NovelToon NovelToon
The Devil’S Kesepakatan Berdarah

The Devil’S Kesepakatan Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Wanita Karir / Nikah Kontrak / Karir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: salsabilah *2009

Profil Karakter Utama

Arkaen "Arka" Malik (30 th): CEO muda dari Malik Group yang terlihat bersih dan filantropis. Namun, di balik itu, ia adalah "Don" dari sindikat The Black King. Dia dingin, penuh perhitungan, dan tidak percaya pada cinta karena trauma masa lalu.

Alea Senja (24 th): Seorang jurnalis investigasi amatir yang cerdas namun sedang kesulitan ekonomi. Dia memiliki sifat yang berani, sedikit lancang, dan tidak mudah terintimidasi oleh kekuasaan Arka.



Alea tidak sengaja memotret transaksi ilegal di pelabuhan yang melibatkan Arka. Alih-alih membunuhnya, Arka menyadari bahwa Alea memiliki kemiripan wajah dengan wanita dari masa lalunya yang memegang kunci brankas rahasia keluarga Malik. Arka memaksa Alea menandatangani kontrak "Pernikahan Bisnis" selama satu tahun demi melindunginya dari kejaran faksi mafia musuh sekaligus menjadikannya alat untuk memancing pengkhianat di perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang Sang Ibu

Rumah kaca itu terasa seperti sarkofagus kaca yang indah namun mematikan. Cahaya bulan menembus atap transparan, menciptakan pola bayangan tanaman pakis yang menyerupai jemari iblis di lantai marmer. Bau bunga lili yang terlalu harum—bau yang biasanya diasosiasikan dengan kematian—membuat Alea merasa mual.

Di tengah ruangan, Widya Senja—atau The Mother—menyesap tehnya seolah-olah ia sedang berada di beranda sore yang tenang, bukan di ujung pistol menantunya sendiri.

"Turunkan senjatamu, Arkaen," suara Widya lembut, namun memiliki daya tekan yang sanggup meruntuhkan nyali pria biasa. "Kau tidak akan menembak wanita yang memberikan izin bagi Don Malik untuk mengadopsimu."

Alea tertegun. Pistol di tangannya sedikit goyah. "Apa maksudmu? Mengadopsi?"

Widya beralih menatap Alea, tatapannya dingin namun penuh kemenangan. "Kau pikir Arkaen adalah pewaris darah Malik? Tidak, Alea. Arkaen adalah putra dari seorang pelayan di rumah ini yang tewas karena kecelakaan 'beruntung'. Aku yang menyarankan Don Malik untuk mengambilnya, membentuknya menjadi senjata yang kita butuhkan. Dia adalah proyek pertamaku sebelum aku membangun Obsidian Circle."

Arka tidak bergeming. Rahangnya mengeras, namun matanya tetap terkunci pada dahi Widya. "Aku sudah tahu tentang masa laluku, Widya. Aku bukan senjata milikmu. Aku adalah orang yang menghancurkan semua yang kau bangun."

Widya tertawa pelan, suara tawanya terdengar seperti gesekan sutra yang mahal. "Menghancurkan? Kau hanya membersihkan dahan yang busuk. Surya, Helena, Caleb... mereka semua adalah pion yang bisa diganti. Aku membiarkanmu membunuh mereka agar tatanan baru bisa terbentuk di bawah kendaliku. Dan kau, Arka... kau tetaplah putraku dalam kegelapan."

"Cukup!" Alea melangkah maju, suaranya bergetar karena kemarahan yang meluap. "Kau membunuh Ayah! Kau membiarkan hidupku hancur dan menyebutnya sebagai tatanan baru? Kau bukan Ibu. Kau adalah monster yang bersembunyi di balik wajahnya."

Widya berdiri perlahan. Gaun hitamnya menyapu lantai dengan suara desis yang halus. Ia mendekati Alea, mengabaikan pistol Arka yang kini mengikuti setiap gerakannya.

