Jika ada perempuan lain yang bisa meluluhkan hati Aksa selain ibu dan adiknya, maka Love lah perempuan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoelfu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Untuk Love
Love berjongkok dengan tangan yang dilipat di atas lutut dengan wajah yang tersembunyi di sana. Jantungnya bertalu dengan sangat cepat. Helaan nafasnya keluar beberapa kali untuk mencoba mengusir rasa malu yang dirasakannya.
Dia bahkan harus berlari tadi ketika keluar dari kantin dan mencari tempat sembunyi seperti dia telah melakukan tindak kriminal, namun tak mau bertanggung jawab.
Dan di sinilah dia sekarang. Berada di luar gedung perpustakaan kampus yang memang jarang di lewati orang-orang.
"Mau gue taruh di mana nih wajah gue?" keluhnya pada diri sendiri. Angin semilir menerbangkan rambutnya dan menguarkan wangi shampo yang dipakainya.
"Bukannya biasanya wajah akan selalu ada di depan ya? Nggak mungkin kan ada wajah yang letaknya di ubun-ubun?" Love sontak menjerit karena kaget.
Si pemilik suara yang menjawab pertanyaannya sudah ada di depannya. Siapa lagi kalau bukan Aksa pelakunya. Lelaki itu sudah ikut berjongkok dengan posisi menghadap Love. Dan sialnya, masih ada jejak tawa di wajah tampan itu.
"Prince ini manusia bukan sih? Kenapa tiba-tiba datang tiba-tiba hilang?" Love ini memang berlebihan, kalau dia tak sibuk dengan rasa malunya, dia pasti akan merasakan jika ada orang lain yang datang. Tapi sayangnya, dia begitu menikmati sekali kegiatan bersembunyinya.
"Kenapa mukanya merah gitu? Alergi?" Aksa terlihat ******** senyum untuk mencibir kekasihnya. Tak merasa kasihan kepada gadis itu yang susah payah menyembunyikan rasa malunya.
Love tak menjawab. Dia kembali menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya dan merengek pada diri sendiri. Memegang puncak kepala Love, lelaki itu bilang, "Nggak mau lihat aku?"
"Eemmm." begitu gumam Love.
"Ok." Aksa berdiri dan berjalan meninggalkan Love yang bertingkah konyol itu.
Mendengar suara langkah kaki, Love mendongak dan mendapati Aksa sudah berjalan agak jauh dari tempatnya. Dengan mata melotot, Love berdiri dan mengejar kekasihnya itu.
Dan langsung menubrukkan tubuhnya ke tubuh lelaki itu untuk melingkarkan tangannya di pinggang Aksa. Sontak saja, Aksa berhenti dan melihat tangan Love sudah melingkar di perutnya. Meskipun terhalang oleh tas punggung Aksa, Love tetap menempelkan pipinya di punggung kekasihnya.
"Prince." manja sekali suara Love. Ada seringaian kecil yang terbit di bibir Aksa.
"Katanya nggak mau lihat aku. Lepas." main-main sebentar dengan Love sepertinya ide yang sama sekali tak buruk.
Karena detik setelah Aksa mengatakan itu, Love langsung melepaskan tangannya untuk bisa berdiri di depan lelaki itu.
"Ih, bercanda tahu. Mana ada lah aku nggak mau lihat Prince lagi. Tapi kan aku malu." lagi, semburat merah terlihat di wajah Love ketika harus mengingat tentang kejadian di kantin tadi.
"Tadi dilihatin orang-orang seisi kantin nggak malu, kenapa aku bilang cinta, kamunya malu? Ah, jangan-jangan kamu malu karena aku bilang cinta ke kamu ya?" Aksa sepertinya belum ingin berhenti mengerjai Love saat ini.
Bahkan ketika wajah Love terlihat panik karena ucapannya pun, dia tetap memasang wajah datarnya.
"Bukan. Bukan kaya gitu. Tapi aku malu karena aku bertingkah malu-maluin tadi. Ihh.. Prince jangan marah." Love sudah menggoyang-goyangkan lengan Aksa karena kekasihnya tak bereaksi.
"Prince." rengeknya lagi. Karena Aksa tak kunjung merespon ucapannya.
Setelah menghela napas, Aksa kemudian menjawab. "Jadi udah mau lihat aku?"
"Mau."
"Kenapa?"
"Karena aku sayang kamu."
"Sayang kamu juga." jawaban Aksa itu membuat Love kelimpungan karena bahagia. Dalam hati menghitung, dalam satu hari ini, sudah berapa kali Aksa mengatakan cinta padanya.
Dan Love mulai sibuk mengingat. Ketika sebuah jawaban muncul di kepalanya, senyumnya terbit lebar sekali.
Kenapa lelaki itu bisa sekali dengan mudah mengatakan cinta? Bahkan hari ini, dia sudah mengatakan cinta kepadanya sebanyak tiga kali. Apa karena Love baru saja sembuh dari sakit? Atau memang inilah sisi lain dari diri Aksa yang baru dia ketahui?
Kalau memang iya, Love begitu beruntung karena mendapatkan cinta dari seorang Aksa Arion Ganendra. Lelaki pendian dengan segala pesona yang dimilikinya.
•°•
Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa, Aksa sudah memulai mengerjakan skripsinya. Dia juga lebih sibuk dengan kegiatannya. Karena tidak lagi memiliki tanggungan kuliah, harinya lebih banyak digunakan di kantor.
Dia juga sudah memulai mempersiapkan apa-apa saja yang digunakan untuk sekolah di Singapura nanti.
Kla juga sudah duduk di bangku kuliah sekarang. Kemunculannya menjadikannya perhatian bagi mahasiswa lain karena selain cantik, dia juga adalah adik dari Aksa.
