Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Kuil Terlarang
Ding!
[Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan protokol pertahanan darurat!
Peringatan! Sinyal Mana musuh terdeteksi di koordinat jam 2 dan jam 10!
Memproses rute evakuasi...]
Zzztt... zzztt...
[Error! Error!
Struktur medan tidak stabil!]
"Ugh!" Suara sistem yang biasanya tenang kini terdengar nyaring di kepala Aruna, memicu denyut nyeri di pelipisnya. Belum sempat Aruna mencerna peringatan itu—
Syuut! Syuut! Syuut! Jleb! Jleb! Jleb!
Salah satu anak panah melesat tepat melewati telinga Aruna dan menghujam pilar kayu jembatan di samping kepalanya. "!!!" tubuh Aruna kaku saat rentetan panah berikutnya menyusul secepat kilat, membelah kabut tebal yang menyelimuti jembatan batu di atas Lembah Kabut Abadi.
"Merunduk!"
Gyut! Asher menarik bahu Aruna dengan kasar hingga gadis itu nyaris terjatuh ke lantai jembatan yang dingin. Sriing... Slash! Slash! Slash! Asher menghunus Solis-Aeterna. Cahaya emas dari pedang itu meledak, menciptakan tirai cahaya yang menangkis serangan bertubi-tubi. Aruna bisa merasakan getaran hebat pada lengan Asher yang melindunginya. D4rah segar merembes deras dari balik zirahnya, menetes ke lantai jembatan.
"Asher, kau terluka lagi! Berhenti memaksakan diri!" Aruna berteriak panik, dia mencengkeram erat jubah Asher yang mulai basah dan lengket oleh d4rah.
"Jangan lepaskan peganganmu!" Asher menyahut, suaranya serak menahan sakit.
Swish... Syuush... Swish... Dari balik kabut di atas pilar, sesosok pejuang Catkin melompat dengan cakar mana yang berkilat kebiruan. Asher yang sedang menangkis panah dari sisi lain tidak sempat berbalik tepat waktu.
"Awas!"
Meeooowrr!
Sesosok bayangan oranye melesat dari balik jubah Aruna. Oren, kucing yang biasanya hanya tahu cara tidur dan makan, mendadak menerjang wajah pejuang Catkin tersebut. Sret! Sret! Sret! Cakar kecilnya mencabik wajah sang musuh, membuat si Catkin kehilangan keseimbangan. Syuung... sebelum jatuh ke jurang, pejuang itu sempat melemparkan sebuah bom uap kecil ke arah rantai penyangga utama jembatan.
BOOOMM!!! CLAANGG!!! CLAANNGG!!! CLAAANNGG!!!
Ledakan itu memicu reaksi berantai. Rantai jembatan yang sudah berkarat itu putus satu per satu. RRRTTT... RRRTTT.... RRRTTT... Seluruh struktur jembatan batu itu bergetar hebat sebelum akhirnya miring.
Ding!
[Bahaya! Struktur jembatan runtuh.
Mengaktifkan skill utama Memory Materialization...]
Zzzttt... Zzztt....
[Error! Error! Gangguan Mana terdeteksi!]
"Sialan!" Aruna menjerit saat pegangannya pada zirah Asher terlepas. Tubuhnya merosot cepat menuju tepian jurang yang tak berdasar.
Dalam detik yang terasa melambat, Asher melakukan hal yang tidak masuk akal. Ia melepaskan pegangannya pada pilar jembatan yang masih kokoh dan melompat mengejar Aruna yang sudah jatuh bebas ke dalam kabut. Topeng ketenangan ksatria agung itu hancur total.
"AURISTELA!!!"
Suara Asher yang memanggil namanya, mengalahkan deru angin lembah. Syuuutt... Gyuut! Asher menangkap pinggang Aruna di udara, menariknya dalam dekapan yang sangat kuat hingga Aruna sulit bernapas, lalu memutar posisi tubuh mereka. Asher menjadikan punggungnya sebagai tameng manusia.
Brak! Jeduk! Krak! Baamm!
Mereka menghantam atap sebuah bangunan kuno yang menempel di dinding tebing. Mereka berguling di atas genteng batu yang licin, menghantam langkan, hingga akhirnya terhempas keras ke sebuah balkon marmer yang luas. Suara benturan zirah Asher dengan lantai marmer terdengar begitu keras hingga Aruna merasa ngilu di sekujur tubuhnya.
"Uhuk... Uhuk... Uhuk..." debu kuil kuno menyesakkan dada Aruna. Ia menyadari dirinya selamat tanpa luka berarti karena tubuh Asher telah menyerap seluruh benturan mengerikan itu.
"Asher...?" Aruna merangkak dengan lutut yang gemetar hebat.
