Pensiun sebagai pembunuh nomor satu karena penyakit mematikan, Kenzo bereinkarnasi ke dalam novel kultivasi buatannya sendiri. Berbekal 'Sistem Sampah' yang ia modifikasi menjadi senjata maut dan pengetahuan sebagai sang pencipta, Kenzo siap membantai siapa pun yang berani mengusik waktu santainya bersama sang putri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Intimidasi atau Godaan?
Cahaya matahari pagi menyaring di antara dedaunan, menciptakan pola cahaya yang menari-nari di atas wajah Kenzo. Ia berbaring telentang di atas rumput hijau yang empuk, tangannya terlipat di belakang kepala. Pagi ini, pikirannya berkelana pada dinamika aneh di rumah tangganya yang tidak resmi ini.
"Hmm, kalau dipikir-pikir, Ling Yue lebih sering mengancamku belakangan ini. Aku sepertinya terlalu membiarkan dia bertindak semaunya." gumam Kenzo pada dirinya sendiri. Sebagai mantan pembunuh nomor satu, ia merasa otoritasnya sebagai Kreator mulai tergerus oleh omelan seorang wanita yang dulunya hanyalah serangkaian kode sistem.
Tepat saat itu, suara langkah kaki yang menghentak keras mendekat.
"KENZO! Kau masih di sini?!" teriak Ling Yue dengan nada tinggi. Ia berdiri di atas Kenzo, bayangannya menutupi sinar matahari. "Pagar depan sedikit miring, kulkas perlu dibersihkan, dan kau malah tiduran seperti batang kayu jatuh! Apa kau ingin aku hukum?!"
Kenzo membuka satu matanya, menatap Ling Yue datar. Kalimat "hukum" itu memicu sesuatu di otaknya. Ia bangkit berdiri perlahan, membersihkan helai rumput di bajunya, lalu mulai melangkah mendekat ke arah Ling Yue.
"Hukum?" Kenzo mengulangi kata itu dengan suara rendah dan berat. "Benar juga. Aku hampir lupa siapa bos di sini."
Ling Yue, yang biasanya berani, tiba-tiba merasakan aura dominan Kenzo kembali muncul. Ia merasa nyalinya menciut secara drastis. Ia mulai mundur selangkah demi selangkah. "K-Kenzo? Apa yang kau lakukan? Jangan mendekat!"
Kenzo terus maju dengan wajah tanpa ekspresi, memaksa Ling Yue mundur hingga punggung wanita itu membentur batang pohon besar di pinggir halaman. Duk. Ling Yue tidak bisa lari lagi.
Kenzo mengangkat tangannya, lalu brak! Ia menempelkan telapak tangannya di batang pohon, tepat di samping kepala Ling Yue, mengunci posisinya.
"Ke mana nyalimu yang biasanya itu, Ling Yue?" Kenzo perlahan mendekatkan wajahnya. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Ling Yue bisa merasakan embusan napas Kenzo di pipinya.
Wajah Ling Yue seketika berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus. Jantungnya berdegup kencang, dan pikirannya mulai melantur ke berbagai adegan novel romantis yang pernah ia catat di memorinya. Ia memejamkan mata erat-berat, tangannya meremas gaunnya.
"J-jangan! Aku... aku belum siap!" seru Ling Yue dengan suara gemetar, menanti sesuatu yang ia pikir akan terjadi.
"Wah, Ayah dan Ibu mau cium-cium ya? Lin-er lihat itu di buku cerita!"
Suara cempreng Lin-er memecah ketegangan seketika. Kenzo berhenti bergerak, kepalanya menoleh sedikit ke arah anaknya yang sedang berdiri sambil memegang buku dengan wajah polos yang sangat antusias.
Kenzo mengerutkan dahi, tampak bingung. "Cium? Memangnya aku terlihat seperti akan menciumnya?"
Kenzo menjauhkan wajahnya dan menatap Ling Yue yang masih memejamkan mata dengan bibir gemetar. "Padahal tadi aku sedang mengintimidasi Ling Yue karena dia terlalu berisik. Aku baru saja akan mencubit hidungnya keras-keras sebagai hukuman."
Mendengar itu, Ling Yue membuka matanya. Rasa malu yang luar biasa menghantamnya seperti palu godam. Ternyata hanya dia yang berpikir macam-macam!
"MINGGIR!" teriak Ling Yue dengan suara melengking. Ia mendorong dada Kenzo sekuat tenaga, lalu lari tunggang langgang masuk ke dalam gubuk sambil menutupi wajahnya yang panas membara. Brak! Pintu dibanting keras.
Kenzo berdiri diam, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia menatap Lin-er. "dia marah kenapa? Padahal aku belum sempat mencubit hidungnya."
Lin-er hanya mengerjapkan mata, ikut bingung. "Tidak tahu. Ibu aneh banget ya, Yah."
"Sangat aneh," sahut Kenzo. Ia kembali berjalan ke tengah rumput dan menjatuhkan dirinya untuk kembali tidur. "Sudahlah, lebih baik tidur lagi. Bermain dengan perasaan wanita itu lebih melelahkan daripada membantai satu sekte."
Lin-er mengangkat bahu, lalu berlari masuk ke dalam gubuk untuk mencari Ling Yue, meninggalkan Kenzo yang kembali tenggelam dalam kemalasan paginya.
sebentar😅😅