Firdha diusir dengan kejam oleh Ibu mertuanya 2 hari setelah dia melahirkan bayinya. Dirasa tidak berguna lagi, Firdha diperlakukan seperti sampah.
Di sisi lain, ada Arman yang pusing mencari Ibu Susu untuk bayinya, tak disangka takdir malah mempertemukannya dengan Firdha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Berubah 180°
"Ieeww ... Anda melihatnya juga, Bos?" Pras bergidik jijay saat melihat adegan dewasa yang terputar pada layar monitor.
Arman dibuat geleng-geleng kepala melihatnya. "Aku tidak habis pikir, bisa-bisanya laki-laki setampan dan semuda itu na*su sama nenek-nenek."
Pras terkekeh geli. "Semua demi uang, Bos. Dengan begitu, dia bisa hidup enak tanpa perlu capek-capek kerja."
"Laki-laki mau hidup enak tapi tidak mau capek kerja? Apa sebaiknya dipotong saja anunya?"
Pras kembali terkekeh. "Jangan, Bos. Itu aset berharga, tidak boleh dipotong," ucapnya, tanpa sadar memegangi punyanya sendiri. Seolah-olah miliknya yang akan dikurbankan.
"Sudah, berhenti tertawa, Pras. Firda dan Pak Seno sudah masuk. Ayo kita dengarkan pembicaraan mereka."
"Siap, Bos." Pras mengangkat tangan ke depan bibirnya, membuat gerakan menarik ritsleting, pertanda mulai detik itu dia akan tutup mulut dan tidak bersuara. Kedua pria itu lantas sama-sama menatap monitor dengan seksama, sambil memasang telinga tajam.
Di dalam ruang VIP restoran di atas sana, Risma tersenyum sumringah melihat kedatangan Firda. "Ya ampun, Firda ... menantu Mama. Akhirnya kamu muncul juga, Sayang." Dia segera bangkit dari duduknya, lalu berjalan menghampiri Firda dan Pak Seno yang sudah berdiri di dekat meja. Kedua tangannya terbuka ingin memeluk menantunya, tapi Firda langsung menghindar tanpa mengatakan sepatah kata pun, membuat senyuman palsu Risma lenyap seketika. Apalagi saat melihat ekspresi datar dan dingin yang ditunjukkan oleh Firda, seolah tidak sudi menatapnya.
"Nyonya Risma, singkat saja. Saya sudah membawa Firda ke hadapan Anda dengan selamat tanpa lecet sedikit pun, jadi sebelum saya menyerahkan Firda kepada Anda, saya ingin mendapatkan imbalan saya dulu, karena kalau tidak, saya akan membawanya kembali," kata Pak Seno. Nada bicaranya memang normal saja, tapi terdengar tegas dan to the point.
Risma memutar bola mata malas, mulutnya menggerutu setelah melihat penampilan Pak Seno yang teramat sederhana dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Dasar orang kismin. Kalau urusan uang saja, pasti maunya cepat-cepat," katanya dengan nada sarkas dan ekspresi sedikit jijay.
Risma menoleh menatap Eric yang masih setia duduk di tempat. "Ric, ambilkan cek itu."
"Siap, Tan." Eric bangkit menghampiri Risma usai mengambil selembar cek dari dalam tas branded milik kekasihnya, lalu menyerahkannya kepada Risma.
"Ini, ambil!" Risma melempar lembaran persegi panjang itu ke arah Pak Seno. Untungnya Pak Seno dengan sigap menangkapnya sebelum terjatuh ke lantai. "Sana pergi! Lama-lama aku muak melihat wajahmu di sini."
Pak Seno tersenyum senang. Tidak masalah dia menulikan telinganya sebentar demi uang 1 miliar. Buru-buru cek itu dia masukkan ke dalam saku depan kemeja kotak-kotak yang dia kenakan. "Non, saya pamit keluar duluan," bisiknya kepada Firda. Wanita itu pun mengangguk pelan mengiyakan. Sebelum pulang ke rumah, Pak Seno akan menghampiri Arman dan Pras terlebih dahulu untuk memastikan keaslian cek tersebut, karena tidak lucu 'kan kalau dia pergi ke bank ingin mencairkan uang tersebut, tahu-tahunya dia malah ditipu menggunakan cek palsu.
Kini Firda tinggal bertiga bersama Risma dan Eric di dalam ruangan. Wanita paruh baya itu menatap penampilan Firda yang jauh lebih baik dan lebih cantik dibanding saat terakhir kali mereka bertemu. Padahal jauh-jauh hari di benak Risma, Firda akan muncul di hadapannya dengan penampilan lusuh dan kulit kusam berdaki, menyerupai gembel, tidak tahunya malah sebaliknya. Risma jadi penasaran, bagaimana kehidupan istri mendiang anak tirinya itu setelah dia buang tanpa membawa apa-apa setengah tahun lalu. Kenapa bisa Firda yang berdiri di hadapannya sekarang terlihat sangat baik-baik saja.
