NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 : Zea Dan Callen

Bel istirahat berbunyi nyaring, menyelamatkan telingaku dari penjelasan panjang lebar tentang lapisan atmosfer bumi yang mulai membuat kelopak mataku berat.

Jam menunjukkan pukul 10.30. Matahari Pontianak sudah naik cukup tinggi, mengubah koridor sekolah menjadi lorong oven raksasa. Tapi bagiku, waktu ini hanya berarti satu hal: Sop Ayam.

Aku bukan tipe orang yang punya banyak keinginan, tapi perutku punya standar loyalitas yang tinggi. Di kantin sekolah yang riuh ini, hanya satu kios yang layak mendapat perhatianku. Kios Sop Ayam Pak De. Kuahnya bening, kaldu ayamnya gurih, dan yang paling penting: sambalnya pedas.

Aku berjalan santai menyelip di antara kerumunan siswa yang kelaparan. Suasana kantin seperti pasar saham yang sedang chaos. Teriakan memesan bakso, bunyi sendok beradu dengan mangkuk, dan tawa siswa-siswi berbaur menjadi satu frekuensi bising yang memekakkan telinga.

Saat aku sampai di antrean Kios Pak De, untungnya barisan belum terlalu panjang. Aku berdiri diam, menatap uap yang mengepul dari panci besar di depan.

"Buat satu ya, Pak De. Nasi dipisah. Paha atas," ucapku singkat saat giliranku tiba.

"Siap, Mas Callen!" seru penjual itu, yang entah kenapa hafal pesananku padahal aku baru dua minggu sekolah di sini.

Saat aku sedang menunggu racikan sop itu, seseorang berdiri di sampingku. Aroma parfum vanilla yang lembut menyapa hidung, kontras dengan bau bawang goreng dan kuah kaldu.

Aku menoleh sedikit. Zea.

Ketua kelompokku yang galak itu berdiri di sana. Dia menatap panci sop dengan tatapan serius, seolah sedang menghitung kadar nutrisi di dalamnya. Lalu, dia menoleh padaku. Tidak ada tatapan sinis seperti tadi pagi. Dia justru tersenyum tipis.

"Seleramu oke juga," katanya tiba-tiba.

Aku mengangkat alis sebelah. "Hah?"

"Sop ayam di sini enak. Jarang ada yang tahu karena letaknya di pojok," lanjut Zea. Dia beralih ke penjual. "Pak, samain kayak dia ya. Satu."

Aku hanya mengangguk pelan, kembali menatap depan. Canggung.

"Eh, Callen," panggil Zea lagi saat kami berdua menunggu pesanan disiapkan. Suaranya pelan, tertutup riuh kantin, tapi cukup jelas di telingaku. "Soal geografi tadi..."

"Kenapa?"

Zea menggigit bibir bawahnya, terlihat ragu. Sifat perfeksionisnya sepertinya sedang berperang dengan gengsinya. "Tadi Rara bilang skala 1:25.000 itu kekecilan buat kertas A3 kalau kita mau masukin detail perumahan. Menurutmu gimana, Callen? Apa kita perlu ganti skala?"

Pertanyaan itu terdengar tulus. Bukan pertanyaan menguji, tapi pertanyaan orang yang butuh validasi.

Pak De menyodorkan dua nampan berisi mangkuk sop yang mengepul. Aku mengambil milikku, lalu menatap Zea sekilas.

"Kita bahas sambil makan," jawabku singkat. "Nggak enak ngomongin peta sambil berdiri."

Zea tampak terkejut dengan respons kalemku, tapi dia mengangguk setuju.

Masalah berikutnya muncul: Kantin penuh.

Semua meja panjang sudah diduduki. Geng-geng populer menguasai meja tengah, sementara sudut-sudut kantin sudah dipenuhi pasangan yang pacaran. Suaranya terlalu bising untuk berpikir, apalagi bicara.

"Di sana," tunjukku dengan dagu ke arah luar kantin.

Ada sebuah pohon ketapang kencana yang rimbun di dekat area taman belakang perpustakaan. Di bawahnya ada satu set meja beton bundar yang kosong. Tempat itu agak jauh dari keramaian, teduh, dan anginnya lumayan sejuk.

Tanpa menunggu persetujuan Zea, aku melangkah ke sana membawa nampanku. Zea mengikuti di belakang tanpa protes.

Kami duduk berhadapan. Daun-daun ketapang menaungi kami dari terik matahari, menciptakan pola bayangan acak di atas meja beton.

Aku langsung menyendok kuah sop, menyeruputnya pelan. Hangat dan gurih. Nikmat dunia. Zea juga mulai makan, tapi matanya sesekali melirikku, menunggu jawaban.

Setelah tiga suap dan rasa lapar sedikit mereda, aku meletakkan sendok. Aku menatap Zea yang sedang mengunyah.

"1 banding 5.000," kataku tiba-tiba.

Zea berhenti mengunyah, menelan makanannya cepat-cepat. "Hah? 1:5.000? Itu bukannya terlalu zoom in?"

"Kalau tujuanmu cuma mau tunjukin di mana letak Pontianak Tenggara, pakai 1:25.000 boleh. Tapi tugas Bu Laras itu mitigasi banjir," jelasku, kali ini dengan kalimat yang panjang. Nadaku datar tapi tegas.

