NovelToon NovelToon
IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

IBU SUSU UNTUK DOKTER DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romantis / Ibu susu / Ibu Pengganti / Duda / Romansa
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.

Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.

Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.

“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Rintihan Pilu

🫧🫧🫧🫧

Malam itu, rintihan pilu dari lantai atas memecah kesunyian rumah Arkan. Suara itu terdengar menyayat, seolah-olah berasal dari jiwa yang sedang disiksa dalam kegelapan.

Yudha yang baru saja melangkah masuk setelah lembur di kantor, langsung bergidik ngeri. Ia mendapati abangnya duduk mematung di sofa dengan kepala menengadah ke arah sumber suara.

“Bang, sejak kapan kuntilanak pindah ke rumahmu?” tanya Yudha dengan nada bercanda yang dipaksakan untuk menutupi rasa ngerinya.

“Sepertinya semenjak Maya tinggal di sini,” sahut Arkan dengan nada yang terlalu tenang, namun matanya memancarkan kegelisahan yang dalam.

Yudha mempercepat langkahnya saat melihat Arkan tiba-tiba berdiri dengan wajah cemas. “Bang, apa yang kau lakukan pada gadis itu? Jangan bilang kalau kau—”

Belum sempat Yudha menyelesaikan tuduhan konyolnya, Arkan sudah melesat dengan langkah besar menaiki tangga, bergegas menuju kamar Leon. Yudha menyusul dari belakang, napasnya memburu.

Kedua pria dewasa itu terpaku di ambang pintu. Di bawah cahaya lampu tidur yang remang, mereka melihat Maya bergelung di balik selimut tebal. Tubuhnya gemetar hebat. Kedua tangan mungilnya terangkat ke depan wajah, melakukan gerakan menangkis seolah-olah ia sedang mencoba melindungi diri dari pukulan yang tak kasat mata.

“Bang, aku rasa gadis ini punya trauma yang sangat dalam,” bisik Yudha, suaranya berubah serius. Aura jaksa yang biasanya tegas kini melunak simpati.

“Kau benar. Ini kali kesekian aku melihatnya seperti ini. Pertama kali aku melihatnya di rumah sakit,” balas Arkan tanpa melepas pandangannya dari Maya, kemudian ke ranjang bayi melihat Leon yang tak terusik oleh tangisan Maya.

Yudha mengusap dagunya, insting hukumnya bekerja. “Bang, kalau kau melapor kepada Bang Gavin, orang yang melukai anak di bawah umur ini bisa segera dijebloskan ke penjara. Aku bisa bantu kawal kasusnya di pengadilan.”

“Bisa saja kulaporkan,” jawab Arkan dingin. “Masalahnya, apa Maya setuju? Kau tahu sendiri sistem hukum kita, tanpa bukti fisik yang jelas dan kesaksian korban, kita tidak bisa menyeret pelakunya begitu saja.”

“Duit, Bang. Pakai duit untuk menjebloskan seseorang,” cetus Yudha frustasi.

Arkan langsung menoleh, matanya berkilat tajam seperti pisau. “Sejak kapan kau punya pikiran picik seperti itu? Kau mau jadi jaksa korup? Ingat sumpahmu sebelum memakai toga itu, Yudha!”

Yudha tertunduk, wajahnya memerah. “Maaf, Bang, aku hanya terbawa emosi melihatnya.”

Arkan kembali menatap Maya yang mulai merintih semakin keras. Hatinya seperti dire*mas. “Yud, boleh tidak aku masuk dan menenangkannya?” tanya Arkan, ada keraguan yang tidak biasa dalam suaranya.

“Tentu saja boleh. Masuklah, atau aku yang akan menenangkannya?” pancing Yudha dengan seringai kecil.

Mendengar ancaman itu, Arkan langsung melangkah masuk tanpa menunggu sedetik pun. Yudha tersenyum tipis melihat punggung abangnya yang kini sudah berdiri di samping ranjang Maya. Namun, senyum itu perlahan pudar, digantikan oleh ekspresi gelap.

“Sebenarnya, aku dan Bang Gavin sudah menyelidiki kasus Maya secara diam-diam,” batin Yudha sambil berbalik arah. Ia menghela napas panjang, menatap koridor yang gelap. “Kasus yang sangat menjijikkan. Aku harap abang tidak perlu tahu detailnya sekarang.”

Yudha melangkah menjauh, meninggalkan Arkan yang kini mulai menyentuh lembut bahu Maya yang bergetar.

