NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Raisa terdiam sejenak, menatap Fatih dengan kening berkerut. Meski ia menghargai niat baik pria itu, ada bagian dari dirinya yang merasa terusik. Sebagai wanita yang terbiasa mandiri dan baru saja berjuang sendirian melawan intimidasi di ruang guru, kehadiran Fatih yang seolah menjadi penjaga membuatnya merasa kecil.

"Dokter Fatih," panggil Raisa dengan nada yang lebih serius. "Terima kasih sudah datang dan memastikan saya baik-baik saja. Tapi, jujur saja, saya merasa ini sedikit... berlebihan."

Fatih tidak menyela, ia memberikan ruang bagi Raisa untuk bicara.

"Saya seorang guru. Saya terbiasa menghadapi konflik, baik dengan wali murid maupun rekan sejawat. Masalah dengan Pak Baskoro memang berat, tapi saya bisa menanganinya sendiri. Saya tidak ingin rekan-rekan saya di dalam makin salah paham dan menganggap saya lemah karena harus dikawal seperti ini," lanjut Raisa, suaranya sedikit bergetar karena emosi yang tertahan.

Fatih memperbaiki posisi berdirinya. Ia tidak terlihat tersinggung, justru sorot matanya yang tajam itu tampak mempelajari kegelisahan di wajah Raisa.

"Anda merasa saya meremehkan kemampuan Anda?" tanya Fatih langsung pada intinya.

Raisa menghela napas. "Bukan meremehkan. Hanya saja, saya tidak biasa diperlakukan seperti ini. Saya bukan pasien Anda yang harus dipantau setiap saat."

Fatih terdiam beberapa detik, lalu ia melangkah selangkah lebih dekat, cukup untuk membuat Raisa berhenti menghindari tatapannya.

"Raisa, ada perbedaan besar antara mampu dan harus," ucap Fatih dengan suara rendah yang menenangkan. "Saya tahu Anda mampu. Saya melihat bagaimana Anda berdiri paling depan untuk Vina kemarin. Itu luar biasa. Tapi, mampu melakukan sesuatu bukan berarti Anda harus melakukannya seorang diri."

Raisa terpaku. Kalimat itu menghantam pertahanannya.

"Dunia tidak akan runtuh jika Anda membagi beban itu dengan orang lain," lanjut Fatih. "Pak Baskoro bukan lawan yang bermain bersih. Menghadapi orang seperti dia dengan tangan kosong hanya akan membuat Anda kelelahan sebelum perang dimulai. Saya di sini bukan karena saya pikir Anda lemah, tapi karena saya tahu beban yang Anda panggul terlalu berat untuk satu pundak."

"Jika orang-orang itu muncul lagi atau jika tekanan di dalam sekolah mulai tidak masuk akal, hubungi say." ujar Fatih. "Jangan menganggap ini sebagai pengawalan. Anggap ini sebagai bentuk dukungan antar rekan yang peduli pada kasus yang sama." lanjutnya.

"Kenapa Anda melakukan sejauh ini, Dokter?" tanya raisa dengan perasaan yang bertambah bingung karena perlakuan fatih.

Fatih menatap pintu gerbang sekolah, tempat Gavin dan teman-temannya tadi menghilang. "Karena terkadang, orang yang paling keras berjuang untuk orang lain adalah orang yang paling lupa bahwa mereka juga butuh perlindungan."

......................

Setelah mobil sedan hitam Fatih perlahan menjauh dari gerbang, Raisa masih terdiri mematung. Namun, ketenangannya terusik saat sebuah langkah kaki mendekat dengan irama yang dibuat-buat santai.

"Luar biasa ya, Bu Raisa. Pagi-pagi sudah ada tontonan drama romantis di depan sekolah," suara itu datang dari Pak Fajar

"Bukan drama, Pak. Hanya ada urusan penting terkait Vina."

Pak Fajar melangkah lebih dekat, hingga memasuki ruang personal Raisa. Ia tersenyum kecil, jenis senyum yang menurutnya menawan namun bagi Raisa justru terasa mengintimidasi.

"Jangan terlalu kaku begitu, Raisa. Saya lihat kamu belakangan ini sangat tegang. Masalah Pak Baskoro itu berat, kamu tidak perlu mencari perlindungan ke orang luar yang... ya kita tidak tahu apa motifnya. Dokter itu terlihat terlalu sombong untuk orang seperti kita," ucap Pak Fajar sambil mencoba menyentuh lengan Raisa secara sekilas.

Raisa refleks mundur selangkah, sorot matanya menajam. "Saya rasa Dokter Fatih hanya berniat membantu secara profesional, Pak Fajar."

"Oh, tentu. Tapi kamu tahu kan, di sekolah ini, hanya saya yang benar-benar mengerti posisi kamu. Guru-guru lain mungkin menyindirmu, tapi saya?" Pak Fajar merendahkan suaranya, mencoba terdengar manis namun justru terdengar licin. "Saya selalu ada di pihakmu. Kalau kamu butuh tempat bersandar atau sekadar makan malam untuk melepas stres, saya siap kapan saja. Jangan biarkan wajah cantikmu ini layu karena memikirkan masalah hukum yang bukan porsimu."

