Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGEMBALIKAN PAKAIAN
Maira turun dari mobilnya dengan membawa sebuah kotak kue kecil. Ia menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu rumah ibu mertuanya.
Dalam hati, ia tahu kedatangannya ini mungkin takkan disambut dengan hangat mengingat terakhir kali perdebatan yang terjadi antara ia dan juga ibu dari suaminya itu.
Tujuan kedatangannya hanyalah untuk menanyakan pada Bu Neni dimana rumah Ana—iparnya. Ia akan menanyakan langsung alasan suaminya mentransfer uang 100 juta itu pada Ana.
Maira sengaja tak bertanya langsung pada Farid, karena mungkin saja Farid akan berbohong padanya nantinya.
Tak lama, pintu terbuka. Bu Neni berdiri di ambang pintu, matanya langsung menyipit begitu melihat siapa tamunya.
“Tumben… ada angin apa kamu ke sini?" Suaranya datar, tapi nadanya penuh sindiran.
Maira tersenyum kecil, sopan, sambil menyodorkan kotak kue yang dibawanya. “Saya lewat tadi, Bu… lihat toko kue buka, ya saya mampir sekalian bawain buat Ibu.”
Bu Neni tak segera menyambut kotak itu. Pandangannya menilai tak percaya. “Lewat? Di sini?” Ia terkekeh kecil. “Rumahmu sama restoranmu jauh dari sini, kan?"
Maira tetap tenang, meski hatinya mulai panas. “Nggak apa-apa kan, Bu? Saya cuma mau silaturahmi. Kalau Ibu tidak suka kuenya, boleh dibuang.” Jawabnya diselingi senyum tipis.
Namun Bu Neni tetap mengambil kotak kue itu dengan mata masih tetap memicing. “Tcih... Silaturahmi.” Decihnya mengejek dengan berjalan masuk tanpa mempersilakan Maira lebih dulu.
Maira mengikuti, berusaha tetap tenang meski sindiran demi sindiran menyerangnya. Ia duduk di sofa ruang tamu, meletakkan tas di pangkuannya dan mencoba membuka pembicaraan ringan.
“Sepi ya, Bu. Ibu sendiri aja di rumah?" Tanyanya pelan, mencoba berbasa-basi.
Bu Neni hanya memutar bola mata. “Ya menurutmu?” Jawabnya ketus, tanpa menatap Maira. Nada bicaranya dingin, jelas menahan kekesalan yang belum selesai sejak pertengkaran terakhir mereka.
Maira mengangguk kecil. Tidak ingin memperpanjang basa-basi yang tidak disambut, ia pun langsung mengutarakan niatnya. "Em… Bu, boleh aku minta alamat rumah Mbak Ana?”
Bu Neni langsung menoleh. Wajahnya kini penuh selidik. “Udah Ibu duga. Kamu tuh ke sini pasti ada maunya. Ada urusan apa kamu sama Ana?”
“Ada yang perlu aku bicarakan langsung sama Mbak Ana, Bu.
“Emang nggak bisa Kirim pesan?” Bu Neni mendengus. Nada suaranya tajam, seperti menggali maksud tersembunyi dari kedatangan Maira.
“Nomor Mbak Ana yang aku simpan udah nggak aktif, Bu. Jadi aku rencana langsung aja ke rumahnya.” Jawab Maira.
Hening sesaat. Tatapan mereka bertemu. “Ana sekarang tinggal di ruko yang ada bengkel, sebelah pom bensin Jalan Sepakat." Ujar Bu Neni.
“Terima kasih, Bu.” Ucap Maira singkat, mencoba tetap sopan meski jelas ia diperlakukan tak pantas.
Namun sebelum percakapan selesai, langkah kaki dari arah dapur terdengar. Vina muncul dengan nampan berisi dua cangkir teh.
“Nah Bu… tehnya udah jadi.” Ucapnya ringan.
Maira menoleh, wajahnya tetap datar. Tapi sorot matanya memancarkan keterkejutan yang tak bisa disembunyikan. Ia mengenali wanita itu, wanita yang bernama Vina.
Vina berjalan pelan ke arah meja, meletakkan dua cangkir teh hangat di atasnya lalu tersenyum tipis seolah-olah tak ada yang salah. Senyum yang entah kenapa membuat dada Maira terasa sedikit menyesak.
