Real cerita asli
No Jiplak!!!!
Yang jiplak gue gaplak
Ivana, wanita berusia 26 tahun harus merasakan pahit yang lebih dalam setelah kakaknya meninggal. Ia di haruskan menggantikan sang kakak untuk menikahi Saga, calon kakak iparnya setelah Olivia meninggal. Namun rupanya, Saga pun tak melepaskan Ivana, karena tahu bahwa jantung yang ada di dalam dirinya adalah milik Olivia.
"Tolong, izinkan aku pergi!" Rintihan itu terus Ivana ucapkan dari balik pintu kamar berinterior mewah.
Di depan kamar itu, terdapat beberapa orang yang mengawasinya.
"Kau mau kemana Ivana? Kau harus tetap di sini, Olivia tidak akan pernah membangkang padaku. Kau harus menurut, atau aku akan mengambil jantungmu dan memberikannya pada wanita lain sebagai Olivia" ucap Saga dari balik pintu kamar Ivana.
"Kau sudah gila Saga, lepaskan aku! Aku tidak ingin di sini! Aku ingin pergi! "
Ivana, apakah kamu benar-benar akan bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 08
“Ivana, tenanglah!. Kau belum pulih sepenuhnya”
“Aku tidak peduli, aku benar-benar sangat muak, mengapa kau tidak memberitahu sejak awal dok, mengapa kau harus menyelamatkanku.”
“Ivana, kau harus dengarkan aku dulu.” Dokter itu menggenggam kedua tangan Ivana, namun wanita itu menepis tangannya.
“Lepaskan aku! menjauhlah dariku.” Ivana mendorong dokter itu, ia pun pergi dari ruangan itu.
Ivana berjalan dengan tertatih-tatih keluar dari rumah sakit tanpa menggunakan alas kaki. Ia berjalan dengan badan yang masih sempoyongan. Wajahnya pucat bahkan kepalanya yang sangat pusing.
Ivana berjalan hingga pada akhirnya sampai di sebuah pemakaman. Sesuai dugaannya, Olivia di makamkan di samping pemakaman sang ayah. “Ayah, kakak. Ini aku, Ivana,” ucap wanita itu sambil menangis, ia memeluk gundukan tanah yang masih basah, bertuliskan Olivia Wingston di nisan itu.
“Kakak, mengapa kau harus melakukan ini untukku. Aku tak pernah menginginkan hal ini, aku ingin kau bahagia, mengapa kau malah memberikan jantungmu untuk orang tak berguna sepertiku kak. Aku bahkan tak bisa sehebat dirimu kak Oliv.” Ivana menangis di pemakaman itu, hanya ada dia sendiri.
“Kak Oliv, maafkan aku kak, maafkan aku ayah, maafkan aku. Seharusnya aku tak pernah di lahirkan. Aku seharusnya tak pernah ada.”
Olivia memeluk nisan Olivia, ia terus menangis tersedu-sedu tanpa henti. “Kak Oliv, aku mohon padamu. Tolong kembalilah kak, aku mohon padamu.” Olivia menggali tanah makam Olivia dengan jari tangannya, ia tak peduli kepada karma atau apa pun.
“Kak Oliv, kau harus bangun oke! Aku akan kembali kan jantung ini untukmu, kau harus bangun. Kau harus kembali kepada mama dan kak Saga, kau harus lakukan itu kak. Biar aku yang mati, biar aku yang menggantikanmu di sini. Biar kau kak,”
Rupanya Emalia datang bersama dengan para pengawalnya, untuk berziarah di makam suami dan putrinya. Wanita itu membawakan dua buket bunga mawar putih. Namun bunga itu seketika terjatuh saat ia melihat Ivana yang tengah menggali makam Oliv, kakaknya.
“IVANA,” teriak Emalia dari kejauhan.
Ivana yang mendengar teriakan itu pun menoleh, wanita itu pun mendapati mamanya yang tengah berteriak memanggil namanya, dengan raut wajah yang sangat marah, sorot matanya tajam serta berlari ke arahnya.
“Mama,” ucap Ivana yang saat itu pun langsung menghentikan aktivitasnya.
“Plakkkkkkk,” satu tamparan kembali mendarat di pipi mulus Ivana.
“APA YANG KAU LAKUKAN PADA MAKAM PUTRIKU, KAU JUGA BAHKAN KINI INGIN MERUSAK MAKAMNYA. IYA?,” wanita itu mendorong putrinya sendiri, hingga ia terjatuh ke atas tanah.
“MENGAPA KAU JAHAT SEKALI IVANA, MENGAPA AKU HARUS MELAHIRKANMU, MENGAPA,” perkataan itu benar-benar menusuk hati Ivana, ia tak bahkan tak tahu harus bersikap apa sekarang, semua benar-benar seperti bumerang untuknya.
