Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Penggoda
Waktu makan siang pun tiba. Billy, yang sejak tadi tampak antusias, menghampiri pemandu wisata mereka.
“Di sini ada rekomendasi tempat makan terbaik?” tanyanya penasaran.
Pemandu wisata itu tersenyum ramah, lalu mulai menjelaskan dengan nada penuh kebanggaan. Ia menyebutkan beberapa destinasi kuliner paling hits di Maladewa. Mulai dari restoran tepi pantai dengan hamparan pasir putih, kafe terapung yang menyajikan hidangan laut segar, hingga restoran fine dining di atas dermaga kayu.
Namun satu tempat langsung mencuri perhatian semua orang.
“Yang paling ikonik adalah restoran bawah laut,” jelasnya. “Dindingnya terbuat dari kaca tebal. Saat makan, Anda bisa melihat ikan-ikan tropis dan terumbu karang berenang bebas di sekeliling.”
Billy spontan bersiul pelan. Matanya berbinar, seolah sudah membayangkan sensasi makan siang ditemani pemandangan laut biru dari balik kaca.
“Kalau begitu,” ujarnya penuh semangat, “rasanya sayang kalau dilewatkan.”
Yang lain saling pandang, antara takjub dan tak sabar. Makan siang kali ini jelas bukan sekadar soal makanan melainkan pengalaman yang tak akan terlupakan.
Dave hanya menggeleng pelan saat melihat belanjaan yang memenuhi hampir seluruh kabin mobil. Kebiasaan Angel memang tak pernah berubah sejak dulu. Wanita itu selalu menikmati berbelanja tanpa mengenal batas, seolah jumlah tak pernah menjadi masalah.
Setelah semua paper bag milik Angel berhasil ditata, keempatnya pun diantar menuju tujuan berikutnya. Mobil melaju membelah jalanan, diiringi pemandangan sekitar yang memanjakan mata.
Di tengah perjalanan, Angel membuka salah satu paper bag yang ia tenteng. Ia mengeluarkan sebuah tas cantik dengan detail khas hasil karya tangan pengrajin lokal di negara ini. Angel tersenyum puas, lalu memamerkannya pada yang lain.
“Wah, keren sekali, Kak,” puji Elia tulus, matanya berbinar kagum. Angel terkekeh pelan, jelas menikmati perhatian itu, sementara Dave hanya bisa menghela napas kecil antara pasrah dan sudah sangat hafal dengan kebiasaan Angel.
Mobil berhenti tepat di lobi restoran yang sebelumnya disebutkan oleh pemandu wisata. Pria itu segera turun, lalu membukakan pintu untuk para penumpang dengan sigap.
Begitu melangkah masuk, keempatnya langsung disambut oleh pelayan dengan senyum ramah. Interior restoran tampak elegan dengan nuansa laut yang kental. Billy maju selangkah dan menjelaskan maksud kedatangan mereka.
“Kami ingin menikmati makan siang dengan pemandangan bawah laut,” ucapnya sopan.
Pelayan itu mengangguk penuh pengertian, lalu mempersilakan mereka menunggu sejenak.
“Oh, bukankah tempat ini tidak jauh dari penginapan kita?” celetuk Angel sambil menoleh ke sekeliling.
“Ya, benar,” jawab Billy. “Aku sengaja memilih restoran yang lokasinya dekat. Jadi kita tidak terlalu lelah saat perjalanan pulang.”
Semua mengangguk setuju. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Billy. Setelah seharian berjalan-jalan dan berbelanja, rasa lelah pasti tak terhindarkan. Memilih tempat yang dekat terasa sebagai keputusan paling bijak dan tentu saja, tetap istimewa.
Pelayan tadi kembali dan mempersilahkan Billy serta lainnya untuk masuk. Mereka dibawa sebuah ruangan dengan menuruni anak tangga. Sesampainya disana, keempat mulut mereka dibuat menganga dengan pemandangan bawah laut yang menakjubkan.
Wanita itu juga merekomendasikan tempat duduk yang cocok dan pas untuk keempatnya. Keempatnya mengangguk setuju kemudian mendaratkan tubuhnya di kursi yang telah di sediakan.
Buku menu telah tersedia di meja, mereka memesan masing-masing makanan yang paling banyak di pesan disini. Selesai memesan, pelayan tersebut berlalu untuk membuatkan pesanan mereka.
“Wah, ini sungguh luar biasa!” seru Elia dengan mata berbinar. Ia begitu terpukau oleh keindahan semesta bawah laut yang terasa tak ada tandingannya. Tanpa menunggu lama, ia mengeluarkan ponselnya dan mulai mengabadikan momen bahagia itu.
