Dua puluh kavaleri elit musuh terus bergerak mendekati lokasi persembunyian Aslan tanpa menyadari maut yang menanti. Pangeran itu telah menyiapkan jebakan mematikan melalui perhitungan sistem yang menjamin kemenangan mutlak bagi dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HUUAALAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Langkah kaki Aslan menggema pelan di dalam lorong bawah tanah yang sempit. Ia berjalan paling belakang untuk memastikan tidak ada jejak yang tertinggal bagi pengejar manapun. Di depannya, sepuluh loyalis berjalan dengan napas yang masih tersengal akibat ketegangan yang baru saja mereka lalui.
"Bayangan Merah, berapa lama waktu yang kita butuhkan sampai ke tepi sungai?" tanya Aslan dengan suara rendah.
"Sekitar lima belas menit jika kita tetap pada kecepatan ini, Tuan," jawab Bayangan Merah tanpa menoleh.
Tiba-tiba, sebuah getaran terasa di dinding gorong-gorong yang mereka lalui. Aslan segera berhenti dan meletakkan telapak tangannya pada permukaan batu yang dingin.
[Sistem: Deteksi getaran frekuensi tinggi di permukaan. Unit kavaleri Harimau Putih sedang bergerak cepat menuju distrik industri.]
"Berhenti," perintah Aslan dengan tegas.
Seluruh rombongan langsung terdiam di tempat mereka berdiri. Lord Hektor menatap Aslan dengan wajah yang penuh kecemasan.
"Apakah mereka sudah menyadari pelarian kita, Pangeran?" tanya Lord Hektor dengan suara berbisik.
"Paman Kael tidak sebodoh itu untuk membiarkan penjara kosong tanpa pemeriksaan berkala," jawab Aslan sambil menatap ke langit-langit lorong.
Aslan kemudian melirik ke arah Kiko yang berada di barisan tengah.
"Kiko, apakah kau sudah memasang pengalih perhatian di pabrik tekstil seperti yang kupinta?" tanya Aslan.
"Sudah, Tuan. Saya menyabotase katup uap utama dan meninggalkan beberapa jubah penjara di sana," lapor Kiko.
[Sistem: Sabotase berhasil. Fokus musuh terpecah ke sektor pabrik tekstil. Peluang pelarian melalui sungai meningkat menjadi sembilan puluh persen.]
"Bagus. Bayangan Merah, percepat langkah. Kita harus berada di perahu sebelum fajar menyingsing," perintah Aslan kembali.
Mereka pun sampai di ujung lorong yang terbuka langsung ke arah sungai luar kota. Sebuah perahu kayu besar dengan tumpukan jerami sudah tertambat di sana. Jax sudah menunggu di atas perahu sambil memegang busur panahnya dengan waspada.
"Semuanya sudah siap, Tuan Aslan," ucap Jax sambil membantu Lord Hektor naik ke atas perahu.
Perahu kayu itu meluncur membelah kabut sungai yang mulai menebal. Aslan berdiri di bagian belakang sambil terus memantau keadaan sekitar melalui penglihatan sistemnya. Lord Hektor yang duduk di tengah perahu menatap Aslan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aslan, kau benar-benar telah berubah," gumam Lord Hektor. "Cara bicaramu dan ketenanganmu saat menghadapi sistem keamanan itu sangat berbeda dari sebelumnya."
Aslan hanya menatap ke arah air sungai yang mengalir tenang dalam kegelapan.
"Dunia ini sudah berubah sejak Ayah tiada, Lord Hektor. Saya hanya beradaptasi agar bisa mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita," balas Aslan dengan dingin.
Saat perahu merapat ke sebuah dermaga tua di tepi hutan, seorang pria berbadan besar dengan lengan mekanis yang mengkilap sudah menunggu. Di sampingnya terdapat beberapa gerobak logistik yang tertutup kain terpal tebal.
"Kalian terlambat lima menit dari jadwal," gerutu Si Tangan Besi saat melihat rombongan itu turun.
"Kami harus menghindari dua regu patroli Harimau Putih di distrik industri," jawab Aslan sambil melompat ke dermaga.
