Reno, adalah putra kedua dari tiga bersaudara. Papanya memiliki jabatan yang tinggi di suatu instansi pemerintah dan mamanya seorang pengacara terkenal, kakanya jebolan sekolah kedinasan yang melahirkan Intel negara. Sementara dia anak tengah yang selalu dibanding-bandingkan dengan kesuksesan sang Kaka, berprofesi sebagai TNI berpangkat Bintara. Tapi Reno adalah anak yang penurut dan paling berbakti pada kedua orangtuanya.
Keinginannya menjadi seorang TNI karena kejadian luar biasa yang mempertemukan dirinya dengan sosok yang sangat dia kagumi, sosok idola yang merubah hidup dan cara pandangnya.
Hingga pada suatu hari takdir mempertemukan Reno dengan Kanaya yang membantu cita-citanya menjadi seorang TNI terwujud.
Kanaya menemani Reno dari nol karena Reno tidak mendapatkan dukungan dari kedua orangtuanya.
Apakah cinta kasih Reno dan Kanaya akan berlanjut ke pelaminan, atau Kanaya hanya dimanfaatkan Reno saja untuk mencapai cita-citanya?
Yuks ikuti kisah Reno di Cinta Bintara Rema
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara_dee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Kehidupan Siswa Bintara
Happy Reading 🩷 🩷
Jejak warna keemasan yang melukis langit sore, menjadi pemandangan indah menemani obrolan Seorang Papa dengan putranya di atas dek kapal. Sesekali mereka bertukar senyum, saat rekan-rekan satu angkatan Reno saling melempar canda.
Dengan bangga Sandi memperkenalkan Reno adalah putra kandungnya pada seluruh anak buahnya. Banyak yang tahu kisah rumah tangga Sandi, ikut bahagia dengan berkumpulnya mereka. Yang tidak mengetahui kisah Sandi akan menyalahkan keputusan Sandi.
"Pa ... kapan aku bisa berziarah ke kuburan mama?" tanya Reno
"Papa pasti akan mengajakmu ke makam mamamu setelah kamu mendapatkan cuti pendidikan." janji Sandi
Lelaki yang sedang memakai baju dinas berpangkat melati tiga itu mengeluarkan sebuah photo dari dompetnya.
"Ini mamamu, Ren. Dia memiliki ketulusan dan kebaikan yang dia turunkan padamu." ucap Sandi mengelus bahu putranya.
"Di mana mama di makamkan?" Reno menatap foto wanita yang bermata teduh itu, airmatanya meluncur begitu saja
"Di Batu, Malang."
"Minggu depan penutupan Pusdikdasmil, Pa. Apa mama dan papa bisa hadir?" tanya Reno
"Papa, Mama dan Kanaya hadir, Ren." Sandi memperhatikan wajah putranya.
Reno : "Kanaya?!!" senyuman terbit di wajahnya.
"Ren, Papa tahu perasaanmu pada Kanaya, tapi background keluarga mereka akan menyulitkan langkah kamu untuk ke jenjang lebih serius padanya." khawatir Sandi
"Aku tahu Pa, Eyangnya pernah bilang Kanaya sudah di jodohkan dengan Lettu Fajar. Aku akan menunggu kemungkinan yang 5 persen itu Pa—Jika Kanaya juga mau berjuang." Reno menundukkan wajahnya.
Kadangkala aku terlalu gila dan ugal-ugalan padamu, Naya. Namun entah bagaimana aku menemukan kedamaian di dermaga itu, dan kamu merasa damai di sebuah kota yang hiruk pikuk. Untuk saling merindukan, tanpa perjumpaan.
Kamu terlalu megah untukku.
Aku selalu tersesat di jalan-jalan kecil menuju mu, tapi aku juga menemukan jalan baru menuju ke arahmu.
Mungkin — Rinduku terlalu berisik untukmu, tapi entah bagaimana sebagai bagian dari pesona yang kamu miliki, aku tidak pernah diam untuk menyatakan sangaaaat ... merindukanmu.
Aku bisa apa selain mengagumi ciptaan Tuhan yang paling sempurna itu dari jauh.
