NovelToon NovelToon
Kenapa Harus Aku

Kenapa Harus Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / Wanita Karir / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Selingkuh / Romansa / Konflik etika
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vanillastrawberry

Meski tidak di awali dengan baik, bahkan sangat jauh dari pernikahan impian nya. sejak kalimat akad di lantunkan, saat itu ia bersumpah untuk mencintai suami nya, bahkan dalam keadaan terburuk sekalipun.
Tanpa Arina tau kalau detik itu juga ia dengan sadar membakar hidup nya, dunia nya bahkan cinta nya dengan perihnya api neraka pernikahan .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanillastrawberry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tania merajuk

Benar saja begitu mereka pulang, kedatangan nya di sambut dengan tatapan penuh peringatan yang dilayangkan Alvian padanya.

Dan seperti biasa, akting nya untuk terlihat biasa saja sangat terlihat natural tanpa celah.

" ada kak Al, kak aku dan kak Arina habis___" gadis itu terlalu antusias hingga ia tidak melihat kepala kakak nya sudah mengeluarkan tanduk jin ifrit. Sedang hidung dan telinga nya mengeluarkan asap goib yang mematikan.

" Tania! Masuk lalu istirahat!" Tak hanya Tania, dirinya pun terjingkat mendengar suara Alvian yang menggelegar.

Anak itu tampak kecewa, tapi sepertinya ia tak berniat membantah ucapan kakaknya. Dengan mata berkaca-kaca anak itu membawa kursi rodanya menuju kamarnya.

Arina tersenyum mengejek sengaja menyulut kemarahan Alvian yang sudah siap meledak saat itu juga.

" kamu kakak yang buruk, yang di butuhkan Tania sekarang adalah dukungan dan hiburan. Har___"

" tau apa kamu Arina! Kamu sengaja menantang ku dengan membawa Tania keluar? Kamu mau mencelakakan Tania? "

" husss kamu apaan sih Al, masa pikirannya jelek banget sama istri sendiri?" beruntung lah Lidya datang sehingga ia tidak harus menguras tenaganya untuk berdebat dengan Alvian yang seperti sudah kehilangan akal sehatnya

Lidya memang membawa mobil sendiri, dia juga sempat bilang kalau dia akan mampir ke mini market sebentar, karena itu Arina dan Tania sampai lebih dulu.

Alvian bergeming, tapi raut wajah nya masih sangat tidak bersahabat, pria itu membawa langkah nya melewati Arina menuju kamar Tania.

Arina menoleh pada Lidya begitu merasakan pundaknya di tepuk pelan" sudah jangan dipikirin, nanti aku akan bicara pada nya." ia mengangguk seraya tersenyum tipis, sejujurnya Arina sudah tidak peduli dengan semua sikap Alvian padanya, tapi sekarang ia mengkhawatirkan perasaan Tania, ia khawatir tania kembali kalut dan berpikir kalau kebahagiaan nya sudah tidak penting lagi untuk Alvian, hal terburuk nya anak itu akan berpikir berlebihan dan membuat semangat nya down kembali.

" Tan!" Tania menoleh sekilas ke arah datangnya suara, lalu kembali fokus ke depan seraya meremat jarinya. Alvian mendekati Tania lalu merendahkan tubuhnya dengan bertumpu pada kedua lututnya.

" maafkan kakak tadi ya, kakak tidak bermaksud membentak kamu"

Tania membuang mukanya ke sembarang arah asal tidak beradu tatap dengan kakaknya, karena itu salah satu kelemahan nya ketika merajuk, dia juga enggan menyahut karena yakin tangisnya akan pecah begitu suaranya keluar.

" Tan, kakak seperti ini karena kakak mengkhawatirkan kamu. kamu satu-satu nya keluarga yang kakak punya, kakak tidak mau kehilangan mu, maaf karena kakak sudah membentak kamu"

Hati Tania memang selembut kapas, sama seperti mommy nya, dia juga sangat penurut, cukup sekali berbicara dengan nya maka dia akan mengerti, karena itu ia menyesalkan sikap nya tadi pada Tania. Sejak kecil gadis itu tidak pernah di bentak, mereka tumbuh di dalam keluarga cemara, soft spoken dan bertata krama.

Entahlah, sejak ia menikahi Arina, sikap binatang nya muncul tanpa bisa di tahan olehnya, setiap melihat wanita itu, rasanya ia ingin sekali mematahkan kaki nya juga, tapi, jauh di dalam lubuk hatinya ia juga merasa kasihan pada Arina, tidak mungkin juga ia melakukan hal sejahat itu pada Arina, ia juga menyadari kalau semua ini bukan salah Arina, salahnya hanya karena dia menjadi anak dari seseorang yang sudah merenggut masa depan adik nya.

Alvian menghela napas, mencoba tersenyum tipis walau Tania masih enggan menoleh padanya." sekarang kamu mandi ya, setelah itu makan kue, kakak sudah membelikan kue brownies di toko kue langganan kita, suster wulan !"

" aku mau di bantu kak Arina aja!" Tania mengusap air mata yang masih mengendap di sudut matanya, sehingga pandangan nya yang sempat mengabur kembali jernih, perasaannya sedikit lebih baik setelah mendengarkan apa yang Alvian katakan dari tadi. Tapi ia masih malas menatap ke arah kakak nya.

" baik! kakak akan panggilkan kak Arina untuk mu"

Tidak perlu mencari Arina kemanapun karena begitu ia berbalik, ia menemukan wanita itu di ambang pintu, menyilang kedua tangannya di atas perut dengan sisi kanan tubuhnya yang bersandar pada kusen pintu.

" Tania mau kakak bantu. " Arina melewati Alvian begitu saja ketika laki-laki itu membuka mulut untuk berbicara dengannya, membuat wajah pria itu mengeras karena merasa di abaikan.

