NovelToon NovelToon
Rain In The Winter

Rain In The Winter

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Petualangan / Kebangkitan pecundang / Masalah Pertumbuhan / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3.5M
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Adult Action Romance
Novel ini mengandung adegan kekerasan dan unsur dewasa. Mohon kebijakan Anda dalam membaca Novel ini.

Rain memilih mendekam dalam penjara agar dia bisa melupakan cinta pertamanya, cinta yang tak akan pernah bisa dia dapatkan kembali. Setelah 5 tahun menahan dirinya, dia dihadapkan dengan situasi dimana dia harus menyelamatkan dirinya sendiri dan juga seorang wanita yang tak sengaja dia temui di penjara.

Keputusannya untuk menjaga wanita itu karena sebuah janji nyatanya menyeretnya ke masalah yang lebih besar. Belum lagi dosanya dimasa lalu belum juga tuntas tertebus.

Apakah Rain bisa menghadapi semua orang yang ingin menjatuhkannya? bisakah dia menjadi dirinya yang baru atau kembali menjadi dirinya yang lama? ataukah dia bisa kembali mencinta?

---
Warning! 21+

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Drake baru menjejakkan kakinya ke sebuah rumah yang cukup besar, begitu Ben memberitahu siapa yang datang, pintu utamanya di bukakan lebar, Drake langsung di sambut.

"Silakan Tuan, Nona Siena ada di area kolam renang di kebun belakang," ujar pelayan itu mengantarkan Drake.

Drake masuk ke rumah bergaya minimalis namun tampak modern itu, tak lama dia sampai di kebun belakang, memandang kolam renang yang bertingkat, di dalamnya dia bisa melihat air beriak, dia mendekatinya perlahan, melihat sebuah bayangan putih yang tampak anggun menyelam di dalamnya.

Drake menaikkan sedikit sudut bibirnya, jika saja tak ingat ini kediaman siapa dan ingat untuk apa dia di sini, dia pasti dengan senang hati bergabung di kolam itu.

Tak butuh waktu lama sampai Siena tampak di permukaan, saat dia melihat pria itu sejujurnya dia cukup terkejut, namun keterkejutannya itu segera digantinya dengan wajah senyuman menggoda, Siena tampak mengapung anggun di permukaan kolam itu.

"Oh, Anda sudah datang, baiklah, tunggu sebentar," ujar Siena dengan suaranya yang mendayu manja, siapa saja tak akan kuat dengan pesonanya.

Siena berenang anggun menuju tangga kolam berenang, Drake mengikutinya, melihat wanita itu perlahan-lahan naik dengan pakaian renang one-peace bikininya, berwarna putih bersih, dengan jaring-jaring menggoda, kain seperlunya hanya menutup bagian tubuh yang tak boleh terlihat, selainnya terbuka, tentu membuat napas Drake langsung berat melihatnya, dia mengeluarkan gestur agar Ben pergi meninggalkannya, tak rela berbagi keindahan dengan siapa pun.

Drake mendekati wanita yang baru saja mengambil handuk yang di sediakan pelayannya, mengusap beberapa air dengan lembut di wajahnya, dia lalu melilitkan kain pantai di daerah pinggulnya, berwarna kuning cerah yang membuat penampilannya lebih cerah, dia lalu duduk di salah satu kursi pantai yang ada di sana.

"Ada apa Tuan Drake?" tanya Siena melihat pria itu duduk di kursi pantai yang lain, menghadap dirinya.

"Ya, aku sudah melakukan apa yang kau mau, aku membuat Bianca melarikan diri," kata Drake yang seperti susah mengatakan hal itu, konsentrasinya sangat terganggu dengan hal indah di depannya.

"Dan?" tanya Siena lagi dengan senang, itu hal bagus.

"Ya, aku rasa umpan sudah dimakan oleh ikannya, Bianca di tangan Rain sekarang," ujar Drake, matanya tertuju ke tempat yang tak seharusnya, namun mulusnya kulit itu membuatnya sangat tergoda.

"Itu bagus sekali, anda melakukan tugas Anda dengan baik," kata Siena senang, dia mengambil tabir suryanya, menggusapkan ke seluruh tubuhnya, Drake diam, sepertinya wanita ini benar-benar ingin memancing sisi kejantanannya.

"Ya, tapi ada satu masalah," kata Drake berusaha fokus kembali.

"Apa itu? aku tak suka ada yang tak sesuai ekspektasi ku," ujar Siena melirik Drake.

"Dia di bawa ke pulau yang sama sekali tak bisa aku masuki, penjagaannya sangat ketat, aku masih mencari cara untuk bisa memantaunya," ujar Drake.

