Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Season 2 : Goblin Galak
Langkahku melambat, namun setiap pijakanku meninggalkan jejak karbon yang menghitam di atas permukaan tanah. Atmosfer di sekitarku sudah bukan lagi udara, melainkan partikel api yang siap meledak.
Niatku sudah bulat, aku akan melenyapkan setiap inci kehidupan di hutan ini jika itu berarti aku bisa menemukan Cloudet dalam keadaan utuh. Panas yang berdenyut di bawah kulitku terasa seperti lahar yang mencari celah untuk keluar, dan mataku telah mengunci koordinat di mana aura Kael terasa paling pekat.
Namun, saat aku menembus tirai semak terakhir yang memisahkan area hutan luar dengan jantung Scotra, pemandangan yang menyambutku membuat seluruh sirkuit logikaku mengalami malfungsi total.
Api yang menyelimuti bahuku perlahan mengecil, bukan karena padam, melainkan karena aku terlalu terkejut untuk mempertahankan konsentrasi ku.
Aku terdiam. Benar-benar terpaku di tempat, dengan mulut sedikit terbuka.
Di hadapanku, di sebuah area terbuka yang hancur berantakan seolah habis dihantam meteor, Cloudet duduk dengan sikap yang sangat meremehkan situasi.
Dalam wujud Hellhound hitamnya yang megah, sosok yang seharusnya memancarkan teror. Ia justru tampak seperti seekor peliharaan yang sedang bosan di sore hari.
Ekor besarnya yang berbulu lebat tergeletak malas di tanah, bergerak sekali-sekali seperti cambuk yang tidak bertenaga.
Telinganya tegak sempurna, dan ekspresi di wajah monsternya itu, sangat datar. Sangat pasif dan sangat “Cloudet".
Dan yang membuat otakku butuh beberapa detik ekstra untuk memproses realitas ini adalah posisi Kael.
Sang penguasa ular, entitas yang ditakuti karena kelicikan dan kekuatannya, kini berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan.
Ia telah kembali ke wujud manusia, telentang di tanah yang sedikit cekung. Seluruh tubuhnya terjepit di bawah satu cakar (paw) Cloudet yang berukuran raksasa.
Cloudet menindih dadanya dengan tekanan yang sangat presisi, cukup kuat untuk memastikan Kael tidak bisa berkutik, namun cukup terkendali agar tidak menghancurkan tulang rusuknya seketika.
Cloudet hanya menatapnya tanpa emosi. Tatapan itu seolah mengatakan:
“Jangan bergerak, atau kau akan menjadi rata dengan tanah."
Aku berkedip sekali. Dua kali. Suara api yang menderu di tanganku kini benar-benar senyap.
"...Hah?."
Hanya itu suku kata yang mampu keluar dari tenggorokanku.
Kael akhirnya menyadari kehadiranku. Ia memutar kepalanya dengan susah payah, wajahnya meringis menahan beban.
Rambut hitam dengan ujung kehijauannya yang biasanya tertata rapi kini berantakan, penuh dengan tanah dan daun kering.
Tidak ada lagi sisa-sisa aura predator yang ia pamerkan tadi; yang tersisa hanyalah harga diri nya yang hancur diiringi dengan sesak napas nya yang nyata.
"Uh—hei,"
katanya terengah, suaranya terdengar pecah. Ia mencoba memaksakan seringai santai, walau jelas-jelas itu gagal total karena ia sedang dipres oleh seekor monster hitam.
“Tolong... suruh adikmu ini untuk sedikit bersikap sopan pada tuan rumah. Suruh dia untuk melepaskan aku, Calix."
Belum sempat aku membalas atau mengeluarkan satu kata sarkasme—
Duk.
Cloudet menghentakkan paw raksasanya sedikit lebih kuat ke arah dada Kael. Itu adalah gerakan kecil yang penuh pernyataan, seperti seekor anak anjing yang merasa kesal karena mainan di bawah kakinya terlalu banyak bicara.
"Akh—!"
Kael mengerang keras, wajahnya memerah karena pasokan oksigen yang mendadak terhenti.
“Aku serius—dia... dia jauh lebih berat dari kelihatannya!"
Aku menutup mulutku dengan punggung tangan. Bahuku mulai bergetar hebat. Rasa lega yang luar biasa mendadak membanjiri dadaku, menyapu habis amarah yang tadi membara. Rasa lega itu begitu kuat hingga berubah menjadi dorongan tawa yang hampir tak tertahankan.
