“Satu benua? Jangankan satu benua… seluruh isi bumi akan kuhadapi jika adikku tersakiti.”
Di dunia murim yang terbelah antara ortodoks dan unorthodoks, kekuatan menentukan segalanya—dan belas kasihan hampir tidak pernah ada.
Fang Yi dan Fang Yu hanyalah dua saudara yatim piatu yang lahir tanpa nama besar, tanpa perlindungan, dan tanpa tempat untuk pulang. Dunia sejak awal sudah menolak keberadaan mereka. Bahkan sebelum mereka memahami arti benar dan salah, keduanya telah dicap sebagai benih kejahatan karena bayang-bayang masa lalu keluarga mereka yang misterius.
Bagi dunia murim, mereka adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
Namun bagi Fang Yi, hanya ada satu hal yang penting—melindungi adiknya.
Selama mereka bersama, hinaan, pengkhianatan, dan bahaya hanyalah rintangan yang harus dilewati. Tetapi ketika sekte-sekte besar mulai memburu mereka, rahasia lama keluarga mereka perlahan bangkit dari kegelapan.
Rahasia yang cukup untuk mengguncang seluruh benua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buku Yang Membuat Gaduh Dunia Murim (1)
Langkah pertama menghasilkan bayangan.
Dua langkah di belakangnya melahirkan Yang.
Satu langkah terakhir menciptakan Yin.
Aku adalah satu dari sejuta bayangan pedang.
Biarkan diriku mengalir ke dalam kehampaan yang dalam.
Esensi murni dari Qi tercipta saat diriku mulai menapakkan kaki ke dalam dunia bela diri.
Itu adalah isi dari halaman pertama yang merujuk pada inti atau esensi dari Buku Pendekar Pedang Terkuat—Ming dan Jin.
Fang Yi masih tetap duduk di kursinya, tenggelam dalam pemahaman yang dalam untuk satu halaman buku tersebut. Setelah sebelumnya berhasil menghafal buku tentang Tekanan Pembuluh Darah, kini ia mencoba menggali makna yang lebih dalam lagi, bukan hanya sekadar hafalan, namun ia ingin tubuhnya secara naluriah melakukan teknik itu daripada harus memaksa tubuhnya, selain itu dia juga ingin lebih memahami esensi sejati dari Qi.
Berbeda dengan buku sebelumnya yang bersifat teknis dan menjelaskan jalur meridian secara rinci, halaman yang kini ia baca terasa begitu puitis dan penuh kiasan, serta memilik makna yang mendalam, jika seseorang tidak memahaminya dengan benar maka orang itu tidak akan bisa memahami arti dari buku itu. Buku itu tidak memiliki diagram, tidak ada juga penjelasan langsung. Hanya kalimat-kalimat singkat yang mengandung makna mendalam.
Ia menopang dagunya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya bergerak perlahan, menunjuk tiap paragraf yang tertulis di atas kertas itu.
“Langkah pertama menghasilkan bayangan…” gumamnya pelan.
Matanya menyipit. Ia mencoba menghubungkan kalimat itu dengan teori peredaran qi yang telah ia pelajari sebelumnya.
“Bayangan… apakah itu maksudnya sisa gerakan gerakan yang sudah dilakukan? Atau pantulan niat sebelum pedang benar-benar ditebaskan ke arah lawan?”
Ia bergeser sedikit di kursinya.
“Dua langkah di belakangnya melahirkan Yang… satu langkah terakhir menciptakan Yin…”
Keningnya berkerut.
“Kenapa urutannya seperti ini? Bukankah Yin dan Yang biasanya berdampingan? Mengapa Yang muncul lebih dulu, lalu Yin diciptakan terakhir?”
Fang Yi tidak terburu-buru. Ia membiarkan pikirannya mengalir dengan sendirinya, mencoba merangkai setiap potongan makna seperti menyusun kepingan teka-teki.
“Aku adalah satu dari sejuta bayangan pedang…”
Kalimat itu membuatnya terdiam lebih lama.
Bayangan pedang.
Apakah maksudnya teknik ilusi? Atau kecepatan yang menciptakan efek seolah-olah satu pedang menjadi banyak?
Namun instingnya mengatakan bahwa ini bukan sekedar buku tentang teknik luar tubuh.
Ini tentang kondisi batin dan mental orang yang membacanya.
Ia menarik napasnya perlahan, lalu menutup matanya.
“Biarkan diriku mengalir ke dalam kehampaan yang dalam…”
Kehampaan.
