Damian dan Aletha adalah saudara sepupu, bahkan mereka bekerja di kantor yang sama dengan Damian sebagai CEO dan Aletha asisten pribadinya.
Aletha menyukai Damian secara terang-terangan, tetapi Damian sama sekali tak pernah peduli akan hal itu.
Damian pernah menikah, tapi pernikahannya hancur dan berakhir dengan perceraian dengan Damian yang masih perjaka.
Meskipun Damian berstatus sebagai duda, tetapi Aletha tetap menyukainya, bahkan secara terang-terangan mengajak Damian menikah.
Entah takdir atau hanya kebetulan, suatu hari Damian memutuskan untuk menikahi Aletha demi menyelamatkannya dari perjodohan yang dilakukan oleh orang tua Aletha.
Apakah hubungan mereka akan berjalan dengan baik?
Apakah Damian akan mencintai Aletha dan melupakan kenangan pahitnya bersama Bella, mantan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insiden Bar
Dentuman musik langsung menyambut mereka begitu pintu bar terbuka. Lampu sorot warna-warni berputar di langit-langit, menciptakan suasana yang riuh dan penuh energi. Bau alkohol dan asap rokok samar tercium, bercampur dengan wangi parfum yang menusuk.
Aletha refleks menggenggam tangan Damian lebih erat. Matanya meneliti sekeliling dengan wajah kikuk. Dari kejauhan, ia melihat beberapa orang tertawa keras sambil menenggak minuman, sekelompok pemuda asyik berjoget di lantai dansa, dan sepasang pria-wanita yang berciuman tanpa malu di sudut ruangan.
"Wah…" Aletha berbisik, menelan ludah gugup. "Ternyata... begini ya suasana bar aslinya. Kayak... di film-film tapi lebih heboh."
Damian menoleh sebentar, lalu tersenyum tipis. "Makanya tadi aku bilang tempat kayak gini bukan buat kamu. Tapi karena kamu maksa ikut, ya sudah. Terlanjur di sini juga, jadi nikmati aja suasananya."
Aletha manyun, tapi tidak melepas genggamannya. "Aku cuma pengen nemenin kamu. Lagian, kan aku bareng kamu. Jadi aman."
Damian terkekeh pendek, lalu menuntun Aletha ke meja kosong agak di pojok yang tidak terlalu dekat dengan lantai dansa. Setelah mereka duduk, seorang pelayan menghampiri dengan buku menu. Damian langsung menutup buku itu tanpa melihat isinya.
"Dua jus jeruk," katanya singkat.
Pelayan itu sempat mengangkat alis, tapi segera mencatat dan pergi. Aletha menoleh dengan senyum geli. "Jus jeruk? Di bar biasanya orang pesan cocktail atau minuman keras, kan? Kenapa kamu gak pesan minuman yang umumnya dipilih orang-orang?"
Damian menatapnya datar. "Aku janji gak akan ninggalin kamu sendirian di rumah, bukan berarti aku janji bakal minum sampai mabuk di sini."
Aletha terkekeh kecil, lalu menopang dagunya dengan tangan. "Aku suka kamu gini, Dam. Tegas, tapi tetep jaga diri."
Tak lama, minuman mereka datang. Aletha menyeruput jus jeruknya dengan sedotan, sementara Damian hanya menatap sekeliling. Dari posisinya, ia bisa melihat orang-orang dengan tingkah masing-masing: ada yang berjoget penuh semangat, ada yang tertawa keras sambil melingkarkan tangan ke bahu temannya, ada juga yang tampak murung menenggak botol sendirian.
Aletha ikut memperhatikan, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. "Lucu juga ya, tiap orang di sini kayak punya cerita masing-masing. Ada yang lagi bahagia, ada juga yang kayaknya lagi patah hati."
Damian meliriknya sebentar, lalu mengangguk pelan. "Bar itu tempat pelarian orang, Al. Ada yang datang buat hiburan, ada juga yang datang buat lari dari masalah. Tergantung cara pandang."
Aletha menoleh, menatap suaminya lama-lama, lalu tersenyum hangat. "Kalau kamu sendiri? Kamu termasuk yang mana?"
Damian menyesap jus jeruknya perlahan sebelum menjawab. "Aku? Termasuk orang yang cuma mau cari suasana rame, biar gak terlalu tenggelam dalam kekecewaan."
Aletha menunduk, merasa hatinya tercekat mendengar jawaban itu. Perlahan ia meraih tangan Damian di atas meja, menggenggamnya lembut. "Aku janji... nanti aku bakal gantiin kecewa kamu sama sesuatu yang lebih manis dari yang kamu harapkan. I promise."
Damian menoleh, menatap istrinya lekat. Sudut bibirnya terangkat tipis, kali ini dengan tulus. "Jangan PHP lagi, ya. Kecewaku bakal lebih dari ini kalau kamu kecewakan lagi."
Aletha terkekeh, tapi matanya tak lepas dari suaminya. "Aku serius. Tunggu aja."
