Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*11
"Ayo masuk! Hm ... malah bengong lagi kamu yah. Malah melamun."
"Nggak kok. Aku gak melamun."
"Barusan itu apa?"
"Avin. Kamu kok gak ngejawab apa yang baru saja tante katakan? Kamu masih ada di pintu bukan?"
Avin muncul dengan cepat. "Masih kok, tante. Aku masih di sini."
"Mm .... Cepat hubungi kembali mama kamu. Kamu kan tahu seperti apa hatinya. Dia akan sangat cemas, Vin."
"Iya, tan. Nanti aku akan hubungi mama. Sekarang, aku mau perkenalkan seseorang sama tante."
"Siapa?"
"Seseorang, mm ... dia adalah ..... "
"Jangan main misteri-misterian sama tante, Avin. Kamu tahu, bukan? Tante gak suka menunggu. Tante orangnya gak suka menebak sesuatu. Jangan bikin tante penasaran kalo kamu gak ingin tante kesal sama kamu."
Diomelin oleh sang tante, Avin malah tersenyum lebar. Sementara itu, Ain yang ada di belakang Avin malah merasa semakin gugup. Maklum, ini pertemuan pertama. Dia masih belum tahu seperti apa karakter orang yang akan bertatap muka dengannya.
"Aina. Ayo masuk!" Avin berucap sambil tersenyum manis.
"Aina?" Wajah penasaran tante Avin langsung terlihat.
Lalu, ketika Ain muncul dari balik daun pintu yang ada di belakang Avin. Seketika, wajah tante Avin berubah dengan cepat.
"Camelia."
Seketika nama itu langsung membuat Avin dan Ain merasa bingung. Sudah jelas nama yang tante Avin panggil barusan bukan nama Aina. Jadi, kenapa bisa tiba-tiba jadi memanggil dengan nama yang asing?
"Camelia? Mama?"
"Tante, apa maksudnya?" Bingung dan penasaran terlihat dengan sangat jelas di wajah Marvin.
"Ah, namanya Aina, tante. Bukan Camelia." Jelas Avin lagi.
Si tante malah tidak perduli sedikitpun apa yang keponakannya katakan. Tatapan matanya tetap fokus ke arah Ain tanpa berkedip sedikitpun. Bahkan, manik matanya terlihat berkaca-kaca sekarang. Langkah kaki perlahan terus bergerak mendekat ke arah Aina. Setelah dekat, tangan tante Avin langsung terangkat. Tangan itu bergerak perlahan untuk menyentuh pipi mulus milik Ain.
"Jadi, kamu Aina?"
Belum juga Ain menjawab apa yang tante Avin tanyakan, wanita itu malah kembali angkat bicara. "Wajah mu ... itu persis kakak ku saat muda. Sedikitpun tidak berubah. Kamu-- "
Ucapan tante Avin langsung tertahankan. Saat ini, wanita tersebut langsung merangkul Ain dengan erat. Tangisannya pecah. Suara terdengar bergetar.
"Aku yakin, kamu adalah keponakanku. Keponakanku yang pernah hilang saat masih balita. Aku yakin itu. Sungguh sangat yakin."
Deg. Jantung Aina seolah berhenti berdetak. Sedang Avin, syok bukan kepalang. Dia yang sedari tadi sedang mencoba mencerna apa yang sudah terjadi dengan susah payah. Kini langsung bergerak. Meraih lengan tantenya, berusaha untuk meminta penjelasan.
"Tante. Apa yang tante katakan?"
"La-- lakukan tes DNA, Marvin. Tante yakin, Aina adalah adik kandung kamu yang hilang saat masih balita. Wajahnya ini," ucap si tante sambil terus menatap Aina dengan tatapan lekat bersamaan mata yang penuh dengan harap. "Wajah ini sangat mirip dengan wajah mama mu saat masih remaja. Dia sangat mirip, Vin. Tante yakin, dia adik kamu."
