NovelToon NovelToon
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Wanita perkasa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.

Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Bayangan Masa Lalu

Jeritan dari Masa Lalu

Kesunyian di ruang isolasi bawah tanah ini terasa seperti tekanan fisik yang nyata, seolah-olah atmosfer di sekitarnya memiliki bobot berton-ton yang mencekik leher. Aurelia—yang kini menghuni raga Elara yang ringkih—mematung di atas lantai batu yang suhunya terus merosot seiring malam yang semakin larut. Struktur tubuhnya masih menunjukkan reaksi penolakan biologis yang hebat; lambungnya terasa mual dan bergejolak akibat sisa toksin yang ia serap dari roti berjamur sebelumnya, namun kebisingan traumatis di dalam kepalanya jauh lebih menyiksa daripada rasa sakit fisik mana pun. Bayangan radiasi api di panggung eksekusi Valerius mendadak muncul kembali tanpa diundang, memproyeksikan kilasan cahaya oranye yang menyakitkan di balik kelopak matanya.

Ia meremas butiran garam kasar di saku kainnya yang lusuh dengan tenaga yang tersisa. Tekstur tajam yang menusuk kulit dan rasa asin yang menyengat di ujung jarinya adalah satu-satunya jangkar realitas yang meyakinkannya bahwa ia masih bernapas, bahwa ia belum sepenuhnya hancur menjadi abu di langit Asteria.

Namun, fokusnya yang rapuh terpecah saat cahaya obor di luar sel bergetar karena hembusan angin koridor yang membawa hawa busuk. Bau belerang dan besi yang teroksidasi di sekitarnya mendadak berubah secara distorsi dalam persepsinya; ia seolah mencium kembali aroma protein yang hangus—bau dagingnya sendiri yang terbakar hebat di masa lalu.

"Jangan... jangan sekarang. Belum saatnya aku hancur," desis Aurelia dengan gigi terkatup. Jemarinya bergetar secara involunter saat menyentuh dadanya yang terasa sesak oleh trauma yang bangkit kembali seperti ombak pasang.

Ia mencoba membangun pertahanan mental yang kokoh, namun proyeksi memori itu terlalu kuat untuk dilawan oleh raga yang lemah ini. Ia seolah melihat kembali gelombang api merah kekuningan yang melahap serat sutra gaun permaisurinya, mengubah simbol martabat tertinggi itu menjadi residu karbon hitam yang beterbangan tanpa arah dipermainkan angin. Permukaan kulitnya mendadak terasa panas luar biasa, seolah-olah energi termal dari masa lalu itu benar-benar sedang merobek epidermisnya sekali lagi, meninggalkan luka yang tak terlihat namun nyata.

"Permaisuri," suara Valerius tiba-tiba terngiang di telinganya, frekuensinya kering, statis, dan sedingin es yang membeku di puncak gunung es.

Aurelia membuka mata lebar-lebar, membiarkan pupilnya menangkap kegelapan sel yang menyesakkan. Jantungnya berdenyut melampaui ritme normal, menciptakan suara gaduh di gendang telinganya; napasnya pendek dan terasa sangat berat di paru-paru, seolah oksigen di ruangan itu telah berubah menjadi asap. Ia menatap dinding sel yang ditumbuhi koloni jamur, namun kognisinya justru menangkap gambaran puing-puing istana Asteria yang habis dikonsumsi api dalam semalam.

"Valerius... pengkhianat pengecut," suaranya parau, lidahnya terasa pahit seiring dengan naiknya cairan empedu akibat kebencian yang meluap dari dasar jiwanya.

Pikirannya dipaksa melakukan kilas balik ke panggung eksekusi yang terkutuk itu. Di sana, tepat di sebelah takhta darurat, ada Elena. Selir tersebut memperlihatkan gurat senyum tipis yang sarat akan kalkulasi kejam, matanya berbinar melihat kehancuran saingannya.

"Pastikan dia terbakar sampai habis, jangan sisakan sebutir debu pun," suara Valerius kembali bergema dalam ingatannya, tanpa fluktuasi emosi sedikit pun, seolah-olah ia sedang memerintahkan pembuangan sampah rumah tangga.

Aurelia seolah merasakan kembali lidah api yang menjilat jaringan saraf di wajahnya, menghancurkan identitas lamanya selamanya. Ia mengingat dengan jelas tatapan terakhir Valerius—sepasang mata yang kehilangan binar manusiawi akibat polusi sihir hitam yang telah tertanam dalam di sana. Dalam batinnya, ia menggeramkan sumpah yang bergetar; ia akan kembali sebagai instrumen kehancuran yang absolut bagi mereka semua yang telah mengkhianatinya.

"Aku akan kembali... dan kau akan merasakan radiasi panas dari neraka yang jauh lebih menyiksa daripada ini!" batinnya menegaskan tekad yang membaja.