“Mama, maafkan Ivana. Ivana mohon, tolong maafkan Ivana.”
“Memaafkanmu, kau yang benar saja. Kau pikir kau itu apa? berkacalah Ivana, berkacalah pada dirimu sendiri apakah kau pantas untuk di maafkan.”
Ivana hanya terdiam, tubuhnya kaku seketika, badannya seperti tak lagi mampu untuk berdiri.
“Kalian, bawa Ivana pulang. Setelah itu kurung dia dalam kamarnya, jangan biarkan Ivana keluar!” ucap Emalia kepada para pengawalnya.
“Baik nyonya,”
Para Pria berbadan besar dengan setelan jas hitam, datang mendekat ke arah Ivana dan menariknya pergi dari pemakaman. Ivana duduk di kursi belakang mobil, ia menatap makam Olivia dari jauh. Air mata berjatuhan dari mata wanita itu, hingga pada akhirnya mereka sampai pada kediaman Wingston.
Ivana di seret oleh para orang berbadan besar itu, mereka memasukkannya ke kamar lalu menguncinya.
Ivana tak memberontak, ia menerima itu semua. “Sejak awal aku tak pernah memilih untuk lahir seperti ini, aku bahkan tak akan mau menerima jantung ini jika aku tahu kak Olivia akan tiada. Ini semua salahku, dan mama benar. Aku hanyalah pembawa sial.”
“Aku benar-benar sudah tak punya tempat untuk keluh kesahku, lalu untuk apa aku masih hidup.” Olivia memeluk kedua kakinya, meringkuk kesakitan sendirian. Terkurung dalam kamarnya sendiri, ia bahkan sudah tak punya rasa iba untuk dirinya sendiri. Ivana benar-benar hancur, ia tak pernah merasa sesakit ini sejak sakit jantung, ia bahkan tak pernah merasa sesalah ini pada orang lain selain ayahnya.
“Apa dalam hidupku, aku bahkan tak boleh merasakan bahagia. Apa aku memang harus selalu tersiksa, begitukah takdirku. Jika memang seperti itu lalu mengapa aku harus di lahirkan. Mama sudah bahagia dengan kak Olivia, lalu mengapa kamu tidak mengambilku saja. Apa bahkan kamu juga membenciku.” Ivana mencengkeram kepalanya yang sakit, ia kemudian menangis dan setelah itu kembali menertawakan dirinya. Hal itu terus berulang, hingga menimbulkan kecemasan bagi para pelayan di rumah Wingston, mereka takut. Jika Ivana akan menggila.
*****
“Saga, apakah kamu sudah merasa jauh lebih baik?” ucap Aretha kepada putranya.
Saga menoleh dan tersenyum, namun ekspresi Aretha tampak jauh lebih cemas dari apa yang ia bayangkan. Wanita itu melihat pada lukisan yang Saga gambar, seorang wanita cantik yang wajahnya telah tercoret dengan tinta merah.
“Saga, kamu gambar apa?”
“Bukan apa-apa, aku hanya sedang merindukan Olivia,”
“Namun Saga, Oliv sudah,” belum selesai Aretha berbicara Saga lebih dulu menyela ucapannya.
“Jangan bilang hal itu, mama juga sama saja seperti yang lain. Olivia masih hidup.”
“Plakkkkkk” Aretha menampar putranya sendiri. Ia memberikan satu tamparan itu pada Saga, hal itu bukannya membuat Saga terkejut ia malah tersenyum miring menatap ibunya.
“SADAR SAGA, SADAR”
“KURANG SADAR APA AKU HAH, AKU MASIH DI SINI, DAN BELUM MATI PUN ITU MASIH YANG TERBAIK.”
“Saga, mengapa kamu sekarang jadi begini Saga?”
“Mama tidak pernah mengajarimu sepertti ini.”
Saga menatap ke arah ibunya, ia menatapnya datar dan juga tajam. “Berhentilah berceramah mama, jika kamu hanya ingin mengusikku. Maka lebih baik pergi saja,”
Saga menarik Aretha pergi dari ruangannya, ia mendorong wanita itu keluar, kemudian menutup pintunya kembali dan menguncinya dari dalam ruangan. “Saga, buka pintunya!. Mama ingin bicara padamu, jangan seperti ini Saga. Ini bukanlah dirimu, apakah perlu aku panggilkan orang pintar untuk mengobatimu.”
“DIAMLAH, AKU BAHKAN TIDAK SAKIT.”
“SAGA, BUKA PINTUNYA, SAGA”
“Drttttttttt drttttttttttttt,” sebuah dering ponsel masuk ke ponsel milik Saga. Pria itu pun dengan cepat mengangkatnya dan menjauh dari tempat pintu.
