NovelToon NovelToon
Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Najma Dan Hidupnya Yang Menarik

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Kehidupan di Kantor / POV Pelakor / Office Romance / Romantis / Tamat
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author:

Cerita tentang Najma, gadis 24 tahun yang sedang mengusahakan hidupnya untuk jadi semenarik mungkin. Tapi, bayang-bayang masa lalu dari cowok di masa kuliahnya, serta persahabatan yang kandas karena cinta segitiga buat Najma harus menghindar dari segalanya. Tanpa Najma sadari, ada cowo aneh yang ngejar Najma dan buat hidupnya jadi tarik-menarik beneran

Najma dan Tantangan Berikutnya

Aku mengerti perasaan setiap pekerja yang menganggap hari senin seperti Dementor. Mereka menganggap hari senin adalah perenggut jiwa bebas mereka untuk menjadi malas tanpa dosa, atau petualang dadakan yang memiliki ekspektasi senang-senang walaupun harus menghadapi macet seharian. Mereka membenci hari senin karena membuat mereka merasa tak bernyawa dan melakukan segala aktivitas di awal minggu seperti robot yang sudah dikendalikan oleh mesin yang diunggah ke dalam otaknya.

Tapi tidak buatku karena hari senin kali ini karena waktunya gajian! Yeay!

Aku pun mulai membuka situs sepatu favoritku yang hanya boleh dilihat di tanggal dua puluh lima setiap bulan. Aku mulai mengecek menu wishlist yang sudah kutandai di bulan sebelumnya. Tunggu aku, sepatu merah marun bertali hitam kesayangan! Kamu pasti sungguh keren jika dipadu dengan rok pensil putih yang baru kuambil dari tukang jahit langganan. Yes, sempurna! Stoknya masih ada. Aku senang bukan kepalang.

“Najma’s speaking?” responku terhadap telepon yang telah berdering dua kali.

“I know! Good morning!”

Entah kenapa jika sudah ngobrol dengan Fedi aku jadi lebih lancar berbahasa Inggris.

“Hai! Mau ngapain?”

“Nanya sedang apa. So, sedang apa?”

“Baru beli sepatu online.”

“Oh my God! Sekarang gue ngerti kenapa sepatu lo selalu berbeda di setiap pertemuan kita, walaupun warna dan jenisnya mirip-mirip juga. Girls!”

“Ih, emang kenapa sih? Namanya juga obsesi.”

“Bahagianya jika obsesi bisa dibeli. Kalau bintang bisa dibeli, gue mungkin udah punya observatorium sendiri. Gue rela nggak kena matahari seumur hidup jika memang itu pantangannya.”

“Vampir dong.”

“Apa aja obsesi lo, Najma? Gue pengen tahu.”

“Hmm,” aku memindahkan ponselku ke telinga sebelah, “kucing, bunga, Japan streetstyle…”

“Ok, I see you now very clearly.”

“Najmaaaaa…. Sini bentar deh!” seseorang memanggilku dari ruang meeting di belakangku. Aku pun menoleh dan memastikan siapa yang memanggilku.

“Fedi, gue harus ke ruang meeting nih. Nanti lagi, ya.”

“Bye.”

Aku langsung menutup ponsel dan beranjak setengah berlari kepada sumber suara karena nada temanku barusan terdengar panik sekali. Aku jadi penasaran.

“Ada apaan, sih?” tanyaku pada Rasya yang memanggilku barusan.

“Lo jangan kaget ya, dan tetap tenang. Oke?”

Pernyataannya barusan malah membuatku semakin penasaran dan panik. Jelas-jelas perkumpulan teman-teman kantorku yang sebagian besar dari divisi kreatif sedang membentuk bulatan yang fokus kepada ponsel tablet Rasya. Aku menghampiri grup bundar tersebut dan mengecek apa yang sedang mereka saksikan bersama.

“Najma, ini lo kan?” tanya seseorang bernama Pinky, seorang Designer, memastikan bahwa apa yang sedang mereka periksa benar-benar adalah fotoku.

“Iya.” Jawabku datar. Mereka tidak tahu bahwa pembuluh darahku mengembang dan bengkak di dalam, karena darahku tiba-tiba pasang dan siap menerjang seluruh organ tubuh tanpa aturan.

