NovelToon NovelToon
White Dream With You?

White Dream With You?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri / Horror Thriller-Horror / Horor / Spiritual / Romantis
Popularitas:640
Nilai: 5
Nama Author: Cokocha

Judul: White Dream With You

Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Dibalik tentang Vema

Minggu pagi di Surabaya menyuguhkan langit biru yang jernih, sebuah anomali cuaca yang cukup menyegarkan di tengah panasnya hawa kota. Aku berdiri di depan cermin, merapikan kerah kemeja berbahan katun berwarna abu-abu muda yang kupadukan dengan celana kain berwarna gelap. Tidak ada atribut sekolah, tidak ada buku akuntansi yang biasanya menjadi perisai prioritasku. Hari ini, aku datang sebagai individu yang ingin mengonfirmasi sebuah hubungan sosial yang lebih nyata.

Aku sempat berhenti sejenak di depan pintu keluar rumah. Tanganku secara naluriah mencari sesuatu untuk dibawa—sebuah kebiasaan yang ditanamkan orang tuaku bahwa bertamu tanpa buah tangan adalah sebuah bentuk pengabaian etika. Namun, pesan tegas Vema di layar ponsel semalam kembali terngiang. "Jangan bawakan apa pun.". Melanggar permintaan Vema berarti merusak kepercayaan yang baru saja ia bangun. Dengan berat hati namun penuh rasa hormat, aku melangkah keluar dengan tangan hampa, hanya membawa keberanian dan niat yang tulus.

Aku berangkat agak sore. Perjalanan menuju rumah Vema memakan waktu sekitar dua puluh menit. Begitu sampai di depan pagar besi yang catnya mulai mengelupas di beberapa bagian, aku merasakan atmosfer yang sangat berbeda dibandingkan kunjungan daruratku beberapa waktu lalu. Tidak ada lagi tekanan udara yang berat atau aura gelap yang mencekam. Rumah itu kini tampak seperti rumah pada umumnya; ada beberapa pot tanaman lidah mertua yang tertata rapi di teras, dan suara kicauan burung dalam sangkar di rumah tetangga menambah kesan domestik yang menenangkan.

"Sore, Sarendra. Kamu tepat waktu," suara lembut itu memecah lamunanku.

Vema muncul dari balik pintu. Ia mengenakan kaos lengan panjang berwarna biru tua dan celana jeans hitam. Rambut wolfcut-nya tampak sedikit lebih rapi dari biasanya. Ia memperhatikanku dari ujung kepala hingga ujung kaki, memastikan bahwa aku benar-benar mematuhi syaratnya.

"Aku melihat tanganmu kosong. Terima kasih sudah mendengarkanku," ucapnya dengan senyum tipis yang tulus.

"Sama-sama, Vem. Ehehe" jawabku, mencoba mencairkan kekakuan di dadaku.

Ia membimbingku masuk ke ruang tamu. Di sana, Bapak sudah duduk menunggu. Beliau mengenakan kemeja batik pendek dan sarung yang tersampir rapi. Guratan lelah di wajahnya kini berganti dengan ketenangan yang lebih stabil. Ia menyambutku dengan jabat tangan yang erat—sebuah gestur penerimaan yang sangat berarti bagi laki-laki.

"Mari duduk, Sarendra. Bapak senang kamu punya waktu untuk mampir," ujar Bapak dengan suara baritonnya yang tenang.

Kami mulai berbincang. Awalnya, percakapan kami berkisar pada hal-hal umum mengenai sekolah. Bapak banyak bertanya tentang bagaimana jurusan Akuntansi membantuku melihat dunia. Aku menjelaskan tentang pentingnya transparansi dan keseimbangan nilai, sesuatu yang ternyata beresonansi dengan prinsip hidup beliau sebagai orang tua.

"Vema sering bercerita tentangmu," Bapak memulai topik yang lebih personal, membuat Vema yang sedang meletakkan dua gelas teh di meja tampak sedikit salah tingkah. "Dia bilang, kamu adalah orang yang membantunya melihat bahwa tidak semua masalah harus diselesaikan sendirian. Terutama setelah kejadian itu... kami sekeluarga berutang banyak padamu."

"Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang teman, Pak," balasku dengan nada formal. "Vema adalah rekan yang sangat tangguh di sekolah. Kecerdasannya di jurusan TKJ sering kali membuat saya kagum. Saya rasa, keberadaannya di sekolah memberikan pengaruh positif bagi saya juga."

Vema duduk di kursi tunggal di sampingku, ia lebih banyak menyimak, namun matanya terus berpindah-pindah antara aku dan Bapaknya, seolah sedang melakukan sinkronisasi terhadap dua dunia yang berbeda.

Tak lama kemudian, Ibu keluar dari arah dapur. Beliau tampak jauh lebih sehat dan ceria. Ada binar kehidupan di matanya yang dulu sempat redup. "Eh, ada Sarendra. Sebentar ya, Ibu sedang menyiapkan sesuatu di belakang. Jangan pulang dulu sebelum mencicipi masakan Ibu."

Aku menoleh ke arah Vema, teringat janji "tidak membawa apa-apa" tadi. Vema hanya mengangguk kecil, memberikan izin implisit bagiku untuk menerima keramahan keluarganya.

Sore itu, percakapan mengalir tanpa hambatan. Kami membahas tentang rencana Kunjungan Industri ke Blitar. Bapak memberikan beberapa nasehat tentang keselamatan di jalan, sementara Vema mulai berdebat kecil denganku mengenai efisiensi waktu perjalanan yang sudah kucatat di buku saku. Melihat interaksi ini, Bapak berkali-kali tertawa kecil. Mungkin sudah lama beliau tidak melihat putrinya bisa berargumen dengan begitu lepas dengan lawan jenis.

Matahari mulai condong ke barat, membiaskan cahaya jingga melalui celah ventilasi udara. Aroma masakan yang gurih—perpaduan antara bumbu rempah dan aroma nasi hangat—mulai memenuhi ruangan.

"Ayo, semuanya sudah siap," panggil Ibu dari ruang makan yang menyatu dengan dapur kecil mereka.

Kami berempat berpindah posisi. Meja makan kayu itu memang tidak besar, namun terasa sangat penuh dan hangat. Ada hidangan sederhana namun tampak sangat menggugah selera: ayam goreng lengkuas, sambal terasi, dan sayur asem yang masih mengepulkan uap panas.

"Silakan, Sarendra. Dianggap rumah sendiri saja," ucap Ibu sambil menyendok nasi ke piringku.

Aku menatap piring di depanku, lalu menatap Vema yang duduk tepat di hadapanku. Di bawah lampu ruang makan yang kekuningan, wajahnya tampak sangat damai. Tidak ada lagi bayangan 'Tas Induk', tidak ada lagi ketakutan akan penilaian orang lain di kelas TKJ. Yang ada hanyalah seorang gadis remaja yang sedang menikmati kebersamaan dengan keluarganya.

Aku menyuapkan sendok pertama. Rasanya jauh lebih nikmat daripada makanan mahal mana pun yang pernah kumakan. Ada rasa syukur yang sulit didefinisikan secara matematis di sini.

"Bagaimana, Sarendra? Masakan Ibu enak?" tanya Bapak sambil tersenyum.

"Sangat enak, Pak. Terima kasih banyak atas jamuannya," jawabku jujur.

Di sela-sela makan, kami terus bercerita. Ibu sesekali menggoda Vema tentang betapa jarangnya dia membawa teman laki-laki ke rumah, yang langsung dijawab Vema dengan pembelaan tentang kesibukan praktikum teknisnya. Aku hanya bisa tersenyum, menikmati setiap detik dari dinamika keluarga ini.

Makan bersama di sore hari ini terasa seperti sebuah ritual penyembuhan. Bagiku, ini bukan sekadar kunjungan biasa. Ini adalah sebuah bentuk validasi bahwa hubungan kami telah melampaui batas-batas formalitas sekolah. Kami bukan lagi sekadar Sarendra si Auditor dan Vema si Teknisi; kami adalah dua jiwa yang sedang belajar untuk saling menguatkan di tengah dunia yang tidak selalu ramah.

