NovelToon NovelToon
MARINA Ketika Pengorbanan Tak Dihargai

MARINA Ketika Pengorbanan Tak Dihargai

Status: tamat
Genre:Angst / Cinta Lansia / Keluarga / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: moon

Marina, wanita dewasa yang usianya menjelang 50 tahun. Telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk keluarganya. Demi kesuksesan suami serta kedua anaknya, Marina rela mengorbankan impiannya menjadi penulis, dan fokus menjadi ibu rumah tangga selama lebih dari 27 tahun pernikahannya dengan Johan.

Tapi ternyata, pengorbanannya tak cukup berarti di mata suami dan anak-anaknya. Marina hanya dianggap wanita tak berguna, karena ia tak pernah menjadi wanita karir.

Anak-anaknya hanya menganggap dirinya sebagai tempat untuk mendapatkan pertolongan secara cuma-cuma.

Suatu waktu, Marina tanpa sengaja memergoki Johan bersama seorang wanita di dalam mobilnya, belakangan Marina menyadari bahwa wanita itu bukanlah teman biasa, melainkan madunya sendiri!

Akankah Marina mempertahankan pernikahannya dengan Johan?

Ini adalah waktunya Marina untuk bangkit dan mengubah dirinya menjadi wanita mandiri seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#29

#29

Seminggu berlalu tanpa terasa, satu minggu pula Marina lupa bahwa ada seseorang yang tengah menanti balasan pesan darinya. Bukan sengaja, tapi kesibukannya lah yang membuat Marina lupa. 

Berbelanja, tiba di rumah mengolah bahan, kemudian melayani pembeli yang terus di warung kecil mereka, hingga mengemas pesanan sambal. Semua butuh tekad yang kuat, usaha yang tidak main-main, dan tentu saja keinginan untuk sukses itu sangatlah besar. 

Semaksimal mungkin Marina dan Farida masih mengandalkan tenaga mereka sendiri, walau tidak semuanya, karena kini ada beberapa pekerja yang membantu mereka untuk urusan dapur dan lain sebagainya. 

Tak ada waktu untuk berkirim pesan, apa lagi bersenda gurau dengan pria yang baru saja ia kenal. 

Semua terasa menyenangkan, walau lelahnya pun luar biasa, tapi melihat senyum puas di wajah pelanggan, serta para Ibu yang tertawa lebar setelah menerima uang lelah mereka. Ternyata lebih membahagiakan daripada apapun di dunia ini. 

Sedikit, tapi Marina dan Farida merasa puas, karena bisa sedikit membuka peluang rezeki bagi sesama kaum ibu. Kedepannya mereka akan terus melebarkan usaha, agar lebih banyak lagi orang-orang yang bisa mereka bantu perekonomiannya. 

Dan hari ini, warung terpaksa tutup karena Marina harus menghadiri sidang perdana perceraiannya, sejujurnya Marina tak ingin proses ini berlarut-larut. Ia ingin melanjutkan hidup, tak perlu lagi pusing mondar-mandir untuk urusan yang sudah jelas hasil akhirnya. 

Karena itulah, ia dengan patuh datang ke pengadilan, agar proses persidangan bisa dipermudah. Kali ini pun sama seperti sebelumnya, Marina kembali datang dengan penampilan memukau, merias wajah dan merombak penampilan, tapi tetap dalam proporsi yang pas dan tidak berlebihan. 

Kecantikan dan keanggunan yang selama ini tak terlihat, kini terpancar indah melalui sorot matanya. Kendati sehari-hari berkutat dengan urusan dapur, tapi Farida mampu membuat tubuh Marina memancarkan aroma harum yang elegan. 

Tak ada prasangka apapun ketika kakinya menginjak lantai pengadilan, namun berbeda dengan lawannya Johan dan Diana, keduanya tersenyum miring, seolah menyimpan rencana licik. 

“Apa kabar, Mas? Diana?” 

Kendati sangat canggung Marina tetap menyapa keduanya, Marina pernah dalam posisi sangat memanjakan mereka dalam hal apapun. 

Dan kini semua lenyap seolah tak pernah ada apa-apa diantara mereka. Dan seolah turut membenarkan perilaku Diana, Johan justru menjadikan anak perempuannya sebagai sekutu dan tameng terbaik. 

“Tentu saja kami baik-baik saja, tak perlu kamu menanyakan hal itu.” Seperti biasa, bila didepan Marina, Johan selalu bisa bersifat angkuh, seolah perannya sebagai pria sederajat dengan jabatan maharaja. 