Aku... hampir tertawa di tengah kehancuran hutan ini.
Hampir.
Aura apiku benar-benar meredup, menyisakan asap tipis yang menguap dari ujung jemariku.
Cloudet tidak hanya baik-baik saja, dia telah mendominasi keadaan dengan cara yang paling memalukan bagi lawan kuat seperti Kael.
Aku melangkah mendekat, bunyi sepatu botku yang menginjak ranting patah memecah kesunyian.
Cloudet menoleh padaku. Seketika, kilat liar di mata kuningnya melunak. Tegangannya mengendur. Ekor raksasanya bergerak pelan menyapu tanah, menciptakan bunyi sruk-sruk yang menunjukkan bahwa dia mengenaliku.
"Cloudet," panggilku dengan nada yang kupaksakan agar tetap tenang.
Ia mendengus kecil melalui moncong besarnya, mengeluarkan uap panas yang tipis. Dengan gerakan yang sangat enggan, seolah masih ingin bermain lebih lama, ia mengangkat cakarnya dari dada Kael dan mundur satu langkah.
Namun, ia tidak pergi jauh. Ia tetap duduk di dekat sana, matanya masih mengunci sosok Kael, siap untuk kembali menindih jika pria ular itu mencoba melakukan gerakan mencurigakan.
Kael langsung menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun dengan liar. Ia batuk-batuk kecil sambil memegangi tulang dadanya, berusaha duduk meski seluruh tubuhnya pasti terasa remuk.
"...Demi sang pencipta,"
gumam Kael dengan suara serak.
“Anak ini... dia benar-benar tidak normal. Dia adalah kelainan genetik yang sangat berbahaya."
Aku menatapnya dengan tatapan datar dan dingin. Aku melirik Cloudet sekilas, yang kini mulai kembali ke wujud manusianya dalam kepulan kabut hitam kecil, sebelum kembali menatap Kael dengan binar ancaman yang masih tersisa di mataku.
"Maaf,"
ucapku dengan nada yang sama sekali tidak mengandung unsur penyesalan.
“Dia memang terlalu aktif belakangan ini. Nampaknya dia butuh objek latihan yang lebih kokoh."
Kael menatapku, lalu tertawa kecil meski tawanya diakhiri dengan rintihan kesakitan.
"'Aktif katamu?," ujarnya penuh sarkasme.
“Kau memberinya makan apa di mansion itu? Daging naga? Dia bahkan tidak memberiku kesempatan untuk mengeluarkan racunku."
Cloudet, yang kini sudah kembali menjadi gadis kecil berpakaian sedikit kotor, mendekat ke kakiku. Ia berdiri rapi di sisiku, kepalanya sedikit terangkat dengan dagu yang menonjol, pose tidak bersalah yang sangat menggemaskan sekaligus mengerikan jika mengingat apa yang baru saja ia lakukan.
Aku menurunkan tanganku dan mengusap rambut hitamnya singkat. Suhu tubuhnya sudah kembali normal.
Tatapanku kembali mengeras, menjadi setajam belati saat tertuju pada Kael.
"Kau menyentuhnya,"
kataku pelan, suaranya bergetar dengan ancaman yang lebih berbahaya dari sekadar api.
"Dan itu adalah kesalahan terbesar yang pernah kau buat."
Kael berhenti tertawa. Matanya menyipit, menatap Cloudet sekali lagi, kali ini bukan dengan nada menggoda atau meremehkan, melainkan dengan minat yang jauh lebih serius, sebuah pengakuan terhadap predator yang setara.
"...Dia menarik," katanya jujur, sembari bangkit berdiri dengan kaki yang masih sedikit gemetar.
"Sangat menarik. Dan jauh lebih berbahaya dari yang pernah aku bayangkan, Calix."
"Aku tahu," jawabku singkat.
Aku menoleh ke arah Cloudet, memastikan sekali lagi secara visual.
“Kau baik-baik saja? Ada yang luka?"
Cloudet mengangguk cepat, wajahnya kembali ke ekspresi datarnya yang biasa. Lalu, dengan nada polos yang sangat kontras dengan kehancuran di sekitar kami, ia berkata,
“Dia licin seperti belut, Kak. Tapi ternyata sangat empuk. Aku tidak sengaja menekannya terlalu keras."
Aku terdiam sejenak, mencerna kalimat polosnya.
Lalu, tawa kecil yang tulus akhirnya keluar dari bibirku. Hutan Scotra kembali sunyi, menyisakan aroma kayu terbakar dan tanah yang terbongkar.