Asher tergeletak diam. baju zirahnya retak di beberapa bagian, dan genangan d4rah mulai melebar dengan cepat di bawah punggungnya. Wajahnya pucat pasi, matanya terpejam rapat dengan kerutan menahan sakit yang luar biasa.
"Asher! Es Batu! Bangun! Jangan bercanda!" Aruna mengguncang bahu ksatria itu, namun tidak ada respon sama sekali.
"Sistem! Cepat! Lakukan sesuatu atau aku akan menghancurkanmu!"
Ding!
[Terdapat gangguan interferensi Mana di area Kuil Terlarang. Keakuratan sistem menurun drastis...
Mengaktifkan sub-skill: Magi Catering.
Memanggil Item: Ayam Bakar (Sedikit Gosong) dan Ramuan Penenang (Rasa Mint).]
"AYAM BAKAR?! Aku butuh perban!! bukan cemilan, sistem si4lan!" Aruna berteriak histeris. Ia merasa dikhianati oleh sistemnya sendiri di saat paling kritis.
"Meow..." Oren mendekat, mengeong sedih sambil menjilati tangan Asher yang mulai mendingin. "Huff... Huff..." Aruna menarik napas panjang, mencoba menahan isak tangisnya. Sreekk! Sreeekkk! Dengan tangan yang gemetar hebat, ia menyobek kain gaunnya yang sudah compang-camping untuk membebat luka di bahu dan punggung Asher. D4rah pria itu terus mengalir, membasahi tangan Aruna hingga terasa hangat dan lengket.
"Jangan m4ti, Asher... Kamu dengar aku? Kamu bilang kamu pelindungku. Pelindung macam apa yang tidur saat majikannya ketakutan begini, hah?!"
Aruna terus mengomel, berusaha menutupi rasa panik yang mencekik dadanya. Ia teringat teriakan Asher tadi—panggilan namanya yang terdengar begitu putus asa. Ia baru menyadari betapa berartinya pria kaku ini baginya.
Sambil mengerahkan seluruh tenaganya, Aruna menyeret tubuh berat Asher menuju sebuah pintu batu raksasa di ujung aula. Matanya tiba-tiba menangkap sebuah ukiran pada tuas mekanik di dinding. Sebuah simbol palu yang menyilang dengan cakram bergerigi.
"Simbol ini... ini milik keluarga Verdy!" Aruna tertegun. Harapan kecil muncul di tengah keputusasaannya. "Kalau ini pintu Dwarf, Verdy pasti tahu cara membukanya... atau dia ada di balik ini!"
Aruna mengambil sebuah bongkahan batu marmer yang runtuh dan memukul pintu logam itu sekuat tenaga. Dong! Dong! Dong!
Setiap pukulan batu itu mengirimkan rasa ngilu ke tangan Aruna yang sudah lecet dan berdarah, tapi ia tak peduli. Pikirannya kacau, terbayang kembali bagaimana Asher selalu berdiri tegak di depannya tanpa mengeluh, menahan setiap luka hanya demi memastikan Aruna tetap aman.
"Bodoh... kamu benar-benar ksatria es yang bodoh..." isak Aruna, suaranya kini tinggal bisikan yang pecah di tengah dinginnya kabut.
Ia merengkuh tubuh kaku Asher lebih erat, seolah ingin menyalurkan kehangatan tubuhnya sendiri agar nyawa pria itu tidak terbang menjauh. Di matanya, sosok Asher bukan lagi sekadar es batu yang kaku, melainkan satu-satunya alasan yang membuat Aruna ingin terus bertahan hidup di dunia yang kejam ini.
"TOLONG! APA ADA ORANG DI DALAM?! BUKA PINTUNYA!"
"VERDY! SIAPAPUN! TOLONG KAMI!"
Aruna terus berteriak hingga tenggorokannya terasa terbakar dan suaranya habis. Ia tidak tahu bahwa jauh di bawah tanah, di sebuah bengkel yang penuh uap panas, sensor uap pada gerbang kuno itu mulai bergetar hebat. Verdy yang sedang memegang palu godam tiba-tiba mematung, merasakan frekuensi mana yang sangat ia kenal.
Di saat yang sama, di atas jembatan yang runtuh, Luna menatap ke dasar lembah dengan matanya yang berkaca-kaca. Ia merasakan 'api' Aruna yang meredup di bawah sana.
Aruna akhirnya lemas. Ia duduk bersandar di pintu baja raksasa itu sambil memeluk kepala Asher di pangkuannya. Di tengah kabut yang semakin pekat, kesadaran Aruna pun perlahan ikut memudar seiring dengan suara uap panas yang mulai berdesis dari balik pintu tersebut.
"Asher... bertahanlah... jangan tinggalkan aku sendirian..."