Tak ingin berlama-lama, Maira pun merapikan duduknya, berniat bangkit. Tujuannya sudah selesai. Dan ia tak melihat lagi alasan untuk bertahan di rumah ibu mertuanya.
Terlebih melihat seorang wanita asing, yang jelas bukan bagian dari keluarga Farid, tampak begitu akrab di rumah ibu mertuanya. Membuatkan teh pula.
Namun sebelum ia benar-benar berdiri, Vina tiba-tiba bersuara. “Em… Mbak, tunggu sebentar.”
Langkah Maira terhenti. Ia memutar tubuh perlahan, menatap Vina yang kini membungkuk dan mengambil sebuah paperbag dari dekat tas tangannya.
“Karena Mbak ada disini, yaudah ini Mbak sekalian. Aku mau balikin bajunya Mas Farid… Waktu itu dia sempat ganti baju di rumah aku.”
Maira membeku. Matanya memicing dan nafasnya terasa tertahan. “Ganti baju?” Ulangnya pelan, nyaris seperti bisikan.
Vina dengan wajah polos dan tanpa rasa bersalah—mengangguk ringan. “Iya, Mbak. Waktu itu hujan lebat banget, jadinya Mas Farid nunggu di rumah sampai reda. Karena bajunya Mas Farid basah semua, jadi aku pinjemin kaos sama training di rumah. Nah, bajunya ini ketinggalan. Tapi udah aku cuci, kok." Ucapannya santai, seolah itu adalah hal yang biasa baginya.
Maira terdiam. Ingatannya langsung melayang pada pakaian asing yang ia temukan di dalam mesin cuci beberapa hari lalu. Farid bilang itu baju lamanya yang ada di rumah ibunya.
Bibir Maira mengatup. Pandangannya lalu bergeser pada Bu Neni yang tampak… tidak terkejut. Justru sebaliknya, wanita itu menoleh ke arah Vina dan tersenyum samar. Bukan senyum canggung, melainkan senyum seolah menyambut. Seolah… mereka sudah sangat akrab.
“Ah, terimakasih banyak ya Vina udah nyuciin bajunya Farid." Ujar Bu Neni santai, seakan tak peduli ada bara dalam dada menantunya.
Maira merasa jantungnya mengencang. Tapi ia tetap berdiri tegak. Ia tak akan meledak di rumah ini. Tangannya meraih paperbag itu pelan. “Terima kasih." Ucapnya singkat, nadanya datar namun dingin.
Belum sempat ia kembali berbalik, Vina kembali membuka suara. “Oh iya, Mbak…” Katanya ringan, seolah benar-benar tak merasa bersalah. “Aku juga mau ngucapin makasih, ya… udah ngizinin Mas Farid bantuin aku malam itu.”
Maira berhenti di tempat. Napasnya tercekat.
“Kalau nggak ada dia, aku nggak tahu harus gimana. Apalagi Mas Farid sampai rela bayarin operasi orang yang aku tabrak… aku bener-bener nggak akan lupa kebaikannya.” Lanjut Vina.
Mata Maira membulat. Ujung jarinya mencengkeram kuat paperbag di genggamannya. Uang itu… ternyata untuk wanita ini?
Wajahnya memucat, tapi ia tetap menegakkan bahu. Ia tak akan meledak—bukan di tempat ini, bukan di depan mereka.
“Aku pulang dulu Bu." Pamitnya dengan suara dingin.
Lalu tanpa menatap lagi, Maira melangkah keluar rumah dengan kepala tetap tegak. Tapi dalam diam, dadanya bergemuruh. Farid berbohong.
Dan juga jika dipikirkan kenapa Farid mengganti pakaian di rumah wanita itu? Kenapa tidak di rumah ibunya? Bukankah jaraknya dekat?
Sementara itu sepeninggal Maira, Bu Neni menyesap teh pelan sambil menatap Vina yang kembali duduk di sofa. Senyumnya tipis, matanya tenang.
Ia tak menyangka jika Farid dan Vina ternyata saling berkomunikasi di luar pengetahuannya. Tapi entah kenapa, ia tidak mempermasalahkan itu.
Sama halnya dengan Bu Neni, senyum sangat tipis tersungging dari bibir Vina. Ia menunduk sedikit, menyentuh cangkir teh di hadapannya. Tapi sorot matanya menyimpan sesuatu.
Melihat wajah Maira tadi dingin, tegang, namun tetap berusaha kalem, entah mengapa itu memberinya rasa puas akan sesuatu.