NovelToon NovelToon
Only Ever

Only Ever

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Running On

Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab : 27

Waktu terus berjalan.

Perlahan, tanpa disadari, hubungan Arka dan Karin mulai membaik.

Tidak dengan lonjakan besar, tapi dengan langkah-langkah kecil yang terasa aman.

Arka tak lagi ragu mengajak Karin makan siang.

Tak lagi canggung menawarinya makan malam.

Ia mulai bercerita lagi—tentang pekerjaannya, tentang hal-hal sepele, tentang masa lalu yang pernah mereka lalui bersama.

Tentang hari-hari sekolah.

Tentang tawa yang dulu begitu mudah.

Tentang janji-janji yang pernah terasa abadi.

Dan Karin mendengarkan.

Ia menanggapi.

Tersenyum.

Sesekali tertawa.

Ia merasa nyaman.

Nyaman yang familiar.

Nyaman yang pernah ia miliki.

Nyaman yang tidak menyakitkan.

Namun hanya sampai di situ.

Karena hatinya…

tidak pernah benar-benar kembali.

Ia tidak lagi mencintai Arka.

Bukan dengan cara seperti dulu.

Yang ia rasakan kini lebih menyerupai penghargaan.

Rasa hormat.

Rasa terima kasih pada seseorang yang pernah menjadi rumah, meski rumah itu tak lagi ingin ia tempati.

Sementara itu, hari-hari berlalu tanpa satu pun percakapan antara Karin dan James.

Mereka bekerja dalam ruang yang sama,

menghirup udara yang sama,

namun hidup di jarak yang sengaja dijaga.

Tidak ada pesan.

Tidak ada candaan.

Tidak ada stiker lucu yang dulu muncul tiba-tiba di layar ponsel Karin.

James menepati janjinya—

memberi ruang.

Dan justru di situlah prasangka Karin tumbuh.

Ia mulai bertanya-tanya sendiri.

Apakah James benar-benar baik-baik saja?

Atau ia hanya berpura-pura kuat?

Apakah James menjauh karena menghormatinya…

atau karena sudah lelah menunggu?

Kadang, tanpa sengaja, mata Karin mencari sosok itu di lokasi.

Kadang, dadanya terasa sedikit kosong saat tak menemukan senyum santainya.

Namun ia memilih diam.

Karena ia sendiri belum berani jujur—

pada James,

pada Arka,

bahkan pada dirinya sendiri.

Proyek film itu akhirnya selesai.

Sebuah karya yang lahir dari kerja keras semua orang—dari pagi yang melelahkan hingga malam-malam tanpa tidur. Hari itu, film mereka resmi ditayangkan di bioskop. Sebuah pencapaian yang seharusnya dirayakan dengan tawa dan kebanggaan.

Dan memang begitu adanya.

Seluruh tim datang bersama. Ada yang bercanda, ada yang bertepuk tangan kecil, ada yang menahan haru.

Arka, Karin, dan James berada di ruangan yang sama.

Arka dan Karin duduk di bangku paling depan. Berdampingan.

Sementara James memilih duduk di barisan paling belakang—cukup jauh untuk tidak terlihat, cukup dekat untuk memperhatikan.

Lampu bioskop meredup.

Layar besar menyala.

Film itu dimulai.

Kisahnya tentang dua anak SMA.

Tentang pertemuan pertama.

Tentang tawa yang polos.

Tentang cinta yang tumbuh tanpa disadari.

Wajah Arka menegang perlahan.

Setiap adegan terasa terlalu familiar.

Setiap dialog terasa terlalu dekat.

Ia melihat dirinya sendiri di layar.

Melihat Karin versi muda—tersenyum dengan cara yang dulu hanya ia yang tahu.

Tentang bagaimana Karin mulai mencintainya.

Tentang bagaimana ia perlahan jatuh lebih dalam.

Tentang janji-janji yang diucapkan dengan keyakinan, tanpa tahu masa depan akan menguji semuanya.

Dadanya terasa sesak.

Tanpa ia sadari, air mata jatuh satu per satu.

Baru saat itu Arka mengerti.

Bahwa Karin mengabadikan kisah mereka dalam tulisan.

Bahwa dulu, Karin mencintainya sedalam itu—hingga ia menjadikannya sebuah cerita.

Dan bahwa ia telah membuat kesalahan yang terlalu besar.

Di barisan belakang, James memperhatikan punggung dua orang di depannya.

Ia tidak ikut tertawa.

Tidak ikut menangis.