Ah, Sial! Kenapa part Lona dan Loni selalu menjadi ironi saat kamu mengatakan; 'dadaku sesak karena merindukanmu, Ren'.
...☘️☘️☘️...
Saat ini, Kanaya, Yulan, Lalita dan Sandi sedang berada di hotel untuk menginap, karena besok mereka mendapatkan undangan menghadiri penutupan pendidikan dasar militer di Surabaya.
Beberapa siswa yang beruntung sudah diperbolehkan memegang ponsel dengan satu syarat, tidak boleh ketahuan senior atau pelatih.
"Gimana, ganteng gak aku pakai baju ini?" tanya Reno di sambungan Videocall dengan Kanaya.
"Engga! Gantengan papa Sandi." jawab Naya sambil menutupi pipinya yang merona dan melirik Sandi yang ikut mendengarkan sambungan Video mereka.
"Kalau papa gantengnya 70% , aku 100% , iya kan?" seloroh Reno
"Ren, mundur dikit deh jauhan dari kamera, aku mau lihat ... " ucap Kanaya
"Segini? Kamu mau lihat apa?"
"Aku suruh kamu mundur karena ganteng kamu kelewatan ... " canda Kanaya
"Auuu ahh ... Aaauu ahhh ... Auuu ahh ...YESS!!" suara sorak Sorai dari teman-teman di barak ikut menyoraki Reno dengan yel-yel. Reno tertawa lebar dengan hati berbunga-bunga.
Ternyata Videocall Reno dengan Kanaya menjadi tontonan dan di kepoin seluruh penghuni barak.
"Ren, pipimu lebih merah daripada pantatku setelah di cambuk selang pelatih!!" teriak Arga diiringi tawa teman-temannya.
"Muka boleh gantengnya kelewatan, tapi mambu kelek Nay!!" ledek Dion
"Nay, jangan percaya omongan temenku, percaya sama aku aja ya" jawab Reno
"Naya, jangan percaya Reno, musyrik!" ledek Nono
"Naya, kamu tau gak kalau Reno pup jarang disiram!"
Begitulah terus mereka menggoda aktivitas Videocall Reno dengan Kanaya. Jangan harap akan damai sentosa kalau teleponan di barak. Para jomblo selalu punya cara menjadi suara-suara sumbang yang menjadi backsound saat telepon berlangsung.
"Pelatih ... Pelatih!!" teriak Bayu dengan berlarian saat masuk ke barak
Semua siswa sibuk menyembunyikan 'dosa-dosa' mereka agar tidak tercium pelatih.
"Nay, udah dulu ya. Pelatih sidak ke barak." Reno segera menyembunyikan 'dosa' nya di dalam sarung bantal setelah ponselnya dia matikan.
Lima orang pelatih masuk barak dengan membawa selang ukuran satu meter yang sudah diisi pasir.
"Waktunya tidur kalian begadang, giliran kegiatan kalian tidur di lapangan!!" maki seorang pelatih yang masih bujang.
"Geledah semua kasur termasuk kopernya." perintah pelatih Faras
"Berdiri kalen semua di depan bed masing-masing."
Semua pun bergerak berdiri dengan sikap sempurna di depan tempat tidurnya masing-masing.
"Kalian tahu, kamar kalean itu seperti kandang babi!!"
"Kaos kaki siapa ini, bauk sekali!"
"Suruh mereka hirup bau kaos kaki itu bergilir, mulai dari kamu, ujung kanan."
'Apes rek! Gue duluan lagi yang hirup' umpat Bayu dalam hati
'Cuk!! Gara-gara kesalahan satu orang teman yang jorok, rusak hidung satu barak' umpat Reno dalam hati
"Lorong bagian ini bau rokok, siapa pelakunya? Hayo ngaku!!"
Dalam hati mereka ramai merapalkan mantra-mantra doa agar tidak ditemukan satu puntung pun oleh pelatih, habis lah badan bisa kena sabetan selang berisi pasir.
Sialnya! Puntung rokok masih menyala terlihat di bawah kasur Nono.
