NovelToon NovelToon
HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:39
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.

Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.

Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CAHAYA YANG MERATA DAN MASA DEPAN YANG DIGARAP BERSAMA

Mentari pagi menyinari kampus Universitas Hadian yang kini telah beroperasi selama dua tahun. Qinara, yang sekarang berusia dua puluh tiga tahun, berdiri di depan gedung baru yang baru saja selesai dibangun—Gedung Hadian untuk Riset dan Inovasi Pendidikan. Gedung ini difungsikan untuk mengembangkan metode pendidikan baru dan menciptakan solusi untuk masalah pendidikan di seluruh dunia. Dia mengenakan baju batik yang dibuat Laras dengan motif jaring dan benang yang saling terhubung, melambangkan bagaimana pendidikan bisa menghubungkan orang di seluruh dunia. Di tangannya, dia memegang tongkat kayu Pak Santoso dan kotak pemberian ayahnya yang kini berisi penghargaan dari berbagai negara dan surat dari ribuan orang yang telah mendapatkan manfaat dari yayasan.

Pak Rio mendekatinya dengan laporan riset terbaru. "Qinara, tim riset kita telah mengembangkan metode pembelajaran yang sangat efektif untuk anak-anak dengan latar belakang sulit—baik karena kemiskinan, konflik, atau disabilitas. Metode ini telah diuji di 50 sekolah di berbagai negara dan menunjukkan peningkatan hasil belajar hingga 70%. PBB ingin mengadopsi metode ini sebagai standar pendidikan untuk negara berkembang."

Qinara mengangguk, melihat mahasiswa dan peneliti yang masuk ke gedung riset. Di antara mereka adalah tim yang sedang mengembangkan aplikasi pendidikan berbasis kecerdasan buatan untuk anak-anak di daerah terpencil yang tidak memiliki akses ke internet. "Ini luar biasa, Pak. Ayahmu selalu mengatakan bahwa pendidikan harus bisa dijangkau oleh semua orang, tanpa terkecuali. Metode yang kita kembangkan akan membuat impian itu semakin dekat terwujud."

Kabelo dari Afrika Selatan, yang kini telah menjadi direktur eksekutif Yayasan Hadian Global, membawa berita penting dari konferensi PBB di New York. "Kak Qinara, PBB telah menyetujui rencana kerja sama besar dengan kita. Mereka akan memberikan dana untuk membangun 200 sekolah baru di negara-negara yang paling membutuhkan—terutama di daerah yang terkena dampak perang dan bencana alam. Mereka juga ingin kamu menjadi anggota dewan penasihat pendidikan global PBB."

Qinara merasa terhormat. "Aku akan terima dengan senang hati. Kita harus memastikan bahwa setiap anak di dunia mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar, tidak peduli kondisi mereka."

Sore hari, mereka berjalan ke bagian belakang kampus di mana mahasiswa sedang mengadakan lokakarya dengan guru dari berbagai negara yang telah menyelesaikan program pelatihan. Guru-guru itu berasal dari Somalia, Kenya, India, dan Filipina—semua ingin berbagi pengalaman menerapkan model Sekolah Hadian di negaranya.

Fatuma dari Somalia, yang telah membangun tiga sekolah di daerahnya, mendekatinya dengan senyum lebar. "Kak Qinara, sekolah-sekolah yang kami bangun telah membantu lebih dari 1.000 anak. Meskipun kondisi di daerah kami masih sulit, anak-anak sekarang memiliki harapan. Mereka tahu bahwa mereka bisa merubah hidup mereka melalui pendidikan."

Qinara memeluk Fatuma dengan erat. "Kamu telah melakukan hal yang luar biasa, Fatuma. Kamu adalah bukti bahwa satu orang bisa membuat perbedaan besar. Kita akan terus mendukungmu dalam membangun lebih banyak sekolah."