Saat piring-piring mulai kosong dan suara adzan Maghrib mulai terdengar sayup-sayup dari kejauhan, aku menyadari bahwa kunjungan ini baru saja membuka pintu menuju babak baru yang lebih dalam.

Piring-piring sisa makan malam telah diangkat ke belakang. Suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan keramik perlahan digantikan oleh suara jangkrik yang mulai bernyanyi di halaman depan. Jam dinding tua di ruang tengah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Langit di luar sana sudah sepenuhnya gelap, namun di dalam rumah ini, kehangatan justru baru saja dimulai.

Vema bangkit dari duduknya setelah membantu ibunya membereskan meja. Ia menatapku sejenak dengan ekspresi meminta izin.

"Sarendra, Bapak, Ibu... aku izin ke belakang sebentar ya. Mau mandi dan ganti baju dulu, rasanya lengket sekali seharian beraktivitas," ucap Vema dengan nada sopan.

"Iya, Nak. Bersihkan dirimu dulu biar segar," jawab Ibunya lembut.

Vema mengangguk, lalu melangkah menuju kamarnya untuk mengambil handuk sebelum menghilang di balik tirai yang menuju area belakang rumah. Kini, tinggallah aku berdua dengan Bapak di ruang tamu. Suasana hening sejenak, namun bukan keheningan yang canggung, melainkan jeda yang memberikan ruang untuk pembicaraan yang lebih serius.

Bapak menyesap teh hangatnya perlahan, lalu meletakkan gelas itu kembali ke tatakannya. Beliau menatapku lurus, tatapan seorang ayah yang sedang menilai laki-laki yang dekat dengan putrinya.

"Sarendra," panggil Bapak dengan suara rendah dan berat.

"Ya, Pak?" jawabku sambil mengubah posisi duduk menjadi lebih tegak, menunjukkan rasa hormat.

"Bapak ingin bertanya padamu, tapi tolong jawablah sebagai seorang laki-laki, bukan sebagai teman sekolah yang hanya basa-basi," Bapak memulai dengan intro yang cukup serius. "Bagaimana pandanganmu tentang Vema? Maksud Bapak, bukan tentang nilainya di sekolah atau kepintarannya. Tapi... bagaimana kamu melihat Vema sebagai seorang pribadi, saat pertama kali kalian bertemu hingga sekarang?"

Pertanyaan itu menuntut kejujuran absolut. Aku menarik napas perlahan, menyusun kalimat di kepalaku agar tidak terdengar berlebihan, namun tetap mewakili apa yang kurasakan.

"Jujur, Pak," aku memulai. "Pertama kali saya melihat Vema di sekolah, saya melihat seseorang yang berusaha keras untuk tidak terlihat. Dia selalu menunduk, menghindari tatapan orang lain, dan seolah membangun tembok tinggi di sekelilingnya. Saat itu, saya berpikir dia adalah orang yang sangat rapuh."

Bapak mengangguk pelan, mendengarkan dengan saksama.

"Tapi," lanjutku, "pandangan itu berubah total seiring berjalannya waktu. Di balik sikap diamnya, saya menemukan seseorang yang memiliki kekuatan mental luar biasa. Vema adalah orang yang sangat peduli pada perasaan orang lain, bahkan sering kali dia mengorbankan kenyamanannya sendiri agar tidak menyusahkan orang di sekitarnya. Dia pendengar yang baik, Pak. Dan yang paling membuat saya kagum adalah ketulusannya. Di dunia sekolah yang kadang penuh kepalsuan, Vema tetap menjadi dirinya sendiri yang sederhana."

Bapak tersenyum tipis, matanya tampak berkaca-kaca. "Dia memang seperti itu. Sejak kecil dia selalu memikirkan orang lain dulu baru dirinya sendiri. Bapak senang kamu bisa melihat sisi itu darinya."

Tak lama kemudian, Ibu datang dari dapur membawa toples berisi keripik pisang. Beliau duduk di sebelah Bapak, wajahnya memancarkan keramahan seorang ibu.

"Sedang bicara apa ini? Kok kelihatannya serius sekali?" tanya Ibu sambil menyodorkan toples itu padaku. "Ayo dicicipi, Sarendra."

