NovelToon NovelToon
Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:406
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.

Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.

Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.

Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memilih Untuk Tinggal

Di kebun, Mika mulai memeriksa pohon-pohon, memetik buah matang dan memasukkannya ke keranjang. Jovan berdiri tak jauh, tangannya sesekali menyentuh batang pohon, merasakan tekstur kasar yang asing bagi kehidupannya dulu.

“Kau bisa duduk,” kata Mika tanpa menoleh. “Aku tidak lama.”

Jovan mengangguk, duduk di bawah pohon rindang. Dari sana, ia bisa melihat punggung Mika yang bergerak ringan, wajahnya yang sesekali tersenyum kecil saat menemukan buah yang bagus.

Di kota, orang-orang yang berada di sekitarnya selalu punya agenda. Selalu menghitung. Mika tidak. Dan justru itu yang berbahaya.

Ketika mereka kembali ke rumah menjelang siang, Jovan menyadari sesuatu lagi. Beberapa orang desa memperhatikan mereka lebih lama dari biasanya. Tidak terang-terangan. Hanya jeda kecil sebelum menyapa. Tatapan yang cepat berpaling.

Pak Raka sedang membersihkan halaman ketika mereka tiba. Ia menatap Jovan sejenak, lalu Mika.

“Tidak ada yang mengganggu?” tanyanya, nada suaranya netral.

“Tidak,” jawab Mika.

Pak Raka mengangguk. Tapi Jovan melihat sesuatu di mata pria itu kewaspadaan yang sama, meski datang dari tempat yang berbeda.

Siang berlalu dengan tenang. Mika menghitung uang hasil jualan buah di meja dapur. Jovan duduk di seberangnya, memperhatikan caranya menyusun lembaran uang, rapi dan teliti.

“Tidak banyak,” kata Mika. “Tapi cukup.”

“Itu yang penting,” jawab Jovan.

Mika tersenyum kecil. “Kau selalu bicara seperti orang yang pernah kekurangan.”

Jovan tidak langsung menjawab. “Aku pernah hidup di tempat di mana cukup tidak pernah cukup.”

Mika tidak bertanya lebih jauh. Ia menaruh uang itu ke dalam kaleng kecil, lalu menutupnya. Ada kepercayaan di sana kepercayaan yang sederhana, tanpa kunci atau pengamanan.

Sore hari, kepala dusun lewat. Ia berhenti di depan rumah, berbincang singkat dengan Pak Raka. Jovan tidak mendengar seluruh percakapan, hanya potongan kalimat tentang panen dan jalan desa.

Tapi ia mendengar namanya disebut.

“Orang kota itu…”

Nada kepala dusun ramah. Terlalu ramah.

Malam turun perlahan. Mika melipat pakaian di ruang tengah, sesekali melirik ke arah Jovan yang duduk di kursi dekat jendela. Pria itu diam, tapi matanya aktif menghitung bayangan, suara, jarak.

“Kau tidak lelah?” tanya Mika.

“Sedikit,” jawab Jovan.

Ia tidak mengatakan bahwa yang melelahkan bukan tubuhnya, melainkan keharusan untuk berpura-pura biasa.

Malam itu, Jovan sulit tidur. Bukan karena nyeri, bukan pula karena suara desa. Pikirannya bekerja, menyusun ulang potongan-potongan kecil.

Levis tidak datang untuk membunuhnya.

Belum.

Tekanan sosial. Pengamatan dari jauh. Orang-orang desa yang diarahkan untuk bertanya, untuk memperhatikan, untuk membuat ruang ini terasa sempit.

Cara lama. Cara keluarga.

Ia bangkit pelan, berdiri di dekat jendela. Dari sana, ia bisa melihat jalan desa yang gelap. Tidak ada siapa-siapa. Tapi ia tahu ketiadaan juga bisa berarti kehadiran.

Keesokan paginya, keputusan Jovan sudah bulat.

Ia duduk di meja makan, menunggu Mika dan Pak Raka. Ketika mereka berkumpul, ia berbicara pelan.

“Ada orang yang mencariku.”

Mika menegang. Pak Raka menatapnya tajam.

“Orang seperti apa?” tanya Pak Raka.

“Orang yang tidak akan muncul langsung,” jawab Jovan jujur. “Dan tidak akan berhenti hanya karena aku pergi.”

Keheningan menyelimuti meja makan.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Mika akhirnya.

Jovan menatapnya. Lama. Di matanya, Mika melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya ketegasan dingin yang tidak mengancam, tapi tidak bisa ditawar.

“Aku akan tinggal,” kata Jovan. “Dan aku akan berhati-hati.”

Mika membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ada rasa takut di dadanya, tapi juga sesuatu yang lain keinginan untuk percaya.

“Kalau begitu,” kata Pak Raka akhirnya, “kau harus belajar hidup seperti orang desa. Tidak menonjol.”

Jovan mengangguk. “Itu rencanaku.”

Dan di pinggir kecamatan, Levis mendengarkan laporan dengan wajah santai. Tidak ada kegagalan. Tidak ada kejutan.

“Dia tetap tinggal,” kata anak buahnya.

Levis mengangguk. “Bagus.”

“Langkah selanjutnya?”