Si Tangan Besi segera membuka terpal gerobaknya dan memperlihatkan barisan artileri mekanis ringan yang telah ia modifikasi. Ia kemudian meraih sebuah palu godam raksasa dengan hulu yang bergetar karena tenaga uap.
"Pasukan kavaleri Kael pasti akan menyisir jalur sungai begitu mereka menyadari penjara telah kosong," ucap Si Tangan Besi sambil menyandarkan palu besarnya di bahu.
[Sistem: Deteksi pergerakan besar dari arah Tenggara. Estimasi waktu kedatangan kavaleri musuh adalah sepuluh menit.]
Aslan segera mengambil kendali situasi. Ia menatap para loyalis yang tampak kelelahan.
"Naiklah ke gerobak logistik sekarang juga," perintah Aslan kepada para loyalis tanpa bantahan. "Si Tangan Besi, siapkan ranjau mekanis di sepanjang jalur setapak ini."
"Dengan senang hati, Tuan," jawab Si Tangan Besi sambil mulai memasang perangkat peledak di tanah.
Jax segera mengambil posisi di atas bukit kecil. Ia menyampirkan busur panjangnya dan memeriksa ketajaman pedang pendek yang terikat di pinggangnya.
"Bayangan Merah, kau pimpin rombongan gerobak ini menuju perbatasan wilayah Utara. Aku akan tinggal di sini bersama Si Tangan Besi untuk memastikan tidak ada pengejar yang bisa lewat," lanjut Aslan.
"Lalu bagaimana dengan Anda, Tuan?" tanya Bayangan Merah dengan raut wajah khawatir.
"Aku akan memastikan mereka tidak akan pernah sampai ke gerobak kalian," balas Aslan sambil mencabut pedang panjang dan pisau belati miliknya.
[Sistem: Sinkronisasi saraf stabil pada tingkat tiga puluh persen. Fitur 'Overload Fisik Terbatas' siap digunakan.]
Suara derap kaki kuda mulai terdengar mendekat. Cahaya obor dari pasukan kavaleri Harimau Putih mulai terlihat membelah kegelapan hutan.
"Mereka datang," ucap Jax sambil menarik tali busurnya dengan kuat.
Satu anak panah melesat dan menjatuhkan pengendara kuda terdepan. Si Tangan Besi langsung mengayunkan palu godamnya ke tanah, memicu ledakan ranjau yang membuat formasi kavaleri musuh berantakan.
Aslan bergerak dengan kecepatan yang tidak normal. Ia menepis tebasan tombak musuh dengan pedangnya dan membalas dengan tusukan pisau belati yang mematikan ke celah zirah lawan.
"Serang bagian sendi kuda mereka!" teriak Aslan memberikan komando taktikal.
Si Tangan Besi menghantamkan palunya ke kaki kuda yang mencoba menerjangnya. Dentuman keras terdengar saat palu bertenaga uap itu menghancurkan tulang kaki hewan besar itu hingga tersungkur seketika.
Jax melompat turun dari bukit sambil menghunus pedang pendeknya. Ia bergerak lincah di antara kekacauan dan menebas leher prajurit yang masih berusaha bangkit dari tanah.
"Tinggal tiga orang lagi!" teriak Jax sambil melemparkan pedang pendeknya ke arah pemanah musuh yang sedang membidik.
Aslan melesat maju menembus sisa-sisa debu ledakan. Pedang panjangnya beradu dengan pedang komandan kavaleri musuh hingga memercikkan bunga api. Dengan gerakan cepat, Aslan memutar tubuhnya dan menancapkan pisau belati ke jantung sang komandan.
Si Tangan Besi mengayunkan palu godamnya secara horizontal untuk menghantam dua prajurit terakhir hingga terlempar ke semak-semak. Keheningan tiba-tiba kembali menyelimuti dermaga tua tersebut.
[Sistem: Ancaman kavaleri eliminasi total. Status area: Aman.]
"Area sudah bersih, Tuan," ucap Si Tangan Besi sambil menyeka noda oli dan darah dari lengan mekanisnya.
Jax mengambil kembali pedang pendeknya dari tubuh musuh dan membersihkannya pada jubah prajurit yang tewas.
"Kerja bagus," balas Aslan sambil menyarungkan kembali pedang dan pisaunya. "Ayo segera menyusul rombongan gerobak sebelum hari terang."