"Terima kasih, Bu," aku mengambil sepotong kecil. "Bapak sedang bertanya pendapat saya tentang Vema."

"Oh, begitu," Ibu ikut tersenyum. "Kalau Ibu boleh tahu, bagaimana Vema di sekolah, Sarendra? Maksud Ibu, Ibu tahu kalian beda kelas, tapi apakah dia punya teman? Ibu selalu khawatir dia merasa kesepian karena sifatnya yang tertutup itu."

Aku menatap Ibu, memahami kekhawatiran naluriah seorang orang tua. "Ibu tidak perlu khawatir. Meskipun kami berbeda kelas, saya sering melihat Vema. Dia punya sahabat dekat bernama Nadin, dan mereka selalu bersama. Vema mungkin tidak punya banyak teman karena dia pemilih, tapi teman yang dia miliki adalah orang-orang yang tulus menyayanginya. Dia tidak kesepian, Bu. Di kelasnya pun, dia sangat dihormati karena kemampuannya."

Ibu menghela napas lega. "Syukurlah. Ibu selalu takut masa lalu kami membuatnya sulit bergaul. Mendengar ceritamu, hati Ibu jadi tenang."

Percakapan kami terus berlanjut, membahas hal-hal kecil tentang kepribadian Vema yang mungkin tidak disadari oleh orang lain. Aku merasa diterima sepenuhnya dalam lingkaran kecil ini.

Tiba-tiba, langkah kaki terdengar mendekat. Aroma sabun mandi yang segar dan wangi sampo menyeruak masuk ke ruang tamu, menggantikan aroma teh dan keripik. Kami bertiga menoleh secara bersamaan.

Vema berdiri di sana. Ia mengenakan pakaian santai rumah—sebuah kaos polos berwarna putih gading yang sedikit kebesaran dan celana panjang kain bermotif kotak-kotak kecil. Wajahnya tampak sangat bersih, tanpa polesan bedak sedikit pun, menampilkan kulitnya yang putih alami dan sehat. Namun, yang paling menarik perhatianku adalah rambut pendek model wolfcut-nya yang masih basah, menyisakan tetesan air di ujung-ujungnya yang jatuh mengenai bahunya.

Ia terlihat sangat berbeda. Jauh lebih segar, lebih 'hidup', dan entah bagaimana... sangat cantik dalam kesederhanaan yang polos itu.

"Maaf lama menunggu," ucap Vema sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di lehernya. Ia lalu duduk di kursi kosong di dekat Ibu.

Bapak terkekeh pelan melihat reaksiku yang sempat terdiam beberapa detik. Beliau menyenggol lengan kursi sambil menatapku jahil.

"Nah, lihat itu, Sarendra. Beda sekali ya kalau di rumah? Kalau di sekolah mungkin kelihatannya serius terus, tapi kalau habis mandi begini, anak Bapak jadi kelihatan lebih 'bersinar', kan?" goda Bapak.

Vema langsung membelalakkan matanya, pipinya merona merah padam. "Bapak! Apa sih, jangan bicara aneh-aneh di depan Sarendra, huhh."

Aku tersenyum, memutuskan untuk tidak menyembunyikan apresiasiku. "Bapak benar, Vem. Kamu terlihat sangat berbeda. Lebih segar dan... ya, kamu terlihat sangat cantik malam ini."

Keheningan melanda sesaat. Vema terdiam, mulutnya sedikit terbuka karena tidak menyangka aku akan menjawab dengan kejujuran seterbuka itu.

Wajahnya yang tadi merah muda kini semakin merah hingga ke telinga. Ia buru-buru menutupi sebagian wajahnya dengan handuk kecil yang ia pegang.

"Sarendra... kamu juga jangan ikutan Bapak," cicitnya pelan, suaranya teredam kain handuk.

Ibu dan Bapak tertawa renyah melihat tingkah putri mereka. "Sudah, sudah. Jangan digoda terus, nanti dia tidak mau keluar kamar lagi," kata Ibu menengahi, meski beliau juga masih tersenyum geli.

