Entah bagaimana caranya Seorang pujangga mampu mendeskripsikan cinta seketika menjadi indah hanya dengan pembendaharaan diksi yang mereka punya. Padahal cinta tidak semudah mengubah suku kata menjadi barisan rima.
Begitu juga cinta yang dirasakan seorang Adha Abhimana, pelatih renang yang lisensinya tidak bisa digunakan ketika menyelami dalamnya tatapan mata seorang Aruna Nureda. Sales promotion girl yang tak sengaja ditemuinya di kota Batam. Abhi memanggilnya Red, tak hanya bibirnya, nama itu juga semerah lukanya yang basah.
Semacam karma yang dibayar tunai, Abhi jatuh hati kepada Red yang statusnya bukan gadis biasa.Cinta,harapan dan impian Runa masih untuk Rangga yang hampir tak mungkin dimilikinya.Berhasilkah perjuanan Abhi? atau harus rela Runa kembali dengan mimpinya?
Ini kisah tentang pengkhianatan sekaligus kesetiaan, luka sekaligus antiseptiknya.
WARNING : SIAPKAN ASPIRIN KARENA MUNGKIN MENGIKUTI KISAH INI AKAN MENIMBULKAN EFEK PUSING.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nela Kurniaty Idris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMBAK
Runa mencari ponselnya di dalam tas untuk segera menghubungi Reza, dia tidak ada janji dengan siapapun. Yang tadi hanya akal-akalannya menghindari Rangga. Sebelum ponsel itu ditemukan, seseorang menghampirinya dari belakang.
“Oh … miminya gak diajak sekalian?”
“Kamu? Udah kaya demit, tau gak?”
“Cieee …,” ucap Abhi dengan tujuan menggoda atau menertawakan Runa, entah dia lucu atau malah sedang cemburu.
Setelahnya dia tersenyum lega sekali, sejak tadi dia mengamati Runa dan Razqa dari kejauhan, walau tidak bisa melihat sosok yang masih sangat Runa harapkan itu, setidaknya hari ini dia punya celah lagi untuk membantu Runa melupakan masa lalu. Ya, Abhi bahagia karena Runa ternyata tidak dibawa pergi oleh mantan suaminya.
“Pulang bareng aku ya?” tawarnya.
“Terimakasih, Coach. Aku baru mau minta jemput sama Reza kok.”
“Ini Cuma ucapan terimakasih karena macaroni schotel yang super lezat tadi.” pujuk Abhi.
“Sama sekali gak usah, aku ikhlas!”
“Aku gak mau hutang budi, gak mungkin dong aku bayar pake uang? Aku bawa mobil kok, kamu pasti gak enak kan kalau kita motor-motoran berdua, ehe”
“Astaga, kenapa sih bicara sama kamu itu suka jadi serba salah?”
“Oke, tunggu disini. Aku ambil mobil.” Abhi menepuk-nepuk pucuk kepala Runa sebelum berlalu dari sana.
“Pak, tolong liatin gadis ini ya, laporin saya kalau dia kemana-mana.”
Abhi masih sempat memberi instruksi kepada satpam yang sejak tadi memperhatikan mereka.
“Biar saja aja yang ambilkan mobilnya Mas Abhi, ini gadisnya Mas Abhi saja yang jaga sendiri. Terlalu berat amanahnya, Mas, hehe,” ucap pria berpakaian security itu.
“Nah! Ide bagus!” seru Abhi sambil melemparkan kunci mobilnya kepada Satpam Wandy.
“Kamu apa-apaan sih? Lebay banget!” protes Red.
“Ehe, kamu denger kan tadi pak satpam bilang apa? Kamu adalah amanah yang harus dijaga.”
***
Mobil yang Abhi kendarai laju menggilas jalan Ibu Kota, cukup lengang dan santai. Sebelum melanjutkan perjalanan, mereka berhenti di sebuah mushola untuk menunaikan shalat, Runa menunggu Abhi di mobil karna sedang gugur kewajiban.
Setelah shalat, Abhi meminta izin kepada Runa untuk menemui ayahnya. Runa cukup terkejut saat melihat gedung tinggi yang Abhi bilang adalah kantor ayahnya. Ternyata Abhi tidak berasal dari keluarga biasa.
“Kamu yakin nunggu disini?”
Runa mengangguk, mau dianggap apa dia kalau ikut ikut menemui orang tua Abhi diatas sana. Begitu yang Runa pikirkan.
“Jangan kabur loh,ya.”
“Engga!” jawab Runa ketus.