"Hah!! Sudah pandai kali kalian berbohong ya! Masih siswa aja kalean berbohong untuk hal-hal kecil, bagaimana terjun ke masyarakat!" murka pelatih yang lebih senior.
Satu persatu 'dosa-dosa' mereka ketahuan, dari kaos kaki bau, baju bau dan penuh lumpur yang belum sempat di cuci, sepatu belum di semir, baju basah jemur di kamar dan banyak lagi termasuk ditemukannya ponsel di bawah kasurnya Wisnu.
"Tanpa terkecuali!! Jalan jongkok sampai kolam lumpur!" perintah senior.
Dengan tubuh yang sudah lelah karena aktivitas seharian, mereka pun terpaksa berjalan jongkok ke kolam lumpur tempat semua siswa mendapatkan penyiksaan.
Setiap siswa yang hendak turun ke kolam harus merasakan cambukan 'selang kasih sayang' dari pelatih.
"Bang, anak karate dan silat jangan di cambuk. Besok mereka tampil tanpa kaos. Bisa kena hukum kita bang!" bisik pelatih yang lebih Junior.
"Yang bertugas karate dan silat, bergeser ke kiri!"
Mereka pun bergeser ke kiri dari posisi pelatih. Tidak mendapatkan cambukan bukan berarti akan aman, mereka disuruh sikap tobat hingga hitungan seratus kali, hingga kepala rasanya mau pecah karena darah terkumpul di kepala dan menjadi tumpuan beban tubuh.
Jam sudah menunjukan pukul dua pagi, 'Pelajaran hidup' baru saja selesai dilaksanakan. Mereka kembali ke barak dengan tubuh berbau lumpur, Punggung perih dan luka-luka di kaki.
"Jam 03.30 kalian harus sudah kumpul untuk gladi bersih di lapangan. Mengertiii !!! ... Mengertiii!!!" teriak pelatih senior
"Siap! Mengerti!" serempak mereka.
Setelah para pelatih keluar dari barak, mereka menghempaskan tubuhnya yang hampir remuk di atas ranjang barak, waktu mereka tidur hanya satu jam, itu pun kalau langsung tidur. Yang belum sempat semir sepatu, mereka lebih memilih semir sepatunya daripada tidur yang hanya satu jam.
Itulah sebab, kenapa para siswa sanggup tidur sambil berjalan, kadang upacara mata mereka terpejam. Kegiatan yang terus menerus membuat mereka mati rasa akan rasa lelah dan sakit di seluruh persendian ... mereka hampir tidak bisa mengeluh lagi. Banyak senior yang bilang, "Masa pendidikan adalah masa paling indah yang hanya cukup di kenang, tidak mau di ulang."
Teman senasib sepenanggungan adalah teman satu angkatan.
Tepat pukul tiga pagi terompet apel sudah berbunyi, mereka bergegas ke kamar mandi membersihkan diri secepat mungkin, karena waktu pembersihan hanya lima menit. Mereka harus bergegas ke ruang makan kalau tidak ingin jatah makannya di habisi para rekan.
Sesuai arahan para pelatih jam tiga lewat tiga puluh menit mereka sudah berbaris di lapangan apel untuk melakukan Gladi bersih, bahkan ayam jago saja masih belum mengepakkan sayapnya, mereka sudah melakukan latihan demi latihan untuk pertunjukan di penutupan pendidikan dasar militer hari itu.
Yang membuat mereka semangat bangun pagi dan beraktifitas hari itu adalah, karena hari itu seluruh keluarga di undang menghadiri acara penutupan pendidikan dasar di sana.
Tenda undangan pun mulai bergerak, diisi para tamu yang memilih datang lebih pagi, agar bisa Selfi maupun we-fi dengan putra-putri mereka.
Reno terus melirik ke arah tenda mencari sosok tiga wanita cantik yang dia rindukan. Dia sudah menemukan papanya yang memakai jas putih khas upacara dengan tongkat komando di tangannya.
"Tampilkan yang terbaik hari ini!" pesan Sandi mengusap bahu putranya dengan lembut.