“Ada apa?” tanya Saga pada orang di telepon itu.
“Tuan Saga, semuanya sudah siap. Semua sangat sesuai dengan keinginan Anda tuan.”
“Ya baiklah, kabari aku jika semuanya telah selesai.”
“Baik tuan.”
“Apakah pelayan sudah kau dapatkan?”
“Sejauh ini baru 5 orang tuan Saga, kita masih kurang tukang kebun dan masih banyak pegawai lain yang belum ada.”
“Baiklah, tolong carikan sampai dapat ya, dan aku mau sebelum satu minggu ini, kalian sudah dapat.” Saga menutup teleponnya.
“Semua hampir selesai, tinggal beberapa langkah lagi.”
*****
Di kediaman Wingston, kini Emalia datang bersama dengan seorang gadis muda, ia tampak segar dan cantik. Badan bagus dan juga tampak sangat menggemaskan.
“Jane, mulai hari ini kau akan tinggal di sini. Kau akan menjadi pelayan Ivana, namun kau tak harus melayaninya. Justru sebaliknya, siksa mental dia. Aku ingin melihatnya hancur”
“Baik nyonya.”
“Ikut denganku masuk, mulai saat ini, kau kan di bawah kendaliku Jane.”
Jane pun tersenyum, “baik nyonya.”
Emalia pun menaiki tangga, dengan Jane yang berada di belakangnya. Beberapa pelayan bergumam, ada yang memuji kecantikan dari Jane, namun ada pula yang menghujatnya.
Emalia kini berdiri di belakang pintu kamar Jane, wanita itu pun kemudian membukanya. Tampak Ivana yang tengah terpuruk duduk di balkon kamarnya. Wanita itu kemudian menyeka air matanya, ia tak ingin menunjukkan dirinya yang lemah di depan sang ibu.
Emalia mendekatinya bersama dengan Jane di belakangnya, “Ivana, aku perkenalkan padamu. Namanya adalah Jane, dia akan menjadi pelayanmu mulai sekarang, apa pun keperluan yang kau butuh kan. Tanyakan saya pada Jane biarkan dia yang menyiapkannya untukmu.”
Mendengar itu, Ivana hanya mengangguk menanggapi ucapan sang ibu. “Mengapa tidak menjawab? Apakah kau sekarang bisu?” Emalia menarik rambut Ivana kuat-kuat.
“Mama, tolong lepaskan! Ini menyakitkan,” Emalia tak peduli, ia menariknya dan kemudian mendorong Ivana hingga kepalanya terbentur ke tembok.
“HAHAHAHA,” Emalia tertawa, Jane yang melihat kejadian itu pun juga turut tertawa.
“Jane, aku senang padamu. Rupanya aku benar-benar tak salah pilih orang. Kau benar-benar pilihan yang tepat.” Mendengar ucapan dari Emalia, Jane pun menjadi senang, gadis muda itu bahkan kini membungkuk, menunjukkan hormatnya pada Emalia. Setelah itu, mereka pun kembali pergi. Pintu kamar Ivana pun terkunci lagi.
“Tuhan, mengapa semua ini harus terjadi padaku?” Ivana mengeram kesakitan, kepalanya benar-benar pusing hebat. Ia juga menyentuh sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.
“Arrrggghhhh, ini benar-benar menyakitkan.” Ivana kemudian terbangun, ia berdiri dan mengambil kotak p3k.
Ia kemudian mengambil foto yang berada di atas mejanya, foto itu adalah foto dirinya bersama dengan Olivia. Ia pun tersenyum dan memeluknya. “Kak, aku benar-benar merindukanmu kak, aku sangat merindukanmu. Aku ingin ikut kakak, aku ingin ikut ayah, aku sangat ingin pergi dari sini.” dengan tangisan yang belum juga reda, Ivana mengobati lukanya. Ia menempelkan plaster ke jidatnya.
Wanita itu lalu menaruh kepalanya di atas tiang pagar balkon, “Ini adalah rumah, namun aku sudah tak merasakan kehangatan di tempat ini.”
Ivana menatap sekitar, melihat para pelayan yang tengah bekerja. Namun sorot matanya terhenti saat ia melihat seseorang dengan pakaian serba hitam berdiri di balik sebuah pohon besar yang tak jauh dari rumahnya.
“Siapa itu? mengapa dia seperti sedang mengawasiku?,”
Melihat Ivana yang sudah sadar, pria itu pun memukul pohon di sampingnya lantaran kesal. Pria itu pun setelahnya pergi dari tempat itu. “Dia siapa, mengapa dia ada di sana. Apakah dia sedang mengawasi kediaman Wingston.” Hal itu benar-benar meninggalkan pertanyaan di benak Ivana.
Thor