NovelToon NovelToon
Negeri Para Penyihir

Negeri Para Penyihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Sistem / Epik Petualangan / EXO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Karena pengkhianatan yang dilakukan oleh kekasihnya, Bumi terlempar ke dunia penyihir, tempat dimana kekuatan sangat di perlukan untuk bertahan hidup.

Bumi diangkat menjadi anak seorang penyihir wanita paling berbakat era itu. Hidupnya mulai mengalami perubahan, berpetualang menantang maut dan berperang.

Meski semuanya tak lagi sama, Bumi masih menyimpan nama kekasihnya dalam hatinya, dia bertekad suatu hari nanti akan kembali dan meminta penjelasan.

Namun, gejolak besar yang terjadi di dunia penyihir membuat semuanya menjadi rumit. Masih banyak rahasia yang di simpan rapat, kabut misteri yang menyelimuti Bumi enggan menghilang. Lantas saat semuanya benar-benar tidak terkendali, masih adakah setitik harapan yang bisa diraih?

*

cerita ini murni ide author, jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat itu hanyalah fiktif belaka.

ig: @aca_0325

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Setelah melewati pintu batu, ada terowongan beraspal yang panjang, dan di sepanjang terowongan, antara setiap beberapa meter, ada mutiara malam bertatahkan yang melapisi dinding. Karena pencahayaan mutiara malam, terowongan itu tidak tenggelam dalam kegelapan total.

Analika dan Jeremy melangkah maju, berjalan diam-diam di terowongan yang sunyi, suasana sedikit menyeramkan. Jeremy ingin menemukan sesuatu untuk dibicarakan untuk meringankan suasana, tetapi dia tidak dapat memulai percakapan ketika dia melihat ekspresi acuh tak acuh di wajah Analika.

Tepat ketika Jeremy tidak tahan lagi dan ingin mengatakan sesuatu, jalan di depan mereka berakhir, dinding batu tebal menghalangi jalan mereka. Namun, ada persimpangan di terowongan, dengan dua jalan di setiap sisinya.

Jeremy memandang kedua sisi, mengamati bahwa terowongan tidak lagi memiliki mutiara malam untuk menerangi kegelapan. Dia tidak bisa melihat situasi lebih jauh, jadi Jeremy bertanya " Kemana kita harus pergi, Lika?"

Analika memandang kedua sisi dan berbicara. "Ada tanda-tanda jelas jejak kaki di sisi kiri, yang seharusnya menjadi arah jalan orang berbaju biru, amil jalan ini."

Setelah mengatakan itu dia mengeluarkan sihir dari tangannya sebagai penerangan dan memimpin jalan.

"Tempat ini bisa menjadi goa pendahulu, jadi sebaiknya hati-hati. Biasanya ada semacam sihir batasan di tempat seperti ini." Kata Analika.

"Kalau begitu pasti kita bisa menemukan sesuatu." Jeremy menyahut dari belakang.

"Jangan naif. Kita kesini untuk mengejar orang, menangkapnya dan membunuhnya jika membahayakan Terra."kata Analika tertawa dingin.

"Ah, selama ada kau tidak ada yang perlu di takutkan. Selama mengikutimu aku akan baik-baik saja." Jeremy tersenyum.

Analika memasang ekspresi dingin dan tidak mengatakan apa-apa. Setelah mereka melakukan perjalanan untuk jarak tertentu, mereka menemukan ruang bayu di depan mereka.

Analika mengarahkan jarinya yang bersinar biru dan mengukur ruangan itu dengan hati-hati. Ruangan batu tidak luas, di tengah meja batu dan bangku batu dan dikelilingi oleh dinding yang halus. Di atas ruangan itu ada sejumlah besar mutiara malam yang membentuk citra aneh seekor burung.

Saat keduanya sedang mengamati dengan serius, meja batu di ruang batu mulai bergerak, perlahan-lahan bergerak dalam gerakan berlawanan arah dari jarum jam. Analika menyiapkan sihir di tangan kanan dengan waspada, Jeremy mengikuti dari samping. Ketika meja berhenti berputar, dinding batu di sisi kanan tiba-tiba membuka pintu batu. Ada terowongan lain.

Analika mengeluarkan sihir dan melemparkan ke depan, membuat tempat itu menjadi lebih terang. Selain dari terowongan tidak ada yang lain. Setelah ragu-ragu untuk sesaat, Analika perlahan mengikuti terowongan dan turun, meninggalkan Jeremy tanpa pilihan lain mengikutinya.