Bukan kekosongan tanpa arti, melainkan keadaan tanpa gangguan. Tanpa ego ataupun emosi yang ada didalam pikiran. Tanpa keraguan apapun yang membendung seseorang.
Tiba-tiba ia teringat pada sensasi saat artefak manik itu memancarkan cahaya putih. Saat itu, pikirannya begitu jernih. Tidak ada kebingungan. Tidak ada rasa takut.
Mungkinkah itu yang dimaksud kehampaan?
“Esensi murni dari Qi tercipta saat dirimu mulai menapakkan kaki ke dalam dunia bela diri…”
Kalimat terakhir itu terasa seperti kunci untuk memahami arti sebenarnya dari halaman pertama.
Esensi murni bukanlah sesuatu yang diciptakan oleh teknik tinggi. Ia muncul sejak langkah pertama—sejak niat untuk memasuki jalan bela diri lahir dalam hati.
Fang Yi mulai membuka matanya perlahan.
Jika langkah pertama menghasilkan bayangan, maka mungkin yang dimaksud adalah niat.
Setiap niat melahirkan bayangan—itu merujuk ke arah 'kemungkinan'.
Dua langkah di belakangnya melahirkan Yang—secara naluriah mengungkapkan 'gerakan'.
Satu langkah terakhir menciptakan Yin—memasuki tahap penyempurnaan.
Dan ketika ketiganya menyatu, lahirlah bayangan pedang yang tak terhitung jumlahnya.
Ia kembali menunjuk paragraf pertama dengan ujung jarinya.
“Ini bukan hanya sekadar teori pedang,” gumamnya. “Ini adalah prinsip dasar dari pergerakan Qi.”
Ia menyadari bahwa buku ini tidak mengajarkan teknik secara langsung. Ia mengajarkan cara berpikir.
Cara merasakan.
Cara memahami keseimbangan antara gerakan dan ketenangan.
Fang Yi menegakkan tubuhnya. Untuk sesaat, ia mencoba membayangkan dirinya melangkah satu kali ke depan.
Didalam benaknya, langkah itu mulai meninggalkan bayangan.
Ia melangkah sekali lagi.
Gerakan itu menjadi lebih jelas, lebih nyata dari sebelumnya—seperti 'Yang' yang tumbuh.
Lalu langkah terakhir…
Ia menghentikan pikirannya tepat sebelum menyelesaikan gerakan imajiner itu.
Di dalam jeda itulah ia merasakan sesuatu.
Sebuah ketenangan.
Sebuah titik hening di antara gerak dan diam.
Dan di titik itu, ia merasakan aliran Qi yang lebih halus dibandingkan sebelumnya.
Fang Yi perlahan membuka matanya, napasnya tetap stabil.
Untuk pertama kalinya, ia tidak sekadar membaca tentang Qi.
Ia mulai mulai memahami setengah makna dari halaman pertama.
Di wilayah Cahaya Fajar, atau yang dikenal sebagai Hunan, Qi dan kelas seorang pendekar diklasifikasikan sebagai dua hal yang berbeda. Semakin tinggi level Qi seseorang, maka semakin dalam pula pemahamannya terhadap Dao.
Apabila pemahaman tersebut dipadukan dengan teknik bela diri tingkat tujuh, maka orang itu dapat disebut sebagai Martial Sovereign—sosok yang telah memahami inti Dao dan melampaui batas teknik tingkat tujuh.
Teknik bela diri tingkat tujuh sendiri sangatlah langka di seluruh wilayah Barat. Hanya beberapa sekte besar yang memilikinya. Bagi kebanyakan pendekar, mencapai tingkat enam saja sudah dianggap luar biasa, apalagi menyentuh puncak ketujuh.
Namun kisah Fang Jin dan Ming berbeda.
Mereka tidak mempelajari teknik tingkat tinggi dari sekte mana pun.
Mereka menciptakannya.
Melalui pertempuran yang berlangsung selama bertahun-tahun, melalui pertarungan hidup dan mati, serta pengalaman yang ditempa oleh luka dan kemenangan, Fang Jin dan Ming tanpa sadar telah mengevolusikan teknik mereka sendiri. Dari proses panjang itu, lahirlah sebuah teknik tingkat tujuh—bukan hasil warisan, melainkan hasil pemahaman dan pengalaman.
Fang Jin, yang sejak awal merasa khawatir bahwa anak cucunya tidak bisa membela diri mereka terjerumus ke dalam dunia murim yang kejam , suatu hari ia menyampaikan gagasannya kepada Ming.
