NovelToon NovelToon
Suami Idiot

Suami Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah
Popularitas:22
Nilai: 5
Nama Author: cilicilian

Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.

Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Puding

Dua hari sudah Arga terbaring di rumah sakit sejak kejadian pingsan akibat kelelahan mengejar Anya. Selama dua hari itu pula Anya tidak pernah absen menemani Arga, meski tingkah lakunya semakin hari semakin membuatnya geleng-geleng kepala. Arga selalu bersikap manja dan tidak ingin jauh dari Anya, sampai-sampai Anya merasa muak dan ingin mencekik Arga saking gemasnya.

Seperti saat ini, Arga tengah merengek meminta puding yang dicampur dengan lele. Mendengarnya saja Anya sudah bergidik ngeri, apalagi kalau sampai melihatnya. "Anya, Arga mau puding lele! Arga pengen!" rengeknya dengan suara manja yang dibuat-buat.

"Jangan aneh-aneh deh, Arga! Kalau mau puding, ya puding saja. Nggak usah pakai lele segala!" balas Anya dengan nada kesal.

Arga semakin memanyunkan bibirnya dengan wajah yang tampak kecewa. "Tapi Arga maunya tetap puding lele! Kalau nggak ada puding lele, Arga nggak mau makan apapun!" ucapnya dengan nada merajuk dan kekanak-kanakan.

Anya mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha menahan emosinya. "Nggak ada di dunia ini puding yang dicampur sama lele, Arga! Lagipula, mana ada orang yang jualan puding aneh kayak gitu!" balas Anya dengan nada kesal dan frustrasi.

"Ada kok, Anya! Arga tadi lihat di handphone, lelenya ada di dalam puding terus ukurannya gede-gede banget! Arga lihat itu jadi lapar banget," ucapnya dengan nada polos dan penuh harap.

Anya menghela napas panjang dengan wajah yang tampak lelah. "Itu cuma konten nggak jelas di internet, Arga. Mungkin yang bikin lagi bosan atau kurang kerjaan. Cuma orang yang nggak waras yang pengen makan puding dicampur lele," jelas Anya dengan nada sabar.

Arga mengerutkan keningnya dengan ekspresi tidak suka. "Arga nggak aneh! Arga cuma pengen makan puding lele!" bantahnya dengan nada merajuk.

"Udah, jangan banyak protes! Sekarang kamu makan aja apa yang ada di depan kamu ini. Kalau kamu nggak mau makan, kamu nggak akan cepat sembuh," ucap Anya dengan nada tegas sambil menyodorkan nampan berisi makanan ke arah Arga.

Arga memalingkan wajahnya dengan ekspresi merajuk. "Nggak mau! Pokoknya Arga maunya puding lele!" tolaknya dengan nada keras kepala dan kekanak-kanakan. Ia memeluk erat bantalnya dan memunggungi Anya, menunjukkan kekecewaannya.

Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka, menampilkan sosok Pramudya yang masuk dengan wajah berseri-seri. "Arga, Ayah datang! Ayah bawakan susu kesukaan Arga," ucap Pramudya dengan nada gembira sambil menenteng paper bag berisi minuman.

Akan tetapi, Arga tetap tidak memberikan respon apapun. Ia masih terdiam seribu bahasa sambil memalingkan wajahnya, mengabaikan kehadiran Anya maupun ayahnya.

Pramudya yang melihat sikap aneh putranya itu merasa bingung dan khawatir. "Ada apa dengan Arga, Anya? Kenapa dia jadi murung begini?" tanya Pramudya dengan nada cemas sambil menatap Anya dengan tatapan bertanya.

"Arga merengek minta puding lele, Ayah. Padahal aku sudah bilang berkali-kali kalau puding lele itu nggak ada, itu cuma konten iseng di internet aja, tapi Arga tetep aja maksa," jelas Anya dengan nada frustrasi.

Pramudya mendekati Arga dan mengelus punggung putranya dengan penuh kasih sayang. "Arga, apa yang istri kamu bilang itu bener, Sayang. Puding lele itu pasti nggak enak. Kalau Arga mau puding, biar Ayah belikan yang paling enak, ya?" bujuk Pramudya dengan nada penuh pengertian.