Ia hanya duduk diam—

seperti orang asing yang terselip di antara dua kenangan yang belum selesai.

Film berakhir.

Lampu menyala.

Orang-orang berdiri, saling memberi selamat.

Namun Karin dan Arka pulang bersama dalam keheningan.

Di dalam mobil, tidak ada percakapan.

Karin menatap lurus ke depan.

Arka tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Tiba-tiba, mobil berhenti.

Arka meminggirkannya di tengah jalan.

Karin menoleh, terkejut. “Ada apa, Arka?”

Arka menatapnya. Lama.

Matanya merah.

“Film itu…” suaranya bergetar,

“itu kisah kita, ya?”

Karin mengangguk. “Iya. Itu kisah kita,” jawabnya tenang. “Kisah yang lucu. Dan aku mengenang momen itu dengan baik.”

Hati Arka bergetar mendengarnya.

Ia salah mengartikannya sebagai harapan.

“Karin…” katanya pelan, “tidakkah kita kembali bersama?”

Karin terdiam.

Ia menatap Arka—bukan dengan benci, bukan dengan marah, tapi dengan kejujuran yang sudah lama ia simpan.

“Arka,” ucapnya akhirnya. “Dari semua orang, kamu yang paling mengenal aku.”

Ia menarik napas. “Kamu tahu tentang Ayahku. Kamu tahu Mama dan Papa berpisah karena apa.” “Karena Papa memilih pekerjaannya… dan meninggalkan Mama.”

Matanya berkaca-kaca. “Dan kamu melakukan hal yang sama padaku.”

Arka menunduk.

“Kamu memilih kariermu dan meninggalkanku,” lanjut Karin. “Kalau aku kembali padamu sekarang… bagaimana jika kamu mengulang hal yang sama?”

Ia menggeleng pelan. “Aku tidak ingin hidup dalam ketakutan yang sama.”

Karin terdiam sejenak, lalu berkata dengan suara yang lebih lirih namun tegas, “Sejujurnya… aku sudah menolak seseorang yang membuatku lebih mengerti tentang diriku sendiri.” “Dia membuatku tumbuh. Membuatku dewasa.”

Arka menatapnya, seolah sudah tahu jawabannya.

“Dia James,” kata Karin. “Dan aku sangat mencintainya.”

Kata cinta itu menghantam Arka tanpa ampun.

Air matanya runtuh.

Ia menangis—keras, tanpa mampu ditahan.

Semua perasaan yang terlambat.

Semua penyesalan yang tak bisa diperbaiki.

Karin tak sanggup melihatnya.

Ia hanya mengulurkan tangan, mengelus pundak Arka dengan lembut.

“Maafkan aku,” ucap Arka di antara isaknya.

Dan Karin tahu—

yang benar-benar berakhir malam itu

bukan hanya hubungan mereka,

melainkan harapan yang terlalu lama digenggam Arka sendirian.

Karin mengelus punggung Arka perlahan, jemarinya meremas kain kemeja pria itu dengan lembut. Tatapannya jatuh pada Arka—pria yang kini menunduk, menangis keras hingga bahunya bergetar, napasnya tersendat oleh isak yang tak lagi bisa ditahan.

Di sela tangisnya, Arka teringat masa lalu.

Kata-kata bodoh yang pernah ia ucapkan dengan ringan, seolah tidak akan meninggalkan bekas apa pun.

Aku bosan, katanya dulu.

Padahal yang ia tinggalkan bukan kebosanan—melainkan cinta yang tulus.

Karin mengangkat wajah Arka pelan, menghapus air mata yang terus mengalir di pipinya.

“Arka…” suaranya lembut, nyaris berbisik.

“Terima kasih untuk semuanya.”

Ia tersenyum tipis, senyum yang penuh penerimaan, bukan penyesalan.

“Maaf… aku tidak bisa kembali bersamamu.”

Kata-kata itu jatuh pelan, tapi menghantam keras.

Karin hendak membuka pintu dan keluar dari mobil, namun Arka lebih cepat. Ia menahan pergelangan tangan Karin, lalu menariknya ke dalam pelukan.

Erat.

Terlalu erat.

Seolah jika ia melepaskannya sekarang, Karin akan benar-benar hilang dari hidupnya.

Ia memeluk Karin tanpa kata, tanpa janji, hanya rasa takut kehilangan yang terlambat disadari.

Namun semuanya memang telah berakhir.

Arka bukan lagi milik Karin.

Dan Karin… bukan lagi tempat pulangnya.