“Kalau sampai abang tahu apa yang sebenarnya dilakukan ibu tirinya, mungkin wanita iblis, dan mantan suaminya, Rian itu hanya akan tinggal nama,” gumam Yudha dalam hati sebelum menghilang di balik pintu kamarnya sendiri.

*****

^~^ ARKAN MENCOBA TENANG ^~^

Suasana di dalam kamar itu mendadak menjadi sangat menyesakkan. Di balik matanya yang terpejam, Maya terjebak dalam labirin ingatan yang mengerikan.

Dalam mimpinya, ia melihat bayangan pria tua bertubuh tambun yang penuh keringat mendekat ke arahnya. Bau napas pria itu terasa begitu nyata dalam mimpi Maya. Maya yang terduduk di lantai hanya bisa menggeleng lemah, air matanya membanjiri pipi yang sudah dihiasi lebam biru dan noda darah di sudu bibir.

“Ja-jangan,” rintihnya parau.

Di dunia nyata, Arkan yang duduk di tepi ranjang merasa jantungnya berdegup kencang melihat kegelisahan Maya. Ia mencoba mencolek lengan Maya dengan hati-hati. “May, Maya, bangun.”

Namun di alam bawah sadar Maya, situasi justru memburuk. Pria dalam mimpinya itu kini menja*mbak rambutnya dan menyeret kedua kaki Maya hingga kepa*lanya terbentur lantai dengan keras.

“TIDAK!”

Maya tersentak bangun. Napasnya memburu, matanya membelalak liar penuh terror. Begitu melihat sosok pria di atas ranjangnya, insting bertahannya meledak. Ia bergeser cepat ke sudut tempat tidur, menjauhi Arkan seolah-olah pria itu adalah monster yang baru saja mengejarnya.

“Jangan! Jangan mendekat!” jerit Maya, tangannya gemetar menangkis udara kosong.

“May, ini aku,” Arkan merangkak naik ke atas ranjang. Tangan panjang dan tegapnya terulur, mencoba menggapai gadis itu.

“Jangan sentuh aku! Aku mohon, jangan!” Maya berteriak histeris. Air mata ketakutan mengalir deras, membasahi bantal dan piyamanya. Ia benar-benar tidak sadar di mana ia berada saat ini.

Melihat Maya yang hampir kehilangan kendali, Arkan tidak punya pilihan lain. Rasa geram dan iba bercampur menjadi satu. Dengan gerakan cepat dan protektif, ia meraih tangan mungil Maya, menarik tubuh gadis itu ke arahnya, dan mendekapnya dengan sangat kuat.

Maya memberontak hebat. Ia memukul-mukul punggung Arkan dengan tinju kecilnya, berusaha melepaskan diri dari dekapan yang ia anggap sebagai ancaman. “Jangan lakukan itu padaku! Lepaskan! Aku mohon!”

Arkan tidak melepaskannya sedikit pun. Ia justru semakin merapatkan pelukannya, membiarkan punggungnya menjadi sasaran amukan Maya, lalu ia berbisik tepat di telinga gadis itu dengan suara yang sangat rendah dan menenangkan.

“May, ini aku, Kak Arkan. Sadarlah, wahai peri kecilku.”

Kalimat itu bagaikan mantra penawar racun. Maya membeku seketika. Isak tangisnya yang histeris mereda perlahan. Ingatannya kembali ke malam pertama ia menginjakkan kaki di rumah ini, saat Arkan menatapnya dengan cara yang berbeda dan menyebutnya ‘peri’.

Kesadaran Maya pulih sepenuhnya. Ia menyadari aroma maskulin yang familiar, bukan bau keringat menjijikkan dari mimpinya, melainkan aroma antiseptik dan parfum yang tenang milik Arkan.

Tangisan Maya pecah lagi, namun kali ini bukan karena takut. Ia membalas pelukan Arkan dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Arkan mengembuskan napas lega, tangannya yang besar membelai lembut rambut sutra Maya, memberikan rasa aman yang belum pernah gadis itu rasakan sebelumnya.

Kini, Maya sudah cukup tenang, dan sudah sudah kembali tertidur. Arkan perlahan meninggalkan Maya, tak lupa menyempatkan dirinya mengecek keadaan putranya yang tertidur pulas.