" Kau yakin tempat ini tidak, eum-" Jeremy nampak ragu, tapi setelahnya kembali bersuara, " bagaimana kalau jebakan?"

"Maka orang yang menjebak itu akan mati."balas Analika dingin. Jeremy mengangguk kaku, tidak lagi bertanya.

Mereka berjalan dalam keheningan. Setelah jarak tertentu, bidang penglihatan mereka tiba-tiba melebar, dan platform batu besar muncul di depan mata mereka

Diatasnya duduk satu sosok berjubah biru, dialah orang yang mereka ikuti. Dia duduk dalam posisi semedi, matanya terpejam. Wajahnya tegas dan lembut secara bersamaan, usianya mungkin jauh diatas Jeremy ataupun Analika. Dia memakai penutup kepala yang menyembunyikan seluruh rambutnya.

" Selamat datang. Duduklah, bersikap selayaknya tamu." Suaranya menggema, tiba-tiba membuka matanya. Dia ternyata tidak ada mata, tempat yang seharusnya di isi dengan bola mata, kosong, menyisakan rongga angker yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Siapa kau?"tanya Analika menetralkan kembali wajah kagetnya.

"Bukankah seharusnya aku yang bertanya? Kau masuk ke wilayah ku tanpa izin." Ucap orang itu tenang.

Analika memperhatikan orang itu dengan cermat, meskipun orang itu bukan penyihir ataupun iblis, dia memancarkan aura yang tidak biasa. Dia berbahaya bahkan hanya dengan menatap rongga matanya yang kosong menimbulkan getaran bahaya.

"Namaku Jeremy, maaf telah masuk kesini, kami sedang mengejar orang yang sudah membakar hutan kematian." Jeremy buru-buru menjelaskan sebelum Analika memperburuk keadaan.

Sudut bibir orang berjubah biru terangkat membentuk seringaian lebar. Dia turun dari platform batu, ditangannya memegang sebilah pedang pendek. Tanpa banyak bicara dia melompat kedepan, menyerang ke dada Analika.

Analika menyambut serangan itu dengan sihir Caeruleus ke tujuh, berupa bola-bola biru yang menyimpan api dingin.

Orang berjubah biru melompat dua kali di udara, tangannya bergerak lihai memotong puluhan bola yang mengelilinginya.

Crash!

Crash!

Crash!

Melihat itu Analika mengambil langkah mundur, tatapannya menjadi lebih waspada, orang ini tidak bisa di remehkan. Jeremy maju menggantikan Analika, dia mengeluarkan sihir tingkat tujuh yang tidak kalah hebat dari sihir yang dikeluarkan Analika.

Sihir klan Viridis sebenarnya lebih unggul dalam penyembuhan, namun jika digunakan untuk penyerangan juga tak kalah hebat.

Bola hijau transparan yang dilepaskan Jeremy mengenai pelipis orang berjubah biru.

Tsssss!

Daging pipinya melepuh, tulangnya nampak jelas, lalu perlahan di sekitar luka itu mulai menghitam.

Dalam bola hijau itu mengandung racun sehingga bisa menyebabkan kulit melepuh dan panas. Orang berjubah biru tidak nampak terganggu deng lukanya, dia terus melancarkan serangan. Pedang pendek memotong semua bola dan untuk sesaat ruangan batu itu dipenuhi warna hijau yang mencolok, itu adalah gas beracun yang ada dalam bola hijau transparan.

Analika menutup indera penciuman dan penglihatannya agar tidak terkena efek samping dari racun hijau tersebut dan saat membuka mata kembali orang berjubah biru sudah menghilang.

***

Jangan lupa like, komen dan votee..

1
biruu
💯
Ega
👍👍
Kevin
⭐⭐⭐⭐⭐
Alya
💯👍
Lunaire astrum
karya bagus
☠ᵏᵋᶜᶟ❤️⃟Wᵃf 𝐊𝐢𝐤𝐲𝐀⃝🥀
bisa" lu mikir gitu bumi haha
☠ᵏᵋᶜᶟ❤️⃟Wᵃf 𝐊𝐢𝐤𝐲𝐀⃝🥀
hah? cepet banget metong, dan lu makan kah isi perut dia del, makanya ilang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!