Di saat itu, Aisha—yang sekarang berusia sebelas tahun dan telah menjadi ketua klub kreatif di Sekolah Hadian dekat kampus—datang bersama dengan sekelompok anak-anak dari berbagai negara. Mereka membawa buku cerita yang mereka tulis dan ilustrasikan sendiri—cerita tentang anak-anak dari berbagai negara yang berteman melalui pendidikan.

"Kak Qinara, ini buku yang kami buat bersama. Kami ingin menerbitkannya dan memberikan kepada anak-anak di seluruh dunia, agar mereka tahu bahwa kita semua sama dan bisa menjadi teman," kata Aisha dengan antusias.

Qinara membuka buku dan melihat ilustrasi yang indah—anak-anak dengan warna kulit berbeda, mengenakan pakaian tradisional masing-masing negara, sedang belajar bersama di bawah pohon besar. "Ini sangat indah, Aisha. Kita akan menerbitkan buku ini dan mendistribusikannya ke semua Sekolah Hadian di dunia."

Keesokan harinya, Qinara terbang ke Filipina untuk memantau pembangunan sekolah baru di daerah yang terkena dampak bencana alam. Di sana, dia bertemu dengan warga lokal yang telah kehilangan rumah dan sekolah akibat badai. Meskipun kondisi sulit, mereka bekerja bersama-sama untuk membangun sekolah baru dengan bantuan sukarelawan dari Universitas Hadian.

Seorang anak laki-laki bernama Miguel yang berusia sepuluh tahun mendekatinya. "Kak Qinara, aku sangat senang sekolah akan segera dibuka. Aku ingin menjadi insinyur nanti agar bisa membangun rumah yang kuat untuk keluarga kami, agar tidak mudah rusak ketika ada badai."

Qinara memeluk Miguel. "Kamu pasti bisa, Miguel. Pendidikan akan memberimu kekuatan untuk merubah nasibmu dan komunitasmu. Ingatlah kata ayahku—tetap kuat dan jangan pernah menyerah pada impianmu."

Malam itu, Qinara berdiri di tepi laut yang telah pulih setelah bencana, memandang langit malam yang penuh bintang. Dia memegang kotak pemberian ayahnya dan buku cerita yang dibuat Aisha. Dia membaca surat ayahnya sekali lagi:

"Tetap kuat, tetap cerdas, dan jangan pernah menyerah. Semua hartaku adalah milikmu, tapi warisan terbesar yang kurasa adalah keberanian untuk mencari kebenaran dan kasih sayang untuk membantu orang lain."

Dia menyenyum, menyadari bahwa warisan ayahnya telah menyebar ke setiap sudut dunia. Jaringan Sekolah Hadian sekarang telah mencapai 550 sekolah di 50 negara, membantu lebih dari 150.000 anak. Universitas Hadian telah menghasilkan lebih dari 1.200 lulusan yang bekerja di berbagai bidang, dan program riset pendidikan yang mereka kembangkan telah membantu ribuan anak di seluruh dunia.

Beberapa minggu kemudian, Qinara kembali ke Indonesia untuk menghadiri acara peringatan tahun ke-15 Yayasan Hadian. Lebih dari 50.000 orang hadir di acara itu—alumni dari seluruh dunia, guru, sukarelawan, delegasi PBB, dan tokoh masyarakat. Lapangan utama kampus Universitas Hadian dipenuhi dengan tenda-tenda yang menunjukkan prestasi yayasan dari berbagai negara.

Pak Santoso, yang sekarang sudah berusia 94 tahun dan masih penuh semangat, diantar ke panggung oleh Siti dan Rudi. Siti kini telah menjadi direktur akademik Universitas Hadian, sedangkan Rudi telah menjadi kepala rumah sakit kampus. Pak Santoso mengambil mikrofon dengan tangan yang stabil dan berkata:

"Lima belas tahun yang lalu, kita hanya memiliki satu impian dan sedikit uang. Sekarang, kita memiliki jaringan sekolah yang menyebar ke seluruh dunia, sebuah universitas yang menghasilkan pemimpin masa depan, dan program riset yang mengubah cara dunia melihat pendidikan. Semua ini karena Qinara—anak kecil yang tidak pernah menyerah pada impian ayahnya. Ayahmu pasti sangat bangga padamu, Nak. Kamu telah membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik."