Apalagi saat Love dan Kla berjalan beriringan seperti sekarang ini. Orang-orang di sana pasti akan memperhatikan mereka sampai mereka tak terlihat lagi. Terlalu berlebihan sih sebetulnya.
"Abang lama ih. Aku laper." Kla duduk di bawah dengan berselonjoran. Kakinya digoyang-goyangkan dengan santai.
"Mau makan dulu?" Love juga ingin segera bertemu dengan lelaki itu tentu saja, tapi dia tak ingin memberondong Aksa dengan panggilan telpon dan memilih bersabar menunggu.
Aksa memang sudah berjanji akan makan siang bersama Kla dan juga Love di Akeda's Palace.
"Enggak ah Kak, nunggu Abang aja." kemudian mereka mengobrolkan banyak hal sambil sesekali tertawa karena kekonyolan yang mereka buat sendiri.
Bahkan tak sungkan, Kla membiarkan tawanya menguar tanpa ditahan.
Sebuah mobil hitam kemudian muncul tak jauh dari mereka dengan plat mobil yang sangat Love kenal. Gadis itu tersenyum dan langsung berdiri, mengajak serta Kla yang masih nyaman dengan posisinya.
"Ayo ah, katanya laper." Love menarik tangan Kla agar gadis itu bisa segera berdiri. Kla menurut tapi beserta cibiran yang gadis itu keluarkan.
"Iya aku emang laper, tapi Kakak lebih laper dari aku kayanya." Love mengernyit. Kaki mereka sudah melangkah untuk segera bertemu Aksa.
"Nggak ah, aku biasa aja."
"Perut Kakak emang nggak laper, tapi hati Kakak tuh yang kelaperan. Laper rindu ingin bertemu sama Abangku. Ngaku nggak?"
Love tentu saja dengan bangganya mengangguk. "Iya. Habisnya, Abang kamu itu ngangenin sih. Bisa bikin orang kelimpungan karena rindu."
Kla hanya bisa mendengus saja mendengar itu, karena setelah sampai di mobil, gadis itu langsung masuk dan duduk di kursi belakang. Membiarkan Love dan Aksa yang saling melempar senyum.
Sampai di Akeda's Palace, mereka langsung memesan banyak makanan. Tentu saja keinginan makanan banyak-banyak adalah princessnya dari Ganendra. Kla.
"Entar malem kamu nggak ada acara kan Princess?" Love menengok ke samping kanannya untuk melihat Aksa yang duduk di sana.
"Enggak. Kenapa? Mau ajak kencan?" mata Love berbinar seperti diberi uang milyaran rupiah.
Tapi gelengan kepala Aksa mematahkan semangatnya. "Bukan. Tapi kamu dapet undangan makan malam dari Bunda." kini bukan hanya Love saja yang kaget, Kla pun juga tak kalah kagetnya.
Sejak kapan dia tak dilibatkan dalam 'rencana' makan malam yang dibuat oleh sang bunda? Jadi, dengan cepat menelan makanan di dalam mulutnya, Kla bertanya. "Abang bohong ya? Kok aku nggak tahu kalau Bunda mau buat acara makan malam? Berapa orang yang di undang?" mata Kla menatap Aksa dengan wajah penasaran.
"Cuma Love."
"Kok....? Ah. Ok. Ngerti aku." Kla mengangguk dan dengan cueknya melanjutkan kegiatan makannya.
Sedangkan Love hanya terdiam tanpa mengatakan apapun. Kenapa tiba-tiba bunda Aksa mengundangnya makan malam? Pikirnya.
Melihat keterdiaman Love, Aksa melarikan tangan kirinya untuk mengelus puncak kepala gadis itu. "Cuma makan malam, nggak akan ada jebakan apapun. Nggak perlu khawatir." Love tersenyum saja mendengar itu.
Gadis itu tentu saja merasa khawatir karena undangan yang tiba-tiba. Apalagi sekalipun, Love belum pernah datang ke rumah Aksa dengan inisiatifnya sendiri. Padahal orang tua Aksa sudah tahu hubungannya dengan putra mereka.
Nah kan, Love jadi tak enak hati sendiri sekarang.
"Kenapa jadi diam gitu sih?" mereka sudah selesai makan siang. Kla sudah dijemput sopirnya, dan Aksa menemani Love yang juga menunggu jemputan.
"Kepikiran aja sih Prince."
"Tentang?"
"Makan malam itu. Maksudku gini loh," Love langsung buru-buru akan menjelaskan ketika Aksa mengernyitkan dahinya. "Kayanya aku kurang banget inisiatifnya deh. Harusnya kan aku nemuin Bunda kamu sesekali. Toh keluarga kamu udah tahu kalau kita pacaran." Love mengeluarkan unek-uneknya.
"Kayanya kok aku ni nggak tahu diri banget sih nggak nyempetin berkunjung ke rumah kamu, setelah izin pacaran sama kamu diberi dengan cuma-cuma sama mereka. Bahkan Papaku aja nyulitin kamu." lanjut Love panjang.
"Itu bukan masalah. Baik Bunda apalagi Ayah, nggak pernah membahas ini. Mereka juga pasti mikirnya karena kamu sibuk kuliah." Aksa memberi isyarat dengan mengedikkan kepalanya ke arah mobil yang mendekati mereka.
"Jemputannya undah dateng. Pulang gih. Entar habis maghrib aku jemput. Dan nggak perlu dipikirin masalah ini. Semua baik-baik aja."
Love menurut dan masuk ke dalam mobil yang sudah Aksa bukakan untuknya. Dia juga ingin bisa segera pulang dan mengatakan kegelisahannya kepada sang bunda.
•°•