NovelToon NovelToon
PENGGANTI 100 HARI

PENGGANTI 100 HARI

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Pengantin Pengganti / Obsesi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Kalista putri

Amara yang tidak percaya pernikahan lagi, kini tiba-tiba ada seorang yang menawarkan pernikahan sebagai pengganti 100 hari tanpa iya duga ternyata dia adalah pria yang pernah menolong nya pria yang selalu dia anggap lemah dan bodoh.

Dalam pernikahan itu kedua nya saling membantu dalam karir dan kekeluargaan walaupun di penuhi dengan saling mengejek dan perdebatan, hingga tepat di hari ke 100, Amara yang di jebak oleh musuhnya meminum obat terlarang dan membuat mereka melakukan hubungan suami istri yang tidak ada dalam pikiran nya, rasa cinta yang baru mulai di sadari justru malah berakhir dengan rasa kecewa karena adiknya sadar dari koma nya.

konflik semakin banyak rahasia masa lalu mulai terungkap saat mantan suaminya mengejarnya, di tambah masalah tentang identitas Amara yang menjadi ancaman bagi nya, siapa kah sebenarnya Amara dan Rahasia Apa yang di sembunyikan mantan suaminya?

Apakah Amara akan memilih kembali dengan sang mantan atau justru malah memilih suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Kalista putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ego Tapi Sayang

Hari Berikutnya

Amara kini sudah kembali menjadi dokter anak, wanita itu kini berada di ruang UGD, sudah ada beberapa pasien yang iya tangani, semua nya berjalan sesuai rencana nya, walaupun dia cuma kuliah selama lima bulan sebagai dokter anak, Dia untungnya bisa menyesuaikan diri dan menangani pasien dengan baik.

Saat selesai memeriksa pasien, tiba-tiba seorang wanita masuk tergopoh-gopoh dan meletakkan anak kecil di brangkar.

"Tolongin Dok, Dia sepertinya alergi," ucap wanita itu sambil terisak ketakutan.

Amara langsung berjalan mendekat, Dia terkejut melihat Bundanya yang membawa anak kecil itu, begitu pula dengan Dinda yang kaget saat melihat Putrinya yang menjadi dokter.

"Amara, tolongin Dia yah, usahakan Dia selamat," wanita itu memegang tangan Amara dengan penuh harap.

"Oke, Anda bisa keluar dulu, biar nanti Saya periksa," jawab Amara dengan datar, menyuruh Dinda keluar, membuat wanita itu keluar dengan terpaksa walaupun sebenarnya banyak yang ingin di bicarakan.

Amara mencoba untuk konsentrasi lalu segera memeriksa denyut nadi, Namun, saat terjadi reaksi anafilaksis, maka penanganan yang harus segera diberikan adalah suntikan.

"Cepat siapkan suntikan epinefrin (adrenalin)." ucap Amara pada suster yang menemani nya.

Lalu wanita itu segera menyuntik nya, setelah nya langsung memasang selang oksigen karena gadis kecil itu kehabisan oksigen.

Amara menghela nafas panjang, dia merasa sangat begitu lega, setelah kondisi anaknya sudah stabil dan sesak nafas nya kemudian sudah perlahan membaik.

Dia memutuskan untuk keluar dari ruangan UGD untuk memberitahu keluarga gadis itu, untuk rawat inap.

"Tante gimana sih? Anak Ku sampai Makan coklat yang ada kacang almond nya, Tante kan tahu Dia Alergi." saat Amara keluar Dia melihat Dinda sedang di marahi.

"Coklat nya ada di meja, Tante juga gak tahu, kenapa Dia makan, tadi Tante cuma tinggal ambil minum," jelas Dinda panjang lebar, sambil tertunduk merasa bersalah.

"Tante kok bisa teledor gitu, harusnya Tante jangan tinggalin Safira sendiri dong," wanita itu terus menyalahkan Dinda.

"Maaf, Tante salah, Tante juga tidak menduga nya," Dinda hanya tertunduk merasa bersalah.

"Kalo anak ku kenapa-kenapa, nanti Tante Aku tuntut," wanita itu mengancam sambil menunjuk-nunjuk Dinda, padahal semua nya bukan kesalahan Dinda sepenuhnya.

Amara yang melihat itu menjadi geram sendiri, itu yang Dia tidak suka dari Bunda nya terlalu lemah dan bisa nya hanya menangis, Amara benci itu, karena bagi Amara menunjukkan kelemahan pada orang justru malah membuat orang semena-mena.