Namun berbeda bila didepan Sonia, pria itu seolah luluh dan patuh seperti dayang-dayang. Marah, tapi hanya sesekali, itupun tak bisa lama, karena Sonia selalu punya cara merayu dirinya. Walau belakangan caranya merayu sangat menyebalkan. 

“Sepertinya Mama terlihat baik-baik saja tanpa kami, apa pria itu yang membiayai Mama hingga saat ini?” tuduh Diana. 

Marina tercekat, ia tak paham maksud perkataan Diana, dan kenapa juga Diana harus berpikir demikian buruk tentang ibunya. 

Belum sempat Marina menanyakan maksud perkataan Diana, mereka sudah dipanggil masuk ke ruang sidang. 

Suasana sidang masih terasa biasa, ketika Hakim Ketua membuka persidangan. Pria itu mulai bertanya sebab musabab, gagalnya mediasi. 

“Dari pihak kami, jelas menolak semua tuduhan Ibu Marina.” Diana mulai angkat bicara, lagi-lagi hati Marina terasa nyeri, akibat tikaman belati oleh anak sendiri. 

“Bagaimana, Bu Marina?” 

“Pak Hakim Ketua, saya tidak berbohong ketika mengatakan bahwa, Pak Johan sudah memiliki wanita lain, tanpa sepengetahuan saya.” Marina menjawab dengan lugas. 

“Kami menolak tuduhan itu,” jawab Diana singkat. 

“Apa alasan Anda menolak?” tanya hakim ketua. 

“Untuk menjawab hal itu, izinkan saya juga bertanya juga pada Bu Marina. Apakah beliau memiliki bukti bahwa Pak Johan memiliki wanita lain?” Diana menatap tajam pada Marina. Seolah sudah paham bahwa ibunya pasti tak memiliki bukti autentik yang akan membuktikan kata-katanya. 

Dan Diana tersenyum puas manakala Marina menggeleng seperti dugaannya. “Tapi, saat itu banyak saksi yang mendengar, Pak Johan mengakui wanita itu sebagai istri,” ungkap Marina. 

“Bohong! Saya menolak mengakui keterangan Bu Marina.” Johan mengelak keras, karena ia tak mau Diana membaca kebohongannya. 

“Bu Marina, apa Anda memiliki saksi?” tanya Hakim Ketua, mencoba terus mencari akar permasalahan. 

Marina menunduk, “Ada, Pak Hakim, tapi mereka tidak ikut datang.” 

Ketiga Hakim saling berbisik, entah apa yang mereka bicarakan. 

Tak lama kemudian, Diana maju ke meja Hakim ketua, ia menyerahkan sesuatu, dan Marina tak tahu benda apakah yang Diana serahkan. 

“Itu adalah bukti bahwa Bu Marina lah yang memiliki pria lain.” 

Jederrrrr!! 

Lagi, Diana kembali menginjak harga diri Marina, andai sidang perceraian tak bersifat tertutup, tentu saat ini semua orang tengah membicarakan bahkan menuding Marina  sebagai wanita yang haus belaian. 

Marina duduk terdiam, bibirnya bergetar, sekuat tenaga ia menahan lisan, agar tak sampai mengucapkan hal-hal yang bersifat amukan pada anaknya sendiri. Kedua tangannya menggenggam erat pegangan kursi yang didudukinya sebagai pelampiasan kemarahan. 

Seseorang yang juga ada di ruangan tersebut, memperlihatkan gambar yang beberapa saat lalu diserahkan oleh Diana. 

“Anda mengenal pria ini?” tanya Hakim ketua. 

Marina mengangguk, “Kenal Pak Hakim, tapi hanya sebatas kenal, tidak lebih tidak kurang. Beliau adalah orang yang … “

“Pak Johan mengatakan pada saya, bahwa selama menjadi istri beliau, Bu Marina tak pernah berpenampilan menarik, seperti di gambar tersebut, dan seperti saat ini,” sela Diana, yang memanfaatkan celah agar Marina tak bisa lagi mengelak. 

“Tapi kini, Beliau terlihat lebih menarik, setelah mengenal pria di foto tersebut.” 

“Tidak, Pak! Itu semua tidaklah benar!” Marina berdiri, suaranya melengking akibat campuran dari gumpalan emosi yang sejak tadi ia tahan. 

