Namanya Ainun, seorang gadis berwajah elok. Ia seorang mahasiswi di perguruan tinggi terfavorit dikotanya. Hidupnya yang terlampau monoton, menjadikannya sosok yang cuek dan cenderung galak, terutama pada lawan jenis.
Siapa sangka, pertemuannya dengan Reza yang berawal dari pertengkaran dan permusuhan, malah membuat hari-harinya berwarna. Di selingi dengan permasalahan keluarga di masa lalu yang selalu menghantuinya.
Cinta keduanya tumbuh membuat lengah Sang Ayah dalam penjagaanya. Ada banyak pelajaran yang Ainun dapatkan saat-saat Tuhan menguji cintanya. Terlebih bayang- bayang masa lalu yang terus saja menguntitnya.
Ini adalah Novel perdana Author, semoga readers suka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olive Sparkly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24. Menemuinya?
Happy reading....
°°°Ajari aku berdamai dengan rindu
Yang tak bersenjata tapi mampu menyayat luka
Tak membuat berdarah tapi membuat tangisku pecah
Sekejam itukah rindu.....
Datang tak mengenal waktu
Hadir menyerupai hantu°°°
•••••
Reza berbaring menghadap ke tempok, menumpahkan segala gundah gulana nya. Mengingat betapa lemah dirinya malam itu. Menatap nanar cahaya putih yang dipantulkan sorot lampu diatasnya, menyesali waktu yang telah terlewat.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya, cintanya yang bahkan baru saja dimulai pergi entah kemana. Begitu banyak rasa sakit dan kecewa yang ia lontarkan melalui diamnya.
Beberapa kerabat bahkan teman temannya pun berdatangan silih berganti untuk menjenguknya, tak terkecuali Vino. Ada sebersit rasa sakit ketika melihatnya, sakit yang bercampur aduk, mengingat Ainun menerima Reza untuk menjadi kekasihnya.
Disisi lain, ia merasakan sakit juga untuk sahabatnya, sahabat yang sejak remaja selalu bersama, yang selalu sehat dan ceria, berbeda dengan sekarang. Sorot mata layu, dengan tubuh lemah dan wajah yang tak ada keceriaan sedikitpun.
"Za, jangan melamun terus," Pinta nya pada Reza yang terus saja menatap kosong.
"Dia hilang gara-gara aku Vin," Ucapnya lirih menyeret beban dalam fikirannya.
"Seandainya malam itu aku tetap melajukan mobil dan menghiraukan si pengendara motor, mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya." ungkapnya lagi.
"Aku dengar ini sudah direncanakan Za, memang ada orang yang sudah mengincar Ainun, bahkan sejak dia kecil." Tukas Vino.
Reza menoleh ke arah Vino, mendapati sorot mata teduh yang tengah menatapnya dalam. Mencoba memahami pernyataan Vino baru saja.
"Be-benarkah?" Reza langsung terduduk, siap dengan penjelasan Vino selanjutnya.
"Ya, Ayah Ainun menceritakannya pada Rezi, dan sekarang Aku dan Rezi sedang mencoba melacak keberadaan Ainun." lanjut Vino lemudian.
"Reza, jangan cemas, si Penculik tidak akan melukai Ainun," ucap Vino meyakinkan. Reza masih tak bergeming.
"Kau ingat, saat kita kemah dulu, apakah kamu tidak merasa aneh, Ayahnya selalu mengikuti kemahnya. Mengikuti segala kegiatannya diluar. Menurutku itu sangat aneh,!"
"Selama ini pun Ainun berangkat dan pulang kuliah selalu dijemput Ayahnya. Itu bukan sekedar overprotective, melainkan sebuah pengawalan." Ungkap Vino tanpa jeda.
Reza bangkit dan melepaskan infusnya dengan paksa, menahan sakit dan memegangi punggung tangan nya yang sedikit sobek.
"Aaaaakkhhh!!" Reza melangkah gontai, dengan darah yang merembes dari bekas infusnya.
Vino membelalakkan matanya, melihat Reza yang begitu nekat. Ia segera menahan tubuh Reza untuk tetap disana.
"Aku harus mencarinya Vin, aku tidak tau dia masih hidup atau sudah..." Tolak Reza menyingkirkan tangan Vino yang menahan bahunya.
"Reza!!, dia tidak akan kenapa napa, kau tenanglah." Vino tetap menahannya Reza yang masih lemah.
Terdengar isakan kecil dari tubuh yang mulai bergetar, Reza menangis. Raganya sungguh tidak berdaya, jiwanya mulai lemah.
Seharusnya aku kuat untuk mengejarnya, seharusnya aku mampu untuk menyelamatkannya, seharusnya aku tidak selemah ini. Mereka membawa gadisku dihadapanku, tapi begitu lemahnya aku malah terkulai dan tak bisa berbuat apa-apa.
Vino menepuk nepuk bahu Reza, menggiringnya membawanya serta ke atas brangkar.
"Duduklah!"