Aku mengambil botol air mineral, meletakkannya di tengah meja sebagai perumpamaan.

"Banjir di sini itu bukan cuma karena hujan, tapi karena drainase dan pasang surut sungai. Kalau pakai skala 1:25.000, parit-parit kecil di perumahan nggak bakal kelihatan di peta. Padahal itu kuncinya. Dengan skala 1:5.000, kita bisa highlight jalur air yang mampet di area padat penduduk. Itu poin plus buat mitigasi."

Aku kembali menyendok nasi. "Kalau takut nggak muat di kertas, bikin sistem inset. Peta utama 1:25.000, terus kasih kotak zoom khusus daerah rawan pakai 1:5.000. bisa seperti itu."

Hening.

Hanya suara angin yang menggesek dedaunan dan suara sendok kami yang berdenting pelan.

Aku melirik Zea. Dia menatapku tak berkedip. Sendoknya menggantung di udara. Mulutnya sedikit terbuka, lalu tertutup lagi. Tatapannya berubah. Dari yang tadinya ragu, kini menjadi... takjub?

"Wow..." gumamnya pelan. "Aku... nggak kepikiran soal parit drainase. Aku cuma fokus ke kontur tanah."

"Itu hal teknis. Wajar kalau luput," sahutku cuek, lanjut makan.

Zea meletakkan sendoknya, menatapku lurus. Kali ini ekspresinya melunak. Aura 'bos' yang dia pancarkan di kelas tadi menguap, berganti menjadi rasa bersalah.

"Callen," panggilnya pelan.

"Hm?"

"Sorry ya, Callen," ucapnya tulus, menyebut namaku lagi dengan nada formal yang agak canggung. "Tadi di kelas aku agak... kasar. Aku nge-gas banget ngatur-ngatur kamu."

Aku berhenti makan, menatapnya. Dia terlihat benar-benar tidak enak hati.

"Jujur aja, Callen," lanjut Zea lagi, jarinya memainkan ujung nampan dengan gelisah. "Pas MPLS kemarin, banyak anak dari SMP-mu yang bilang kalau kamu itu... yah, no offense ya... beban. Katanya Callen itu apatis, nilainya jelek, dan susah diajak kerja sama. Jadi aku tadi panik pas dapet sekelompok sama kamu, Callen."

Aku mendengus pelan, hampir tertawa. Reputasiku ternyata memang sehancur itu. Tapi ada hal lain yang mulai menggangguku.

"Nggak perlu dipikirin," jawabku sambil menggelengkan kepala. "Mereka nggak salah kok. Aku emang males kalau nggak penting."

Zea terdiam mengamatiku. Matanya menelusuri wajahku, seolah mencari kebohongan, tapi dia tidak menemukannya.

"Kamu beda," kata Zea tiba-tiba. "Kamu nggak kayak yang mereka bilang. Makasih ya, Callen, udah mau bantuin jelasin. Aku harap ke depannya Callen bisa—"

Aku meletakkan sendokku sedikit lebih keras dari biasanya, membuat bunyi kelontang pelan di atas meja.

Zea tersentak. "Ke-kenapa?"

"Berisik," kataku datar.

Zea mengerjap bingung. "Apanya yang berisik? Kantin?"

"Namaku," jawabku sambil menunjuk dadaku sendiri. "Jangan panggil 'Callen' terus di setiap kalimat. Kaku banget dengernya. Kayak lagi dipanggil guru BK."

Wajah Zea memerah karena malu. "Eh? Terus aku harus panggil apa?"

Aku kembali mengambil sendok, melanjutkan makan dengan santai.

"Cal," jawabku singkat. "Panggil Cal aja. Lebih mudah."

Zea terdiam sebentar, mencerna permintaanku. Perlahan, senyum kecil muncul di bibirnya. Senyum yang lebih santai dari sebelumnya.

"Oke... Cal," ucapnya, mencoba nama panggilan baru itu. Terdengar lebih akrab di telinga. "Jadi, Cal... besok pulang sekolah kamu bisa ikut nggak?"

"Ikut ke mana?"

"Aku mau ajak Rara sama Dinda observasi langsung ke lokasi. Kita cek parit yang kamu bilang tadi."

Tanganku berhenti menyendok suapan terakhir. Observasi lapangan? Itu artinya panas-panasan, keluar tenaga, dan bersosialisasi lebih lama. Tiga hal yang paling kuhindari.

Ingin rasanya aku menolak. Bilang ada urusan keluarga atau apalah.

Tapi saat melihat wajah Zea yang penuh harap—bukan memerintah seperti tadi pagi, tapi mengajak sebagai rekan—kata "tidak" tertahan di tenggorokan. Apalagi dia sudah berhenti memanggilku dengan sebutan kaku tadi.

Aku menghela napas panjang, tanda menyerah pada nasib.

"Baiklah," jawabku pelan.

Senyum Zea merekah lebar, sampai matanya menyipit. Senyum yang manis, harus kuakui.

"Oke! Deal ya, Cal! Awas kalau kabur," ancamnya bercanda, lalu buru-buru menghabiskan sopnya yang mulai dingin.

Aku hanya diam, menatap sisa kuah di mangkukku. Sepertinya masa-masa tenangku menjadi murid bayangan akan sedikit terganggu mulai besok.

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!