Aku menghela napas panjang sembari memandangi Cloudet yang berdiri dengan wajah tanpa dosa di tengah puing-puing dahan pepohonan yang jatuh.
Aku tahu persis wataknya, jika aku membiarkan kedua kaki mungil itu menapak di tanah dalam perjalanan pulang, ia pasti akan menemukan objek menarik lainnya dan melesat menghilang ke dalam rimbunnya belukar dalam hitungan detik.
Untuk memastikan "aset berbahaya" ini tetap berada dalam jangkauan radar pengawasanku, aku memutuskan untuk tidak mengambil risiko.
Tanpa banyak bicara, aku menyambar tubuhnya dan mengangkatnya ke dalam gendonganku.
Cloudet sempat meronta sebentar, namun akhirnya ia menyerah dan melingkarkan lengannya di leherku, mencari posisi nyaman seolah baru saja menyelesaikan tugas negara yang melelahkan.
Aku berbalik, mulai melangkah meninggalkan jantung Hutan Scotra yang berantakan. Namun, aku merasakan kepala Cloudet bergerak, ia menoleh ke arah belakang melewati bahuku.
Di sana, Kael masih terduduk di atas tanah yang retak, berusaha mengatur napasnya yang tersengal. Wajahnya yang pucat tampak semakin masam, sepasang matanya yang vertikal menatap sinis ke arah kami, menyimpan dendam sekaligus rasa malu yang tak terlukiskan karena baru saja ditaklukkan oleh seorang anak kecil.
Di tengah suasana yang seharusnya penuh permusuhan itu, Cloudet justru menunjukkan sisi polosnya yang paling menyebalkan sekaligus menggemaskan. Ia memberikan senyum ceria yang paling tulus, lalu mengangkat tangan mungilnya dan melambai dengan semangat ke arah sang penguasa ular.
“Sampai jumpa, Paman Ular!”
serunya riang, suaranya menggema jernih di antara pepohonan.
Aku hampir tersedak tawaku sendiri mendengar panggilan itu. Aku bisa membayangkan bagaimana harga diri Kael hancur berkeping-keping menjadi debu.
Benar saja, dari belakang sana, terdengar raungan kesal yang serak dan penuh penekanan.
“Jangan datang lagi ke sini, dasar monster kecil sialan! Pergilah dan jangan pernah menampakkan wajahmu di wilayahku lagi!”
teriak Kael, yang meski terdengar marah, jelas terselip nada trauma di setiap suku katanya.
Aku mempercepat langkah, menjauh dari amukan pria ular tersebut. Di bawah kanopi hutan yang mulai meredup tertutup senja, aku melirik ke arah Cloudet yang kini tampak sangat puas dengan dirinya sendiri.
“Kau ini benar-benar ya,” ucapku dengan nada yang berusaha kubuat tegas, meski kegelian masih menggelitik dadaku.
“Dengar, jangan pernah sekali pun kau pergi sendirian lagi tanpa izinku atau Ayah. Kau ini masih kecil, Cloudet. Dunia luar tidak sesederhana taman belakang mansion.”
Cloudet mengerucutkan bibirnya, sebuah gerutuan pelan keluar dari mulutnya saat ia menyandarkan kepalanya di bahuku.
“Tapi Kakak tidak ada di mansion... aku bosan sekali. Edeline di bawa pergi berlibur oleh Irina dan tuan Roland, dan mansion itu terasa sangat luas jika hanya ada aku dan Ayah. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya dunia luar yang sering diceritakan dalam buku-buku di perpustakaan.”
Mendengar pengakuan polosnya, pertahanan ketegasanku runtuh seketika. Aku terkekeh rendah, merasakan getaran tawa itu di dadaku.
Ada benarnya juga; mansion Grozen bisa menjadi tempat yang sangat sepi bagi anak seaktif dia, apalagi saat Roland dan Irina sedang pergi.
“Dunia luar itu memang luas, tapi juga penuh dengan orang-orang licin seperti 'Paman Ular' tadi,”
balasku sambil menepuk punggungnya pelan.
“Lain kali, jika kau bosan, tarik saja jubahku sampai robek. Aku akan membawamu keluar, tapi dalam pengawasanku. Paham?”
Cloudet tidak menjawab, namun aku merasakan ia mengangguk kecil sembari memejamkan mata, perlahan mulai terlelap karena kelelahan setelah transformasi besarnya tadi. Aku terus berjalan menembus kabut senja, menyadari bahwa perjalananku sebagai seorang kakak baru saja memasuki level kesulitan yang jauh lebih tinggi.