Raisa merasa bulu kuduknya meremang. Kata-kata manis Pak Fajar tidak memberikan ketenangan, melainkan rasa risih yang mendalam. Kalimat itu terasa merendahkan kemampuannya sebagai pendidik.

"Terima kasih atas tawarannya, Pak Fajar. Tapi saya masih punya banyak pekerjaan," jawab Raisa singkat dan dingin. Ia melirik jam tangannya dengan sengaja. "Bel masuk sudah bunyi lima menit yang lalu. Saya tidak ingin murid-murid menunggu."

"Raisa, tunggu dulu, saya belum selesai bicara—"

"Maaf, Pak. Tugas saya adalah mengajar, bukan mengobrol di gerbang," potong Raisa tegas.

Tanpa menunggu balasan lagi, Raisa bergegas membalikkan badan dan berjalan cepat menuju gedung sekolah. Langkah kakinya yang tegas berbunyi nyaring di koridor, seolah sedang membuang sisa-sisa ketidaknyamanan dari percakapan tadi. Ia lebih memilih menghadapi sindiran tajam Bu Ratna di ruang guru atau bahkan ancaman Pak Baskoro, daripada harus terjebak dalam rayuan kosong Pak Fajar yang membuatnya merasa seperti objek yang lemah.

......................

Suasana di beranda belakang kediaman Ar-Rais sore itu terasa lebih hidup. Rima, yang memiliki pembawaan yang jauh lebih dewasa namun tetap ceria, duduk dengan anggun di hadapan kedua orang tua fatih bu indah dan pak usman. Sebagai keponakan yang sudah dianggap seperti anak sendiri, Rima memiliki keberanian lebih untuk masuk ke wilayah pribadi Fatih.

"Assalamualaikum, Tante, Om " sapa Rima sambil meletakkan bingkisan buah di meja.

"Waalaikumsalam, Rima. Tumben mampir, baru pulang dari butik?" tanya bu indah menyambut hangat.

"Iya, Tante. Sekalian tadi mampir ke rumah sakit menjenguk Tasya," Rima memulai percakapan dengan nada yang sengaja diatur agar terdengar menarik. Ia melirik Fatih yang duduk tak jauh dari mereka, sedang fokus dengan jurnal medisnya.

"Tante tahu, kan, Tasya? Pasien Mas Fatih yang tempo hari Rima ceritakan. Duh, Tante... setiap kali Rima ke sana, Rima selalu kagum. Di usianya yang masih sangat muda, cara dia bicara dan keteguhannya menghadapi sakit itu luar biasa sekali. Sopan sekali anak itu, Tante."

Bu indah tersenyum ketertarikan. "Iya, Fatih sempat cerita sedikit. Katanya memang perkembangannya bagus."

"Bukan cuma bagus secara medis, Tante. Secara kepribadian, dia itu tipe perempuan yang langka. Lembut, pengertian, dan sepertinya punya rasa hormat yang besar sama Mas Fatih. Rima sampai berpikir, kalau Mas Fatih punya pendamping yang menyejukkan seperti Tasya, rumah ini pasti bakal terasa jauh lebih hangat," puji Rima sambil memberikan senyum penuh arti pada tantenya.

Pak Usman mengangguk-angguk setuju. "Seorang dokter memang butuh pendamping yang bisa memberikan ketenangan di rumah, apalagi Fatih ini kerjanya sangat high-pressure."

Rima semakin bersemangat melihat lampu hijau dari Om dan Tantenya. Ia menoleh ke arah sepupunya yang kaku itu. "Gimana menurut Mas? Tasya itu cantik, lho. Dari keluarga baik-baik pula. Kurang apa lagi coba?"

Fatih akhirnya menutup jurnalnya perlahan. Ia melepas kacamata bacanya, memperlihatkan sorot mata yang tetap sedingin es meski sedang dipuji-puji.

"Tasya adalah pasien yang sangat kooperatif, Rima. Saya menghargai semangatnya untuk sembuh," jawab Fatih dengan nada datar tanpa intonasi emosional sedikit pun.

"Ih, Mas Fatih! Masa cuma dibilang kooperatif? Dingin banget sih hatinya," gerutu Rima sambil geleng-geleng kepala. "Sebagai perempuan seumuran Mas, Rima kasih tahu ya, perempuan selembut Tasya itu kalau sudah jatuh hati bisa memberikan segalanya. Mas nggak kasihan apa lihat dia setiap hari nungguin jadwal kontrol Mas?"

Fatih berdiri dari kursinya, merapikan letak kemejanya yang tak berkerut. "Tugas saya adalah menyembuhkan fisiknya, bukan mengurusi perasaannya. Tante, Om, saya ke ruang kerja dulu. Masih ada diagnosa yang harus saya tinjau."

Begitu Fatih menghilang di balik pintu kayu besar, Rima mendesah frustrasi. "Tante lihat, kan? Mas Fatih itu seperti dinding beton. Padahal Tasya itu sempurna sekali kalau jadi bagian dari keluarga Ar-Rais."

Bu indah tertawa kecil sambil mengelus tangan Rima. "Sabar, Rima. Fatih memang butuh waktu. Tapi Tante jadi penasaran, apakah memang Tasya yang bisa mencairkan es di hati Fatih, atau ada orang lain yang belum kita tahu?"

1
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!