Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan tamu tak terduga
Pagi itu, Kirana nyaris menumpahkan minyak goreng.
Bukan karena tangannya gemetar—dia sudah terbiasa mengangkat wajan berat sejak dulu. Tapi karena matanya tak sengaja menangkap sosok tinggi di ujung jalan, berdiri di depan gerbang kawasan industri sambil memegang peper bag ditangannya
*Arka Wijaya.*
Lagi.
Kemarin cuma tatapan singkat. Hari ini? Dia malah melambaikan tangan. Dengan senyum.
Kirana buru-buru menoleh ke arah kompor, pura-pura sibuk mengaduk bumbu ayam. Pipinya hangat. “Aduh, jangan-jangan dia pikir aku ngintipin dia tiap pagi,,” gumamnya dalam hati.
Tapi Gio, yang sedang asyik mencelupkan potongan bawang ke dalam mangkuk air (ritual anti-nangis versi anak empat tahun), langsung berseru, “Ma! Itu Om tinggi lagi! Yang kemarin liat kita pas anterin nasi!”
Kirana nyaris tersedak. “Gio… jangan teriak-teriak gitu dong.”
Tapi sudah terlambat. Arka sudah berjalan mendekat, langkahnya santai, jaket kerja digantung di bahu, rambutnya agak berantakan—tapi tetap kelihatan rapi, entah gimana caranya.
“Pagi, mbak Kirana,” sapanya dengan suara rendah tapi hangat.
"Pagi ..anda tahu alamat saya ?"
"Tahu ,kemarin saya tanya Bu Anita ,dan ia yang memberikan alamatnya disini ."
"kenapa anda kesini ,kenapa tidak lewat telpon saja kalau anda mau order ."
"Kebetulan aku berada di dekat sini,jadi Aku sekalian mampir kemari ." ucap Raka dengan senyum diwajahnya sehingga membuat ketampanannya semakin memancar diwajahnya ,dan yang tak di duga Kirana jantungnya berdebar ,dan berdetak semakin cepat ,dan sebelumnya ia tidak pernah mengalami hal seperti itu termasuk dengan Aris mantan suaminya .
" Selamat pagi, Chef Gio.” ucap Arka tersenyum ,dan mengusap rambut Gio ,yang saat ini sedang asik bermain
Gio langsung melotot. “Chef?! Aku Chef Gio beneran, lho! Aku potong bawang sendiri!”
Arka tertawa kecil, lalu jongkok sampai sejajar dengan mata Gio. “Wah, beneran? Bisa ajarin aku potong bawang biar nggak nangis saat sedang memotong ?”
Gio langsung bangga. “Iya! Pakai trik Mama: celup dulu ke air! Terus… jangan mikirin mantan!” celoteh Gio polos ,mendengar ucapan Gio kiran terkejut ,ia tidak menyangka omongnya Dengan Siska bisa di tiru oleh Gio .
Kirana hampir tersedak teh hangat yang baru saja diminumnya. “GIO! Itu bukan trik potong bawang, itu… itu nasihat hidup!”
Arka tertawa terbahak-bahak, matanya berbinar. “Wah, Chef Gio ini levelnya udah master. Bisa kasih nasihat dan bisa masak,dan bisa bantu mama,wah Keren banget.” puji Arka ,Gio hanya nyengir.
Kirana merasa pipinya makin panas. “Dia cuma… nonton drakor sama Mbok Tini. Jangan didengerin serius-serius.”
Tapi Arka malah berdiri dan menunjuk kotak nasi yang baru saja dikemas. “Boleh coba sedikit? Aku belum sarapan, dan aromanya bikin perutku protes.”
Kirana ragu sebentar—aturan dapurnya jelas: ("nggak boleh nyicipin sebelum pelanggan"). Tapi… ini Arka. Dan dia kelihatan jujur. Lagipula, Gio sudah mencomot sepotong ayam kecap dan menyuapkannya ke mulut Arka dengan antusiasme luar biasa.
“Ini enak, Om! Ini rahasia Mama: dikasih kecap manis dua sendok, cabe rawit satu, sama… cinta!” Kirana hanya menggeleng ia tahu itu ulah Siska ,sehingga Gio bisa berbicara seperti itu .
Arka mengunyah, lalu menatap Kirana. “Ini… benar-benar enak. Serius. Rasanya kayak… rumah.”
Kirana diam sejenak. Lalu mengangguk pelan. “Terima kasih.”
Mereka ngobrol ringan sambil Kirana menyelesaikan pesanan. Arka ternyata arka baru pindah dari Surabaya tiga bulan lalu. Tinggal sendirian di apartemen kecil, masak cuma kalau weekend—itu pun kadang gagal total.