Setelah memastikan semua aman, Abhi meninggalkan Runa menuju ruangan ayahnya. Tak hanya Pak Ardhi, ternyata adik perempuannya juga ada disana. Sejak menikah dan tinggal bersama mertuanya, Abhi tidak pernah menghubungi adik kesayangannya itu lagi.
“Mas Abhi!” wanita yang perutnya sudah mulai membuncit itu berdiri dan berhamburan memeluk kakaknya.
Abhi bergeming sebelum akhirnya membalas pelukan itu. ditatapnya sang ayah yang tampak sembab seperti habis menangis. Ayah mana yang tidak sedih mendengar kehidupan rumah tangga anaknya yang tidak bahagia.
“Mas Abhi beneran udah gak sayang sama aku? Mas Abhi gak pernah tanya kabar aku,” rengek wanita itu.
Abhi melepaskan pelukannya dan duduk di sofa.
“Aku harap kehidupan rumah tangga mu sudah sesuai dengan yang kamu inginkan,” ucap Abhi.
“Dengarkan dulu cerita adikmu, Bhi!”
Wanita itu mengatakan yang sesungguhnya, dia menyesali perbuatannya dan tidak tahan dengan kehidupan rumah tangga yang bagai neraka kecil. Jangankan memiliki hati suaminya, mendekat saja dia tak bisa.
Achy tak butuh harta, kekayaan, warisan atau apapun itu. Bukan itu motifnya mendekati Rangga, dia hanya ingin disayangi, dicintai layaknya seorang wanita. Tapi caranya begitu durjana.
"Sekarang kamu tau kan rasanya? merebut milik orang lain, apalagi sesama perempuan, itu adalah perbuatan paling nista. reksona aja setia setiap saat, dan kalian berkhianat? Lebih busuk dari ketiak, tau gak?"
Achy tak bisa menjawab, lucu sekaligus malu dengan nasihat kakaknya.
"Kalau sekarang kamu ngadu ke papa karena sedih, harusnya kamu ngaca dan bisa ngerasain sesedih apa perempuan yang menanggung semua perbuatan kalian ini, masih hidupkah dia dengan pengkhianatan yang kamu ciptakan? siapa yang bertanggung jawab membahagiakan dia setelah luka yang cukup dalam?"
Jujur di dalam hatinya juga tidak bahagia membayangkan Achy dan masa depannya. Tapi Achy harus belajar dari kesalahan, dia harus sungguh-sungguh bertaubat dan Abhi akan tetap menjalankan peran sebagaimana mestinya.
Dipeluknya Achy sedalam cinta seorang kakak kepada adik perempuannya.
"Kalau Rangga menceraikan mu, kita akan membesarkan anak ini sama-sama di keluarga kita, masih ada Aku, Papa dan Mama. Biarkan Rangga menjemput bahagianya kembali. Mungkin itu yang bisa kamu lakukan untuk menebus kesalahan mu, dengan anak ini mendapatkan identitasnya, itu sudah cukup," tutur Abhi lagi.
Achy mengangguk, kali ini dia tak akan mengecewakan kakaknya.
***
Abhi kembali ke mobilnya, didapatinya Runa sedang tertidur dengan wajah yang ditutup topi. Abhi merasa bersalah, hampir dua jam meninggalkan gadis ini sendirian di bawah.
Ada yang melemah, tapi bukan nilai tukar rupiah. melainkan hati Abhi saat melihat wajah Runa yang tampak lelah.
"Seberat apa sih hari-hari mu?" tanyanya pelan saat membuka topi yang menutupi wajah anggun itu.
"Walau nilai rupiah melemah, nilai mu di mata ku justru menguat," lirih Abhi pelan, "eh lupa, mungkin di mata mu aku belum ada nilainya, ya.hehe."
Runa membuka matanya saat mesin mobil Abhi dinyalakan. Sejenak dia mengerjap menggemaskan.
"Enak bobonya? Maaf banget ya aku malah kelamaan diatas," ucap Abhi.
"Emh, Sorry-Sorry. Malah aku yang ketiduran." Runa menggusal matanya.
***
Sore sabtu yang cerah, setelah kembali melaksanakan shalat ashar, mereka melanjutkan perjalanan. Abhi mengajak Runa berkeliling kota dan Runa pun menyetujuinya setelah meminta izin kepada Abah. Razqa mungkin akan menginap di rumah Omanya.
"Kita ke pantai?"
"Boleh aja, asal pulangnya gak terlalu malam."
Mobil meluncur membawa mereka ke kawasan pantai yang memang cukup jauh dari pusat kota. Banyak cerita yang mengalir begitu saja saat mereka berada diperjalanan.