“Elia, untung saja kau mengingatkan. Aku hampir lupa,” ucap Angel sambil terkekeh. Ia pun segera mengeluarkan ponselnya dan ikut merekam pemandangan indah di sekeliling mereka.
Dave, yang jarang sekali merekam aktivitas apalagi momen bersama keluarga tampak ikut terpengaruh. Setelah ragu sesaat, ia akhirnya mengeluarkan ponselnya dan mengarahkan kamera ke hamparan laut biru di balik dinding kaca.
“Dave!” seru Elia tiba-tiba, mengarahkan kameranya ke wajah pria itu sambil melambaikan tangan.
“Elia,” balas Dave singkat, sedikit canggung namun tersenyum tipis.
Keduanya saling merekam dengan sudut pengambilan gambar yang berlawanan. Tak mau kalah, Angel dan Billy pun melakukan hal yang sama. Dalam sekejap, keempatnya saling merekam satu sama lain, tertawa kecil dan menikmati kebersamaan seolah tak ingin satu pun momen berharga itu terlewatkan.
Yang ditunggu-tunggu sejak tadi akhirnya datang juga. Keempatnya tampak tak sabar saat pelayan mendorong kereta makan ke arah meja mereka.
“Wah, baunya enak sekali,” ucap Elia sambil mengendus udara, matanya berbinar penuh antusias.
Pelayan itu kemudian menata hidangan satu per satu dengan rapi di atas meja. Setelah memastikan semuanya lengkap, ia pun berlalu pergi, meninggalkan mereka bersama sajian yang menggugah selera.
“Ini punyaku,” ujar Dave sambil mengambil piring berisi nasi briyani dengan paha ayam berukuran besar yang tampak begitu menggoda.
Sementara itu, Elia memilih Garudhiya yaitu sup ikan tuna bening yang gurih, disajikan bersama nasi, jeruk nipis, dan cabai sebagai pelengkap.
Billy sendiri memesan beberapa menu yang bisa dinikmati bersama, seperti lobster dan aneka hidangan laut lainnya yang tersaji di tengah meja.
Keempatnya pun menikmati makan siang itu dengan khidmat. Rasa dan bumbu rempah yang khas membuat mereka larut dalam setiap suapan, seakan tak ingin momen sederhana namun istimewa itu cepat berlalu.
"Astaga, aku hampir saja lupa mengatakan ini,” ujar Elia sambil menepuk keningnya pelan. Ia lalu tersenyum tulus. “Selamat untuk Kak Angel dan Kak Billy atas hari anniversary pernikahannya.”
“Terima kasih, Elia,” jawab Angel lembut, disusul anggukan dan senyum Billy di sampingnya.
“Doa yang terbaik untuk kalian,” timpal Dave singkat namun tulus.
“Terima kasih,” ucap Angel sambil tersenyum hangat.
“Apa harapan Kak Angel di hari pernikahan kali ini?” tanya Elia penuh rasa ingin tahu.
Angel terdiam sejenak. Senyumnya memudar perlahan. “Aku ingin segera diberi momongan,” ucapnya lirih, raut wajahnya tak mampu menyembunyikan kesedihan.
“Aku yakin sepulang dari liburan ini, Kak Angel akan mendapatkan kabar baik,” kata Elia penuh keyakinan.
“Hei, kau ini bukan peramal. Bagaimana kau bisa tahu?” sela Dave sambil terus menggerogoti paha ayam dengan kedua tangannya.
Elia menurunkan sendok dan garpunya. “Ibuku pernah berkata, ucapan itu adalah doa. Jadi kalau kita ingin hal-hal baik datang, kita harus mulai dengan mengucapkan yang baik-baik.”
“Aku rasa itu juga tergantung bagaimana caranya berusaha,” ujar Dave spontan.
Ucapan itu membuat Angel menghentikan makannya. “Eh, maksudku bukan begitu,” Dave langsung mengangkat wajah. “Kalau hanya berdoa tanpa usaha, ya sama saja sia-sia, kan?”
Elia tersenyum kecil, berusaha menenangkan suasana.“Menurutku, Kak Angel hanya perlu terus mengucapkan hal-hal baik setiap hari. Harapan yang selama ini Kak Angel tunggu.”
“Memangnya itu akan berhasil?” suara Angel terdengar pelan. “Aku sudah mencoba banyak program kehamilan, bahkan bayi tabung. Tapi semuanya nihil.”
Elia bangkit dari duduknya. Ia melangkah mendekat dan memeluk Angel dari belakang dengan lembut.