Raga Elara menunjukkan reaksi fisik berupa tremor hebat di sekujur tubuh. Aurelia menundukkan kepala sedalam mungkin, berusaha keras menstabilkan frekuensi pernapasannya yang masih belum teratur. Ia menyadari sepenuhnya bahwa trauma ini tidak hanya bersifat melumpuhkan mental, tetapi juga memicu fluktuasi energi Void yang liar di dalam jiwanya. Sihir hitam yang digunakan Elena untuk memanipulasi Valerius ternyata memiliki resonansi yang sangat mirip dengan energi yang membakarnya dulu—sebuah frekuensi kegelapan yang saling mengenali.

"Api... kau hanyalah fenomena alat fisik. Kau bukan akhir dari eksistensiku yang abadi," bisik Aurelia pada kegelapan, mencoba menenangkan insting ketakutan primordialnya sendiri agar tetap berada di bawah kendali logika dinginnya.

Ia memejamkan mata sekali lagi dengan paksa, mengubah rasa sakit yang menyayat itu menjadi bahan bakar kinetik bagi kekuatannya. Ia membayangkan sebuah kehampaan absolut, sebuah lubang hitam yang menelan seluruh spektrum cahaya dan emosi di sekitarnya tanpa sisa.

"Tunjukkan jalannya padaku, Void. Berikan aku kekuatan untuk menghancurkan," tuntutnya dalam ruang batin yang sunyi.

Sensasi dingin yang tajam dan menyakitkan mulai merambat di sepanjang tulang belakangnya, seolah ada aliran es yang mengalir menggantikan darah. Pendar energi Void-nya meningkat secara bertahap, menyentuh angka stabilitas nol koma lima persen. Volume yang masih sangat kecil dan rapuh, namun sudah cukup bagi Aurelia untuk mulai membedah struktur residu sihir hitam Elena yang menempel secara mikroskopis di dinding sel yang lembap ini.

"Elena... kau benar-benar salah menimbang kemampuan lawanmu jika mengira sihir kotor ini bisa terus bersembunyi dariku," desis Aurelia dengan nada yang sedingin liang lahat.

Ia menatap tangannya yang pucat, kurus, dan masih sedikit gemetar. Ia tahu ia harus memperkuat struktur raga ini secepat mungkin. Ketakutannya tidak boleh lagi menjadi beban yang menariknya jatuh, melainkan harus diasah menjadi belati yang tajam dan mematikan.

"Nona? Anda... Anda baik-baik saja di dalam sana?" suara Rina terdengar tiba-tiba dari balik jeruji besi, berbisik dengan nada yang menunjukkan kecemasan akut yang nyaris histeris.

Aurelia tersentak, kesadarannya ditarik paksa kembali ke realitas sel yang beraroma busuk dan lembap. Ia menarik napas panjang, meredam denyut jantungnya yang masih tidak stabil akibat sisa trauma tadi. "Tidak apa-apa, Rina. Jangan khawatir. Hanya gangguan mimpi buruk yang sedikit mengganggu pikiranku."

"Nona... penjaga di koridor atas tadi menyebutkan bahwa Selir Elena sedang dalam kondisi emosi yang sangat tidak stabil hari ini. Anda harus benar-benar meningkatkan kewaspadaan," Rina berbisik dengan tubuh yang menyusut ke arah bayang-bayang karena takut tertangkap.

Aurelia menatap Rina dengan pandangan yang ia buat terlihat sangat lemas dan tak berdaya, namun di balik kelopak matanya yang sayu, ia menyimpan kilatan strategi yang sangat tajam. "Rina, terima kasih atas informasinya yang berharga. Apakah... apakah Kaisar Valerius sempat menanyakan sesuatu tentang status keberadaanku atau kondisi penjara ini?"

"Kaisar? Tidak pernah sama sekali, Nona. Beliau tampaknya benar-benar memfokuskan seluruh perhatiannya hanya pada Selir Elena dan persiapan pesta taman itu," jawab Rina dengan suara yang nyaris hilang ditelan kegelapan.

"Keputusan yang sangat menarik," sahut Aurelia pendek dengan nada datar. "Itu berarti mereka berdua benar-benar menganggap variabel keberadaanku sudah tereliminasi sepenuhnya dari papan catur mereka."

Ia melepaskan pegangannya pada tangan Rina yang terasa dingin dan berkeringat. "Rina, dengarkan aku. Bawakan aku pasokan garam tambahan secepatnya. Dan jika Elena mengirimkan makanan lagi melalui pelayan lain, pastikan makanan itu sampai ke tanganku terlebih dahulu sebelum penjaga lain melakukan inspeksi atau mencicipinya."