"Jangan jadi lemah, cepatlah pulih, kita akan mencarinya bersama."
Vino segera memencet bel, dan tak butuh waktu lama perawat pun datang , mereka terkejut dilantai terdapat bercak darah. Jadi, Vino menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
Perawat segera mengobati luka di tangan Reza, mengganti infus ke tangan yang satu nya.
"Yang ini tolong jangan dilepas ya mas," Pinta salah satu perawat. Reza tidak menggubris nya, ia hanya terdiam.
.
Mobil yang membawa Ainun kini telah sampai di sebuah Villa, ia tidak tau pasti dimana letak Villa ini berada. Tapi sepertinya sangat jauh dari rumahnya, atau dari kota nya.
Disepanjang perjalanan membosankan dan penuh rasa was was, ia tertidur. Janjinya untuk mengingat setiap jalanan untuk bekalnya kabur pun hilang dalam sekejap.
Ainun masih berada di dalam mobil, tapi si pria menyeramkan di sampingnya nampaknya sudah keluar sejak tadi. Ia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
Mengedarkan pandangan disekeliling Villa.
Pintu terbuka saat Ainun masih dalam posisi pijit memijit. Menampilkan wajah kesal dan lelah yang bercampur aduk dengan ketakutan.
"Dimana ini?" Tanya Ainun ketus.
"Anda berada di Villa milik keluarga Anders, nona," Jawab si pembuka pintu dengan wajah datarnya.
"Siapa itu Anders?"
"Silahkan ikuti saya, Anda akan segera mendapatkan jawabannya, nona." Pria itu sedikit membungkukkan badannya.
Ainun merasa aneh sekaligus risih. Belum pernah rasanya ia diperlakukan seperti ini, apalagi mereka adalah para penculiknya.
Tubuh Ainun bergetar, kesadarannya yang telah pulih membuat rasa takutnya pun menyergap hebat. Menyadari apa yang akan terjadi, sebuah operasi, atau sebuah transaksi, aaakkh bulu kuduk Ainun berdiri meremang.
Ya Allah, apakah umurku hanya sampai disini, rasanya aku belum mau mati...
"Mari nona, kehadiran anda sudah ditunggu nyonya besar!". Seru pengawal yang sama.
Ainun makin ketakutan, akankah ini akhirnya, Akhir sebuah kehidupannya. Sebuah ide muncul dikepalanya. Ia akan berpura-pura pingsan, pasti pertemuan dengan seseorang yang diyakini oleh Ainun adalah seorang germo yang akan menjualnya akan diundur.
Bruuugghh
Tubuh Ainun terjatuh, menghempas tanah, "Aaaawwww, terjatuh begini ternyata sakit sekali, tidak seperti jatuh cinta" Gumam Ainun dalam hati.
Ia tetap dengan ekspreai lunglai nya, seolah dia benar pingsan. Matanya dikatup serapat-rapatnya.
"Anda kenapa nona!" Si pengawal kebingungan. Ia mengecek suhu tubuh Ainun menekan letak gerak nadinya, kemudian mengangkatnya membawanya masuk.
"Kenapa dia!!!" Suara bariton wanita terdengar menggelegar, dari suaranya saja sudah dipastikan wanita ini adalah wanita yang akan ditemuinya nanti.
Baru mendengar suaranya saja Ainuj sudah menelan saliva nya susah payah, seperti tersangkut biji salak disana.
"Di-dia pingsan nyonya, se-sepertinya kelelahan." Jawab pria pengawal yang menggendong Ainun dengan terbata, dia seperti melihat singa betina menunjukkan taringnya.
"Cepat bawa ke kamar tamu," perintanya.
"Dioon!!" pekik nya pada asistennya.
"Cepat panggilkan dokter terdekat!"
"B-ba-baik nyonya," Seperti keledai yang ditunggangi Dion menuruti kemauan sang singa betina disampingnya.
Ainun yang sudah dibawa ke kamar tamu pun dibaringkan diatas ranjang, ia masih mengatupkan matanya saat terdengar dari kejauhan hentak sepatu high heels yang mendekat.
"Dia cantik, sangat santik," Ucapnya mengelus pipi gadis didepannya.
Ya Allah, dia akan menjualku!, dia menculikku untuk dijual pada pria mata belong, eh belang.
"Hei, kau! jaga dia, pastikan kau selalu berada disisinya. Jangan biarkan dia kabur!" tunjuknya pada pria yang membopongnya tadi.
"Baik nyonya!" jawabnya masih dengan nada datar tapi tegas.
Terdengar hentakan kaki yang menjauh, dan suara pintu yang tertutup. Ainun mengintip dengan membuka kelopak matanya sedikit merenggang.
Huftt, sudah pergi lalu aku harus apa?
Ainun melirikkan matanya dengan mata menyipit, mendapati si pengawal tadi masi berada di sampingnya. Tapi matanya melihat kearah pintu.
Huh, dia masih disini! Dia benar-benar patuh. Kelihatan**nya dia pria baik, tapi kenapa bekerja sebagai penculik?