“Nanti setelah sampai penginapan, aku akan memberimu mantra yang dulu sering diucapkan ibuku saat putus asa,” bisiknya. “Mau?”
Angel mengangguk cepat, matanya sedikit berkaca-kaca namun penuh harap. “Tentu saja.”
Seusai menikmati hidangan di restoran hotel dengan pemandangan bawah laut, kini waktunya kembali ke penginapan untuk beristirahat. Kedua pasangan itu pun masuk ke kamar mereka masing-masing.
Begitu tiba di kamar, Dave langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, masih mengenakan pakaian yang sama setelah makan. Pemandangan itu kontan mengundang omelan dari Elia.
“Kau ini, tidak baik langsung berbaring setelah makan. Minimal tunggu dua sampai tiga jam. Apalagi kau punya riwayat maag,” katanya sambil melipat kedua tangan di depan dada. “Ayo, bangun.”
“Aku ngantuk, Elia,” sahut Dave malas. “Mungkin efek kenyang… dan kurang tidur"
Elia seolah tak peduli dengan alasannya. Dengan wajah serius, ia memberanikan diri menarik kedua lengan Dave agar bangun dari posisi tidurnya. Namun tarikan itu justru membuat Dave tersentak.
Keseimbangannya goyah dan Elia malah terjatuh tepat ke dalam pelukannya. Dave terdiam sesaat, begitu pula Elia, keduanya terjebak dalam jarak yang terlalu dekat untuk diabaikan. Udara di antara mereka mendadak terasa berbeda..
Jantung Elia berdegup kencang, ia merasakan dibawah nya berkedut meski sedang datang bulan. Ya, Elia tak memungkiri ia menginginkan sentuhan dari suaminya. Namun, itu hanya angan-angan yang Elia sendiri tidak ingin terlalu berharap.
Begitupun dengan Dave, ia merasakan jantung nya berdegup kencang. Apalagi kedua benda padat Elia yang berukuran cukup besar menempel pada dada bidang nya.
Dave berdeham, Elia segera tersadar dan berdiri. Ia segera keluar dari area kamar dan duduk di luar sambil menikmati permainan pantai pada sore hari. Saat beranjak bangun ia tak sengaja menyentuh bagian milik Dave yang telah mengeras.
Elia,” panggil Angel yang baru saja keluar dari kamar untuk menikmati pemandangan pantai di sore hari. Ia langsung menyadari perubahan raut wajah Elia.
“Kau kenapa? Kelihatan agak pucat,” tanyanya sambil duduk di sebelah Elia.
“Aku tidak apa-apa, Kak,” jawab Elia cepat. Namun sorot matanya tak mampu sepenuhnya menyembunyikan kegelisahan.
Angel melirik ke arah kamar Elia dan Dave, lalu kembali menatap Elia. “Kalian tidak sedang bertengkar, kan?” tanyanya hati-hati.
Elia segera menggeleng. “Tidak, Kak. Kami baik-baik saja.”
Angel mengedikkan bahu kecil. “Kalau begitu…” Ia tersenyum tipis, lalu menaik-turunkan alisnya penuh arti. “Beritahu aku mantra yang kau maksud tadi.”
Elia tersadar. Ia sempat menjanjikan itu pada Angel.
“Sebentar, aku ambil pulpen dan kertas dulu,” ujarnya sambil berdiri. Ia masuk ke kamar dan mengeluarkan alat tulis yang memang selalu ia simpan di dalam tasnya.
Namun, pandangannya tak menemukan Dave di atas tempat tidur. Saat melangkah lebih jauh, ia mendengar suara air mengalir dari arah bilik mandi tanda bahwa Dave sedang berada di dalam sana.
"Sial! Kenapa aku seperti bernafsu padanya" ucapnya sambil berusaha menidurkan miliknya yang sudah mengeras dengan air hangat. Ia membasuh wajahnya dengan lembut. Entah kenapa perasaan dan reaksi itu begitu cepat. Apakah perasaan itu sudah mulai tumbuh di hati nya?
Elia kembali menemui Angel dengan membawa selembar kertas dan sebuah bolpoin. Ia duduk di samping Angel, lalu mulai menuliskan mantra yang dulu pernah diajarkan ibunya. Dengan penuh ketelitian, Elia menorehkan kata demi kata, seolah setiap huruf menyimpan harapan.
Beberapa saat kemudian, ia mengangkat wajahnya.
“Selesai. Ini, Kak,” ucapnya sambil menyerahkan kertas itu.
Angel menerima kertas tersebut, lalu membacanya perlahan. Keningnya sedikit mengerut. “Kau yakin ini bisa membantuku mendapatkan momongan?” tanyanya ragu.