Sementara Tania begitu excited dan langsung sumringah mengusung suara langkah kaki Arina yang semakin mendekat ke arah nya.

" aku mau kak " jawaban serta raut wajah Tania yang tampak antusias tak luput dari perhatian Alvian, perasaan hangat menelusup ke dada laki-laki itu, bagaimana telaten nya Arina ketika mengurus Tania yang lumayan cerewet. Ia mencoba menelusuri keterpaksaan dalam setiap tindakan Arina dan,ia rasa ia tidak menemukan apa yang di cari nya. Ia sama sekali tidak menemukan itu.

Sebelumnya ia sempat berpikir untuk menjadikan wanita itu pembantu pribadi Tania dari pada memperkerjakan seorang suster, tapi hati kecilnya ragu, ia takut Arina akan melampiaskan kekesalannya pada Tania ketika ia membuat wanita itu kesal.

Alvian menghela napas nya pelan, kemudian menegakkan tubuh nya, ia tidak boleh gegabah, bagaimana bisa ia menilai seseorang dengan hanya sekali lihat, karena ini menyangkut keselamatan tania, maka ia tidak akan ragu untuk memperhatikan wanita itu kedepannya.

Sebuah dering ponsel menginterupsi kegiatan Arina dan juga Tania, wanita itu menoleh ke Alvian sebentar, pandangan mereka sempat bertemu, namun Arina lebih tertarik pada pesan yang masuk ke dalam ponsel nya.

Ia menepuk kening setelah melihat nama si pengirim dan membaca sepenggal isi pesannya yang terlihat, memancing reaksi keheranan dari Tania dan juga Alvian yang masih memperhatikan mereka tak jauh dari pintu.

" kenapa kak?"

" kakak lupa ada janji dengan seseorang"

" janji dengan siapa! " Padahal Tania sudah membuka mulut siap melontarkan pertanyaan yang sama, tapi Alvian sudah mendahului nya. raut nya tampak tidak senang ketika pikirannya sibuk menerka dengan siapa Arina akan bertemu di penghujung hari seperti ini.

" bos ku!" Arina memang tidak berbohong, Fabio adalah bos nya.

" di jam pulang kerja seperti ini? "

" iya tadi kan aku hanya kerja setengah hari. Masih ada proyek yang harus aku bahas dengan bos ku."

Harusnya ia bertemu dengan Fabio di jam istirahat, tapi karena mbak Sarah memberitahu kalau Ayah nya sedang drop, mau tidak mau ia pulang lebih dulu. Bahkan ketika jam istirahat kurang dua jam lagi.

Setelah ayah nya di nyatakan baik-baik saja, baru ia menyempatkan diri untuk mengunjungi Tania lagi, kali ini ia tidak masak, selain karena perasaannya masih kalut melihat kondisi ayah nya, ia juga sayang kalau masakan nya harus berakhir di lantai atau di tong sampah lagi seperti sebelum-sebelumnya.

" aku antar!" Arina mengernyit, belum genap satu jam yang lalu Alvian masih bersikap seperti seorang musuh bebuyutan kepadanya, dan tiba-tiba sekarang ia menawarkan diri untuk mengantar Arina.

Arina merasakan bulu kuduk nya berdiri, ia menduga kalau Alvian sedang merencanakan sesuatu untuk melenyapkan nya karena merasa dirinya sudah membuat Tania terancam.

" nggak usah, kamu temenin Tania aja."

" Tania nggak mau! " reflek anak itu membuat hati Alvian nyeri, tadi itu kali pertama nya ia membentak Tania setelah sekian lama, ia rasa ia harus meluruskan semuanya dengan Tania, meski ia kesal Arina menolak nya, tapi saat ini Tania adalah prioritas nya.

Alvian mengangkat pundak nya acuh. " ya udah, aku sih cuma menawarkan bantuan pada mu." setelah itu Alvian berjalan melewatinya mendekati Tania, membuat Arina menghela napas lega, sebelum pria itu berubah pikiran, Arina bergegas keluar dari kamar itu.

Ngeri juga ketika ia membayangkan Alvian akan menghabisi nya, manusia memang tidak boleh takut mati, tapi untuk mati sekarang ia rasa ia belum siap.

1
Tulisan_nic
hmmmm sakit hati banget sih🥹
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
kan baru dibilangin
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
awas loh.. nanti ada yang mikir aneh²🙏🤭
j_ryuka
bagus
Mentariz
Good girl! Kusuka gayamu 😄
Mentariz
Idih sok beralasan luuu kelaut aja lu sono
Panda%Sya🐼
Habislah kalau di suruh nikah😆
Panda%Sya🐼
Lumrah manusia ini. Setiap kali ada hal darurat, pasti ponselnya lowbet atau gak ada jaringan
Blueberry Solenne
Bener, semua harus ke handle, dan harus mengutamakan pekerjaan utama, semangat ya Arina!
Blueberry Solenne
Ya ampun gemesnya yang lagi kasmaran, cuit cuit... 😁
HOPEN
😢😢
Kim Umai
wajar sih gak mau ketemu
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
paling benci sama cowok selingkuh
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
bukan kesalahan kamu Arina jangan merasa bersalah
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
waalaikumsalam
j_ryuka
kamu gak salah, tapi waktu yang membuatnya ini harus terjadi
Tulisan_nic
Aduh, tapi ya gimana ya. Sebagai posisi korban aku rasa juga wajar kalau begitu
Tulisan_nic
banyak juga kornanya
Tulisan_nic: korban🥲
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Yang sabar Rin/Sob/
Panda%Sya🐼
Hmm selingkuh lagi ini/Sob/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!