Rina tampak menimbang risiko mati tersebut sesaat dengan wajah yang pucat, namun akhirnya ia memberikan anggukan patuh yang dipaksakan. "B-baik, Nona. Saya akan mengatur logistiknya sebaik mungkin tanpa menarik perhatian para sipir."

Pelayan itu bergerak menjauh dengan langkah yang terburu-buru dan goyah. Aurelia menatap cangkir besi di sudut sel yang telah menghitam karena oksidasi. Cairan bersih di dalamnya adalah satu-satunya sekutu fisiknya di tempat yang penuh polusi sihir ini.

"Jangan pernah merasa terlalu aman di atas takhtamu, Valerius," batin Aurelia sambil memperhatikan bayangan obor yang menari-nari liar di koridor. "Pemenang sejati adalah dia yang mampu mempertahankan eksistensinya paling lama dalam tekanan yang paling menghancurkan."

Ia menutup matanya kembali, menggenggam erat kristal garam yang kini terasa hangat di sakunya. Ia harus tetap menggunakan identitas Elara yang lemah sebagai perisai absolut. Ia harus bertransformasi menjadi senjata yang tidak akan pernah terdeteksi oleh indra sihir apa pun di istana ini.

Penerimaan Energi Void

Aurelia memejamkan mata kembali, memaksa sinkronisasi yang lebih dalam antara jiwanya yang perkasa dan raga Elara yang mengalami kekurangan nutrisi akut. Rasa perih yang menjalar di punggungnya—jejak dari perlakuan kasar sipir sebelumnya—ia jadikan sebagai pusat konsentrasi sarafnya. Dalam hukum sihir Void yang rigid, rasa sakit fisik adalah pintu gerbang alami untuk menarik energi mentah dari lingkungan sekitar ke dalam inti jiwa. Ia memanggil kembali ingatan tentang api Elena; ia menyadari bahwa itu bukan sekadar reaksi kimia pembakaran biasa, melainkan energi sihir hitam yang dipadatkan secara jahat untuk merusak jiwa.

"Resonansi... jalinlah hubungan," bisiknya pada kegelapan.

Ia membayangkan energi gelap yang membakarnya dulu justru terserap masuk kembali ke dalam jaringan luka bakarnya yang sekarang, bukan sebagai perusak, melainkan sebagai suplemen tenaga. Sensasi dingin yang menusuk mulai menjalari struktur tulang belakangnya, berbenturan hebat dengan sisa-sisa panas dari traumanya tadi hingga memicu keringat dingin. Void mulai bekerja secara mekanis, membedah frekuensi sihir Elena yang masih melayang samar di udara lembap penjara bawah tanah ini.

"Elena... kau telah melakukan kesalahan fatal dengan memilih lawan yang akan menghancurkan seluruh sistemmu dari dalam," batin Aurelia dengan keyakinan yang dingin.

Ujung jarinya mulai menangkap getaran energi yang nyata, sebuah dengungan rendah yang hanya bisa dirasakan oleh praktisi tingkat tinggi. Jiwanya terasa sangat berat; beban penggunaan sihir tanpa wadah biologis yang memadai mulai memicu rasa nyeri yang menusuk di belakang matanya, namun ia mengabaikan sinyal bahaya tersebut. Ia membutuhkan kekuatan ini di atas segalanya demi martabat Asteria.

Suara langkah kaki sipir yang berat kembali terdengar memantul di dinding-dinding lorong, menandakan pergantian shift jaga. Aurelia segera memutuskan aliran energinya secara mendadak, membuat tubuhnya tersentak kecil. Ia kembali memosisikan tubuhnya meringkuk di sudut, memberikan kesan sempurna seorang tawanan yang sudah hancur total secara mental dan fisik.

"Hei, sampah Asteria! Kau masih memiliki detak jantung atau sudah mati karena ketakutan?" penjaga itu menghantam jeruji sel dengan logam pelapis sepatunya yang kotor hingga suara dentingnya memekakkan telinga dalam kesunyian malam.

Aurelia tidak memberikan respon verbal apa pun. Ia dengan sengaja mengatur frekuensi pernapasannya agar terdengar sangat dangkal, terputus-putus, dan lemah, membiarkan tubuhnya tetap diam tak bergerak di atas permukaan batu yang dingin dan berdebu.

"Benar-benar membosankan. Melihatmu seperti melihat mayat yang membusuk tapi belum sempat dikubur," gerutu penjaga itu dengan nada jijik sebelum melangkah pergi meninggalkan area tersebut menuju ruang jaga yang lebih hangat.

Aurelia membuka matanya perlahan setelah gema langkah itu benar-benar hilang dari jangkauan pendengarannya. Ruang sel kembali jatuh ke dalam kesunyian yang statis dan mencekam. Ia meraba kembali butiran garam di sakunya; kristal itu sekarang terasa jauh lebih dingin di kulitnya, sebuah indikator bahwa energi Void telah mulai berinteraksi dengan materi fisik di sekitarnya.