"Anda tidak berkaca sebagai orang Tua, terlalu menyalahkan orang lain, apa itu adil?" ucap Amara sambil berjalan mendekat ke arah kedua nya.

"Apa maksud dokter?" wanita itu melirik Amara dengan dingin.

"Pertama Dia bukan baby sister yang wajib menjaga anak Anda? Kedua Anda yang ceroboh, sudah tahu anak Anda alergi kacang almond, tapi dengan sengaja menaruh coklat itu di meja, lalu menyalahkan orang lain, kalo mau menuntut juga harus pikir pake otak," ucap Amara panjang lebar dengan penuh penekanan.

"Dokter tahu apa? Jangan membela dia yah, Dia memang salah," wanita itu malah nyolot tidak terima.

"Dasar tidak tahu diri, tidak tahu terima kasih, Saya tidak terima yah, kalo ada orang yang salah tapi malah memutar balikkan fakta," geram Amara dengan tersulit emosi.

"Memang apa yang bisa dokter lakukan? Baru jadi dokter aja belagu," wanita itu semakin nyolot tidak sadar diri.

"Kalo begitu, Saya bisa saja mengusir anak Anda dari rumah sakit ini," jawab Amara dengan dingin, sorot mata nya penuh ancaman.

"Punya hak apa memang nya?" wanita itu menatap Amara dengan merendahkan.

"Aku direktur utama rumah sakit ini, Dia istri pemilik rumah sakit ini," ucap Amara sambil menunjuk ke arah Dinda.

"Ah masa? Jangan ngimpi di siang bolong yah?" wanita itu malah terkekeh merasa ucapan Amara hanyalah bualan semata.

"Semua lihat wanita ini baik-baik, Dia sudah membuat kegaduhan di rumah sakit ini, dan ingin menuntut Nyonya Dinda, apa kalian akan diam saja," Amara berucap dengan tegas penuh peringatan, membuat para dokter langsung berdatangan.

"Sudah jangan di perpanjang, Bunda tidak papa," ucap Dinda berusaha untuk melerai, namun Amara tidak memperdulikan itu semua.

"Apa yang terjadi eh?" para dokter yang tidak tahu kronologi nya bertanya pada rekan nya.

Rekanya pun menceritakan sambil berbisik-bisik, karena orang-orang tahu kalo Dinda adalah istri dari pemilik rumah sakit.

"Benar-benar gak tahu diri, udah di bantuin jaga anak nya malah menyalahkan, harusnya ngaca dong, situ sudah jadi ibu yang baik belum, Nyonya Dinda kan masih baik mau bantuin jaga, padahal bukan siapa-siapa malah gak tau diri, anaknya juga sudah baik-baik saja," orang-orang malah mengeroyok wanita itu, membuat wanita itu tertunduk malu hendak masuk ke dalam ruangan UGD, namun Amara mencegah nya.

"Tunggu,"

"Apa lagi? Gak cukup puas, bikin Aku di serang banyak dokter?" tanya wanita itu tidak sedikitpun merasa bersalah.

"Minta maaf, pada Nyonya Dinda dulu, kalo tidak, jangan harap seluruh rumah sakit mau menolong anak Anda," ucap Amara dengan penuh peringatan, membuat wanita itu merasa kesal.

"Maaf Tante tidak seharusnya, Aku begitu," ucap wanita itu pada Dinda, membuat Dinda hanya mengangguk saja.

"Bagaimana dengan keadaan anak ku?" tanya wanita itu setelah merasa lebih baik, dia menatap Amara dengan penuh harap.

"Anak Anda sudah mendapatkan pertolongan pertama, untuk penanganan lebih lanjut akan di pindahkan ke ruang rawat, untuk data nya langsung urus ke administrasi untuk mendapatkan ruangan perawatan," jelas Amara berusaha untuk terlihat profesional, kini rasa marahnya sudah reda karena setidaknya wanita itu mau minta maaf.

"Baik terimakasih," wanita itu langsung melakukan apa yang Amara perintahkan.

"Gak nyangka yah? Dokter Amira yang biasanya lembut kalo marah ngeri juga," bisik dokter lain nya yang memperhatikan sosok Amara dengan terkejut.

"Namanya juga anak, kalo Ibunya di gituin pasti, gak terima lah," balas rekan nya membuat Amara menoleh ke arah bisik-bisik itu.

"Di larang gosip di rumah sakit, bubar semua nya," titah Amara dengan dingin, membuat semua nya menjadi ketakutan.