Levis memandang ke luar jendela. Jalan kecil, pohon-pohon, langit yang sama seperti kemarin. “Belum,” katanya. “Biarkan dia merasa aman.” Ia tersenyum tipis.

“Orang paling mudah diserang… adalah orang yang mulai menganggap sesuatu sebagai rumah.”

"Karena orang yang memilih tinggal… berarti sudah menanam sesuatu. Dan sesuatu yang ditanam selalu punya titik lemah."

Keputusan Jovan untuk tetap tinggal itu tidak diucapkan dengan suara keras.

Tidak diumumkan.

Tidak dirayakan.

Jovan hanya… tetap ada.

Ia bangun pagi bersama suara ayam dan langkah Pak Raka di dapur. Duduk di teras ketika matahari naik perlahan dari balik sawah. Membiarkan hari berjalan tanpa memaksanya pergi.

Dan justru di situlah perubahan dimulai.

Orang-orang desa tidak lagi bertanya kapan ia pulang.

Pertanyaan itu digantikan oleh hal-hal kecil seperti, sudah terbiasa dengan udara sini? Kopi desa tidak terlalu pahit, kan? Lukanya sudah mendingan?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana. Tapi bagi Jovan, itu adalah bentuk penerimaan paling berbahaya.

Ia mulai tahu jam lewatnya motor Pak Darto. Waktu anak-anak sekolah pulang. Jam warung tutup. Jam desa benar-benar sunyi. Semua itu ia catat, bukan dengan buku melainkan dengan naluri lama yang belum mati.

Naluri bertahan hidup.

Mika tidak pernah bertanya lagi tentang orang yang mencarinya. Ia hanya mengubah kebiasaan kecilnya. Pergi ke kebun sedikit lebih siang. Tidak pulang sendirian saat senja. Membiarkan Jovan ikut tanpa berkata apa-apa.

Keputusan Jovan membuat ritme rumah itu bergeser sedikit, tapi terasa.

Jovan menyadari satu hal yang tidak bisa ia pungkiri bahwa sejak memutuskan tinggal, ia mulai berhenti berpikir tentang dirinya sendiri. Pikirannya beralih ke rute Mika ke kebun. Ke waktu Pak Raka sendirian di rumah. Ke siapa saja yang berhenti terlalu lama di depan pagar.

Ia tidak sedang bersembunyi lagi. Ia sedang menjaga.

Mika tidak langsung merasa lega ketika Jovan mengatakan ia akan tinggal.

Yang datang justru rasa asing seperti ketika hujan turun tanpa awan gelap, pelan tapi pasti. Ia melanjutkan kegiatannya seperti biasa, menyapu halaman, menyiram tanaman, menyiapkan makan. Tapi ada sesuatu yang berubah di dadanya, sesuatu yang belum ia beri nama.

Tinggal berarti aman, seharusnya begitu. Tapi bagi Mika, tinggal juga berarti ikut bertanggung jawab.

Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang Jovan, cara pria itu berdiri sedikit menyamping saat mendengar suara keras, caranya menatap jalan lebih lama dari yang perlu, dan kebiasaannya menghitung orang yang lewat tanpa terlihat sedang menghitung.

Ia tidak pernah melihat orang seperti itu di desanya.

Dan ia tahu, orang seperti itu tidak datang tanpa alasan.

Malam hari, ketika Jovan duduk di ruang tengah dan Mika melipat pakaian, ia sempat berhenti sejenak. Kaos yang ia lipat adalah milik Jovan yang ia beli dengan menebak ukuran, dengan perasaan aneh di dadanya saat membayar.

Sekarang kaos itu ada di tangannya. Nyata. Terpakai.

“Apa kau menyesal?” tanya Mika tiba-tiba.

Jovan menoleh. “Tentang apa?”

“Tinggal,” jawabnya jujur.

Jovan tidak langsung menjawab. “Tidak,” katanya akhirnya. “Aku hanya… harus menyesuaikan.”

Jawaban itu tidak sepenuhnya menenangkan. Tapi juga tidak menakutkan.

Mika mengangguk. Ia sadar, sejak keputusan itu diambil, rumah mereka bukan lagi tempat singgah. Ia menjadi ruang di mana sesuatu bisa tumbuh atau rusak.

Yang membuat Mika paling gelisah bukan ancaman yang tidak ia pahami, melainkan kenyataan bahwa ia tidak ingin Jovan pergi.

Ia tidak tahu kapan perasaan itu muncul. Mungkin sejak sup sederhana itu dihabiskan sampai tetes terakhir. Mungkin sejak ia melihat Jovan membiarkan dirinya dirawat, tanpa menolak.

Ia merasa bodoh memikirkan hal-hal seperti itu. Tapi perasaan tidak pernah peduli pada waktu yang tepat.

Ketika ia berbaring malam itu, Mika memandang langit-langit kamar, mendengarkan suara desa yang semakin jarang. Untuk pertama kalinya, ia berdoa bukan agar hidupnya tetap sama melainkan agar ia cukup kuat menghadapi perubahan.

Karena jika Jovan tinggal…

maka sesuatu akan datang.

Dan entah kenapa, Mika tahu,

ia tidak akan mundur.

1
Mulaini
Semoga aja Leon masih hidup dan mungkin yang terbakar supirnya.
Mulaini
Siapa laki² yang turun dari mobil hitam apakah salah satu musuh Jovan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!