Apa yang sedang mereka lihat adalah album foto yang sudah tersebar di Facebook. Isi foto-foto tersebut adalah screen capture beberapa dialog chat dan juga fotoku yang tertulis ‘wanted’ di bawahnya. Foto yang pernah disebarkan Rosie pada saat ia baru saja mengetahui tentang hubunganku dan Aga.

Najma waktu menjadi mahasiswa, di kamar kos sendirian.

Aku hanya menatap nanar ponselku yang tak hentinya berdenting karena kedatangan puluhan notifikasi yang tak kukenal. Seseorang mengaitkan namaku di sosial medianya dan menaruh fotoku dengan tulisan ‘wanted’ di bawahnya.

“Kalo lo liat cewek ini, kasih tahu aku! Cewek jalang yang nggak punya malu ini ngerebut cowokku. Kita apain, nih? Bunuh aja, apa?!”

Aku tertawa getir membacanya. Aku tak menyangka Aga memiliki pacar yang kepintarannya di bawah rata-rata.

Dengan perasaan malas, aku buka notifnya satu persatu. Beberapa mereka terlibat dialog berkepanjangan seolah-oleh kotak komen tersebut adalah forum pribadi tempat mereka semua berbagi masalah masing-masing.

“Ya ampun, mukanya innocent tapi kelakuannya jalang. Siapa, nih?”

“Datengin aja, Ros! Cewek kayak gini emang jalang abis. Mau aku anter ke tempatnya sekarang?”

“Ih, nggak nyangka ya. Bitchy abis.”

“Apa sih yang disukain dari cewek ini, Ga? Rosie masih kurang baik, apa?”

“Emang! Cewek ini sekalian kita kerjain aja depan si Aga! Biar tahu rasa udah mainin perasaan aku!”

“Nyimak.”

Aku hanya membaca satu persatu komen yang terus mengalir tanpa henti. Aga sama sekali tidak muncul bahkan untuk membelaku.

Lalu, ada satu komen dari Aga datang ke kotak komen itu. Ia membelaku.

“Kalian tahu apa, sih? Ros, emang harus ya kayak gini? Nggak usah judge seseorang kalau kalian nggak tahu masalahnya. Kamu hapus nggak foto ini sekarang?!!”

Aku tertawa getir. Sebagai subyek utama, aku hanya menikmati drama sosial media tentang kasus di mana aku penyebabnya.

“Wah, kamu belain nih pelacur! Siapapun, tolong deh siram nih cowok sekarang!” jawab Rosie sesaat aku membaca komen Aga barusan.

Oke, cukup. Aku tak perlu membaca cemoohan digital ini lebih lama lagi. Aku menenggelamkan kepalaku ke bantal dan berharap hari ini segera usai agar semua masalah yang hadir di kehidupanku pun ikut pergi seiring terbenam matahari di sore nanti.

Aku mencari ponselku yang berdering masih dengan kepalaku yang tenggelam di bawah bantal, lalu kutemukan ia di dekat perutku dan terus bergetar kencang.

“Apa?”

“Nas, lo dimana?”

“Di kosan.”

“Lo nggak apa-apa?”

Aku diam saja. Magi terus memborbardir pertanyaan kepadaku yang sedang malas berbicara kepada siapapun. Sejak aku mengabarkan padanya bahwa Rosie sudah menyebarkan fotoku di media sosialnya dan teman-temannya, Magi sangat kelabakan.

“Chat dari dia masih lo simpan?”

“Ada. Tapi, kayaknya mau gue blok deh. Mulutnya kotor banget kayak gorong-gorong tahi kotok.”

“Jangan! Lo simpen buat bukti. Lo tahu nggak, yang dia lakukan itu melanggar UU ITE pasal dua tujuh ayat tiga tentang pencemaran nama baik dan penghinaan, juga pasal dua delapan ayat dua tentang provokasi melalui internet. Dia bisa masuk penjara dengan dua pasal tersebut.”

Aku tersenyum dan memperbaiki posisi dudukku tepat dibawah jendela kamar yang membawa sinar matahari tengah hari yang malah membuatku kedinginan.

“Magi, gue tahu lo pinter. Thanks, beneran deh udah perhatian sampai lo harus cari pasal-pasal untuk menghukum si Asu ini. Tapi, biarkanlah dia berkoar-koar sampai dia merasa nggak berguna.”