Ainun masih melirik si pengawal dengan mata sipitnya, dan tanpa disangka si pengawal menoleh kearahnya. Mendadak Ainun membulatkan matanya.
Jlebbb, Ainun ketahuan.
"Nona, anda sudah sadar?" Tanya si pengawal.
Ainun segera bangkit dan berdiri dan membekap mulut si pengawal dengan telapak tangannya.
"Ssssssstttttt, tolong jangan berisik!!"
Si pengawal terpaku melihat pergerakan Ainun, ia hanya menelan kasar salivanya saat tubuh mereka dekat, sangat dekat dan hampir menempel.
"Diam!, atau aku akan memukulmu!" Ancam Ainun melepaskan bekapannya.
Si pengawal menuruti, bukan karena takut karena ancamannya, melainkan lebih takut akan kehadiran sang Singa Betina itu kembali jika ada keributan. Dan sudah dipastikan bahwa dia lah yang akan mendapatkan hukuman, tidak mungkin gadis ini.
Dia berani dan galak juga, persis seperti ibunya! Gumamnya dalam hati.
"Diam, dan dengarkan aku! aku tau kau pria baik baik, jadi tolong dengarkan aku," pinta Ainun dengan dada bergemuruh.
Sejujurnya ia ketakutan, pada pria didepannya juga ia takut, tapi ia memberanikan diri untuk melawan.
"Ya, saya akan mendengarkan, Nona," ucapnya santai dengan wajah yang masih sama, datar.
To be continue...
💎💎💎
Ainun mau bilang apa siiih?
Ada yang tau? pliss jawab di kolom komentar.
Stay tune terus yaa yaa...
Author ucapkan banyak terima kasih sudah bersedia membaca tulisan ala rempeyek ini, dan sudah memberikan rate bintang limanya, like dan vote juga. Aku cinta kalian.... luvvv💗 Author jadi tambah semangat nulis...
Jangan lupa juga untuk selalu meninggalkan jejak dikolom komentar yaa... Kritik dan saran kalian sangat berarti untuk kemajuan ceritaku...
so, jangan pernah bosan yaa.. pantengin terus
Salam cinta Ainun dan Rezi... luvvv
ada kalimat hamil dan kehilangan anaknya . yg di suruh ambil ngerawat si bibi sebelumnya itu yg mengenali dika. tp dia taruh di panti.
g mungkin dika muncul segini banyak partnya kalau bukan penting. entah saingannya si reza atau malah jd benar kakaknya
Ainun punya hape nih skg. tapi jika dia sangat terluka oleh apa yg diprbuat Bara pada Ridho. kenapa Ainun pas ngelihat nggak ada papinya malah menghubungi Reza?
bukannya dia mengkhawatirkan papinya? tp kok malah minta tolong sama Reza yg notabene jauh (5 jam perjalanan) dalam kondsi sakit, dan bukan bagian dr carut marut keluarganya.
pdhl papinya paling dkt jaraknya. misalpun di usir masih ada di sekitar situ. dan dia papinya bukan orang lain.
biar bagaimanapun yg bisa menyelesaikan masalahnya kan ttp aiunan dan keluarganya.
dia hnya menarik reza dlm bahaya.
papinya masih dibelain sma rekha
ainun sndr jls g bkl diapa2in
tp reza??
mlh jd ngeri.
hangat hangat, makan kolak
selalu semangat, kakak...
pantunku gak nyambung🙈tapi semoga itu bisa menambah semangat kakak dalam berkarya❤
tapi bahagia aku bacanya, ikut prok prok aja deh👏👏❤
kakak memang the best merangkai kata..😍🍃
aq smpe bingung cari 🥴🥴
terus paragraf terakhir coba d baca lagi, ad yang janggal g???
sorry sedikit bawel, soalnya aq baca isi ceritamu, bukan baca komen mu😎😎😎
kurang enk d baca
aku nyacroll kok teman kondangan nggak update tapi malah ilang.
aku smp buka profilmu buat nyariin judul.
CMIIW ya readers semua.
sebenarnya semua orang yg punya luka benturan di kepala, (entah apapun penyebabnya) tidak disarankan untuk diguncang2kan, digoyangkan, dipindahkan posisinya. efeknya fatal. dari memperparah keadaan sampai dengan meninggal. karena kepala itu identik dengan saraf dan pembuluh darah.
tapi kita bicara di Indonesia. cederung semua kecelakaan yg terjadi akan dipindahkan dl. entah karena ditengah jalan, panik, atau dianggap harus segra sadar. tanpa tahu proses yg kita berikan justru memperbesar resikonya..
saya pernah lihat kecelakaan dan menyarankan untuk menunggu petugas medis datang sebelum dipindahkan. tp malah saya yg kena omelan. buru2 mereka ingin bawa kr rs.
namun keadaan yang enggan Qt bertemu
seoalah tk ingin Qt bersatu
memecahkan rindu yg membatu