Jiao Lizhi, 25 tahun, seorang agen profesional di abad ke-21, tewas tragis saat menjalankan misi rahasia. Yatim piatu sejak kecil, hidupnya dihabiskan untuk bekerja tanpa pernah merasakan kebahagiaan.
Namun tak disangka, ia terbangun di dunia asing Dinasti Lanyue, sebagai putri Perdana Menteri yang kaya raya namun dianggap “tidak waras.” Bersama sebuah sistem gosip aneh yang menjanjikan hadiah. Lizhi justru ingin hidup santai dan bermalas-malasan.
Sayangnya, suara hatinya bersama sistem, dapat didengar semua orang! Dari keluhan kecil hingga komentar polosnya, semua menjadi kebenaran istana. Tanpa sadar, gadis yang hanya ingin makan melon dan tidur siang itu berubah menjadi pejabat istana paling berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Dekranasda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir Saja
“Yang Mulia…” suaranya nyaris berbisik.
Kaisar tertawa kecil, lalu ia duduk di sisi Permaisuri, cukup dekat hingga lengan jubah mereka bersentuhan.
“Istriku,” katanya santai, “kau tahu tidak, akhir-akhir ini putra mahkota sering membuatku berpikir.”
Permaisuri mengangkat wajahnya. “Putra kita?”
“Mm.” Kaisar mengangguk. “Setiap kali aku berbincang dengannya, terutama jika menyebut nama Nona Jiao, ada sesuatu yang berubah di wajahnya.”
“Berubah?” tanya Permaisuri.
Kaisar menyipitkan mata, seolah sedang mengingat detail kecil. “Ada senyum tipis di sudut bibirnya. Tatapan matanya juga tidak setajam biasanya.”
Ia terkekeh pelan. “Dan kau tahu, itu jarang terjadi.”
Permaisuri terdiam. Wajahnya perlahan berubah serius. “Yang Mulia. Apakah itu benar?”
“Tentu saja,” jawab Kaisar ringan. “Apa yang tidak bisa kulihat dengan mataku sendiri? Meski ia berusaha menyembunyikannya, sebagai ayah, aku tahu.”
Permaisuri mulai berpikir, “Kalau begitu, apakah putra kita menyukai gadis itu?”
Kaisar terdiam lebih lama kali ini. “…Entahlah,” katanya akhirnya. “Mungkin iya. Mungkin juga tidak.”
Permaisuri menatapnya dengan raut ragu. “Kenapa Yang Mulia terdengar tidak yakin?”
Kaisar menghela napas panjang, nada suaranya melembut. “Ini urusan hati anak muda,” katanya. “Bagaimana aku bisa memastikan? Namun satu hal jelas...”
Kaisar menoleh menatap Permaisuri dengan sungguh-sungguh. “Aku sangat menyukai gadis itu. Aku ingin, dia menjadi menantu salah satu putra kita.”
Permaisuri terkejut. “Yang Mulia…?”
Permaisuri terdiam sejenak, lalu menghela napas.
“Namun justru itu yang membuatku khawatir,” katanya jujur. “Dengan kepribadian Nona Jiao yang barusan Yang Mulia ceritakan, bukankah jika ia menjadi menantu kerajaan, itu justru akan menjadi malapetaka?”
Kaisar tidak menyangkal. Ia mengangguk perlahan.
“Aku tahu,” katanya. “Tapi lihatlah anak-anak kita.”
Permaisuri menegang.
“Kau tahu sendiri,” lanjut Kaisar tanpa tedeng aling-aling, “ketiganya tidak ada yang normal.”
Ia menatap Permaisuri. “Jika mereka dibiarkan, masing-masing akan menjadi masalah. Bagaimana jika ketiga nya tidak mempunyai pasangan karna sikap mereka semua?”
“Nona Jiao berbeda,” lanjut Kaisar. “Jika ia bisa berada di sisi salah satu anak kita, terutama putra mahkota.”
Nada suaranya mengeras sedikit. “Tikus-tikus yang bersembunyi di balik istana ini tidak akan punya tempat lagi.”