"Ayahmu adalah pria yang lemah, Alea. Dia mencintai kebenaran lebih dari dia mencintaimu. Aku memberinya pilihan untuk hidup mewah, untuk melindungimu dalam kemegahan. Tapi dia memilih untuk menulis artikel yang akan menghancurkan kerajaan yang kubangun untukmu. Aku tidak membunuhnya... integritasnyalah yang membunuhnya."

PLAK!

Alea menampar wajah ibunya dengan keras. Napas Alea tersengal, air matanya jatuh tanpa permudah. "Jangan berani-berani kau menyebut namanya."

Widya memegang pipinya yang memerah. Bukannya marah, ia justru tersenyum puas. "Bagus. Api itu... itu adalah darahku yang mengalir di nadimu. Kau jauh lebih mirip denganku daripada yang kau sadari."

Tiba-tiba, lampu merah kecil berkedip di pilar-pilar rumah kaca. Arka menyadari sesuatu yang salah. "Alea, mundur!"

Dari balik kerimbunan tanaman tropis, muncul enam orang pengawal berseragam taktis putih—pasukan elit pribadi The Mother. Mereka tidak menggunakan senjata api, melainkan busur silang dengan anak panah berujung saraf kimia.

"Kalian tidak akan keluar dari sini sebagai pemenang," ucap Widya sembari melangkah mundur menuju pintu rahasia di balik air mancur kecil. "Dunia sudah hancur oleh data yang kalian sebar. Sekarang, biarkan dunia menyaksikan kematian sang pahlawan dan kekasihnya di tangan 'teroris' yang belum teridentifikasi."

"Tembak!" perintah Widya.

Baku hantam pecah di dalam ruang kaca yang sempit. Arka menarik Alea ke belakang meja marmer saat anak panah menghantam kaca di atas mereka, mengirimkan hujan kristal yang tajam.

Arka melepaskan tembakan balasan, mengenai dua pengawal, namun mereka seolah tidak merasakan sakit—tubuh mereka telah dimodifikasi secara kimia oleh riset Caleb.

"Alea, lari ke pintu belakang! Aku akan menahan mereka!" teriak Arka sembari melemparkan granat asap.

"Tidak! Dia lari ke sana!" Alea menunjuk ke arah Widya yang mulai menghilang di balik pintu rahasia.

Alea tidak peduli pada bahaya lagi. Ia menerjang menembus kabut asap, menghindari tebasan pisau salah satu pengawal dengan gerakan gulingan yang ia pelajari dari Rio. Ia berhasil mencapai pintu rahasia tepat sebelum pintu itu tertutup sepenuhnya.

Ia berada di sebuah lorong bawah tanah yang diterangi lampu neon pucat. Di ujung lorong, Widya sedang berjalan dengan tenang, seolah ia hanya sedang berjalan-jalan di taman.

"Ibu!" teriak Alea.

Widya berhenti dan berbalik. Ia tidak lagi tersenyum. Wajahnya kini menampilkan kebencian yang murni. "Kau adalah kegagalanku yang terbesar, Alea. Aku seharusnya membiarkan Surya menghabisimu sejak awal."

Widya mengeluarkan sebuah belati kecil dari balik lipatan gaunnya—belati yang sama yang ia gunakan untuk memotong bunga-bunga di rumah kaca tadi. "Kau ingin tahu kebenarannya? Aku yang menarik pelatuk itu ke arah ayahmu. Aku ingin dia tahu bahwa kematiannya datang dari tangan orang yang paling dia percayai. Dan sekarang, aku akan melakukan hal yang sama padamu."

Widya menerjang dengan kecepatan yang mengejutkan untuk wanita seusianya. Alea menangkis serangan itu dengan lengannya, merasakan perih saat pisau itu menggores kulitnya. Mereka bergulat di lantai beton yang dingin. Alea menyadari bahwa ibunya adalah seorang petarung yang terlatih.

"Kau... bukan... ibuku!" Alea menghantamkan kepalanya ke dahi Widya, lalu menendang perutnya kuat-kali.

Widya terkapar, namun tangannya masih menggenggam belati. Saat ia hendak bangun untuk menyerang kembali, sebuah bayangan muncul di belakangnya.

Arka.

Wajah Arka penuh dengan luka gores dan darah, namun matanya memancarkan ketenangan yang mematikan. Ia mengarahkan pistolnya tepat ke punggung Widya.