"Aku percaya," ucap Damian sambil mengangkat gelasnya dan bersulang dengan Aletha.
Aletha menggenggam tangan Damian, dan pria itu membalas genggaman tangannya. Keduanya tampak seperti sejoli yang sedang berpacaran, tidak berlebihan dan hanya menikmati suasana dengan tenang.
Suasana di bar makin ramai, tapi bagi mereka berdua, dunia seakan mengecil hanya di meja itu, dengan jus jeruk dan genggaman tangan yang saling menguatkan.
Damian bangkit dari duduknya dan berkata, "Aku ke toilet dulu ya. kamu tunggu di sini, gak akan lama kok."
Aletha mengangguk. "Jangan lama-lama ya, Dam."
"Ya."
Damian melangkah pergi, meninggalkan Aletha untuk ke toilet. Sementara itu, Aletha kembali menyeruput jus jeruknya dan sesekali memainkan sedotan di dalam gelas untuk menghilangkan kejenuhan.
Tiba-tiba, seseorang datang lalu duduk di kursi Damian tadi. Seorang pria bertubuh tinggi besar yang terlihat setengah mabuk tersenyum padanya, lalu tanpa ragu menyentuh dagu Aletha dengan jari telunjuknya.
"Hai, cantik," ucapnya dengan tatapan menggoda. "let's dance together!"
Aletha spontan menepis tangan pria itu dengan kasar. "Jangan sembarangan ya, berani banget sentuh-sentuh, memangnya lu siapa, hah?!"
Pria itu malah tertawa dan pura-pura mengangkat kedua tangannya tanda pasrah. " Hei... santai, Sayang... Aku cuma ngajakin joget, gak berlebihan." Ia kemudian mendekatkan wajahnya pada Aletha dan berbisik, "Kecuali kalau mau yang lebih. Kita pergi sekarang dan nikmati malam bersama. Gimana?"
Mendengar kalimat bernada lecehan, Aletha sontak marah. Seketika, tangan kanannya terangkat dan mendarat dengan keras di pipi pria itu. 'PLAKKK!'
"Brengsek!" umpat Aletha. "Lu kira gue cewek murahan, hah?!"
Laki-laki itu terdiam beberapa detik setelah tamparan Aletha mengenai pipinya. Namun detik berikutnya, amarahnya meledak.
"Kurang ajar!" teriaknya sambil menggebrak meja. Gelas jus jeruk Aletha nyaris jatuh.
Aletha bersiap membalas, tapi belum sempat ia bereaksi...
PLAKKK!
Pria itu men*mp*r keras pipi Aletha.
"Auh!" Aletha tersentak. Kepalanya terl*mpar ke samping karena kerasnya t*mp*ran itu. Panas langsung menjalar di pipinya, mata Aletha memanas, napasnya tercekat.
Seketika dunia Aletha seakan menyempit.
Bunyinya tetap bising, lampu tetap berputar, tapi suara di telinganya mendadak bergema. Rasa takut mulai merayap di tenggorokannya.
Pria itu mencengkeram pergelangan tangannya kasar. "Berani-beraninya lu nampar gue?! Hah?!"
"Lepas… lepasin!!" Aletha berusaha menarik tangannya, tapi genggaman pria itu kuat. Suaranya mulai bergetar, berbeda jauh dari keberaniannya tadi.
Beberapa pengunjung mulai berdiri, tapi tak ada yang berani benar-benar campur tangan.
Aletha mundur sambil menarik tangannya paksa, tetapi pria itu malah semakin mendekat, membungkuk menekan tubuhnya ke arah dinding.
"Ayo, sekarang sok berani lagi coba!" bentaknya dengan napas bau alkohol. "Di sini gak ada yang bakal nolong lu, Cantik!"
Aletha menggigit bibir bawahnya. Panik mulai menguasai.
Tangannya meraih gelas jus jeruk di meja dan, dengan sisa keberaniannya...
BYURRR!
Ia menyiramkan isi gelas itu ke wajah pria itu.
Pria itu mengaum marah. "ANJ*NG LU!!!"
Ia kembali hendak menerjang Aletha, tangan terangkat seakan ingin menampar lagi.
Aletha mundur terus sampai punggungnya menabrak tembok dingin. Pipi kirinya masih berdenyut panas. Napasnya tersengal, matanya mulai berair.
Kakinya gemetar.
Dan kali ini… ia benar-benar takut.
"Tolong…" ia berbisik lirih, meski tak yakin siapa yang bisa mendengarnya.
"Teriak aja sekerasnya! Gak akan ada yang nolongin lu!"
Aletha mulai menangis, menyembunyikan wajahnya dibalik kedua telapak tangan. Ia berharap Damian segera datang dan menyelamatkannya.
___
Selang beberapa menit...
Keributan di sudut bar itu semakin menarik perhatian. Aletha masih menahan pipinya yang perih akibat tamparan dan sesekali menutup wajahnya, matanya berkaca-kaca penuh ketakutan sekaligus shock. Beberapa orang mulai menoleh, tapi tidak ada yang berani ikut campur.