“Najma, lo tuh lagi kena cyber-bullying tahu, nggak?”

“Gue tahu! Tapi kalau urusan ini diperpanjang, gue benar-benar merasa jadi penjahat di antara mereka. Dan, gue yakin kesananya gue tetap nggak akan bahagia, Aga juga.”

“Nggak ada hukum pidana yang mengatur jika seseorang suka sama pacar orang. Jadi, jangan pernah merasa bersalah jika lo suka sama Aga. Toh, mereka juga belum nikah, gitu!”

“Magi, mendingan kita ignore aja si cewek Monyet ini. Lo tahu kan rasanya tidak dihiraukan betapapun lo berusaha keras sudah mencari perhatian?”

“Oke,” Magi akhirnya setuju, “… atau, kita bikin artikel tentang cewek ini dan apa aja yang sudah dia lakukan sama lo. Kalaupun lo nggak ingin dia masuk penjara, setidaknya ada sanksi sosial yang akan dia dapatkan. Sehingga cewek ini tahu rasanya dibuli sama orang-orang yang sok tahu dan merasa paling benar di dunia.”

“Nggak usah. Magi, dia nggak punya teman. Lo tahu nggak sih, dia lagi masang foto gue dan mengajak orang-orang di media sosial dia untuk sama-sama mengolok gue? Seekstrim itu saking nggak punya temannya. Gue ngerti sekarang kenapa Aga kasihan sama dia.”

“What? Capture sekarang, gue pengen lihat. Cepetan!”

“Duh…”

“Sekarang, Najma. Kirim ke Iman juga. Biar kita bisa kutuk nih Monyet sama-sama!”

**

“Najma, you sure you’re okay?” tanya Rasya memecah keheningan. Aku yang kini duduk melihat apa yang ada di dalam laptop tersebut merasa tak tertolong. Mereka semua berdiri dan membungkuk di sekitarku sambil terus melirik wajahku yang siapa tahu akan meledak kemudian.

“Albumnya udah ke-shared 2.000 kali. Hebat banget, ya.”

“Itu bener, Ma? Lo beneran pernah dibuli dulu?”

“Ini bulliception! Buli dalam buli. Siapa sih yang tega ngelakuin ini sama lo, Ma? Lo ada masalah apa? Rebutan cowok, ya?”

Semuanya berkomentar tentang album foto itu. Album foto yang berisi chat Rosie dengan oknum tak bernama yang terkesan menjadi korban atas tindakan yang aku lakukan padanya.

Oknum : kamu pernah kenal Najma?

Rosie : Siapa nih? Kok nanya tentang Najma? Kamu temannya?

Oknum : Bukan! Aku justru mau nanya, apa dia pernah ngerebut cowok kamu? Aku

dapat kabar dari temanku, dulu katanya dia ayam kampus, ya?

Rosie : Kayaknya sih gitu, dia pernah berurusan sama aku. Selingkuh sama

suamiku tapi malah nggak mau ngaku! Terus udah aku kasih peringatan

tapi malah ngelunjak! Emang dasar jalang kampung! Aku masih benci sama

dia.

Oknum : Berarti memang kebiasaan, ya. Dia juga ngerebut pacarku. Aku sedih

banget! Aku awalnya nggak percaya, tapi sekarang denger cerita kamu, aku

jadi nggak tahu harus gimana! Untung kamu sama cowokmu udah nikah, ya!

Tuhan memang tahu siapa yang terbaik untuk cowok kamu.

Rosie : Labrak aja, Mbak! Cewek kayak gitu harus diberi pelajaran. Ngomong-

ngomong aku masih ada fotonya pas aku sebarin ke sosial media.

Oknum : Wah, mana? Aku boleh lihat?

Dan fotoku pun diberikan kepada oknum tanpa editan sedikitpun. Jelas sekali, wajahku yang tersenyum ceria dua tahun lalu muncul lagi dengan resolusi tinggi sehingga mengundang banyak komentar pro dan kontra netizen yang memenuhi kotak komen di sampingnya.

“Guys, gimana ya cara ngehapusnya? Gue nggak mau orang tua gue lihat ini.” Ujarku dengan nada bergetar.