Semua dokter akhirnya bubar satu persatu, membuat tempat itu kembali tentram.

Kini setelah pasien itu sudah di pindahkan, Dinda sudah masuk ke ruangan Amara, Dia duduk di samping Amara yang sedang duduk menunggu pasien datang, sambil sesekali mengerjakan pekerjaan kantor nya.

"Terimakasih sudah membela Bunda, Bunda tahu kamu masih peduli sama Bunda," ucap Dinda sambil tersenyum sumringah.

"Cuma gak suka orang di tindas aja, itu cuma membantu sesama," jawab Amara dengan dingin.

"Jangan jagain anak orang lagi, kalo gak mau di salahkan, kayak gak punya pekerjaan aja," lanjut nya sambil masih fokus pada laptop nya.

"Bunda cuma kesepian aja, Amira masih koma, jagain restoran juga banyak karyawan jadi Bunda merasa gak berguna, kadang-kadang suka tiba-tiba kasihan, lihat orang repot kerja bawa anak," jelas Dinda panjang lebar, walaupun tahu putri nya pasti tidak peduli.

"Menolong juga harus lihat orang, kalo yang di tolong gak tahu diri untuk apa? Malah nyusahin diri sendiri," Jawab Amara panjang lebar, suara nya terlihat tenang.

"Apa kamu peduli sama Bunda?" tanya Dinda sambil berkaca-kaca.

"Heh jangan nangis di depan Saya, Saya tidak suka orang menangis, lebih baik pulang saja sana," ketus Amara sambil memberikan tisu kepada Dinda, membuat wanita itu menerima nya.

"Satu hal lagi, jangan kirimin makanan ke rumah lagi, Itu gak guna bangeet tahu," lanjut nya membuat Dinda langsung berdiri.

"Apa masakan Bunda tidak enak? Atau kurang kamu suka?" tanya wanita itu dengan beruntun.

"Intinya tidak usah, karena di rumah Glen sudah punya koki profesional," Jawab Amara dengan dingin.

"Sebaiknya Nyonya Dinda balik sana, Saya banyak kerjaan, nanti pasien Saya tidak nyaman," lanjut nya dengan dingin, membuat Dinda merasa sedih tapi Dia tidak ingin menunjukkan nya.

"Tante Amira," tiba-tiba terdengar suara Adara yang tampak terlihat bersemangat, gadis kecil itu masuk ke dalam dengan masih memakai seragam sekolah nya.

"Adara, ngapain ke sini?" tanya Amara menatap gadis kecil itu dengan terkejut, bahkan nada bicaranya terdengar lembut, membuat Dinda terhenyuh karena putrinya bisa berubah sikap nya.

"Ini untuk Tante, hadiah hari ibu, dan ini coklat ulang tahun ku, kemarin Aku ulang tahun, cuma Tante Amira gak kerja jadi tidak kebagian kueh nya," ucap gadis kecil itu memberikan sebuah kotak coklat dan satu buket bunga.

"Kenapa kasih ke Tante?" Amara berjongkok menatap Adara dengan heran.

"Karena sejak kecil Aku gak punya ibu, beberapa hari ini Aku nyaman sama Tante, jadi gak papa kan untuk Tante," jelas gadis kecil itu dengan penuh harap.

"Tante Amera?" Amara bertanya karena merasa heran.

"Cuma teman Ayah, gak lebih," jawab gadis kecil itu dengan jujur.

"Oke buket nya Tante terima, tapi coklat nya kasih ke Nenek itu aja yah, Dia suka coklat Almond, Tante alergi," bisik Amara sambil melirik ke arah Dinda yang tampak terlihat sedih.

"Nenek? Dia tidak terlihat seperti Nenek-nenek?" jawab Adara sambil menelisik Dinda dari atas sampai bawah.

"Kasih aja," Amara langsung duduk di bangku, Dia membiarkan Adara mendekat ke arah Dinda.

"Untuk Tante," Adara memberikan coklat itu, membuat Dinda melirik ke arah Amara namun wanita itu langsung menatap ke arah lain, saat matanya bertemu pandang dengan Dinda.

"Terima kasih," ucap Dinda sambil mengelus kepala gadis kecil itu.

"Tapi kenapa manggil nya Tante?" tanya Dinda merasa heran dengan panggilan itu.

"Karena Tante, masih kelihatan muda," jawab Adara sambil menoleh ke arah Dinda, Dia tersenyum tipis.

"Lah kok mirip Arnav waktu kecil," lanjut nya sambil menatap Adara dengan lekat.

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!