"Lepaskan belati itu, Widya," suara Arka terdengar seperti vonis mati.

Widya tertawa getir, ia menoleh sedikit ke arah Arka. "Kau tidak akan menembakku, Arka. Kau mencintai Alea, dan kau tahu jika kau membunuhku, kau akan menghancurkan jiwanya selamanya. Dia akan selalu melihat wajah pembunuh ibunya setiap kali dia menatapmu."

Arka terdiam sejenak. Kata-kata Widya ada benarnya. Itu adalah racun psikologis yang paling mematikan.

Namun, Alea bangkit berdiri. Ia mengambil pistolnya yang sempat terlempar ke lantai. Dengan tangan gemetar namun pasti, ia mengarahkannya pada wanita yang melahirkannya.

"Arka tidak akan melakukannya," ucap Alea dengan nada dingin. "Aku yang akan melakukannya."

Widya menatap putrinya, dan untuk pertama kalinya, ada kilatan ketakutan di matanya. "Alea... kau tidak akan sanggup hidup dengan beban ini."

"Aku sudah hidup dengan beban kematian Ayah selama sepuluh tahun," balas Alea. "Membunuh monster yang membunuhnya bukan beban... itu adalah pembebasan."

DOR!

Suara tembakan menggema di lorong sempit itu. Widya terjerembab, bukan karena peluru Alea menembus jantungnya, melainkan karena Alea menembak pilar penyangga langit-langit di atas Widya.

Reruntuhan beton jatuh menimpa kaki Widya, menguncinya di lantai. Alea tidak ingin membunuhnya dengan mudah. Ia ingin ibunya menghadapi keadilan yang selama ini ia hindari.

"Aku tidak akan membunuhmu," Alea melangkah mendekat, menatap ibunya yang merintih kesakitan. "Itu terlalu mudah bagimu. Kau akan hidup, dan kau akan melihat dari balik jeruji besi bagaimana Arka dan aku menghancurkan setiap sisa dari Obsidian Circle. Kau akan melihat namamu dihina oleh sejarah."

Alea berbalik menjauh, air mata mengalir namun kepalanya tegak. Arka segera menghampirinya, memeluknya erat.

"Ayo pergi," bisik Arka.

Mereka keluar dari lorong bawah tanah tepat saat pasukan khusus yang loyal kepada negara—yang dipanggil oleh Rio—mulai mengepung area perkebunan. Widya Senja ditemukan di sana, terjepit di bawah reruntuhan, sebagai satu-satunya anggota Lingkaran yang tersisa untuk diadili.

Saat fajar benar-benar menyingsing di atas Bogor, Arka dan Alea berdiri di tepi danau kecil di dalam perkebunan itu. Kabut mulai terangkat, memperlihatkan dunia yang baru, dunia yang hancur namun memiliki kesempatan untuk dibangun kembali.

"Kita melakukannya," ucap Alea lirih.

Arka merangkul bahunya. "Belum sepenuhnya. Dunia masih kacau karena data yang kita sebar. Tapi setidaknya, hantunya sudah hilang."

Alea menyandarkan kepalanya di bahu Arka. "Tentang apa yang dia katakan... tentang kau bukan pewaris Malik."

Arka menatap pantulan dirinya di air danau. "Itu tidak penting lagi. Nama Malik hanyalah sebuah topeng. Aku lebih suka menjadi pria yang menyelamatkanmu daripada menjadi raja di atas takhta berdarah."

Alea tersenyum untuk pertama kalinya setelah sekian lama. "Kalau begitu, mari kita pergi ke tempat di mana tidak ada nama Malik, tidak ada Obsidian, dan tidak ada rahasia."

"Ke mana?"

"Ke mana saja, asalkan ada kau," jawab Alea.

Mereka berjalan menuju mobil yang menunggu di kejauhan, meninggalkan reruntuhan rumah kaca dan kenangan pahit yang kini telah terkubur. Perang besar telah usai, namun perjalanan mereka untuk menemukan diri mereka yang sebenarnya baru saja dimulai.

1
Huzaifa Ode
👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!