Banyak sekali kemajuan yang berarti, Runa mulai nyaman berbagi cerita dan antusias mendengar cerita Abhi pula. Sesekali mereka menyanyikan bersama lagu yang diputar dari audiocar, sesekali mereka menertawakan hal-hal konyol dan tidak masuk akal hingga mereka tiba di pantai.
Putihnya pasir mulai tampak keorenan karna terang mulai mengangsur hadirnya senja. Pohon kelapa melambai penuh estetika seolah diutus alam untuk menjadi icon resmi wisata perairan.
Ternyata pengunjung cukup ramai, ada yang beranjak pulang, ada yang pula yang baru datang, sama seperti mereka yang ingin menghabiskan Sabtu malam mengesankan dari bibir pantai.
Cakrawala mulai mengeluarkan semburat jingga saat mereka berdua sudah cukup lama bermain dengan riak-riak air yang sesekali menghantam karang-karang kecil. Terdengar bunyi gemerincing yang nan eksootis.
Abhi shalat magrib di mushola yang ada di kawasan itu baru kemudian mereka duduk di hamparan pasir yang mulai tampak ungu berkilauan. Air pasang dalam, sesekali ombak ketepian menghantam ujung kaki mereka berdua.
"Gulung celananya kalau mau main air," ucap Abhi.
"Gak masalah lah basah sedikit, dihempas ketidakpastian jauh lebih sakit."
"Curhat Mbaknya?"
"Terlanjur sepi, hehe."
"Red," panggil Abhi.
"Hnn?"
"Sejak kita kenalan, aku mulai ragu sama diri aku sendiri. Orang bilang aku ini pelatih renang, tapi lihat senyum kamu aja aku bisa tenggelam," Ungkap Abhi yang memang sulit menjaga keseimbangan setiap kali berada di dekat Runa.
Lemas, lisensi perenang profesional yang dimilikinya seolah tak berarti apa-apa jika harus menyelami dalamnya samudra hati seorang Aruna.
"Aku udah mulai kebal nih sama gombalan kamu. Gak mempan, Abhi. Aku sadar kok, aku cuma Empang buat kamu yang terbiasa berenang di kolam mahal."
Ucapan Mely tadi ternyata masih membekas di kepalanya.
"Aku rela jadi kecebong deh kalau gitu!" seru Abhi.
"Astaga lebih parah dong, kecebong habitatnya di selokan woi, bukan Empang. udah dibilangin, kalau ngegombal riset dulu!" Aruna terkekeh.
"Aku emang gak ngerti klasifikasi hewan, aku cuma lagi klarifikasi perasaan."
Ucap Abhi penuh kepastian, tidak tampak candaan memang diwajahnya.
Nelayan mulai melepas tali tambatan, perahu-perahu kecil mulai bertarung mencari penghidupan. Dari cahaya lampu sorot yang mereka pakai, tampak kilat-kilat jala yang mereka rentang lebar. Pasir yang putih pun sudah tampak lebih hitam, terang sudah sempurna menghilang.
"Besok aku anterin kamu ya?"
"Gak perlu, Abhi. Habiskan aja semua yang ingin kamu ceritakan, hari ini. Aku bisa sendiri, kamu bisa nikmati weekend."
"I don't care about weekend, I just need u until my end," ungkap Abhi penuh kesungguhan dan mengunci tatapan Runa.
Dilihatnya mata Runa berkaca-kaca, Abhi semakin percaya diri dan merasa Runa akan bisa menerima perasaanya.
"Aku ... aku gak bisa bahasa Inggris, kasi subtittle kek," cebik Runa dibuat-buat.
Abhi meremas pasir putih dengan kedua tangannya. Ombak bergerak mundur ke laut seolah menertawakan aksinya.
"Udah malam," ucap Runa.
"Kasi aku kesempatan buat lukis nama kamu pada senja kita berikutnya. Mungkin terlalu cepat kalau aku langsung nawarin pernikahan dan kita bukan lagi anak-anak untuk menggunakan istilah pacaran, tapi aku mau kita saling mengenal dan belajar menerima."
Runa terdiam, debur ombak kian beradu dengan debar jantungnya. Tapi tak ada kata yang bisa dia utarakan.
"Red, aku butuh jawaban kamu sekarang!"
Desau angin meniupkan jawaban di pendengaran Runa, dia tak tau pasti apakah harus memberi Abhi harapan atau membiarkan semua menghilang bagai buih yang dihapus arus ketepian.
***
Entahlah, author pun gak tau jawabannya.
Readers, Jan lupa merahin tombol jempol dibawah sana ya. Biar Author gak hanyut kek buih-buih di pantai itu. hiks.😭😭😭