Arga menggelengkan kepalanya dengan keras, menunjukkan betapa keras kepalanya ia. "Nggak mau! Pokoknya Arga maunya puding lele! Nggak ada yang lain!" tolak Arga dengan nada kekanak-kanakan. Ia semakin memeluk erat bantalnya, enggan untuk beranjak dari posisinya.

"Untung ada bapaknya, kalau nggak udah aku lempar dari jendela!" gerutu Anya dalam hatinya dengan nada sinis.

Anya memijat pelipisnya yang terasa sakit karena menahan emosi. "Ayah, aku permisi keluar sebentar ya, titip Arga sebentar," ucap Anya berusaha menjaga nada bicaranya tetap sopan. Suasana hatinya sedang kacau balau, ia tidak mau sampai kehilangan kendali dan membentak Arga di depan ayahnya.

Namun, suara rengekan Arga menghentikan langkahnya yang sudah dekat dengan pintu. "Anya jangan pergi! Arga maunya sama Anya aja!" rengek Arga dengan nada manja yang membuat Anya mengepalkan kedua tangannya erat-erat, berusaha menahan amarahnya.

Anya memaksakan sebuah senyuman di wajahnya saat berbalik menatap Arga. "Aku cuma mau keluar sebentar, buat cari makan siang," ucap Anya dengan nada lembut, berusaha menenangkan Arga.

"Lebih baik Ayah aja yang belikan makan siang buat Anya, biar Anya di sini temenin Arga terus. Boleh kan, Ayah?" pinta Arga pada Pramudya dengan nada merengek dan manja.

"Tidak perlu, Arga. Ayah kan baru dateng. Ayah juga pastinya kangen sama kamu, biar aku sendiri aja yang beli," tolak Anya dengan halus. Ia hanya ingin mencari udara segar dan menjauh sebentar dari Arga karena suasana hatinya sedang tidak baik.

"Arga, biar Anya pergi makan dulu ya, Nak. Takutnya kalau Ayah yang belikan, Anya tidak selera. Kan dari tadi kamu nempel terus sama Anya, dan Anya juga belum sempat makan siang," ucap Pramudya dengan nada penuh pengertian dan kelembutan.

Mendengar perkataan ayahnya, Arga semakin memanyunkan bibirnya dengan wajah yang masam dan tidak rela. "Hmm, tapi jangan lama-lama ya, Anya! Awas aja kalau Anya lama di luar sana, Arga mau nangis kenceng-kenceng!" ancamnya dengan nada kekanak-kanakan.

Setelah mendengar ancaman Arga, Anya bergegas keluar dari ruangan itu dengan cepat. Sungguh, kepalanya terasa mau pecah mendengar rengekan Arga yang terus menerus membuatnya jengkel selama beberapa hari terakhir ini.

"Lama-lama aku bisa ikutan gila beneran!" gerutunya dengan nada kesal sambil berjalan dengan langkah lebar.

Saat berbelok di lorong rumah sakit, Anya melihat Rini dan Galen sedang berjalan tergesa-gesa menuju taman belakang rumah sakit. Ada sesuatu yang aneh dengan tingkah laku mereka, seolah menyembunyikan sesuatu. Rasa penasaran Anya pun memuncak, dan ia memutuskan untuk mengikuti mereka secara diam-diam.

Galen dan Rini duduk di kursi panjang di taman tersebut, dengan wajah yang tampak tegang. "Mah, seharusnya waktu itu Arga nggak selamat! Kenapa dia masih bisa hidup sih!" desis Galen dengan nada penuh kebencian.

Anya bersembunyi di balik pohon besar, jantungnya berdebar kencang saat mencoba menguping pembicaraan mereka.

"Mamah juga berharap yang sama, tapi ternyata fisik Arga lebih kuat dari yang kita duga," jawab Rini dengan nada frustrasi.

Namun, di tengah perbincangan mereka yang serius, tiba-tiba seorang wanita misterius dengan penampilan serba tertutup, mengenakan kacamata hitam, masker, serta jaket hitam, mendekat ke arah mereka.

"Jangan sampai ada yang curiga. Pastikan rencana ini berjalan dengan sempurna," ucap Rini dengan nada berbisik dan penuh penekanan sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal kepada wanita itu.

Wanita itu hanya mengangguk pelan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lalu berbalik dan menghilang dari hadapan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!