Jeevan Aleser, sosok karismatik yang terkenal baik hati dan dermawan sebenarnya adalah seorang pencuri berlian dan barang antik. Dalam dunia kejahatan, Jeevan dikenal dengan sebutan Mr. A.
Mr. A yang tidak pernah gagal menjalankan aksinya, suatu hari terdesak hingga menawan seorang gadis untuk menyelamatkan diri. Aleena, gadis tawanan Mr. A adalah seorang gelandangan yang dibuang keluarganya.
Sebuah kisah romantis komedi yang terbalut dalam aksi pencurian dan pembalasan dendam. Akankah Aleena dan Jeevan dapat hidup bahagia dengan tenang? Ataukah pada akhirnya mereka menjalani hidup sebagai buronan bahkan menjadi tahana? Ikuti kisah cinta penuh aksi dalam kisah ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoemi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Total Hutang
~Keingianan dan kebutuhan adalah dua hal yang berbeda. Yang kamu inginkan belum tentu kamu butuhkan, sementara yang kamu butuhkan sudah tentu kamu inginkan~ Yoemi
⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳⏳
Malam menurunkan rembulan dan bintang-bintang sebagai hiasan. Ada pekat yang tercabik oleh bilah cahaya remang sang dewi malam. Menyuguhkan temaram yang indah nan romantis. Jauh dari hingar bingar kemelut kota yang menyesakkan pikiran.
Aleena duduk di balkon belakang usai malam. Dirinya asyik berselancar di dunia maya. Melihat beberapa berita terbaru dari dunia hiburan. Lalu beralih mengecek menu masakan. Merencanakan apa yang akan dia masak besok pagi.
Setelah membuka beberapa resep dan tutorial mengolahnya, Aleena sudah menentukan satu pilihan. Tidak lupa, dia mencatat menu tersebut ke dalam buku kumpulan resep miliknya. Buku tersebut dibelikan oleh Ryan di hari kedua Aleena bekerja. Sebuah buku dengan ukuran separuh buku tulis normal. Kata Ryan sebagai ucapan terima kasih atas sarapan yang Aleena bawakan.
Setelah puas melihat aneka menu, Aleena tiba-tiba iseng mengecek harga baju yang dia kenakan. Mulanya, dia menulis merk yang tersemat di bajunya. Sebuah merk ternama, ada nama desainer dan alamat butiknya juga. Selain itu, di layar ponselnya juga menampilkan banyak model pakaian besutan desainer tersebut.
Aleena mencoba membuka satu desain dan melihat harga yang tertera di bawah foto. Betapa terkejutnya Aleena. Harganya cukup fantastis. Satu baju setara dengan gajinya setahun di tempat kerja part time-nya dulu. Otomatis, mulut Aleena terbuka lebar dengan mata melotot. Tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Akhirnya, Aleena membuka lagi desain lainnya. Mungkin saja ada kesalahan saat menuliskan harganya. Begitu yang terlintas dalam pikiran Aleena. Sayangnya, itu bukan sebuah kesalahan. Aleena semakin tercengang ketika melihat harga gaun terbaru yang butik itu luncurkan. Harga yang tentu diluar jangkauan Aleena.
"Semahal ini ... lalu bagaimana dengan harga baju-baju yang aku pakai?" gumam Aleena.
Dengan lincah, Aleena mencari jawaban dari rasa penasarannya. Jemarinya menggeser-geser layar ponsel. Mencari model yang sama dengan baju yang dia miliki.
"Ketemu ..." ucap Aleena girang dengan sorot mata bahagia.
Sayangnya, kegirangan itu hanya sebentar. Setelah Aleena tahu harga baju-baju yang dia gunakan, tiba-tiba wajahnya mengeluarkan semburat kesedihan.
"Jika aku menjumlahkan semua harga baju-baju itu ... bekerja seumur hidup pun, mungkin aku juga tidak akan mampu menggantinya pada Tuan Jee ...."
Aleena melamun. Mencari cara untuk membalas kebaikan Jeevan. Bagiamana pun, Aleena merasa berhutang banyak pada Jeevan. Mungkin, jika suatu saat nanti Jeevan meminta nyawanya, Aleena dengan senang hati akan memberikannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" pertanyaan Jeevan mengejutkan Aleena. Sekaligus membuyarkan lamunan Aleena tentang strateginya untuk membalas budi.
"Tidak, Tuan Jee ... aku hanya mencari resep masakan baru untuk besok ...."
"Benarkah?"
"Tentu, memang apa lagi, Tuan?"
"Resep masakan apa yang membuatmu sampai melamun?" desak Jeevan.
"Itu ... em ..." Aleena mati kutu. Bingung memberi jawaban.
"Purnama malam ini sangat indah," ucap Jeevan yang sudah mengalihkan pembicaraan.
"Eh, apa Tuan Jee?"
"Rupanya kau memang belum sadar dari lamunanmu!"
Jeevan dengan cepat merebut ponsel Aleena dan melihat riwayat pencariannya.
"Tuan Jee ... aku ...."
"Apa baju-baju yang kuberikan masih kurang? Kau ingin membeli yang baru?" tanya Jeevan yang salah paham.
"Bukan ... bukan begitu, Tuan Jee ...." Aleena mengibas-ngibaskan tangannya. "Baju dari gudang kemarin cukup banyak. Sebagian bahkan belum aku pakai."
"Lalu, untuk apa kau melihat semua ini?"
"Itu ... sebenarnya aku ...." Aleena menatap Jeevan. "Tuan Jee, Anda sangat baik. Terima kasih untuk semuanya. Tadi aku hanya iseng mengecek harga pakaian-pakaian yang aku gunakan. Sebenarnya ini terlalu mahal. Aku tidak akan sanggup membayar semuanya," terang Aleena dengan jujur.
"Oh, jadi kau ingin membayarnya? Kau cukup tahu diri ternyata. Lalu, jika kau tidak sanggup membayar dengan uang, dengan apa kau akan membayarnya?" Jeevan mengerling mesum.
"Tuan Jee ... apa yang Anda lihat?" Aleena canggung dengan tatapan Jeevan.
"Bagaimana jika tubuhmu ...."
"Udara di sini dingin. Akan kubiarkan kopi untuk Tuan," potong Aleena.
Aleena cepat-cepat meninggalkan Jeevan menuju dapur. Dalam pikiran Aleena, Jeevan akan meminta tubuhnya sebagai bayaran untuk hutangnya.
"Bagaimana jika tubuhmu yang dekil itu kujadikan "umpan$ untuk aksiku bulan depan?" ucap Jeevan lirih setelah Aleena pergi.
Jeevan duduk di kursi malas. Memandangi purnama dari balkon. Pada wajah bulan yang dia lihat, ada bayangan senyum Aleena. Itu membuat perasaannya menjadi tentram. Ada bahagia yang menyelimuti hatinya.
Sebuah senyum simpul mengembang di bibir Jeevan. Membuat paras tampannya semakin memancar.
"Gadis itu memang berbeda. Hanya butuh pemantik kecil untuk membangkitkan keberaniannya," ujar Jeevan pada diri sendiri. Dia kembali tersenyum memandang bulan. Sosok Aleena menari-nari diantara bintang-bintang yang berpendar terang.
mampir di ceritaku judulnya "impian surga" cerita bergenre spiritual romance.
yg datang ke lapak ku InsyaAllah akan ada kunjungan balasan. terima kasih..
mari saling mendukung .. ☺️