“Nanti gue urus, Najma. Gue bisa report ini ke Facebook dan gue cari siapa yang upload album ini. Tenang aja, ya. Orang yang jahat sama lo bisa kita laporin ke polisi.”

“Nggak usah. Gue cuma pengen album foto ini hilang selamanya.”

Semua orang yang mengelilingiku pun memelukku. Aku hanya diam tak bertenaga, masih menganggap bahwa yang aku sedang lihat adalah mimpi buruk siang bolong.

Aku benar-benar ingin pulang dan bergegas menyiapkan seluruh pakaianku untuk kabur ke angkasa.

**

Di saat satu kantor heboh membicarakan apa yang baru saja terjadi padaku, aku hanya bisa melarikan diri dari pertanyaan-pertanyaan kepo mereka yang terus heran kenapa aku bisa mendapatkan masalah seperti ini. Berada di belakang kafetaria dan menyendiri di tengah sinaran mentari pukul empat sore mungkin adalah tindakan yang terbaik.

Aku tak bisa lagi bercerita kepada Magi dan Iman karena pasti akan sangat menyedihkan jika aku baru menghubungi mereka di saat aku hanya tertimpa masalah. Aku juga tak berdaya untuk menghubungi Fedi karena sekarang ialah satu-satunya yang peduli padaku. Di saat seperti ini, aku yang malah mengharapkan ia menghubungiku lebih dahulu berhubung wajahku pasti sudah terkenal sekarang. Aku rasa Fedi sudah melihat berita tentang diriku di sosial media.

Ponselku sudah bergetar cukup lama di kantung celanaku. Dengan enggan aku mengambilnya dan mencoba mengangkatnya walau aku tak mengenal nomornya. Jantungku berdetak kencang karena bisa saja orang yang menjadi pelakunya sedang berusaha mengonfirmasi apa alasannya sudah melakukan hal sepicik ini terhadapku.

“Halo, siapa nih?”

“Hai, Najma.”

Nafasku tercekat, aku merasa kerongkonganku kehilangan oksigen sehingga beberapa detik kemudian aku bisa mati di tempat.

“Aga?”

“Ya, ini aku. Kamu apa kabar?”

Tentu saja itu pertanyaan yang sia-sia. Ia pasti tahu apa yang sedang terjadi padaku. Aku menangis tanpa suara.

“Aku masih simpan nomor kamu, Najma. Maafin aku ya karena tiba-tiba ngehubungin kamu di saat seperti ini.”

“Iya, nggak apa-apa.” Jawabku sambil tersenyum, walau sulit sekali rasanya.

“Aku baca postingan di Facebook tentang kamu. Aku, nggak tahu harus bilang apa. Tapi, aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik aja.”

“Tenang aja, Aga. Ini bukan lagi tentang kamu dan Rosie.” Aku mencoba berdiri dan mengarah ke pagar di depanku. Pagar tinggi yang mencegahku untuk tidak melompat dan jatuh dari ketinggian puluhan meter.

“Perasaan menyesal ini akan selalu ada selamanya di dalam diri aku, Najma. Aku nggak bisa memaafkan diriku sendiri karena ini.”

“Aga, dengerin aku, ya.” Aku menarik nafas perlahan, “aku yang sekarang jauh lebih baik dari seorang perempuan yang dulu kamu kenal. Aku yang sekarang benar-benar bahagia karena bisa bekerja di tempat di mana aku bisa menikmati hari-hari dengan jadi diriku sendiri. Aku bahkan ketemu sama seseorang yang nggak bisa kamu bayangkan karena terlalu keren untukku. Jadi, jangan pernah merasa bersalah dan lanjutkan hidup kamu dengan Rosie yang sekarang sudah jadi istri kamu. Aku beneran nggak apa-apa. I mean it.” Terangku terus menangis. Aku berusaha keras agar Aga tidak mendengarnya.

“Najma, aku tahu kamu benci denger ini. Tapi, aku minta maaf sekali lagi.”

“Yap, aku benci banget dengan kamu yang terus minta maaf. Jika saja maaf kamu bisa diuangkan, pasti aku bisa beli tiket ke Eropa sekarang.”

Aga tertawa kecil, aku juga. Tapi aku tahu kami berdua sedang menangis bersama-sama dalam dimensi ruang yang berbeda.

“Aku kangen sama kamu.”