Elia tersenyum kecil dan mengangguk mantap.
“Tentu. Dan kunci utamanya adalah yakin,” ucapnya lembut, berusaha menanamkan keyakinan di hati Angel.
Angel kembali menatap tulisan itu, kali ini lebih lama, seakan membiarkan harapan perlahan tumbuh di dadanya.
Langit semakin gelap, keempatnya kini tengah berada di pinggir pantai tengah memasak daging panggang serta jagung. Di temani beberapa botol wine import sebagai pelengkap.
Elia dengan telaten melumuri potongan daging dengan bumbu yang telah disediakan oleh pihak restoran. Setiap gerakannya penuh perhatian, menikmati proses yang sebenarnya sederhana namun terasa istimewa. Kegiatan seperti ini memang mengharuskan Billy merogoh kocek cukup dalam-dalam, tetapi selama bisa membahagiakan orang tersayang, semua itu terasa sepadan.
Semua persiapan ini sudah Billy rencanakan sejak jauh-jauh hari. Ia tahu betul istrinya sangat menyukai olahan daging. Dan akan terasa jauh lebih spesial jika menikmatinya di tempat seindah ini. Sebuah momen yang tak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga akan tersimpan sebagai kenangan manis di kemudian hari.
“Untukmu,” ujar Elia sambil menyodorkan piring berisi potongan daging ke arah Dave.
Dave terdiam sejenak sebelum menerimanya. “Terima kasih,” ucapnya singkat, namun nada suaranya terdengar tulus.
Angel menikmati daging itu dengan penuh penghayatan. Ia bahkan memejamkan mata sesaat saat mengunyahnya.
“Wah, ini enak sekali. Lembut, dan bumbunya meresap,” pujinya tanpa ragu.
Seperti sudah menjadi kebiasaan setiap kali ada momen menyenangkan, kedua wanita itu tak lupa mengabadikannya lewat kamera ponsel. Tawa kecil pun terdengar saat mereka mulai berpose.
Tak lama kemudian, keempatnya berkumpul dan berswafoto bersama, masing-masing mengangkat piring berisi daging. Sebuah potret sederhana yang merekam kebahagiaan, kebersamaan, dan kenangan manis yang kelak akan selalu mereka ingat.
“Oh iya, aku dengar di kapal pesiar ada sebuah bar. Bagaimana kalau kita ke sana?” ajak Billy.
Angel mengangguk antusias. “Boleh. Sudah la
ma aku tidak merasakan hiburan malam,” ucapnya spontan yang langsung dibalas sentilan pelan di kening oleh Billy.
“Pastinya ditemani olehmu, Sayang,” tambah Angel cepat sambil tersenyum manja.
“Kau mau ikut?” tanya Elia pada Dave.
“Boleh,” jawab Dave tanpa ragu, bahkan terdengar bersemangat. Ia melirik Elia lalu merangkul pundak wanita itu. “Tentunya bersamamu juga.”
Dari kejauhan, lampu-lampu berkelap-kelip sudah terlihat, berpadu dengan irama musik yang dimainkan seorang disk jockey. Suasananya terasa hidup dan menggoda. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan setelah menikmati daging panggang, keempatnya pun melangkah menuju tempat tersebut.
Di bar kapal pesiar itu, mereka memutuskan memesan minuman ringan saja. Bir untuk sebagian, karena sebelumnya mereka sudah menikmati wine. Mencampur minuman rasanya bukan pilihan bijak.
Elia melirik ke sekeliling. Tempat seperti ini sebenarnya membuatnya sedikit kurang nyaman, meski ia tidak datang sendirian. Namun setelah mendapatkan tempat duduk yang cukup tenang, ia mulai bisa menikmati suasana malam yang indah dari atas kapal.
Seorang pelayan datang menghampiri dan menyerahkan buku menu kepada mereka. Karena perut masih terasa kenyang setelah menyantap daging, mereka sepakat hanya memesan bir, jus jeruk, serta sepiring kacang kulit sebagai teman berbincang. Malam pun berlanjut, diiringi musik, cahaya, dan kebersamaan yang hangat.
“Kau kenapa?” tanya Dave saat melihat Elia tampak gelisah, pinggulnya bergerak tak nyaman di atas kursi.
“Astaga… sepertinya sudah penuh,” gumam Elia pelan. Ia baru teringat belum sempat mengganti pembalutnya sejak sore tadi setelah mandi. Wajahnya sedikit berubah panik.
“Sepertinya aku harus kembali ke kamar sebentar,” ujarnya tergesa sambil bersiap bangkit.
Saat hendak melangkah, Dave menahan tangannya.