Ia tersenyum tipis. “Aku yakin, kerajaan ini akan lebih makmur di masa depan.”
Permaisuri menatap Kaisar dengan ekspresi campur aduk. “Tapi Yang Mulia, kau tahu sendiri sifat Xuyan’er.”
Kaisar mengangkat alis.
“Anak kita tidak bisa didekati oleh wanita,” lanjut Permaisuri lirih. “Perempuan yang mencoba mendekat, jika tidak ditampar, keesokan harinya pasti menghilang.”
Nada suaranya mengandung kekhawatiran tulus.
“Anak kita, begitu kejam. Kenapa Yang Mulia justru ingin menjodohkannya dengan gadis baik seperti Nona Jiao? Aku malah kasihan padanya.”
Kaisar terdiam cukup lama. Lalu ia tertawa kecil. “Justru karena itu.”
Permaisuri mengerutkan kening.
“Orang seperti Xuyan’er,” lanjut Kaisar,
“tidak bisa dihadapi dengan wanita lembut seperti para wanita itu.”
Ia menatap Permaisuri penuh arti. “Dan Nona Jiao, bukan wanita biasa. Bagaimana jika kau mengenal lebih dekat dengan Nona Jiao itu?”
Kemudian permaisuri sedang menimbang masa depan, dan langsung berkata, “Baiklah. Bagaimana dengan pertemuan di Hari Bunga?”
“Atau kau bisa mengundang keluarga Jiao secara khusus?” ungkap Kaisar.
Permaisuri berpikir keras. Hari Bunga acara besar, para bangsawan, pejabat, dan keluarga terhormat akan hadir. Tapi mengundang keluarga Jiao secara pribadi…
“Yang Mulia, jika kita mengundang keluarga Jiao secara khusus, itu akan terlihat,” katanya ragu,
“seolah kita memperlakukan keluarga Perdana Menteri secara khusus. Apalagi Yang Mulia memberikan jabatan di istana, itu saja membuat beberapa orang tidak senang.”
Kaisar tersenyum santai. “Kalau begitu,” katanya ringan, “terserah istriku saja.” Kaisar mengangkat bahu. “Hari Bunga juga boleh.”
Permaisuri menatapnya lama, lalu akhirnya mengangguk. “Baiklah,” katanya pelan. “Kita lakukan pada Hari Bunga.”
Kaisar tersenyum puas. “Istriku memang yang terbaik.”
Nada suaranya tiba-tiba berubah genit.
Permaisuri langsung memerah. Ia melirik ke sekeliling, para kasim dan pelayan menunduk sopan, berpura-pura tidak mendengar apa pun.
“Yang Mulia…” bisiknya malu.
Kaisar tertawa kecil, jelas sangat puas.
Kereta kuda melaju perlahan meninggalkan gerbang istana. Tirai kereta bergoyang lembut mengikuti irama roda yang menghantam batu jalanan. Di dalamnya, suasana aneh.
Jiao Lizhi duduk tegak dengan sikap paling patuh yang bisa ia lakukan. Tangannya terlipat rapi di pangkuan, wajahnya tenang, setidaknya dari luar. Namun, sejak kereta bergerak, ia merasakan tatapan dingin menempel di wajahnya.
Tatapan itu datang dari seberangnya. Dari sang ayah. Jiao Wenqing.
Tatapan itu bukan sekadar menatap. Bukan pula tatapan biasa seorang ayah kepada anaknya. Itu adalah tatapan penuh selidik, seperti sedang menilai barang antik yang retak, ingin tahu retaknya di mana, tapi pura-pura tidak melihatnya.
Jiao Lizhi menelan ludah. “Kenapa ayah selalu memperhatikanku seperti itu? Apa ada bunga tumbuh di wajahku?”
Dalam hati, ia bergumam sambil tetap menahan diri agar tidak bergerak.
[Entahlah. Mana sistem tahu, Tuan Rumah.]
[Gugu hanya sistem, bukan cenayang dalam hati.]