Langkah kaki Arkan bergema di koridor yang sunyi saat ia meninggalkan kamar Maya. Pikirannya kalut. Bayangan wajah ketakutan Maya dan rintihan “jangan sentuh aku” terus terngiang, membakar amarah yang berusaha ia redam.

Ia merogoh ponsel dari saku celananya dan menekan sebuah nomor. Di seberang sana, Gavin yang baru saja terlelap dengan posis telungkup sebelum suara dering ponselnya memaksa kesadarannya kembali.

***

📱 “Hem, apa?” gumam Gavin parau, suara khas orang yang nyawanya belum terkumpul sempurna.

📱“Gavin, aku sudah tidak tahan lagi,” desis Arkan tajam.

Mendengar nada bicara Arkan yang penuh tekanan, Gavin langsung terduduk tegak di ranjangnya. Matanya membelalak.

📱 “Jangan! Kau harus menahannya, setidaknya sampai gadis itu berusia 20 tahun!” celetuk Gavin spontan, mengira Arkan sedang kehilangan kendali atas nafsu birahinya terhadap Maya.

Sambil berjalan menuruni anak tangga, Arkan memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. 📱 “Detektif mesum. Bukan itu maksudku.”

Arkan berhenti di dekat tangga turun, suaranya merendah namun penuh ancaman. 📱“Tentang Maya. Aku ingin kau selidiki latar belakangnya sampai ke akar-akarnya. Cari tahu siapa orang tuanya, dan siapa sebenarnya Rian, pria yang disebut-sebut sebagai suaminya, juga keluarga mertuanya itu. Aku ingin tahu setiap inci penderitaan yang mereka berikan pada Maya.”

Suasana di seberang telepon mendadak hening. Gavin terdiam cukup lama, ekspresinya berubah serius. Ia bangkit dan berdiri di sisi ranjang, menatap kegelapan di luar jendela rumahnya. Sebagai seorang sahabat, ia sepertinya tidak perlu menutupi semuanya lagi.

📱 “Datanglah ke rumahku sekarang,” ucap Gavin dengan nada berat yang biasa. “Ada beberapa hal yang sudah kutemukan, dan ini lebih busuk dari yang kita bayangkan. Ada yang harus kita bicarakan secara langsung.”

Tanpa membalas, Arkan langsung mematikan sambungan telepon. Ia menyambar kunci Pajero-nya di atas meja konsol. Dengan gerakan cepat, ia memacu mobilnya membelah sunyinya malam menuju kediaman Gavin yang jauh dari sudut kota.

...❌ Bersambung ❌...

1
Evi Lusiana
boleh gk sih thor si fadly tuh jd guru ny maya biar jd wanita tangguh yg lepas dr traumany dn gk mudah d tindas
Evi Lusiana
dasar mnsia sampah,
Evi Lusiana
arkan umur brp sih thor,dan msa iy d rmh arkan gk puny ART
Dewi Payang
Aku juga ikut terharu🥹🥹
Dewi Payang
Tamparan sayang dari Leon😍
Dewi Payang
Mainannya si Leon sederhana tapi sudah buat dia bahagia😍
Lisa
Good job Zavier 👍👍 akhirnya Dina terkena karmanya..ntar lg dia dikeluarkan dari sekolah..
~~N..M~~~
Hahahaaaaiii....entah kenapa aku jadi puas melihatnya. Dina terkena karmanya sendiri. Tidak tahu apa maksud zavier, kenapa mereka dipersatukan. Yang jelas aku meras puas.
~~N..M~~~
Jangan kasih k3ndor
~~N..M~~~
Iyuh, ternyata Dina dan gengnya memang kalangan anak nakal.Masih remaja aja sudah melakukan hal bebas, gimana kalau uda besarnanti
~~N..M~~~
Iya, kau juga harus m3ndekatkan diri
~~N..M~~~
Serius, ternyata Dina dan gengnya beneran datang
~~N..M~~~
Ku harap dengan k3hadiran Bu Marni, Maya bisa membuka dirinya kembali.
~~N..M~~~
Semakin p3nasaran siapa Agung, dan kenapa bisa kenal Zavier dan Arkan.
~~N..M~~~
sudah bisa jadi juri nih, kayaknya
Chici👑👑
Oke kak...kamoh juga yak/Shhh/
Chici👑👑
Nyeseg ya pak dokter/Grimace/
Chici👑👑
hm😌
Dewi Payang
Hmmmm gombal oiiiiiiii😄😄😄😄
Dewi Payang
Bedalah sama anak jaman old Yud🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!