Karin perlahan melepaskan diri. Tatapannya terakhir kali jatuh pada Arka—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai kenangan yang pernah ia cintai sepenuh hati.

Pintu mobil tertutup.

Tinggallah Arka seorang diri di dalam mobil yang sunyi. Tangisnya pecah tanpa ditahan lagi, memenuhi ruang sempit itu dengan penyesalan yang tak bisa diputar ulang.

“Maafkan aku, Karin…”

ucapnya lirih, di antara isak yang tersisa.

Dan malam itu, ia benar-benar belajar satu hal:

bahwa ada cinta yang tidak hilang karena berhenti mencintai—

melainkan karena terlambat memilih.

Saat hujan turun malam itu, Karin berlari menuju hotel tempat James menginap. Gaun dan rambutnya sedikit basah, napasnya tersengal, tapi langkahnya tidak melambat.

Ia sudah menyadari perasaannya.

Ia ingin mengatakan pada James bahwa ia telah jatuh cinta padanya.

Sesampainya di hotel, Karin langsung menekan bel kamar James.

Pintu terbuka.

Namun yang berdiri di hadapannya bukan James, melainkan seorang pria asing.

Karin tersenyum gugup, lalu bertanya,

“Excuse me… is James inside?”

(Permisi… apakah James ada di dalam?)

Pria itu tampak berpikir sejenak, lalu menggeleng pelan.

“I’m sorry. The guest in this room checked out about an hour ago.”

(Maaf. Penghuni kamar ini sudah check-out sekitar satu jam yang lalu.)

Jantung Karin mencelos.

“Do you know where he went?”

(Apa Anda tahu ke mana dia pergi?)

“He said he was going to the airport. Korea, I think.”

(Dia bilang akan ke bandara. Ke Korea, sepertinya.)

Wajah Karin memucat.

Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia langsung berbalik dan berlari keluar hotel.

---

Di luar, hujan masih turun.

Karin memanggil taksi sambil menghubungi nomor James berulang kali.

Tidak tersambung.

Tidak sekali pun.

---

Tak lama kemudian, Karin tiba di bandara.

Ia berlari menyusuri terminal, menatap setiap wajah yang lewat, berharap menemukan satu wajah yang ia cari.

James tidak ada.

Langkah Karin melemah.

Ia berhenti, lalu berlutut perlahan, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Saat itulah sebuah tangan menyentuh pundaknya dari belakang.

“Karin.”

Ia menoleh.

Matanya membesar.

“James…”

Tanpa pikir panjang, Karin berdiri dan langsung memeluknya erat.

“Why did you leave without telling me?!”

(Kenapa kamu pergi tanpa memberitahuku?!)

James tertawa kecil, lalu membalas pelukan itu.

“Who told you I was leaving?”

(Siapa yang bilang aku pergi?)

Karin melepaskan pelukannya, menatap James dengan kesal.

“You left the hotel!”

(Kamu keluar dari hotel!)

James tersenyum.

“I checked out. My stay was over.”

(Aku check-out. Masa inapku sudah habis.)

“Then why are you here?!”

(Lalu kenapa kamu ada di sini?!)

“I’m sending my friend off to Korea. I’m not the one leaving.”

(Aku mengantar temanku ke Korea. Aku tidak pergi.)

Karin terdiam sesaat… lalu wajahnya berubah kesal.

Ia berbalik dan berjalan menjauh.

James mengejarnya.

“Hey, wait!”

“Karin,” katanya sambil menyusul langkahnya,

“Have you accepted me?”

(Apa kamu sudah menerimaku?)

Karin berhenti. Ia menoleh dengan wajah datar.

“No.”

(Tidak.)

Nada suaranya terdengar bercanda.

James tertawa, lalu melangkah mendekat.

Ia berhenti tepat di depan Karin—dan tanpa peringatan, mengecup bibir gadis itu singkat.

Kemudian, dengan suara pelan, ia berkata dalam bahasa Korea,

“사랑해, 카린아.”

(Aku mencintaimu, Karin.)

Karin membeku.

“What are you doing?!”

(Apa yang kamu lakukan?!)

Ia menutup wajahnya, malu saat menyadari orang-orang di sekitar memperhatikan.

Lalu ia berlari keluar bandara, sementara James tertawa dan mengejarnya.

Kisah tak selalu berakhir bahagia.

Namun dari setiap perpisahan, ada hati yang belajar lebih jujur,

dan dari setiap kehilangan, ada seseorang yang tumbuh.

......Selesai......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!