Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29.Mengamati.
Markas utama Perbatasan Timur lebih sunyi dari biasanya.
Ruangan kerja Panglima berada di bangunan kayu paling ujung, menghadap langsung ke tebing batu yang turun curam ke jurang berkabut. Angin dingin menyelinap dari celah jendela, menggoyangkan ujung gulungan peta yang tergantung di dinding.
Hong Lin berdiri membelakangi meja.
Tangannya bertumpu di kusen jendela.
Tatapannya kosong menembus kabut putih di luar.
Tapi pikirannya…
Tidak berada di sana.
Wajah itu terus muncul.
Wajah seorang wanita misterius.
Dan tatapan seorang wanita yang tidak bisa di sungai.
Semakin ia mencoba menghapusnya, semakin jelas dua bayangan itu saling tumpang tindih.
Langkah kaki terdengar di luar.
“Masuk,” ucap Hong Lin tanpa menoleh.
Pintu terbuka.
Komandan Zhou masuk dengan langkah tegap, lalu memberi hormat penuh.
“Panglima.”
Hong Lin tetap menatap keluar beberapa detik sebelum akhirnya berbalik.
“Duduk.”
Zhou sempat terkejut. Biasanya Hong Lin tidak menyuruh duduk saat pembicaraan resmi. Tapi ia menurut.
Hong Lin berjalan pelan kembali ke meja.
Duduk.
Tangannya terlipat di atas meja kayu.
Tatapannya tajam.
“Prajurit Li Yun Lan.”
Zhou langsung mengerti arah pembicaraan.
Ia tidak heran.
Sejak latihan pagi tadi, hampir seluruh kamp membicarakan bagaimana Panglima sendiri memanggil satu prajurit biasa untuk beradu pedang.
“Ya, Panglima. Ada yang salah dengannya?”
Hong Lin terdiam sejenak.
Seolah menyusun pertanyaan di kepalanya.
“Ceritakan padaku tentang dia.”
Zhou tidak langsung menjawab.
Ia mencoba mengingat.
“Li Yun Lan bergabung enam bulan lalu, Panglima. Datang membawa titah kaisar langsung milik jenderal Li dari desa Ying.”
Jenderal Li mulai menganggu pikiran Hong lin, nama yang tak asing di telinganya karena ayahnya selalu membicarakan temannya tersebut.
Hong Lin mengangguk pelan.
“Lanjutkan.”
“Dia kesini sebagai putra Jenderal Li.”
Hong Lin sedikit mengangkat alis.
“Putra Jenderal Li…?”
“Benar, sahabat Jenderal Xi. Ayah Panglima.”
Hong Lin terdiam.
Nama itu memicu memori lama.
Ia ingat ayahnya pernah menceritakan tentang Jenderal Li.
Pria keras kepala, jujur, dan selalu tertawa paling keras saat minum arak bersama ayahnya.
Tapi…
Ia tidak pernah ingat kalau anaknya adalah pria.
“Putra?”
Zhou mengangguk.
“Ya, Panglima. Katanya ayahnya sakit keras. Ia datang menggantikan tugas keluarga.”
Hong Lin bersandar pelan.
“Bagaimana kabar Jenderal Li sekarang?”
Zhou menggeleng.
“Tidak ada kabar. Sejak enam bulan lalu tidak ada surat lagi dari desa Ying.”
Hong Lin tidak curiga.
Dalam ingatannya, Jenderal Li memang pernah berkata punya anak.
Tapi tidak pernah menyebut jelas anak itu pria atau wanita.
Dan di dunia militer…
Menurut pesan ayahnya jika anak jenderal Li putra dia harus menjadi saudaranya,sedangkan kalau wanita menjadi istrinya.
Rasa lega.
Akhirnya Hong lin tidak perlu menikah dengan anak jenderal Li.
Karena dia pria, jadi putra jenderal Li adalah saudara angkatnya sekarang.
Hong Lin pun tersenyum, dalam hatinya akan memperlakukan saudara angkatnya seperti adiknya sendiri.
Hong Lin menatap Zhou lagi.
“Karena dia putra jenderal Li, maka dia adalah saudaraku.jadi aku harap kamu memperlakukan dirinya secara khusus,apa yang ku makan dan kenakan prajurit Li juga perlakuan dengan sama.”
Zhou berpikir.
“Sebaiknya jangan panglima,itu bisa menambah rasa iri sesama rekannya dan musuh baru untuk prajurit Li.”
Hong Lin mengetuk meja pelan dengan jarinya.
Ritmis.
Pelan.
Lalu tiba-tiba ia berkata,
“Zhou.”
“Ya, Panglima?”
“Kau benar,itu tidak baik untuk Li.”
Zhou bernafas lega,bagaimana pun juga dirinya mengamati bagaimana Yun lan kesulitan beradaptasi dengan rekannya.