Diana benar-benar membuat sisi lain seorang Marina bangkit, wanita polos nan sabar itu, kini terlihat berapi-api, “Yang sebenarnya, saya bahkan diusir Pak Johan dari rumah beliau, tanpa membawa apapun selain pakaian dan barang pribadi.”

“Itu juga bohong, Pak Hakim!!” elak Johan, “ketika saya tiba di rumah, saya melihat wanita ini yang pergi membawa barang-barangnya. Dia kabur membawa surat-surat rumah, tanah, dan surat penting kendaraan, yang menjadi aset kami.”

Tanpa sepengetahuan siapapun, Johan pernah mendatangi rumahnya, pada malam hari. Tujuannya adalah untuk mencari surat-surat penting bukti kepemilikan tanah, rumah, kendaraan, serta aset lainnya. Tapi karena Marina menyembunyikannya di tempat aman, maka Johan meninggalkan rumahnya dengan tangan kosong. 

Dan sekarang hal itu Johan jadikan alat untuk menuding Marina melakukan hal yang tak pernah ia lakukan. Padahal semua surat-surat yang Johan cari, masih aman di rumah tersebut, Johan hanya tak tahu dimana letaknya. 

Akhirnya, Marina hanya bisa menahan sesak di dadanya, sepanjang akhir sidang ia tak banyak bicara, hanya menunduk dan memegangi dadanya yang terasa semakin nyeri. 

Bahkan Tuan Gusman yang tak tahu apa-apa jadi ikut terseret dalam pusaran konflik rumah tangganya. 

Sidang hari itu pun berakhir, dan agenda sidang berikutnya adalah, menghadirkan saksi dari pihak Marina, karena sampai akhir Marina tetap mengelak tudingan Johan dan Diana. 

Sementara Johan yang nyata-nyata berselingkuh, seolah terbebas dari semua tuduhan. 

•••

Note : tulisan di bab ini hanya ilustrasi semata, menggambarkan suasana ruang sidang secara fiktif, karena suasana ruang sidang yang sebenarnya seperti apa, othor tak pernah melihat secara langsung. 🙏

1
Idah Jafar
banya wanita yg nasib ny sama seperti Marina
JD babu siter anak ny yg suami ny cuek
tp TDK seperti Marina punya keyakinan bisa maju dn sukses
umi istilatun
👍👍
Hanachi
siapa yang merekam ? dan bukti sepenting itu masih disimpan. ga dimusnahkan aja.
Hanachi
kalau bisa beli rumah mah lumayan mampu. apalagi di lahan yang lumayan luas jadi bisa jauh dari rumah warga lain. 😁
Hanachi
berarti yang ngusir mereka tu nenek tiri.
Hanachi
kalau mau nyalahin mah ya harusnya salahin kakeknya dong kenapa selingkuh.
Hanachi
ooo berarti ayahnya Dewangga itu saudara beda ibu ya sama Cakrabima.
Hanachi
kayaknya buruh bangunan ga semiskin itu. aku sering lihat kang bangunan yang motornya bagus ama ngerokok rokok mahal.
Hanachi
rumah masa kecil yang memiliki bunker ? atau bunkernya dibangun setelah Dewangga jadi kaya ?
Hanachi
menghadang di kawasan perumahan, apa ga menarik perhatian banyak orang ?
Hanachi
kateter itu apa ?
moon: iya, kak.

jadi ada selang penghubung, nanti air seni di tampung di dalam kantong khusus.

begitulah, perjuangan ibu yang melahirkan via SC
total 3 replies
Hanachi
kalaupun mau ngasih pelajaran ke Diana kok ya ngebohong sampe segitunya tu ibu mertua.
Hanachi
Gladys terlalu kejam sih. padahal kalau emang Reno jahat mah bisa aja mencampakkan Gladys.
Hanachi
sad boy
Hanachi
eh .. dijadiin pajangan atau ditumpuk aja di gudang nih ?
Hanachi
kenapa seceroboh itu masih menyimpan barang bukti, harusnya mah dimusnahkan aja tongkat baseballnya /Sweat/
Hanachi
CCTV gratis adalah tetanggamu /Chuckle/
Hanachi
padahal kalau mati, yang bisa nyelametin adalah doa anak sholeh. bukan saham Senopati Grup.
Hanachi
huhuhu .. ikut mewek /Sob/
Hanachi
kayaknya kalau masih talak satu, masih bisa rujuk kan ya ? semoga Diana sadar demi debay nya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!