Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24 - Dimsum Favorit Mila
Sinar matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah gorden ruangan VVIP nomor 901. Mila mengerjapkan matanya perlahan, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya ruangan yang sudah jauh lebih terang dari semalam. Aroma lavender yang menenangkan masih tercium samar, namun rasa pening di kepalanya sudah jauh berkurang.
Mila menoleh ke samping dan melihat Robi masih tertidur pulas di sofa dengan posisi mulut sedikit terbuka. Ia tersenyum tipis melihat kakaknya itu, lalu pandangannya beralih pada benda yang sejak semalam menjadi beban pikirannya: laptopnya.
Dengan tangan yang masih terpasang infus, Mila mencoba meraih laptop itu. Ia ingin memastikan draf Bab 5 yang semalam membuatnya nyaris gila. Namun, matanya tertuju pada selembar sticky notes kuning yang menempel di pojok keyboard.
"Fokus pada kesehatanmu dulu. Bab 5 sudah jauh lebih rapi, kamu hanya perlu membaca catatan kecil di margin kanan. Semangat, Sarjana."
Tanpa nama. Tanpa inisial.
Mila segera membuka laptopnya. Jantungnya berdegup kencang saat melihat draf skripsinya. Format margin yang tadinya berantakan kini lurus sempurna. Referensi jurnal yang semalam ia cari sampai menangis, kini sudah tersusun rapi di daftar pustaka. Bahkan, ada beberapa komentar di samping paragraf yang menjelaskan teori akuntansi yang rumit menjadi bahasa yang sangat mudah ia mengerti.
"Gaya bahasa ini..." Mila bergumam lirih. Ia sangat mengenal cara penjelasan ini. Sangat logis, dingin, tapi sangat membantu. "Ini kan gaya Kak Valen?"
Tepat saat itu, Robi terbangun karena mendengar suara laptop terbuka. "Loh, Mil? Udah bangun? Jangan buka laptop dulu, nanti pingsan lagi gue yang digantung Oma!"
"Bang," Mila menatap kakaknya dengan serius. "Tadi malam ada siapa ke sini? Siapa yang pegang laptop aku?"
Robi yang baru saja membaca pesan WhatsApp dari Valen, langsung teringat pesan sahabatnya untuk tutup mulut. "Ya nggak ada siapa-siapa. Gue di sini semaleman. Mungkin lo ngerjainnya pas lagi ngigo kali?"
"Bang Robi jangan bohong!" desak Mila. "Ini rapi banget. Abang nggak mungkin bisa ngerapiin draf akuntansi kayak gini."
"Yah, lo ngeremehin gue," sahut Robi sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Mungkin Naldy? Dia kan dokter pinter, siapa tahu dia gabut pas keliling tadi malem terus bantuin lo."
Mila terdiam. Ia tahu Robi berbohong, tapi ia tidak punya bukti. Namun, di dalam hatinya, ada rasa hangat yang mulai menjalar, mengikis sedikit demi sedikit rasa dingin yang semalam ia tunjukkan pada Valen.
"Ada apasih pagi-pagi ribut," gerutu Oma pada kedua cucunya itu. Oma tampak keluar bersama dengan April.
"Oma sama April mau pulang dulu mandi, paling jam 10 Oma kembali lagi," ucap Oma setelahnya dan berlalu pergi.
April menyalami Robi dan setelahnya mengikuti langkah Oma.
_______
Pukul 10.00 tepat, pintu kamar terbuka. Valen masuk dengan penampilan yang jauh lebih segar setelah mandi, mengenakan kemeja santai. Di tangannya, ia membawa sebuah bungkusan hangat yang aromanya sangat menggoda.
"Halo, selamat pagi," sapa Valen pelan. Ia melihat Mila sudah duduk bersandar di ranjang, sedang menatap layar laptop.
Mila menoleh. Tatapannya tidak sedingin semalam, namun masih ada jarak di sana. "Pagi, Kak."
Valen meletakkan bungkusan itu di meja makan. "Aku beliin dimsum favorit kamu di kedai langganan kita. Makan dulu, mumpung masih hangat."
Mila memperhatikan Valen yang sibuk menata dimsum itu ke piring. "Kak Valen yang ngerapiin skripsi aku semalam?" tanya Mila langsung, telak.
Gerakan tangan Valen terhenti sejenak, namun ia segera bersikap tenang. "Skripsi? Aku baru sampai sini, Mil. Mungkin itu keajaiban rumah sakit Naldy."
"Jangan bohong, Kak. Aku kenal catatan ini. Ini cara Kakak ngejelasin variabel audit yang waktu itu aku nggak paham" Mila menunjukkan layar laptopnya.
Valen menghela napas, ia berjalan mendekati ranjang Mila. Kali ini ia tidak menjauh. "Kalau iya aku yang ngerjain, emangnya kenapa? Apa itu bakal bikin kamu makin benci sama aku karena ngerasa aku lagi 'ngetugas' dari Papa?"
Mila terdiam, ia menunduk melihat jemarinya. "Aku nggak benci... aku cuma nggak mau Kakak ngelakuin semua ini karena rasa bersalah atau karena perintah Om Fildan."
Valen meraih tangan Mila yang bebas dari infus, menggenggamnya dengan lembut namun erat. "Dengerin aku, Milana Stefani Hardianto. Papa nggak pernah nyuruh aku ngerapihin Bab 5 kamu jam dua pagi di saat aku sendiri lagi capek. Aku ngelakuin itu karena aku nggak mau liat kamu pingsan lagi cuma gara-gara angka-angka itu. Aku di sini karena pilihanku sendiri. Paham?"
Mila mendongak, menatap mata Valen yang tampak tulus. Belum sempat ia menjawab, pintu kamar terbuka lebar. Oma Soimah masuk dengan wibawa penuh, diikuti oleh Bunda Selfi dan juga April.
"Wah, sudah ada aroma dimsum dan aroma pembicaraan serius di sini," ucap Oma sambil melirik tangan Valen yang masih menggenggam tangan Mila.
_______
Ditunggu part selanjutnya ya Guys
Love you All ❤️