"Ad-- adikku? Be-- benarkah?" Kali ini gantian Marvin yang menatap Aina dengan tatapan penuh harap. "Benarkah kamu adikku? Adik yang aku cari sejak remaja dulu? Benarkah itu?"
"Tante-- " Avin menoleh ke arah tantenya dengan tatapan mata yang mulai berkaca-kaca. "Benarkah dia adikku, Tan?"
"Tante yakin. Lakukan tes DNA untuk membuktikannya."
Ain yang membeku sejak tadi, masih tetap membatu. Sungguh, dia tidak tahu harus apa sekarang. Segalanya terjadi dengan sangat tiba-tiba. Sampai-sampai, dia tidak bisa mencerna apapun. Tidak bisa berpikir dengan baik sedikitpun.
Tangan si tante yang sebelumnya sempat lepas dari tangan Ain, kini kembali meraih tangan kurus Ain dengan lembut. "Aina, maukah kamu mencoba? Lakukan tes DNA dengan Avin. Karena hati tante sangat yakin kalau kamu adalah bagian dari keluarga kami. Tante mohon, jika tes itu positif, kakak ku pasti akan sangat bahagia. Aku juga yakin, sakit yang kakak ku derita juga akan langsung sembuh setelah anaknya ditemukan kembali."
"Ain. Ayo kita coba ya." Avin berucap dengan hati-hati. "Ha-- hanya mencobanya saja. Kamu mau kan?"
Ain masih terdiam. Tapi Avin tidak sabar lagi untuk mengajak Aina melakukan kecocokan tes DNA agar bisa membuktikan firasat hati tantenya itu. Tentu saja mereka tidak akan melewatkan sedikitpun kemungkinan. Karena keluarga Avin sudah berusaha mencari anggota keluarganya yang hilang sejak lama.
"Ain." Avin kembali memanggil nama itu dengan lembut dan sangat berhati-hati.
"Aku mohon. Ayo mencoba! Kami sudah mencari adikku sejak lama. Kami sudah berusaha keras untuk menemukannya. Bahkan mama ku, sejak adik menghilang karena sebuah penculikan. Dia sakit-sakitan hingga sekarang. Bahkan, aku masih sering meluhat mamaku menangis di kamar saat dia sendiri. Dia bahkan akan langsung menangis saat melihat foto adikku."
"Ain."
"Baiklah. Ayo mencoba."
Seketika, wajah si tante dan juga Avin cerah seketika. Sungguh, mereka tidak sabar lagi untuk melakukan tes kecocokan sebagai keluarga.
Pertemuan yang awalnya adalah untuk menambah pelanggan, tapi kini malah berujung dianggap sebagai anak yang hilang. Sangat sulit untuk dimengerti apa yang sedang terjadi. Tapi Ain malah bersedia untuk mengikuti arus saja.
Merekapun beranjak meninggalkan rumah si tante menuju ke rumah sakit. Ain pergi, tapi hatinya tidak terlalu berharap. Karena, mungkin saja dia hanya sedikit mirip. Karena ada terlalu banyak manusia yang wajahnya mirip di atas dunia ini bukan? Tapi, mereka bukan anggota keluarga. Hanya mirip saja.
*
Mobil yang Avin kendarai akhirnya sampai ke tempat yang ingin mereka tuju. Rumah sakit besar yang ada di pusat kota. "Ayo turun, Nak!"
Ain tidak menjawab. Entah kenapa, hatinya tiba-tiba merasa gugup. Entah apa yang ada dalam pikirannya, dia sendiri tidak memahami akan hal tersebut. Memang, sejak pertemuan pertama dengan Marvin, dia sudah merasakan kedekatan yang tidak asing lagi. Tapi, aish. Entahlah. Sulit untuk Aina jelaskan apa yang sebenarnya sedang dia alami saat ini.
"Ain. Jangan cemas. Semua akan baik-baik saja. Tante sangat yakin kamu adakah keponakan tante. Dan tante tidak mungkin salah. Ayo!"
"Iy-- iya."