NovelToon NovelToon
Maximilien

Maximilien

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dikelilingi wanita cantik / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Kisah Pencinta Yang Asing

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saling Menyakiti

Luka yang ditinggalkan Max di Paris bukan lagi sekadar goresan, melainkan lubang hitam yang menghisap seluruh cahaya dalam hidup Guzzel. Pengkhianatan itu terlalu sempurna, terlalu terencana, dan terlalu menyakitkan untuk dimaafkan.

​Max tidak benar-benar ingin pergi. Malam terakhir di Paris, saat Guzzel tertidur lelap dalam pelukannya, ponsel Max bergetar. Sebuah video masuk dari ayahnya. Di sana, Max melihat ibunya, wanita yang selama ini ia benci namun tetap ia lindungi dari kejauhan sedang duduk di sebuah ruangan pengap, dikelilingi oleh pria-pria suruhan ayahnya.

​"Kau pikir aku tidak tahu kau di Paris, Max?" suara ayahnya terdengar dingin di telepon. "Kembali ke New York besok pagi, atau aku akan memastikan ibumu menghilang selamanya. Dan tentang gadis Guzzalie itu... jika kau tidak meninggalkannya dengan cara yang paling menghancurkannya, aku sendiri yang akan menghancurkan ayahnya dan seluruh dinasti mereka. Buat dia membencimu, Max. Itu satu-satunya cara agar dia selamat dari tanganku."

​Max menangis dalam diam saat melepaskan cincin dari jari Guzzel. Dia menulis surat kejam itu dengan tangan yang gemetar hebat, menghancurkan jiwanya sendiri demi menyelamatkan nyawa orang-orang yang dicintai Guzzel. Dia pergi dengan hati yang mati, kembali ke New York sebagai robot tanpa perasaan.

​Satu bulan kemudian..

Universitas Columbia diguncang oleh kembalinya Delisa Guzzalie Dante. Namun, Guzzel yang kembali bukanlah gadis lembut yang selalu bersembunyi di balik buku.

​Guzzel muncul dengan penampilan yang drastis. Gaun-gaun sopannya diganti dengan pakaian yang sangat minim, provokatif, dan berani. Dia berjalan di lorong kampus dengan lipstik merah menyala dan tatapan mata yang menantang.

Dia tidak lagi menghindari pria, sebaliknya, dia membiarkan pria-pria seperti Justine dan banyak lainnya mengelilinginya, menyentuh pinggangnya, dan berbisik di telinganya di depan mata semua orang.

​Guzzel ingin Max melihatnya. Dia ingin Max tahu bahwa dia telah menjadi "wanita binal" yang Max benci, hanya untuk menyiksa pria itu.

​Di kantin kampus yang ramai, Guzzel sengaja duduk di meja yang berdekatan dengan Max. Dia tertawa keras, membiarkan tangan Justine mengelus bahunya yang terbuka.

​"Kau tahu, Justine," suara Guzzel meninggi, sengaja agar Max mendengar, "ternyata benar apa kata orang. Pria dingin itu membosankan. Aku lebih suka pria yang tahu cara bersenang-senang, bukan pria yang hanya penasaran lalu melarikan diri seperti pecundang."

​Max, yang duduk di mejanya, mencengkeram garpunya hingga buku jarinya memutih. Amarah dan cemburu membakar dadanya melihat Guzzel membiarkan pria lain menyentuhnya. Dia ingin berteriak, ingin menyeret Guzzel keluar dari sana, tapi dia teringat ancaman ayahnya. Dia harus tetap diam. Dia harus membiarkan Guzzel membencinya.

​Setiap hari di kampus menjadi ajang saling menyakiti. Guzzel terus memprovokasi Max dengan perilaku binalnya. Dia sengaja mengajak berciuman dengan pria acak di lorong yang dilewati Max, atau mengenakan pakaian yang sangat terbuka saat mereka harus berada dalam satu kelas proyek.

​Suatu malam di sebuah pesta liar di rooftop Manhattan, Guzzel yang sudah setengah mabuk berdiri di tepi balkon. Max muncul, tidak tahan lagi melihat Guzzel kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

​"Hentikan semua ini, Guzzel!" Max menarik lengan Guzzel, menjauhkannya dari kerumunan pria yang haus mangsa.

​Guzzel berbalik, matanya merah karena alkohol dan air mata yang tertahan. Dia tertawa sinis, mendorong dada Max.

"Kenapa? Apa kau penasaran lagi, Max? Mau mencicipi lagi bagaimana rasanya bersentuhan dengan wanita binal sepertiku? Bukankah itu tujuanmu? Menggunakan tubuhku lalu membuangku?"

​"Guzzel, kau menghancurkan dirimu sendiri!" bentak Max.

​"Aku sudah hancur sejak pagi itu di Paris!" jerit Guzzel. "Sekarang aku hanya melakukan apa yang kau katakan, bersenang-senang!

"Lihat aku, Max! Lihat betapa murahannya aku sekarang! Bukankah ini yang kau inginkan? Agar kau tidak perlu merasa bersalah karena telah membuangku?"

​Guzzel menarik kerah baju Max, memaksa pria itu menatapnya. "Cium aku, Max. Cium aku di depan mereka semua, lalu katakan lagi bahwa rasanya biasa saja. Katakan bahwa aku hanya alat eksperimenmu!"

​Max menatap bibir Guzzel yang gemetar. Dia sangat ingin menciumnya, ingin memohon ampun, ingin mengatakan bahwa dia melakukan semua ini untuk melindunginya. Tapi dia tidak bisa. Dia hanya bisa menatap Guzzel dengan tatapan paling dingin yang bisa dia buat.

​"Kau benar," desis Max, meskipun hatinya hancur berkeping-keping. "Kau terlihat murahan sekarang. Dan kau tahu? Kau bahkan tidak lagi menarik untuk membuatku penasaran."

​Max melepaskan Guzzel dan berjalan pergi. Begitu dia sampai di mobilnya, Max memukul kemudi hingga tangannya berdarah. Dia meraung dalam kesunyian, menangis sejadi-jadinya atas kehancuran wanita yang ia puja.

​Malam itu, New York menyaksikan dua jiwa yang paling menderita.

​Di apartemennya, Guzzel merobek pakaian provokatifnya, menghapus lipstik merahnya dengan kasar hingga bibirnya berdarah. Dia meringkuk di lantai kamar mandi, menangis histeris.

Dia membenci dirinya sendiri karena berperilaku binal, tapi dia lebih membenci Max karena pria itu seolah tidak peduli.

​Sedangkan di kediaman Vance, Max duduk di ruang gelap, menatap foto ibunya dan pesan-pesan lama dari "Lia" di ponsel rahasianya. Dia tahu dia sedang menghancurkan Guzzel, dan dengan melakukan itu, dia juga menghancurkan dirinya sendiri.

​Mereka berada di kota yang sama, di bawah langit yang sama, saling merindukan dengan hebat, namun terpisah oleh tembok dendam dan ancaman yang mematikan. Penyatuan panas di Paris kini terasa seperti mimpi buruk yang indah, sebuah kenangan yang kini mereka gunakan sebagai senjata untuk saling melukai satu sama lain setiap harinya.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading 🥰😍🥰😍

1
ren_iren
pliss jangan rusak aurelia dgn dendam ke saudaranya kak....
iluh asrini
cerita yang sangat menarik terimakasih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!