Siena mengerutkan dahinya, dia lalu kembali tersenyum, Drake sedikit bingung dengan arti senyuman itu

"Tenang saja Tuan Drake, kau harus bersabar, Rain dan Tunanganmu itu tak akan selamanya ada di sana, pulau itu kecil, aku yakin mereka tak akan selamanya ada di sana, biarkan saja mereka bermain-main dulu, kau tidak cemburu bukan?" ujar Siena dengan senyuman manisnya.

"Oh, tidak, tak mungkin aku cemburu dengan wanita seperti dia," kata Drake lagi.

"Kalau begitu, Kita harus bersabar, apakah anda masih ingin di sini? jika masih, silakan menikmatinya, tapi aku harus pergi dulu, semoga hari anda menyenangkan Tuan Drake," kata Siena bangkit lalu berjalan begitu saja melewati Drake, Drake mengerutkan dahinya, terlalu menggoda namun terlalu cuek juga, membuat sisi lain dirinya tergelitik, tak suka dipermainkan seperti ini.

Drake lalu mengejar Siena, dengan cepat menarik tangannya lalu mendekap wanita itu dalam pelukannya, Siena kaget tentunya, namun tampaknya dia bersikap sangat tenang.

"Ada apa Tuan Drake?" lembut Siena bahkan tanpa tolakan sedikit pun.

"Kau ingin bermain-main denganku ya?" tanya Drake lagi.

Siena tersenyum, mendorong tubuh Drake dengan tenang, herannya pria itu seolah tak berdaya dan melepaskannya.

"Semua itu tergantung dengan apa yang anda kira main-main, aku sudah terlambat, permisi Tuan," ujar Siena, senyumnya nakal membuat Drake hampir gila, ingin kembali mengejar namun hal itu sungguh tak pantas.

Drake sadar, Siena bukanlah wanita seperti Bianca, dia gadis yang punya segalanya, dia gadis yang punya karakter dan pastinya tak mungkin dia mainkan seenak hatinya seperti Bianca, rasanya dia sudah mendapatkan wanita yang sempurna.

---***---

Rain berjalan dengan cepat, dia baru saja menikmati malamnya yang hening saat Ken datang mengatakan bahwa Bianca sudah sadar, namun wanita itu histeris.

Rain tentu menunggu waktu Bianca untuk sadar, dia sudah menunggu 2 hari lamanya dan untunglah dia tak jadi pulang dan menyerahkan semua hal pada Luke sementara, entah apa yang mendorong Rain untuk ada di sana saat Bianca sadar, mungkin dia tak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk membalas dendam pada Bianca.

Dia melirik ke arah kaca yang membatasi tempat itu, dia melihat Bianca yang histeris, dari matanya menyimpan ketakutan yang sangat, dia benar-benar seperti orang yang baru saja keluar dari tempat yang membuatnya sangat trauma.

Rain segera masuk, melihat lebih jelas bagaimana keadaan Bianca, dia meronta-ronta, berteriak keras, bahkan 2 perawat wanita yang sengaja diperintahkan untuk menjaganya tampak kesusahan untuk menangani Bianca. Rain mengerutkan dahinya menatap wanita itu.

"Lepaskan! aku tidak mau! lepaskan! kau sudah membunuh ibuku!" Teriak Bianca meracau, tampak dia memang sadar, namun sepertinya dia masih dalam keadaan yang begitu syok.

Rain mendengar itu mengerutkan dahi, ibunya terbunuh? Rain terus melihat wajah wanita itu, air matanya, sorot matanya yang penuh kebencian, namun juga penuh penderitaan, rapuh bagai tak berdaya, dia tak sedikit pun melihat Rain, padahal pria itu sekarang ada di sampingnya, dia terus saja histeris, membuat Rain merasakan kesedihan itu, kesedihan yang sudah bertahun lalu dia rasakan.

Hingga tiba-tiba Bianca menyadari ada Rain di sana, namun Rain seperti melihat kekosongan di sana, Bianca tiba-tiba memaksa turun, membuat selang infusnya tercabut dan darah segar itu mengalir begitu saja dari vena-nya ke tangannya yang putih.

Dia segera berlutut di depan Rain yang tampak kaget dengan apa yang Bianca lakukan, Rain Yakin Bianca tak sadar apa yang dia lakukan, bahkan Rain yakin dia tak mengenali Rain sama sekali, Luka apa yang sudah dirasakan Bianca hingga dia bisa seperti ini, pikir Rain.