...----------------...
Langkahku terhenti tepat di depan pintu besar mansion. Cahaya lampu gantung yang benderang di lobi menghantam wajah Cloudet, membuatnya menggeliat kecil dan sedikit terjaga dari tidur lelapnya.
Napasnya masih teratur, namun kelopak matanya bergetar, mencoba menyesuaikan diri dengan transisi dari kegelapan hutan ke terang benderang rumah.
Di sana, berdiri tegak seperti bayangan yang tak lekang oleh waktu, Jover menunggu. Wajahnya datar, terlalu datar, hingga nyaris terlihat seperti topeng porselen yang dingin.
Matanya menyapu kondisi kami yang berantakan; pakaianku yang terkena jelaga api dan gaun Cloudet yang dikotori tanah hutan.
"Dari mana kalian berdua?" tanya Jover.
Suaranya rendah, tidak mengandung nada marah, namun memiliki otoritas yang mutlak.
Aku hanya bisa mengulas senyum lelah, menggeser posisi gendonganku agar Cloudet lebih stabil.
“Putri kecilmu ini baru saja melakukan kunjungan ke Hutan Scotra, Ayah. Dan secara istimewa, dia bertemu dengan 'tuan rumah' di sana," ucapku dengan nada sarkasme yang kental.
Aku berharap Jover akan memberikan ceramah panjang tentang keamanan atau setidaknya menunjukkan sedikit kepanikan.
Namun, ayahku hanya menatap Cloudet sejenak, lalu melangkah maju dan menepuk pundakku dengan tangan besarnya yang berat.
"Dia bisa melindungi dirinya sendiri," ucap Jover singkat, suaranya tenang.
“Sudah waktunya dia mengenal dunia luar. Scotra hanyalah awal."
Tanpa penjelasan lebih lanjut, ia berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan lorong mansion, meninggalkanku yang hanya bisa mendesah pasrah.
Bagi Ayah, pertarungan hidup dan mati hanyalah bagian dari kurikulum pertumbuhan.
Aku membawa Cloudet ke kamarnya, membaringkannya di atas kasur yang empuk dengan sangat hati-hati.
Aku menarik selimut sutra hingga ke dadanya, lalu karena rasa lelah yang luar biasa mulai menghantam sendi-sendiku, aku ikut merebahkan diri di sampingnya.
Aku terlalu lelah untuk berjalan ke kamarku sendiri; kepalaku berdenyut, dan aroma hutan masih menempel di kulitku.
Tepat saat aku memejamkan mata, sebuah suara lirih keluar dari bibir Cloudet. Suara itu terdengar rapuh, jauh dari sosok monster kecil yang baru saja menghajar Kael.
"Kakak... kakak tidak akan jahat padaku, kan?" tanya Cloudet.
Aku terdiam. Jantungku seolah berhenti berdetak sesaat. Pertanyaan itu menggantung di udara, menciptakan atmosfer yang menyesakkan.
Aku menoleh padanya, menatap wajah tidurnya yang tampak begitu polos di bawah remang lampu kamar.
Aku menganggap itu hanyalah igauan atau sisa trauma kecil dari pertemuan dengan Kael yang tak bermakna dalam.
Aku baru saja akan membisikkan janji pelindungan, namun Cloudet, yang masih dalam kondisi setengah sadar dan mengantuk, melanjutkan kalimatnya dengan nada sarkasme yang tajam.
"Kalau kau jahat... kau terlihat seperti goblin."
Senyumku yang awalnya lembut langsung berkedut marah. Tanganku yang tadinya ingin mengusap kepalanya kini terkepal gemas.
Goblin? Benarkah? Setelah aku bertaruh nyawa untuk mencarinya, dia menyamakanku dengan makhluk hijau yang jelek itu?.
"Kau benar-benar nakal, Cloudet," bisikku kesal, meski aku tahu dia sudah kembali terpejam dalam tidur nyenyaknya.
Aku mendesah sekali lagi, memandangi langit-langit kamar.
Di tengah kekesalanku, ada rasa hangat yang tak bisa kupungkiri. Setidaknya, sifat menyebalkannya adalah tanda bahwa dia memang baik-baik saja.
Aku pun memejamkan mata, membiarkan kantuk membawaku pergi, tepat di samping adik kecilku yang kini menjelma menjadi masalah paling indah dalam hidupku.
Bersambung