Damian kembali dari toilet. Baru beberapa langkah, matanya langsung menangkap pemandangan yang membuat dadanya seketika membara: Aletha diperlakukan kasar oleh seorang pria asing. Tanpa pikir panjang, rahangnya mengeras, langkahnya berubah menjadi cepat dan penuh amarah.
Ia menghampiri dari belakang, lalu langsung mencengkeram kerah baju pria itu dengan kuat. "Kurang ajar!" desisnya tajam. Dengan satu tarikan keras, Damian menarik pria itu ke belakang hingga hampir terjungkal, lalu tanpa ragu ia membanting tubuh pria itu ke lantai. Suara benturan keras terdengar, membuat orang-orang di sekitar kaget.
"Akhhh..."
Pria itu meringis kesakitan, mencoba bangkit, tapi Damian sudah berdiri di atasnya dengan satu kaki di dadanya, sorot mata tajam penuh murka. Tangannya mengepal, napasnya memburu, jelas menahan emosi yang bisa saja meledak kapan saja.
Aletha, yang masih syok, menatap Damian dengan campuran lega dan cemas. Ia tahu Damian bisa kehilangan kendali kapan pun.
Damian benar-benar terbakar emosi. Tinju-tinjunya mendarat keras di wajah dan tubuh pria itu tanpa henti. Aletha terkejut dan mencoba meraih lengan Damian, namun tubuhnya masih gemetar karena perlakuan kasar tadi.
Beberapa orang yang ada di sekitar segera berlari menghampiri untuk melerai.
"Udah, cukup!" teriak salah satu pria sambil menarik bahunya.
"Lepas! Gue gak terima dia nyakitin istri gue!"
Damian masih berusaha melepaskan diri, wajahnya merah padam, matanya penuh amarah. Ia menunjuk pria itu dengan tatapan membunuh.
"Berani lu sentuh istri gue lagi atau nyakitin dia, nyawa lu habis di tangan gue!" ucap Damian lantang, suaranya bergetar oleh amarah.
Aletha menatap Damian dengan mata berkaca-kaca, belum pernah ia melihat suaminya begitu marah. Tangannya terulur, menyentuh pelan lengan Damian yang masih tegang.
"Damian... udah, tolong... berhenti..." bisiknya lirih.
Damian menoleh sekilas ke arah Aletha, melihat ketakutan di wajah istrinya. Perlahan, meski dadanya masih naik-turun menahan emosi, ia mulai menurunkan tangannya, membiarkan orang-orang menariknya menjauh dari pria tadi.
Damian segera menggandeng tangan Aletha, membawanya keluar dari keramaian. Aletha mengikut langkah kaki suaminya dengan air mata bercucuran. Perlakuan pria tadi sungguh membuatnya terluka.
Begitu mereka tiba di luar, udara malam yang dingin menyambut, tapi hati Aletha masih terasa panas karena kejadian tadi.
Damian berbalik, menatap wajah Aletha yang masih menunduk dengan pipi memerah bekas tamparan. Perlahan, ia mengangkat dagu Aletha dengan jemarinya, lalu menyentuh pipinya yang memerah, mengusapnya lembut seolah ingin meredakan rasa sakit.
"Sakit?" suaranya parau, penuh rasa bersalah.
Aletha mengangguk pelan, air matanya terus menetes tanpa bisa ia tahan. Tubuhnya bergetar karena campuran marah, takut, dan sedih.
Tanpa pikir panjang, Damian langsung menarik Aletha ke dalam dekapannya. Ia memeluk Aletha erat-erat, seakan tak ingin melepaskan.
"Maafin aku… aku telat datang, harusnya aju ada buat jagain kamu," bisiknya penuh penyesalan.
Tangis Aletha semakin pecah dalam pelukan itu, sementara Damian mengusap punggungnya dengan lembut, mencoba menenangkan.
Malam itu, dunia seakan mengecil hanya menyisakan mereka berdua. Damian yang merasa gagal melindungi, dan Aletha yang akhirnya menemukan bahunya untuk bersandar setelah kejadian buruk menimpanya.
*****
akhirnya kesalahpahaman Aletha dan Damian berakhir
semoga setelah ini mereka berdua hidup bahagia walaupun ada kerikil kerikil kecil yang menghadang
biar tau kebenaran ucapan Damian dan Erik
bukan untuk menyebarkan aib tapi terlebih untuk membuat Aletha percaya apalagi saat pernikahanmu yang pertama usai pun kamu masih jejaka
dengarkan Damian dulu
baru ambil keputusan
tapi jangan lama-lama ya mbak🤭🤭🤭
harus ada yang nyentik Damian dulu biar dia sadar
cinta Aletha terlalu berharga untuk diperjuangkan
siapa tahu bang Erik bisa bantu ato paling nggak beban hatimu agak berkurang
baru setelah kamu siap menghadapi Damian, balik lagi dengan kondisi terbaikmu
tenangkan hatimu dulu meskipun akan sulit tapi kamu gadis yang tangguh
kami kuat Aletha