“Kemarin aku coba bikin telur dadar. Hasilnya kayak batako,” katanya sambil nyengir.
Gio langsung menawarkan diri. “Nanti aku ajarin! Aku bisa bikin telur ceplok bentuk hati!”
“Wah, deal!” Arka menjabat tangan Gio dengan serius. “Mulai besok, aku jadi muridmu.”
Kirana hanya bisa tersenyum, mengamati interaksi mereka. Arka tidak sok tahu, tidak bicara terlalu banyak, tapi caranya berbicara dengan Gio—santai, sabar, lucu—membuat hatinya melembut.
Tapi tentu saja, dia langsung mengingatkan dirinya sendiri: *Jangan overthinking. Dia cuma pelanggan. Atau… calon pelanggan.*
“Eh, iya,” kata Arka tiba-tiba. “Aku boleh pesan buat kantor? Tiap Rabu, kayak tetangga sebelah. Ayam kecap + telur + sambal. Tapi… boleh minta porsi kecil buat Gio juga? Biar dia nggak iri.”
Gio langsung melompat. “Beneran, Om?!”
Kirana tertawa. “Porsi kecil mah gratis, Om. Asal Gio nggak rewel pas Mama kerja.”
“Janji!” Gio menepuk dada. “Aku bakal jadi asisten Mama yang paling disiplin! Bahkan… bahkan nggak bakal nyanyi lagu ‘Ayam Kecap’ pas lagi serius!”
Kirana dan Arka saling pandang, lalu tertawa bareng.
Dan di tengah tawa itu, Kirana sadar: sudah lama dia nggak merasa… ringan begini.
---
Jam tujuh pagi, Arka pamit. Sebelum pergi, dia menyerahkan secarik kertas kecil ke tangan Kirana. “Nomor HP-ku yang baru ,soalnya nomor yang dulu sudah aku blokir ,dan Kalau ada menu baru, kabarin ya. Aku rela jadi tester pertama.”
Kirana menerima kertas itu, jantungnya berdebar—tapi dia pura-pura cuek. “Oke. Tapi kalau komplain, bayarnya double.”
Arka tertawa. “Siap, Bu Chef.”
Setelah dia pergi, Gio langsung menarik lengan Kirana. “Ma… Om Arka suka kita, ya?”
Kirana terkejut. “Hah? Darimana kamu tahu?”
“Dia liat Mama terus. Pas Mama ketawa, dia senyum-senyum sendiri. Kayak di film-film!”
Kirana geleng-geleng kepala, tapi senyumnya nggak bisa disembunyikan. “Kamu ini kebanyakan nonton drama Korea, Nak.”
Tapi dalam hati, dia bertanya-tanya: ("Apa iya? Arka suka padanya dan juga Gio ?")
---
Sore harinya, saat Kirana sedang menyiapkan pesanan arisan ibu-ibu, ponselnya berdering. Pesan masuk dari nomor tak dikenal.
#Hai, mbak Kirana. Ini Arka. Tadi pagi lupa bilang—ayam kecapnya beneran enak. Bahkan lebih enak dari masakan nenekku. (Padahal nenekku juara RT se-Jember.) Jadi… terima kasih.
Kirana membaca pesan itu tiga kali. Lalu balas:
# Kalau begitu, besok aku kasih bonus sambal ekstra pedas. Biar kamu nangis beneran.
Dua detik kemudian, balasan datang:
# Deal. Asal Gio dampingin pas aku nangis. Biar nggak malu sendirian.
Kirana tertawa kecil, lalu menyimpan ponselnya. Di sampingnya, Gio sedang sibuk menggambar “menu hari ini” di kertas bekas—ayam kecap, telur, dan… Om Arka dengan tulisan “Asisten Baru”.
Malam itu, sebelum tidur, Kirana berbisik pada Gio, “Besok, kita coba bikin ayam bakar madu, ya?”
Gio mengangguk semangat. “Terus kasih ke Om Arka! Biar dia makin suka!”
Kirana hanya mengelus rambut anaknya, lalu berbisik pelan, “Mama juga… makin suka masak.”
Dan untuk pertama kalinya dalam enam bulan, mimpi Kirana bukan tentang tagihan atau beras habis—tapi tentang dapur yang lebih besar, dengan jendela lebar, tempat Gio bisa main sambil menonton Mama memasak… dan seseorang berdiri di ambang pintu, membawa roti bakar dan senyum yang membuat pagi terasa lebih hangat dari biasanya.