muncul dengan senyum lebar—meski wajahnya pucat.

"Jangan mau lagi... jantung hampir copot..."

"GWAHAHA! Bagus! Sekarang naik lagi dan lompat lagi! Sepuluh kali!"

"SEPULUH KALI?!"

Hari itu adalah hari terpanjang dalam hidup kami.

Tiga minggu berlalu dalam latihan brutal yang tidak pernah berhenti.

Setiap hari adalah ujian survival. Setiap latihan adalah pertarungan melawan batas tubuh.

Tapi hasilnya luar biasa.

Armament Haki-ku sekarang bisa bertahan sepuluh menit penuh—lima kali lipat dari sebelumnya. Observation Haki Sabo mencapai radius tiga puluh meter—bisa merasakan presence dari jarak sangat jauh.

Kontrol Devil Fruit-ku juga meningkat drastis. Sekarang bisa ubah bentuk api dengan sangat cepat—dari bola jadi tombak, dari tombak jadi perisai, semua dalam hitungan detik.

Dan yang paling penting—stamina meningkat drastis. Dulu Hiken White Flame menguras semua energi. Sekarang masih bisa bertarung setelah menggunakannya.

Hari terakhir latihan, Garp memanggil kami ke pantai saat matahari terbenam.

"Tiga minggu yang bagus. Kalian berkembang luar biasa—bahkan melebihi ekspektasi kakek."

Pujian langka dari Garp.

"Ace. Armament Haki-mu sekarang setara dengan Marine Captain level menengah. Beberapa tahun lagi, mungkin bisa setara Vice Admiral."

"Sabo. Observation Haki-mu bahkan lebih tajam dari beberapa Rear Admiral yang kakek kenal. Terus asah itu."

Kami tersenyum lebar—capek tapi bangga.

"Tapi jangan berhenti disini. Ini baru permulaan. Masih banyak yang harus dipelajari. Masih banyak musuh kuat di luar sana."

Dia menatap cakrawala dimana matahari perlahan tenggelam.

"Suatu hari, kalian akan masuk Grand Line. Dan disana, kalian akan bertemu monster sesungguhnya. Yonko dengan kekuatan seperti dewa. Admiral dengan Devil Fruit yang bisa ubah iklim. Shichibukai dengan kemampuan gila."

Dia berbalik menatap kami.

"Tapi kakek percaya kalian bisa. Karena kalian punya sesuatu yang banyak orang kuat tidak punya—kehendak D. Kehendak untuk terus maju apapun yang terjadi."

Kehendak D. Warisan yang dibawa semua orang dengan inisial D di nama mereka.

"Jaga diri baik-baik. Dan jaga Luffy. Bocah itu akan jadi seseorang yang luar biasa suatu hari nanti. Mungkin bahkan Raja Bajak Laut."

Prediksi yang sama dengan yang kuketahui.

"Kami akan jaga dia. Apapun yang terjadi," aku berjanji.

"Bagus. Sekarang kakek harus pergi. Tugas menunggu. Tapi kakek akan datang lagi tahun depan—dengan latihan yang lebih brutal lagi!"

"Lebih brutal?! Ini sudah hampir bunuh kami!" Sabo protes.

"GWAHAHA! Kalian akan survive! Kakek yakin!"

Dia menepuk kepala kami terakhir kali—keras tapi penuh kasih sayang.

"Sampai jumpa, cucu-cucuku yang bodoh tapi kuat. Buat kakek bangga!"

Lalu dia melompat—menghilang di cakrawala dengan kecepatan yang mustahil.

Kami berdiri di pantai sambil menatap langit yang berubah jadi oranye kemerahan.

"Ace... kita benar-benar akan jadi bajak laut kan?" Sabo bertanya pelan.

"Ya. Suatu hari nanti. Saat kita cukup kuat. Saat Luffy cukup besar."

"Dan kita akan bebas. Berlayar kemana kita mau. Petualangan tanpa batas."

"Ya. Bebas."

Kata itu terasa berat sekaligus ringan. Bebas dari aturan. Bebas dari masa lalu. Bebas dari takdir yang sudah ditulis.

Api takdir berkobar lebih terang dari sebelumnya.

Ditempa oleh latihan brutal.

Diperkuat oleh tekad baja.

Siap menghadapi dunia yang kejam.

Kami masih anak-anak. Tapi kami sudah tidak biasa.

Dan suatu hari, dunia akan tahu nama kami.

Nama tiga saudara yang akan guncangkan dunia.

BERSAMBUNG

1
I'm Nao
kenapa si ace ama sabo ga belajar rokushiki? kan lumayan teknik nya bisa buat pertarungan di udara
I'm Nao
hmmm bukan nya itu mutlak ya? bagi user devil fruit
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku Ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!