Dilema di Tengah Sunyi

"Aku merindukan kehadiranmu, Kaelen," bisik Aurelia dengan suara yang nyaris tidak terdengar, sehalus gesekan debu di lantai batu. Hanya untuk satu detik yang rapuh, ia membiarkan sisi manusianya yang telah lama membeku merambat ke permukaan. Kaelen adalah jenderalnya, pelindung setianya yang memiliki tatapan mata sehangat matahari musim gugur Asteria. Membayangkan pria itu sedang berada dalam kondisi frustrasi yang menghancurkan jiwa karena mengira dirinya telah tiada—bahwa ratunya telah menjadi abu—membuat dada Aurelia terasa nyeri secara emosional, sebuah kontraksi yang lebih menyakitkan daripada luka bakar fisiknya.

Namun, ia segera menekan perasaan itu kembali ke dasar batinnya yang paling gelap. Ia tidak boleh membiarkan sentimen atau air mata menghambat langkah taktisnya. Di dunia yang dingin ini, cinta adalah variabel yang bisa membuat seseorang ceroboh.

Ia harus menjaga fokus taktis dengan presisi matematis. Rencana Rina untuk membawa asupan yang mengandung toksin dari dapur Elena bukan sekadar ancaman, melainkan sebuah peluang emas yang dikirimkan takdir. Ia akan mengonsumsi racun tersebut, bukan untuk mati, melainkan menggunakan Void untuk membedah molekulnya dan mengubahnya menjadi unit tenaga murni—sebuah Third Option yang hanya bisa dipahami dan dieksekusi oleh praktisi sihir tingkat tinggi yang telah melampaui batas kemanusiaan.

"Aurelia yang lembut dan pemaaf telah mati dalam kobaran api itu," tegasnya pada diri sendiri untuk memperkuat mentalitas absolutnya. "Sekarang yang tersisa hanyalah Elara, instrumen pembalasan yang akan meruntuhkan struktur kekuasaan Valerius dari akarnya yang paling dalam."

Tubuhnya terasa semakin lemas, sebuah konsekuensi biologis yang tak terelakkan akibat pemaksaan energi Void pada raga yang mengalami malnutrisi kronis dan dehidrasi. Pandangannya sesekali mengabur, namun matanya tetap tajam, terus memindai setiap sudut koridor yang gelap melalui celah jeruji besi, mencari anomali atau peluang sekecil apa pun.

"Tunggu kedatanganku, Valerius. Masa lalumu tidak akan terkubur dalam abu; ia akan bangkit sebagai badai yang akan menghancurkanmu tanpa menyisakan satu pun kenangan indah."

Puncak Isolasi

Malam terus merangkak maju, membawa suhu dingin yang semakin ekstrim ke dalam sel. Aurelia mulai merasakan kaku di jemari kakinya, namun ia menggunakan rasa dingin itu untuk mempertajam indranya. Ia mulai memetakan suara-suara di penjara bawah tanah ini: suara tikus yang berlari di pipa drainase, suara tetesan air yang jatuh setiap tujuh detik, dan suara napas penjaga yang tertidur di pos jauh. Semua itu adalah data sensorik yang ia masukkan ke dalam rencana pelariannya.

Ia kembali menyentuh dinding batu, kali ini dengan niat untuk meninggalkan jejak energi Void yang sangat halus. Jejak ini akan berfungsi sebagai "sensor" pribadinya. Jika seseorang dengan energi sihir kuat—seperti Elena—mendekati sel ini, Aurelia akan mengetahuinya bahkan sebelum suara langkah kaki terdengar.

"Satu langkah lagi," batinnya sambil merasakan aliran energinya mulai selaras dengan materi padat dinding sel.

Trauma api itu masih berbisik di sudut ingatannya, mencoba mengingatkannya pada rasa sakit yang tak tertahankan. Namun, setiap kali bayangan itu muncul, Aurelia membalasnya dengan bayangan takhta yang runtuh. Ia mengubah rasa takut menjadi kemarahan yang terkendali, sebuah proses alkimia jiwa yang mengubah kerentanan menjadi kekuatan absolut.

"Aku bukan lagi korban," bisiknya pada bayangannya sendiri di dinding. "Aku adalah konsekuensi dari dosa-dosamu."

Fajar mungkin masih jauh, namun di dalam kegelapan selnya, Aurelia sudah bisa melihat cahaya dari kebakaran besar yang akan ia ciptakan di istana Valerius. Ia tidak butuh api fisik; ia memiliki kehampaan yang akan menelan seluruh kekaisaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!