Dunia Kultivasi adalah dunia yang kejam bagi yang lemah dan indah bagi yang kuat
Karena itu Li Yuan seorang yatim piatu ingin merubah itu semua. bersama kawannya yaitu seekor monyet spiritual, Li Yuan akan menjelajahi dunia dan menjadi pendekar terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Tamu Tak Diundang dari Langit Hitam
Reputasi "Master Agung" dari Sekte Awan Tenang menyebar seperti api di musim kering. Kabar tentang seorang pemuda yang mampu memberikan pencerahan massal hanya dengan bicara soal "roti dan sampah" mencapai telinga-telinga yang salah. Di sebuah markas gelap yang jauh dari gunung, seorang pria dengan jubah bersulam elang emas menatap sebuah gulungan laporan.
"Manifestasi Roh di sekte kelas teri? Dan dia membawa pedang hitam yang bisa menyerap nyawa?" Jenderal Feng Gao menyeringai dingin. "Cari dia. Bawa kepalanya, atau bawa pedangnya padaku."
Kembali di Sekte Awan Tenang, Li Yuan sedang menikmati teh di puncak gunung bersama Dong Dong. Namun, suasana damai itu hancur saat suhu udara tiba-tiba turun drastis. Awan hitam pekat menutupi matahari, dan tekanan yang sangat berat menghimpit seluruh area sekte.
"Li Yuan... bau ini," Dong Dong berdiri, tongkat emasnya otomatis muncul di tangannya. "Bau burung bangkai."
BOOM!
Tiga sosok bayangan melesat jatuh dari langit, menghantam lapangan utama sekte dengan kekuatan yang membuat tanah retak. Mereka adalah Trio Pembantai Elang, pembunuh bayaran tingkat tinggi yang masing-masing berada di ranah Manifestasi Roh Tingkat 3.
"Di mana bocah pencuri pedang itu?!" teriak salah satu dari mereka, seorang pria kurus dengan rantai berduri yang mengeluarkan aura beracun.
Murid-murid sekte ketakutan, namun Ketua Sekte Qing Feng maju dengan gemetar. "Siapa kalian yang berani mengganggu ketenangan Master kami?!"
"Master? Maksudmu bocah gembel ini?" Seorang pembunuh wanita dengan belati ganda tertawa sinis saat melihat Li Yuan turun dari puncaknya, diikuti oleh Dong Dong.
Li Yuan menatap ketiga orang itu. Matanya yang kini jernih kembali menajam. Ia bisa merasakan aura yang sama dengan mereka yang membantai Desa Qingyun. Kebencian yang terkubur di lubuk hatinya mulai bergejolak, namun kali ini ia mengendalikannya dengan kekuatan Manifestasi Roh-nya.
"Kalian datang dari Feng Gao?" tanya Li Yuan dingin.
"Kau tidak perlu tahu siapa yang mengirim kami, Bocah. Kau hanya perlu tahu bahwa hari ini Sekte Awan Tenang akan menjadi makammu!" teriak pemimpin pembunuh yang membawa kapak raksasa.
Ketiga pembunuh itu melesat serentak. Pria berantai menyerang dari kiri, si wanita belati dari kanan, dan si kapak raksasa menghantam dari depan.
Li Yuan menarik napas dalam. "Dong Dong, urus yang kurus itu."
"Dengan senang hati!" Dong Dong melesat seperti kilat merah, tongkatnya memanjang dan menghantam rantai berduri itu hingga percikan api memenuhi udara.
Li Yuan sendiri tidak mencabut pedangnya. Ia hanya berdiri diam saat kapak raksasa itu hampir membelah kepalanya.
Manifestasi Roh: Bayangan Dewa Pedang!
Tiba-tiba, sebuah siluet transparan raksasa setinggi lima meter muncul di belakang Li Yuan. Siluet itu menyerupai sosok Li Yuan namun dengan zirah perang kuno. Tangan raksasa dari manifestasi itu menangkap kapak musuh hanya dengan dua jari.
KRAK!
Kapak baja tingkat tinggi itu hancur berkeping-keping di tangan roh Li Yuan.
"A-apa?! Manifestasi Roh yang begitu padat?!" pembunuh wanita itu terkejut dan mencoba menusuk punggung Li Yuan.
Namun, Li Yuan hanya menggerakkan jarinya sedikit ke samping. Bayangan roh di belakangnya ikut bergerak, menebaskan pedang imajiner yang terbuat dari energi spiritual murni.
SRAAAK!
Gelombang energi ungu menghantam wanita itu hingga ia terpental melewati tiga bukit sebelum akhirnya meledak di udara.
"Kalian datang membawa kematian," Li Yuan melangkah maju, auranya kini menekan kedua pembunuh yang tersisa hingga mereka berlutut dan memuntahkan darah. "Maka kematianlah yang akan kalian dapatkan."
Para murid Sekte Awan Tenang bersorak gembira. Mereka melihat "Master" mereka bertarung seperti dewa perang. Namun, di tengah kemenangan itu, Li Yuan merasakan sesuatu yang aneh. Pedang hitam di pinggangnya mulai berdenyut kencang, seolah-olah mengenali salah satu senjata musuh yang hancur.
"Li Yuan, awas!" teriak Dong Dong.
Dari puing-puing kapak yang hancur, muncul sebuah simbol kecil berwarna merah darah yang terbang dan menempel di dahi Li Yuan.
"Itu adalah Tanda Pelacak Elang!" teriak pembunuh pria yang tersisa sambil tertawa gila meski sekarat. "Sekarang, ke mana pun kau pergi, seluruh tentara Jenderal Feng Gao akan bisa menemukanmu! Kau ditandai untuk mati!"
Li Yuan menyentuh dahinya, merasakan sensasi panas yang membakar. Ia memandang ke arah langit, ke arah Kota Utama di mana Feng Gao berada.
"Bagus," ucap Li Yuan dengan senyum yang membuat para pembunuh itu merinding. "Aku memang tidak ingin bersembunyi lagi. Beritahu tuanmu, aku akan datang untuk menagih hutang nyawa Desa Qingyun."
Dengan satu lambaian tangan, bayangan roh Li Yuan menghancurkan sisa-sisa pembunuh itu menjadi abu.