Kami menghabiskan waktu sekitar lima belas menit lagi dengan obrolan ringan yang diwarnai canda tawa, hingga akhirnya suara adzan Isya berkumandang dari masjid terdekat, menandakan malam semakin larut.

Aku melirik jam tangan. "Sudah Isya, Pak, Bu. Sepertinya saya harus pamit pulang. Besok masih harus sekolah dan lusa kita berangkat ke Blitar, jadi saya harus istirahat."

"Oh iya, benar juga," Bapak mengangguk bijak. "Terima kasih sudah mampir ya, Sarendra. Salam untuk orang tuamu di rumah."

"Hati-hati di jalan ya, Nak," tambah Ibu.

Kami semua berjalan menuju teras depan. Vema berdiri di samping pagar, masih dengan rambut basahnya yang mulai sedikit kering oleh angin malam. Aku mengeluarkan sepeda motorku dari halaman, lalu menaikinya dan memakai helm.

Tepat sebelum aku menyalakan mesin, Bapak berjalan mendekatiku. Beliau menepuk pundakku pelan, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya untuk berbisik, memastikan Vema yang berdiri dua meter di belakangnya tidak mendengar detail kalimatnya.

"Sarendra... Bapak titip Vema ya saat perjalanan ke Blitar nanti. Tolong jaga dia. Bapak percaya padamu."

Bisikan itu terdengar tulus dan penuh harap. Aku menatap mata Bapak dari balik kaca helm yang terbuka, lalu mengangguk mantap. "Siap, Pak. Saya akan menjaganya dengan baik."

Vema yang melihat interaksi bisik-bisik itu langsung curiga. Ia melangkah maju dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.

"Bapak bicara apa pada Sarendra? Pasti Bapak cerita yang tidak-tidak ya? Cerita waktu aku kecil atau kebiasaan burukku?" protes Vema dengan nada panik yang lucu.

Bapak menegakkan tubuhnya kembali, lalu tertawa santai. "Lho, kok curigaan begitu? Bapak cuma berpesan supaya Sarendra hati-hati di jalan dan jangan ngebut. Bapak bilang, pastikan dia pulang dengan selamat."

Vema terdiam, rasa malunya kembali muncul karena sudah berprasangka (suudzon) pada ayahnya sendiri. Ia menunduk, memainkan ujung kaosnya. "Oh... kirain Bapak cerita macam-macam."

"Sudah sana, masuk. Angin malam tidak baik buat rambut basahmu," kata Bapak lembut.

Aku tersenyum melihat Vema yang salah tingkah.

"Bapak benar, Vem. Masuklah. Aku pulang dulu."

"Iya... hati-hati, Dra," ucap Vema pelan tanpa berani menatapku lama-lama, lalu ia berbalik dan setengah berlari masuk ke dalam rumah karena malu.

Aku menyalakan mesin motor. Suara deru halus memecah keheningan malam. Aku melambaikan tangan pada Bapak dan Ibu yang masih berdiri di teras. Mereka membalas lambaianku dengan senyum hangat.

Motor kupacu membelah jalanan Surabaya yang mulai lengang. Lampu-lampu jalan membiaskan cahaya oranye di aspal. Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku tidak bisa lepas dari kejadian di rumah tadi.

Keluarga Vema... mereka begitu hangat. Sangat kontras dengan kengerian yang pernah kami hadapi. Dan Vema... bayangan wajahnya setelah mandi tadi terus terpatri di benakku. Kulitnya yang bersih, rambut pendeknya yang basah, dan rona merah di pipinya saat digoda ayahnya. Di sekolah, dia mungkin seorang siswi yang pendiam dan kaku, tapi malam ini, aku melihat Vema sebagai sosok gadis yang utuh. Cantik, rapuh namun kuat, dan sangat manusiawi.

Ada perasaan hangat yang menjalar di dadaku, perasaan yang meyakinkanku bahwa menjaga Vema dalam perjalanan ke Blitar nanti bukan sekadar amanah dari ayahnya, melainkan keinginan tulus dari hatiku sendiri.

1
Kustri
alur'a bikin penasaran
ada apa dgn vema
lanjuuut...
cokocha
bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!