“Nggak boleh. Lagipula, kamu bukan kangen sama aku. Kamu hanya kangen sama kenangan kita berdua.”

Aga hanya diam saja. Apakah ia sedang menghapus air matanya?

“Kamu nangis?”

“Nggak. Aku nggak akan pernah nangis lagi, cukup waktu terakhir aku ketemu kamu aja. Aku malu.”

“Ngapain? Hehe. Kita berdua hanya manusia yang tak pernah bisa mengontrol apa yang bisa terjadi pada diri kita di planet bumi yang aneh ini. Jadi, menangis bukan hal yang memalukan kok.”

“Iya.”

“Aga?”

“Najma?”

“Setelah ini, kamu hapus ya nomor aku. Lupakan aku dan berbahagialah.”

Tidak terdengar sedikitpun Aga ingin membalas ucapanku.

“Aga?”

“Iya, Najma.”

“Goodbye, Aga.”

“Sehat terus, Najma. Aku doakan selalu agar kamu bahagia.”

“Pasti.”

Telepon pun terputus. Aku masih merasa apa yang barusan aku terima adalah bagian dari mimpi buruk siang bolong. Aku ingin sekali segera bangun dan kembali hidup untuk menjalani hari-hariku seperti biasanya.

**

Jam enam petang.

Entah karena Pak Bos kasihan padaku atau ia ingin menghilangkanku dari muka bumi secepatnya, ia secara pribadi menghubungiku untuk menyuruhku pulang ke rumah. Harusnya aku senang karena pertama kalinya Pak Bos memperlakukanku sebagai manusia pada umumnya, tapi nyatanya aku tetap merasa kosong dan tak bertenaga.

Aku menjalankan skuter kuningku perlahan keluar dari gedung, begitu pelan karena aku tak mau pulang. Seakan-akan, aku ingin skuter ini membawaku keluar dari lingkup galaksi bima sakti hingga aku tak perlu merasa sesakit ini. Air mataku terus mengalir kencang, aku sesenggukan. Aku meraung-raung dan terus bertanya pada semesta apa yang sudah aku lakukan sehingga banyak yang jahat kepadaku. Kenapa harus aku? Kenapa banyak yang membenciku?

“Najma, minggir dulu!” seseorang setengah berteriak kepadaku.

Aku sangat terkejut dengan teriakan yang datang tiba-tiba. Fedi mengemudikan skuter putihnya di sampingku dan menyuruhku untuk menepi hingga ia berhenti tak jauh dari posisiku.

“Fedi? Kok bisa ketemu di jalan? Ngapain, kok…” ucapku terhenti karena Fedi langsung berlari dan memelukku. Aku terpaku dan tak berdaya di dekapannya. Fedi mengelus rambut di punggungku lembut dan mencium pipiku yang basah dan lembab karena sudah tersiram air mata yang terjatuh ribuan mil jumlahnya dalam satu hari ini.

“Gue minta maaf baru datang sekarang. Gue minta maaf, Najma. Gue minta maaf.”

Tangisanku pecah lagi. Aku pun melepaskan pertahananku di depan Fedi. Aku balas memeluknya dan membiarkan air mataku membasahi sweaternya yang cukup tipis untuk bepergian naik skuter di tengah kota. Fedi melihat wajahku dengan penuh iba, lalu menghapus air mataku dengan pergelangan tangan yang masih terbalut sisi kain sweater yang ia kenakan. Ia mencium keningku dengan keningnya dan diam seakan ikut mendengarkan irama tangisanku yang semakin kencang. Aku bisa merasakan desahan nafasnya yang hangat menerpa wajahku, dan aku rasa Fedi pun begitu. Aku dibiarkannya menangis dalam posisi seperti itu hingga kurasa sudah cukup dan aku siap untuk pulih kembali menjadi Najma yang kuat menghadapi masalah.

“Lo bisa bawa skuter ini sendirian?”

Aku mengangguk, “Bisa. Nggak usah khawatir.” Jawabku tersenyum pada Fedi. Ia membelai pipiku dan bergegas ke skuternya di depan. Lalu ia menginstruksikan aku untuk lebih dahulu berjalan untuk ia awasi dari belakang. Kami benar-benar melakukan konvoi berdua tanpa direncanakan.