Sekarang sudah mulai membaik, jika perintah itu dirinya laksanakan maka akan membawa bencana dalam kerja sama sesama prajurit.
“…jadi kita tidak perlu mengistimewakan prajurit Li?”
Hong Lin sendiri tampak ragu dengan kalimatnya.
“Benar, tapi bantu aku mencarikan bagian agar prajurit Li bisa dibawah komando ku langsung.”
Zhou menatap Hong Lin lama.
Wajahnya kosong.
“Hah!,apa itu tidak mencurigakan.”
Hong Lin terdiam.
Ia menyadari.
Perintah itu…
Tidak masuk akal.
Ia bahkan hanya ingin mengenal dekat saudara angkatnya itu, seperti perintah ayahnya.
Ia hanya ingin menjalankan perintah ayahnya saja.
Hong Lin menghela napas pelan.
“Lupakan.”
Zhou mengangguk cepat.
“Baik, Panglima.”
“Bawakan laporan perkembangan seluruh prajurit enam bulan terakhir.”
“Segera.”
Zhou berdiri dan keluar.
Tak lama, ia kembali membawa gulungan catatan tebal.
Hong Lin mulai membukanya satu per satu.
Nama.
Catatan fisik.
Kemampuan tempur.
Perkembangan.
Satu per satu ia baca cepat.
Hingga jarinya berhenti.
Dua nama.
Yun.
Li Yun Lan.
Hong Lin menyipitkan mata.
“Berat badan awal… 90 jin?”
Zhou menjawab, “Ya, Panglima. prajurit Li dulu sangat gemuk. Sedikit kesulitan saat lari dan selalu tertinggal dengan rekan setimnya tapi dia tidak terlihat lemah.”
Hong Lin mengangkat alis.
“Sekarang 50 jin.”
“Ya.”
“Penurunan drastis.”
“Tapi stabil. Ia berlatih keras.”
Hong Lin membaca lebih jauh.
Perkembangan kemampuan Yun lan… melonjak.
Lalu ia melihat Yun.
Pria tertampan dengan kemampuan terbaik.
Stabil.
Disiplin.
Nyaris tanpa catatan pelanggaran.
Sekarang dua prajurit ini…
Terlalu menonjol untuk ukuran kamp perbatasan.
“Ceritakan tentang mereka berdua.”
Zhou mulai menjelaskan.
Tentang Yun yang dulu bahan ejekan karena wajahnya yang tampan.
Tentang bagaimana Yun Lan dan Yun setiap malam berlatih bersama.
Tentang kedekatan mereka.
Tentang bagaimana Yun Lan diam-diam membantu banyak prajurit memperbaiki teknik.
Hong Lin mendengarkan tanpa menyela.
Semakin ia dengar…
Semakin ia penasaran dengan Yun lan.
Tiba-tiba saja bayangan wanita di sungai itu muncul lagi.
Gerakannya.
Cara berpikirnya.
Kesabarannya.
Semua…
Terlalu mirip dengan prajurit Li Yun Lan.
Tapi dirinya menangkis pikiran tersebut.
Dan logikanya menolak.
Putra Jenderal Li.
Prajurit laki-laki.
Tidak mungkin wanita yang ia lawan itu.
Sementara itu…
Di lapangan belakang barak.
Yun Lan duduk di atas batu besar.
Tangannya memegang kepala.
Yun duduk di sampingnya.
“Li… wajahmu pucat sejak tadi.”
Yun Lan menghembuskan napas panjang.
“Aku merasa dia mulai mendekat.”
“Panglima?”
Yun Lan mengangguk pelan.
“Tatapannya berbeda. Dia seperti… mengingat sesuatu, tapi belum yakin.”
Yun menelan ludah.
“Kalau dia tahu kau wanita—”
“Aku mati.”
Sunyi.
Angin dingin berdesir pelan di antara tiang bendera.
Yun menatap sahabatnya itu.
“Kita pergi bagaimana?”
Yun Lan tersenyum tipis.
“Dasar dewa bodoh, jika kita kabur begitu saja sama dengan pemberontakan.”
Yun terdiam.
Yun Lan menatap tanah.
“Penyamaranku sempurna,asal aku tidak mengundang perhatian panglima saja itu sudah cukup.”
“Kau yakin?”
“Tidak tahu...”
Jawaban itu jujur.
Dan itu yang membuat Yun semakin cemas.
“Jika saja aku masih memiliki kekuatan dewa, aku hapus ingatan tentang dirimu saat jadi wanita.”
Yun lalu menepuk bahunya pelan.
“Tenang saja dewa pelindung mu ada disini.”
Yun Lan terdiam.
Kata Yun tidak bisa menghilangkan rasa cemasnya.
Dirinya tidak takut identitasnya terbongkar.
Tapi yang ia takuti masalah ini akan membawa keluarga nya.
nanti bisa berubah tor dari geregetan jadi bosen