“Mau ku temani?”
Elia menggeleng cepat. “Tidak perlu. Ini cuma sebentar, lagi pula jaraknya tidak jauh. Kau tunggu di sini saja,” jelasnya.
Dave mengangguk, lalu memperhatikan Elia yang turun dari kapal dengan langkah cepat, seolah berpacu dengan rasa tidak nyamannya sendiri.
Ditinggal sendirian, Dave mengalihkan pandangan ke sekeliling. Namun bukannya terhibur, ia justru merasa muak melihat dua orang di depannya sibuk berfoto dengan pose mesra, bahkan sampai menempelkan bibir satu sama lain, tanpa peduli pada sekitar.
Tak ingin menjadi obat nyamuk, Dave izin sebentar lalu pergi ke bar. Pandangannya tertuju pada seorang barista yang tengah beratraksi. Botol-botol berputar di udara, sesekali disusul semburan api yang membuat penonton bersorak.
Saat Dave masih menikmati pertunjukan itu, Billy muncul dari belakang dan menyerahkan sebotol bir. Dave menerimanya, lalu mencari kursi tinggi tak jauh dari bar.
“Whoaaa!” sorakan penonton menggema ketika botol terakhir mendarat sempurna di tangan sang barista. Tepuk tangan dan saweran pun mengalir.
“Hai.” Seorang wanita berpakaian minim menghampiri Dave. Pria itu menoleh sekilas, mengangguk sopan, lalu kembali memandang ke arah bar.
“Mau kutemani?” tanyanya dalam bahasa Inggris. Senyumnya percaya diri, tatapannya terang-terangan.
“Tidak, terima kasih,” jawab Dave singkat, nadanya datar.
Saat pandangan Dave teralihkan, gerakan tangan wanita itu dengan cepat mencemplungkan sesuatu ke dalam minuman Dave. "Tidak lama lagi, kau akan merasakan efeknya. Dan kau tidak akan bisa mengabaikan ku pria tampan" gumam nya dalam hati dengan senyum penuh arti.
Kedua sudut bibirnya melukis senyum saat Dave kembali meneguk bir tersebut hingga habis. Dan tak lama kemudian ia merasakan suhu tubuhnya mendadak panas. Ditambah keinginan kuat untuk melakukan 'sesuatu'.
"Kena kau" gumam wanita di samping. Ia semakin mendekatkan posisi duduknya sehingga kedua benda kenyal nya yang berukuran besar menyentuh siku Dave.
"Sial! Ada apa dengan diriku, kenapa rasanya aku sangat bergairah sekali". umpat nya dalam hati.
Elia kembali setelah mengganti pembalut. Tubuhnya terasa lebih lega sekarang. Namun saat kembali ke kursi mereka semula, dadanya mendadak mengencang, Dave tidak ada di sana.
“Kak, di mana Dave?” tanyanya agak keras, berusaha melawan suara musik dan hembusan angin yang saling beradu.
Billy menunjuk ke arah bar. “Di sana.”
Tanpa menunggu lagi, Elia segera menyusul. Begitu matanya menangkap pemandangan di depan bar, kedua matanya membulat. Tangannya mengepal kuat saat melihat Dave sedang digoda oleh seorang wanita dengan jarak yang terlalu dekat.
“Hei, lepaskan!” teriak Elia.
Wanita itu sama sekali tak menggubris. Ia justru mendorong Elia hingga terjatuh terduduk. Amarah Elia pun meledak. Ia bangkit dan membalas dengan mendorong wanita itu hingga terjungkal.
“Dasar wanita jalang! Dia itu suamiku!” teriak Elia geram.
Wanita itu berusaha bangkit dan hendak menyerang balik, namun seorang petugas keamanan segera sigap mencegahnya. Tak lama kemudian, petugas lain ikut membantu.
“Maaf atas ketidaksopanan wanita ini, Nyonya,” ucap salah satu petugas sebelum menyeret wanita tersebut keluar dari kapal.
Wanita itu meronta dan berteriak minta dilepaskan, tetapi dua pria berbadan besar itu tak memberinya kesempatan sedikit pun. Elia masih berdiri dengan napas memburu, matanya tajam menatap ke arah mereka pergi.
“Dasar wanita sinting. Kalau mau menggoda laki-laki, lihat-lihat dulu,” omelnya dengan suara bergetar menahan emosi.
"Elia" ucap Dave kemudian melangkah lebih dekat ke arah nya hingga tak ada jarak sedikit pun. Tanpa basa basi Dave segera mencium bibir Elia, membuat wanita itu bukan hanya kaget tapi juga lemas.
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
semoga berbeda ini cerita