Setelah pidato, Sekretaris Jenderal PBB yang hadir memberikan penghargaan tertinggi PBB—"Medali Kehormatan untuk Kemanusiaan"—kepada Qinara. "Qinara, kamu telah menunjukkan bahwa pendidikan adalah kunci untuk mengatasi masalah terbesar dunia—kemiskinan, konflik, dan ketidaksetaraan. Kamu telah mengubah hidup ribuan orang dan menginspirasi jutaan orang lain untuk melakukan hal yang sama. Dunia berterima kasih padamu."

Suara tepuk tangan yang meledak berdiri di seluruh tempat, dengan banyak orang berdiri dan memberikan standing ovation yang berlangsung selama lebih dari lima puluh menit. Anak-anak dari berbagai negara menyanyikan lagu bersama—lagu yang dibuat oleh Aisha dan teman-temannya dengan judul "Cahaya untuk Semua".

Malam itu, Qinara pergi ke makam ayahnya bersama keluarga, teman-temannya, dan perwakilan dari berbagai negara yang telah bekerja sama dengan yayasan. Dia membawa penghargaan PBB dan buku cerita yang dibuat Aisha. Dia duduk di dekat makam, membicarakan semua yang telah terjadi.

"Ayah, kita telah merayakan tahun ke-15 Yayasan Hadian. Kita telah membantu lebih dari 150.000 anak di seluruh dunia, membangun universitas yang menghasilkan pemimpin dunia, dan mengembangkan metode pendidikan yang mengubah hidup banyak orang. Sudah dua puluh tiga tahun sejak kamu pergi, tapi kamu selalu ada di sini—dalam setiap anak yang belajar, setiap guru yang mengajar, setiap generasi yang tumbuh dengan harapan."

Dia melihat ke arah langit malam yang penuh bintang, menemukan bintang terang yang selalu dia anggap sebagai ayahnya. "Aku mencintaimu selamanya, ayah. Terima kasih telah memberiku kehidupan yang penuh makna dan warisan yang akan hidup selamanya. Cahayamu akan terus merata ke setiap sudut dunia, menerangi jalanan masa depan bagi semua orang yang membutuhkan."

Laras memeluknya dengan erat, mata penuh air mata kebahagiaan. "Qinara, kamu adalah anugerah bagi dunia. Ayahmu pasti sangat bangga padamu, dan aku juga bangga menjadi ibumu. Kamu telah membangun sesuatu yang tidak akan pernah padam."

Qinara membalik memeluk Laras, merasa penuh rasa syukur yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. "Terima kasih, Ibu. Tanpa kamu dan semua orang—Pak Rio, Pak Santoso, Pak Slamet, Siti, Kabelo, Fatuma, dan semua yang telah mempercayai impian kita—aku tidak bisa melakukan ini. Kita adalah keluarga yang merata di seluruh dunia, dibangun dari hati dan kasih sayang yang abadi."

Mentari esok akan muncul, dan dengan itu, lebih banyak impian untuk dicapai dan lebih banyak cahaya untuk diberikan. Qinara tahu bahwa perjalanan hidupnya masih panjang—ada rencana untuk membangun lebih banyak sekolah, mengembangkan metode pendidikan yang lebih baik, dan menginspirasi lebih banyak orang untuk bergabung dalam perjuangan ini. Tapi dia juga tahu bahwa dia tidak sendirian—generasi baru telah muncul, siap untuk meneruskan warisan ayahnya dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Dia berdiri tegak, memegang kotak pemberian ayahnya dan tongkat kayu Pak Santoso, melihat ke arah masa depan yang terang dan penuh harapan—cahaya ayahnya selalu akan menerangkannya dan semua orang yang mengikuti jejaknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!