“Ming,” ucap Fang Jin dengan nada serius, “bagaimana jika kita menyatukan seluruh ilmu bela diri kita ke dalam satu buku—hanya satu buku, dan tidak boleh ada duplikat lainnya di wilayah Barat. Aku ingin setidaknya mewariskannya kepada keturunanku, agar mereka bisa melindungi diri mereka sendiri. Apakah kamu mau?”
Ming, yang telah menganggap Fang Jin seperti saudaranya sendiri, tidak ragu sedikit pun.
“Aku setuju,” jawabnya mantap. “Jika kamu memang ingin membuat sebuah teknik, maka cantumkan juga pemahaman kita saat ini. Jika suatu hari buku itu jatuh ke tangan seorang jenius, ia mungkin mampu melampaui tingkat ketujuh.”
Ming terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
“Bahkan bukan hal yang mustahil jika jenius itu mampu menciptakan tatanan baru dalam standar dunia bela diri.”
Mereka pun langsung menyusun satu buku dengan memadukan seluruh teknik yang telah membantu mereka meraih kemenangan selama bertahun-tahun. Setiap gerakan, setiap pemahaman tentang Dao, serta setiap evolusi teknik yang mereka ciptakan dalam pertempuran dirangkum menjadi satu kesatuan.
Dari situlah lahir sebuah kitab yang diberi nama Pendekar Pedang Terkuat—Ming dan Jin.
Namun, kabar tentang penciptaan teknik luar biasa itu tak bisa disembunyikan selamanya. Desas-desus mulai menyebar ke seluruh wilayah Barat bahwa dua Martial Sovereign, Ming dan Fang Jin, telah menciptakan sebuah teknik yang melampaui standar dunia bela diri pada zaman saat itu.
Keserakahan pun mulai membanjiri hati para pendekar di dunia murim.
Satu per satu mereka berdatangan. Ada yang datang dengan dalih bertamu lalu menyergap diam diam, ada pula yang secara terang-terangan menantang mereka berdua dengan bertaruh buku itu. Tujuan mereka semua sama, hanya untuk mengetahui keberadaan buku tersebut dan menguasainya.
Situasi menjadi semakin tidak terkendali.
Fang Jin, yang sejak awal hanya ingin meninggalkan warisan perlindungan bagi keturunannya, mulai merasa bersalah. Ia tak pernah membayangkan bahwa niatnya justru akan memicu gelombang perebutan di dunia murim.
Pada akhirnya, ia mengambil keputusan.
“Kita harus menyegel buku ini Ming” ucapnya tegas kepada Ming. “Kita harus menyembunyikan buku ini jauh di kedalaman gua, di tempat yang tak akan mudah ditemukan oleh siapa pun.”
Ming menyetujui keputusan itu. Demi meredam kekacauan, mereka menghilangkan jejak kitab tersebut dari peredaran dunia bela diri.
Waktu pun berlalu.
Puluhan tahun berubah menjadi ratusan tahun.
Nama Ming dan Fang Jin perlahan memudar, ditelan oleh sejarah dan generasi baru yang lebih sibuk mengejar kejayaan mereka sendiri. Kisah tentang dua Martial Sovereign itu lambat laun berubah menjadi legenda samar yang tak lagi dipercaya sepenuhnya.
Hingga suatu hari, secara tak sengaja, buku itu ditemukan oleh seorang murid dari sebuah sekte kecil yang sedang mencari obat herbal di pegunungan.
Ia menemukannya di dalam gua tua yang lembap dan nyaris runtuh. Namun karena tidak memahami nilai sebenarnya dari kitab tersebut, ia menganggapnya hanya buku tua tanpa arti.
Tanpa banyak pertimbangan, ia membawanya turun gunung dan menjualnya kepada seorang penjual buku.
Sang penjual buku pun tak mengetahui makna sebenarnya dari kitab itu. Ia membelinya dengan harga murah, mengira itu hanyalah kumpulan catatan pendekar zaman lampau yang sudah tak berguna.
Seiring berjalannya waktu, sampulnya mulai usang, tulisannya mulai memudar sedikit demi sedikit, dan nilainya semakin tak dianggap.
Hingga akhirnya, pada generasi Fang Yi, kitab itu nyaris sepenuhnya terlupakan—terselip di bawah rak buku, tersingkirkan oleh karya-karya baru yang lebih populer.
Tak seorang pun menyadari bahwa di balik lembaran usangnya, tersembunyi warisan dua sosok yang pernah berdiri di puncak dunia bela diri.