Bianca menyatukan kedua tangannya yang berlumuran darah, membentuk sebuah gestur untuk memohon, wajahnya memelas memandang Rain yang bahkan harus mundur selangkah karena tingkah Bianca itu.

"Bunuh aku, aku mohon, bunuh aku," lirih Bianca mengatakan hal itu, membuat siapa pun akan kaget sekaligus iba dengan suara itu, dengan kata-katanya dan nadanya, jelas terasa penderitaan yang nyata. Rain hanya bisa memandangi Bianca, wajahnya datar namun dia juga punya perasaan, lirihan dan rintihan itu nyatanya sampai juga ke hatinya.

"Kenapa kalian menolongku! biarkan saja aku mati di sana! tolong bunuh aku! kalian bunuh aku!" pinta Bianca yang sekarang menyodorkan dirinya kepada siapa pun yang ada di dekatnya, memohon dan memelas dengan sangat, namun semuanya menjauh, hanya Rain yang sekarang paling dekat dengannya.

"Tuan, tolong bunuh aku, aku ingin bertemu dengan ibuku," ujar Bianca lagi yang tak bisa mengenali di mana dia, siapa yang ada di depannya, dia hanya mencoba menggapai pria yang ada di depannya, namun Rain terus mundur, hingga Bianca menyerah, kembali dia histeris, Bianca menunjukkan tanda-tanda serangan histeria dan depresi yang parah.

"Buat dia kembali tenang!" pinta Rain yang sudah tak sanggup melihat rintihan dari Bianca itu.

Hatinya cukup nyeri melihat wanita itu memohon untuk dibunuh. Kenapa sekali lagi dia luluh? apakah seseorang bisa memalsukan kesedihan begitu dalam seperti ini?

Perawat segera kembali memegangi Bianca, Bianca kembali histeris dan berontak, dia menghentakkan tubuhnya, menjerit tak jelas.

"Jangan siksa aku lagi, jika kalian tak inginkan aku, biarkan aku mati! jangan Sik ... sa ... aku ... lagi," racau Bianca saat dokter memberikan sedosis obat penenang, hingga akhirnya dia diam tak lagi sadarkan diri karena efeknya.

Rain hanya bisa memandang wajah yang cantik itu kembali tenang, namun sisa air mata yang menghiasi mata basah itu, membuat hatinya nyeri dan tak tenang secara bersamaan, apakah dia kembali harus peduli?

___________

Alhamdulilah tulisannya dicicil dikit-dikit dan bisa kelar sore ini, segini dulu ya kak ... besok tak sambung lagi, insya Allah pagi.

Sayang semuanya!!

1
khair
the best pokoknya
khair
nadia ama William gk ada😍
Nusa thotz
cewek gendeng.. kalau pengen mati ngapain lari dari Drake..kan gak usah makan di bawah tanah udah pasti mati?🤣🤣🤣
Nusa thotz
kasian othor .../Whimper/
khair
kirain mirip Aksa gayanya di SP
ternyata mirip Jared, Johan dalam mencintai. tulus
Akbar Razaq
harisnya perjanjian itu kau musnahkan rain bukankah Ia mendapatkan dg cara licik
Akbar Razaq
ya jelas bencilah bian emang kau mengharqp apa sama laki yg sdh membantumu tp kau fitnah.sekalipun kau py alasan ttg ibumu
Akbar Razaq
drake satu langkah lebih maju ketimbang Rain.Bahkan hal ini sdh d perhitugkan oleh mereka bahkan lagi Rain tak tahu jk ia masuk jebakan Drake dam Sienna.
Akbar Razaq
bian bodoh dan.lemah tidak tahu sj bahwa smua mmg sdh d setting Drake.
hah....
Akbar Razaq
harusnya kau pikirkan kakekmu bukan malah ketagihan ingin bersama.
Akbar Razaq
benar benar gadis manja.nasibmu Rain
Akbar Razaq
dasar bian tak tahu diri masih main drama lagi.
pantathitam Bergetar
ganteng amat si rain..
woilahh buat gue ajaa/Shy/
annisya yulianti
udh pasti anaknya Rain deh, paling penyakit keturunan, dahlah gak usah tes DNA 😅
annisya yulianti
Aku adalah Yuri, Keenn 🤬
Siti Amalia
Masya Allah novelnya kerennnnnnnn banget thor
Tya Afat
kok namanya ken walker? bukannya Kendrik?
Tya Afat
wkwkwk....Drake tudk tahu siapa Marka.
Tya Afat
sedddddiiihh
R2bya
mampir lagi baca novel mu yg lain thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!