Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Pagi belum benar-benar datang ketika Arcelia terbangun. Bukan karena mimpi buruk.... Tapi karena panas.
Ia membuka mata perlahan. Kamarnya gelap, hanya cahaya samar dari luar jendela. Dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya. Dan telapak tangannya… terasa seperti terbakar.
Ia langsung duduk.
Napasnya tertahan ketika melihat cahaya tipis muncul kembali di kulitnya.
Garis retakan itu.
Lebih jelas dari semalam.
Tidak menyala terang... Tapi cukup untuk terlihat.
Seperti tinta bercahaya yang tertanam di bawah kulit.
“Aku tidak membayangkannya…” bisiknya.
Ia menyentuhnya pelan.
Tidak sakit.
Tapi ada denyut.
Degup kecil yang menyatu dengan detak jantungnya.
Tok.
Tok.
Tok.
Arcelia turun dari tempat tidur dan berjalan ke cermin. Ia mengangkat tangannya, pantulannya terlihat normal. Tapi saat ia berkedip, refleksi itu terlambat sepersekian detik.
Arcelia membeku.
Ia mencoba lagi.
Normal.
“Tenang…” ia menarik napas dalam.
Tiba-tiba, suara itu kembali.
Jangkar…
Bukan keras.
Bukan teriak.
Lebih seperti bisikan di dasar pikirannya.
“Apa yang kau inginkan dariku?” ia berbisik pelan.
Hening.
Lalu,
Getaran ringan merambat dari telapak tangannya ke lengannya. Seolah sesuatu merespons. Arcelia terhuyung mundur. Punggungnya menyentuh meja belajar. Buku-buku di atas meja bergetar tipis. Lampu kamar berkedip sekali.
Ia menutup mata, mencoba mengendalikan napasnya.
“Aku bukan pintu,” katanya lebih tegas.
Degup itu melambat.
Cahaya di tangannya meredup. Ruangan kembali tenang, namun Arcelia tahu satu hal, ia tidak lagi sekadar pengamat.... Ia bagian dari mekanisme itu.
Pagi di Sekolah
Lorong sekolah terasa lebih sempit dari biasanya Atau mungkin hanya perasaannya. Arcelia berjalan dengan tangan tersembunyi di dalam saku blazer.
Ia tidak ingin siapa pun melihat tanda itu. Saat ia melewati jendela besar di koridor, cahaya matahari memantul ke tangannya.
Garis itu berpendar samar.
Ia langsung menutupnya lebih dalam.
“Arcelia.” Suara Kaelion memanggil dari belakang.
Ia berbalik.
Kaelion berjalan mendekat dengan ekspresi yang tidak biasa. Lebih serius.
“Kau tidak tidur,” katanya pelan.
“Kau juga tidak.”
Mereka berhenti di sudut lorong yang sepi. Arcelia mengeluarkan tangannya perlahan. Kaelion menatap garis bercahaya itu.
Rahangnya mengeras. “Itu lebih jelas.”
“Aku tahu.”
“Apakah ia bicara lagi?”
Arcelia terdiam beberapa detik.
“Ya.”
Kaelion menahan napas. “Apa yang ia katakan?”
“Hanya satu kata.”
Ia menatapnya.
“Jangkar.”
Hening di antara mereka.
Suara langkah siswa lain terdengar jauh, tapi terasa seperti dari dunia berbeda. Kaelion mengangkat tangan, seolah ingin menyentuh tanda itu, tapi ragu.
“Boleh?” tanyanya pelan.
Arcelia mengangguk.
Ujung jarinya menyentuh garis bercahaya itu. Dan seketika, getaran merambat dari kulit Arcelia ke tangan Kaelion.
Keduanya tersentak.
Bukan sakit. Tapi seperti arus energi yang singkat.
Kaelion langsung menarik tangannya.
“Ini tidak hanya terhubung padamu,” gumamnya.
“Maksudmu?”
“Ia mengenal garis darah kita.”
Arcelia menatapnya dalam.
“Berarti ini bukan hanya tentang aku.”
Kaelion mengangguk.
“Kalau kau jangkar… maka aku mungkin pengunci.”
Kata itu membuat udara terasa lebih berat.
“Dan kalau jangkar goyah?” tanya Arcelia.
“Segel melemah.”
“Kalau pengunci gagal?”
Kaelion tidak langsung menjawab, tatapannya serius. “Pintu terbuka.”
Siang hari di Lapangan Sekolah
Pelajaran olahraga berlangsung normal. Arcelia duduk di bangku penonton, mencoba fokus pada hal-hal biasa.
Suara teman-temannya.
Angin.
Langit biru.
Namun tiba-tiba, semua suara seperti teredam. Warna-warna memudar.
Ia memejamkan mata sesaat. Dan saat ia membukanya, lapangan itu berubah. Rumput tampak retak.
Langit berwarna gelap kemerahan. Dan di tengah lapangan,,, siluet gelap berdiri.
Jelas.
Lebih jelas dari sebelumnya. Ia tidak bergerak.
Hanya menatap.
Arcelia berdiri perlahan. Kakinya terasa ringan, seperti tidak menyentuh tanah.
“Apa yang kau inginkan?” suaranya bergetar tipis.
Siluet itu tidak menjawab.
Tapi retakan di tangannya menyala terang.
Seolah memanggil.
Tiba-tiba, seseorang menarik lengannya.
“Arcelia!” Suara Kaelion.
Lapangan kembali normal.
Warna kembali.
Suara kembali.
Ia tersentak.
“Kau berdiri di tengah lapangan tanpa bergerak,” kata Kaelion pelan tapi tegas. “Semua orang memanggilmu.”
Arcelia menatap sekeliling. Teman-temannya terlihat bingung. Beberapa berbisik.
Ia menelan ludah.
“Aku melihatnya lagi.”
Kaelion memegang bahunya, menstabilkannya.
“Di mana?”
“Di sini. Di tengah.”
Kaelion menatap lapangan kosong itu.
Ekspresinya tidak panik. Tapi jelas waspada.
“Frekuensinya meningkat.”
“Frekuensi?”
“Ia mencoba menyesuaikan diri dengan duniamu.”
Kalimat itu membuat Arcelia menggigil.
“Jadi ini belum bentuk aslinya?”
“Belum.”
Hening.
Angin berhembus pelan.
Kaelion menurunkan tangannya. “Kita tidak bisa membiarkan ini berkembang tanpa kendali.”
Arcelia menatapnya. “Apa yang harus kita lakukan?” tanyanya
Kaelion menarik napas panjang. “Aku harus menunjukkan sesuatu padamu.”
“Apa lagi?”
“Bagian dari sejarah yang tidak pernah diceritakan.”
Arcelia menatap tanda di tangannya yang mulai meredup.
“Dan kalau setelah itu aku tetap tidak siap?”
Kaelion menatapnya lebih dalam dari biasanya.
“Segel tidak menunggu kesiapan.”
Hening menggantung di antara mereka.
Arcelia akhirnya mengangguk pelan. “Kalau begitu… jangan sembunyikan apa pun dariku lagi.”
Kaelion tidak tersenyum. Tapi ada sesuatu yang lebih lembut di sorot matanya.
“Baik.”
Malam itu, tanda di tangan Arcelia tidak menghilang.
Ia hanya… menunggu. Dan jauh di bawah kota Lumin... Retakan itu kini cukup lebar untuk memperlihatkan kilatan cahaya gelap dari dalamnya.
Sesuatu sedang belajar. Menyesuaikan diri. Dan setiap detik... Hubungannya dengan Arcelia semakin kuat.
makasih udah mampir🙏
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....