**

Tibalah kami di rumahku. Aku mengajak Fedi dan skuternya untuk parkir di halaman depan rumahku yang penuh dengan pot bunga daisy warna putih. Aku duduk di jok skuter kuningku dan Fedi menghampiriku untuk duduk di sampingku. Ia menoleh dan menatap wajahku yang entah sedang memandang apa di depan kami. Aku tahu Fedi terus menatapku, tapi terlalu berat bagiku untuk menatap balik padanya.

“Sorry for telling you this, tapi semua ini ulahnya Vanya.”

Kata-kata Fedi akhirnya berhasil membuatku menoleh heran padanya.

“Setelah tahu ada postingan tentang lo dan tersebar di halaman Facebook setiap orang, gue langsung menghubungi teman gue yang jago meretas komputer. Gue nggak akan kasih tahu lo namanya, tapi bisa gue yakinkan kalau dia benar-benar jago sehingga gue bisa dapat IP Address seseorang yang sudah upload album foto tersebut.”

“Terus?”

“Setelah gue dapat siapa orangnya dan gue tanya apa hubungannya sama lo, dia bilang dia nggak kenal sama lo. Instead, dia bilang bahwa dia sudah dibayar Vanya.”

“Wah.” Responku masih dengan pikiran yang tak menentu.

“Dan tentang ribuan shared itu, seribu lima ratus adalah hasil setingan, sementara sisanya adalah hasil organik. So, lo sekarang sangat populer di media sosial sampai banyak situs nasional membuat artikel tentang lo.”

“Apa boleh buat. Untuk sekarang, gue akan menikmati popularitas gue hingga berita ini akan lenyap dengan sendirinya.”

“I’m truly sorry, Najma. Bagaimanapun, gue turut andil telah membuat lo seperti ini.”

“Jangan. Gue cuma terlalu hebat hingga Vanya harus membuat gue sedih agar gue jauh dari lo. Hehe.”

Fedi hanya diam saja dan terus menatapku.

“Dan, kalau lo seharian ini sudah berusaha untuk mencari pelakunya, gue nggak tahu harus berterima kasih seperti apa. Thanks, Fedi. Lo memang keren abis.”

Fedi tersenyum dan merangkul pundakku sambil memandangi bintang di atas langit.

“Gimana kalau kita dansa aja sekarang?”

“Di sini? Tapi, no music.”

“Gue yang nyanyi.”

Aku pun meraih tangan Fedi dan menaruhnya di pinggulku, sedangkan tangan yang satunya lagi kugenggam hingga berdansalah kami di halaman depan rumah. Hanya kami, dua skuter, dan para bunga daisy yang ikut menari dengan ayunan mereka yang rapi dan berirama.

“Dance me to your beauty with a burning violin // dance me through the panic until I’m gathered safely in // lift me like an olive branch and be my homeward dove // dance me to the end of love // dance me to the end of love \~ ♪ ♫”

“Lo tahu, gue nggak peduli kalau lo pernah merebut pacar orang. Atau, membuat drama di antara perempuan-perempuan yang iri sama lo karena pacar mereka malah mengejar lo. Buat gue, Najma that I know now is the most beautiful and coolest woman I’ve ever seen. I like you to the moon and never back, Najma.” Ungkapnya berbisik di telingaku. Aku menatapnya tak mengerti.

“Kenapa never back? Lo mau kita nggak pulang-pulang dari bulan?”

“Why would you ever want to go back? It’s the moon, hello?!”

“Ahaha. Tapi, bumi lebih menyenangkan.”

“Whaaat?” Fedi melotot namun tetap memelukku, “okay. Kita nggak usah debat lagi. Jangan merusak momen yang manis ini.” Ujarnya yang kuyakin ia sedang memberitahu dirinya sendiri. Ia pun mendekapkan kepalaku yang hinggap di dadanya sehingga bisa kudengar detak jantungnya yang cukup kencang terdengar.

“Terima kasih atas semua effort yang lo lakukan, Fedi. Gue sangat menghargainya.”

Fedi pun tersenyum dengan gigi kikirnya dan sekali lagi memelukku dengan erat. Aku tahu betapa ia merasa bersalah padaku, namun aku sangat bersyukur ada ia kini yang begitu menyayangiku, begitu keras berusaha untuk selalu ada untukku.

**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!