Jiao Lizhi menyipitkan mata sedikit, masih pura-pura tenang. “Muka ayahku. Kenapa terlihat lebih jelek dari biasanya ya?”
Ia mengamati dengan saksama, kerutan di dahi ayahnya tampak lebih dalam, alisnya terus berkerut, dan rahangnya mengeras seolah sedang menahan amarah atau sakit gigi.
“Apakah kau setuju, Gugu?”
[Yah. Sepertinya memang begitu.]
Ajiao Lizhi mengangguk kecil dalam hati. “Benar kan. Kelihatan lebih tua lagi hari ini.”
Maksud perkataan Jiao Lizhi adalah muka ayahnya setiap hari jelek, tapi hari ini lebih jelek. Membuat Muka Jiao Wenqing lebih masam.
Belum sempat Jiao Lizhi melanjutkan komentar batinnya, suara diseberang memecah pikirannya.
“JIAO LIZHI!”
Bentakan keras itu mengguncang kereta.
“!!!”
Jiao Lizhi tersentak hebat. Punggungnya menegang, matanya membelalak, hampir saja ia memantul dari tempat duduknya. Jika bukan karena ia menjaga citra sebagai pejabat istana yang terhormat, ia pasti sudah berteriak.
Jiao Wenqing menatapnya tajam, napasnya berat.
“Diamlah,” bentaknya. “Kau membuat ayah terlihat buruk.”
“…?” Jiao Lizhi menganga.
“Apa? Aku… bicara? Tidak, aku bahkan belum membuka mulut!”
Otaknya langsung berputar cepat. “Kenapa disuruh diam? Apakah aku menghela napas terlalu keras? Atau…”
Sebuah pikiran mengerikan melintas. “Apakah… mata ayahku benar-benar sakit?”
Lalu pikiran yang lebih mengerikan muncul. “Atau… APAKAH AYAH BISA MENDENGAR PEMBICARAANKU DENGAN SISTEM?!”
Jiao Lizhi langsung membeku.
[Mana mungkin. Tuan Rumah terlalu banyak membaca novel.]
“Jangan bercanda! Dia membentak ku tepat setelah aku memikirkan wajahnya yang jelek!”
Keringat dingin mengalir di punggung Jiao Lizhi.
Jiao Wenqing yang mendengar pembicaraan dalam hati Jiao Lizhi dan sistem nya, tiba-tiba menyadari ekspresi anaknya yang terlalu kaku. Ia berdehem pelan, lalu nada suaranya berubah lebih terkontrol, meski tetap dingin.
“Maksud ayah…” katanya dengan suara berat, “berhentilah menatap ayah seperti itu.”
Apakah ia dari tadi menatap ayahnya? Oh, sepertinya memang begitu. Jiao Lizhi menganggukkan kepalanya.
Jiao Wenqing mengalihkan pandangan ke luar kereta sebentar, lalu melanjutkan dengan nada kesal.
“Ayah tahu,” katanya, “kau pasti sedang membicarakan ayah yang buruk-buruk di dalam hatimu, bukan?”
Jiao Lizhi, “……”
Beberapa detik hening.
Lalu... Ia tersenyum. Senyum kecil, sopan. “Tentu saja tidak, Ayah,” ucapnya manis.
Dalam hati, ia langsung menghela napas panjang. “Syukurlah. Ternyata bukan itu. Ayah hanya sensitif. Ini sangat menakutkan.”
Kereta kembali sunyi, namun kali ini suasananya lebih canggung daripada sebelumnya. Jiao Wenqing menatap ke luar, wajahnya tetap muram.
Sementara Jiao Lizhi memilih menunduk sedikit, tidak berani menatap terlalu lama, takut salah paham lagi.
Tak lama kemudian, kereta berhenti.
“Tuan, kita sudah sampai,” suara kusir terdengar dari luar.
Pintu kereta dibuka. Jiao Wenqing turun lebih dulu, jubahnya berkibar. Jiao Lizhi menyusul di belakangnya dengan langkah ringan.