"Kamu ke mana saja selama ini, Firda?" tanya Risma dengan nada lembut, kembali mendekati wanita muda itu, ingin mencoba untuk membujuknya dengan kalimat selembut dan seperhatian mungkin. "Mama sudah berbulan-bulan mencari kamu, tapi kenapa baru sekarang kamu muncul? Selama ini kamu tinggal di mana, Sayang?" Risma berusaha meraih lengan Firda, namun lagi-lagi Firda menghindar.
"Apa pedulimu?"ucap Firda dengan nada dingin. Kata "Sayang" yang tersemat dalam ucapan Risma terdengar seperti omong kosong belaka. Dulu, mana pernah dia berkata selembut dan seperhatian itu pada menantunya. Kecuali sekarang karena sedang ada maunya.
"Loh, kenapa kamu bilang begitu, Sayang? Kamu itu 'kan menantu Mama, jelas saja Mama peduli." Risma kembali berusaha meraih lengan Firda, tapi Firda langsung menepisnya.
"Oke, Mama tahu kamu masih marah soal kejadian setengah tahun lalu. Mama minta maaf, Mama khilaf. Asal kamu tahu, waktu itu Mama pulang mencari kamu, Mama menyesal sudah memperlakukanmu seperti itu... tapi begitu Mama tiba di sana, kamu sudah tidak ada. Mama benar-benar panik, sampai-sampai Mama menyuruh orang mencarimu kemana-mana, tapi tidak ada yang berhasil menemukanmu."
Risma memasang tampang sedih, "Mereka bahkan mencari kamu di hutan, siapa tahu kamu berteduh di sana karena hujan deras dan badai waktu itu. Tapi tetap saja tidak ada tanda-tanda. Mama juga mencoba mencarimu lewat berita di televisi, media sosial... sampai viral, tapi tetap nihil. Mama bahkan dua kali kena tipu orang tidak bertanggung jawab."
Sesaat kemudian, Risma kembali tersenyum, "Tapi sekarang Mama lega, kamu akhirnya sudah ada di sini, bertemu Mama."
Firda berdecih. Bukannya percaya dan melunak, dia justru malah makin muak melihat akting wanita paruh baya itu. Apa pun yang dikatakan Risma, Firda tak akan pernah mempercayainya, apalagi niatnya mencari Firda diam-diam sudah diketahui.
Firda tersenyum smirk. "Apa judul dongeng yang baru saja kamu bacakan untukku?"
Risma langsung gelagapan. "A-apa maksudmu dengan membacakan dongeng?"
Firda tersenyum miring, kemudian melipat kedua tangannya di depan dada, menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan tajam yang menusuk. "Waktu itu kamu membuangku karena katamu aku sudah tidak berguna lagi dan sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi denganmu karena suami dan anakku sudah meninggal. Lalu, sekarang kamu mencariku sampai rela kehilangan uang yang tidak sedikit ... apakah aku sudah berguna untukmu? Dan apakah sekarang, aku jauh lebih berharga dari uang 1 miliarmu itu?"
Nada bicara dan kalimat yang digunakan oleh Firda membuat Risma terkejut. Ini jelas bukan Firda yang dia kenal selama ini. Dulu, Firda adalah sosok perempuan yang sopan, penurut, dan gampang diatur. Kenapa sekarang malah berubah begini. Sosok Firda yang dulunya lemah dan tak berdaya saat ditindas itu kemana perginya? Risma yakin, pasti ada orang yang sudah mencuci otak Firda.
Risma mencoba mengendalikan diri. Walau sekarang Firda sudah berubah 180 derajat, dia tidak boleh gampang terbawa emosi oleh kata-kata pedas Firda. Biar bagaimana pun, Firda sekarang adalah kunci keberhasilan atas tujuan utamanya menikahi Tuan Kusnandar 1 setengah dekade lalu.
"Oke, Mama tahu kamu masih marah sama Mama, dan sekali lagi Mama minta maaf, oke?"
Firda langsung berdecih. Kedua alisnya saling mengurai jarak. Tatapannya semakin tajam, seolah-olah ingin meng**iti Risma hidup-hidup. "Apa menurutmu, semua masalah bisa diselesaikan dengan kata maaf?"
Tatapan Firda membuat wanita paruh baya itu memutuskan untuk mundur dan menjaga jarak darinya. "He-hey, a-ada apa denganmu? Kamu ... membuat Mama takut, Firda."
tp kan Firda gk tau....jd gk bisa jg melampiaskan amarah ke dia nya dong..