"Siap komandan!" ledek Reno
Hari itu Reno dan lima orang rekannya mendapat tugas memberi pertunjukan memanah di atas kuda yang berlari.
Tepat jam tujuh pagi acara di mulai dengan meriah namun khidmat, pertunjukan demi pertunjukan dilaksanakan dengan baik tanpa cela oleh para siswa.
Satu hal yang membuat Reno resah, keberadaan mamanya, Lalita dan Kanaya belum terlihat. Sementara acara tradisi sudah akan dimulai. Reno mendapatkan barisan berdiri di bagian tengah lapangan.
Para orang tua langsung bergerak mencari putra putri mereka setelah MC mengumumkan mulainya acara tradisi.
"Ka Reno! Selamat ya ... Sudah Syah menjadi prajurit TNI." sapa Sinta, saudara kembar Arga yang hari itu ikut hadir.
Sinta menyerahkan Hand bouquet bunga dengan boneka mungil yang memakai pakaian dinas TNI AL. Sinta yang merupakan mahasiswi Poltekes, datang dengan memakai baju kebaya Bali yang cantik. Gadis itu meminta beberapa kali foto pada Reno.
Reno tidak bisa menolak, karena Arga adalah sahabat barunya selama di barak. Dan beberapakali keluarga Arga membantunya mengirimkan surat-surat cinta untuk Kanaya.
Tanpa Reno tahu, Kanaya dan mamanya sudah berdiri di belakang Reno, menunggu Sinta dan Reno selesai sessi photo.
Tak bisa dibayangkan perasaan Kanaya saat itu, gadis itu sudah mengecurutkan bibirnya, dengan pipi chubby nya yang kian mengembung.
"Ren!" panggil Yulan sambil menepuk bahu Reno
Reno menoleh ke arah belakang dan dia dapati mamanya sudah berdiri di belakangnya.
"Mamaaa ... " pekik Reno langsung sujud syukur di kaki Yulan, lalu memeluk mamanya setelah Yulan mengajaknya berdiri.
"Ma ... Maafin Reno yang sering buat kesal mama. Di sini Reno jadi belajar betapa beratnya menjaga tanggung jawab dan harus kuat menghadapi setiap cobaan." aku Reno sambil memeluk erat Yulan.
"Mama juga minta maaf jika sering berlaku tidak adil antara kamu dan Davin ya nak ... " sesal Yulan
"Gak mah, mamah sudah memberikan aku kasih sayang terbaik selama ini."
Selesai dengan mamanya, Reno beralih ke Lalita, dia menggendong Lalita dan memberikan kecupan di pipi adiknya yang beranjak remaja tanggung.
Saat Reno menatap Kanaya, gadis itu masih mode bete dengan pipi yang masih mengembung.
"Nay, kamu gak mau peluk aku?" tanya Reno lembut dengan tatapan mesra
"Ngapain peluk pacar orang, udah sana peluk lagi cewenya!"
Reno mengernyitkan keningnya begitu dalam, dia langsung sadar kalau Kanaya terbakar cemburu dengan kehadiran Sinta kembaran Arga yang masih berdiri di samping Reno dan berusaha mencari perhatian pada Yulan juga Sandi.
"Hanya kamu cewe yang sudah mengobrak abrik hati aku, Naya ... " akui Reno
"Mana bisa dipercaya!" Kanaya melipat kedua tangannya di dada.
Reno semakin gemas dengan tingkah ngambeknya Kanaya. Tapi dia bingung harus bagaimana, dia malah menyerahkan hand bouquet dari Sinta untuk Kanaya, biar sang kekasih tidak ngambek lagi. Tentu saja Kanaya semakin meradang.
Dengan menghentakkan kaki ke aspal, Kanaya pergi berjalan meninggalkan Reno.
"Wah, repot nih kalau tuan putri udah mode marah begini." gumam Reno
"Bujuk Reno! Kamu sih bikin gara-gara." maki Yulan dengan mata mendelik.
"Naya, sayang ... Please jangan marah." Reno mengejar Naya hingga ke parkiran mobil.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
B e r s a m b u n g ...
Jangan lupa like, komen dan votenya ya 🩷 🫰