NovelToon NovelToon
Ta'Aruf Cinta

Ta'Aruf Cinta

Status: tamat
Genre:Spiritual / Tamat
Popularitas:957k
Nilai: 4.9
Nama Author: Khinanti Nomi

JANGAN DI BACA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khinanti Nomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Sungguh wanita mampu menyembunyikan cinta selama 40 tahun, Namun tak sanggup menyembunyikan cemburu meski sesaat.

{ Ali Bin Abi Thalib}

🍂

"Assalamualaikum." salam seseorang dari arah luar.

"Waalaikumsalam." jawab Alif kemudian berjalan kearah pintu.

"Sopo Lif ?, ('Siapa Lif ?") tanya Bapak yang masih duduk di kursi kayu jatinya.

"Ndak tau ini Pak." jawab Alif

"Cari, siapa ya Bu?" tanya Alif kepada wanita Paruhbaya seusia Ibunya.

"Saya sedang mencari Arum." Jawab wanita itu.

"Kalau boleh saya tahu Ibu ini siapa?" tanya Alif lagi.

"Siapa toh Lif? kenapa kamu nanya seperti itu sama tamu." suara Bapak sedikit teriak karena duduk di kursi kayu jatinya agak jauh dari pintu luar.

Alif pun mempersilahkan masuk dan bertepatan dengan Arum memberikan secangkir teh hangat kepada Bapak dan menaruhnya di atas meja kayu. "Ini Pak tehnya."

"Nggeh matursuwon Nduk. ('iya Terimaksih Nak.") jawab Bapak sambil menyunggingkan senyum.

Interaksi antara Ayah dan putrinya pun tidak luput dari pandangan Alif dan tamunya. Bapak yang sedang menyeruput tehnya pun tidak sadar ada tamu yang sudah di bawa Alif masuk. Nampak tidak asing wajah dari tamunya.

Bapak pun mempersilahkan tamunya untuk duduk, Arum yang melihat tamu pun tersenyum. "Saya Bibiknya Dimas." ucap Bi Chan saat sudah duduk.

Bi Chan menyadari Arum akan kearah belakang pun menghentikan langkahnya dan meminta agar Arum duduk. "Kamu Nak Arum kan? Duduk saja tidak perlu pergi ini juga menyangkut Nak Arum." pinta Bi Chan.

"Maafkan saya Bu. Saya tidak tahu kalau Ibu ini Bibinya Mas Dimas," Jawab Alif

"Tidak apa-apa. Maksud kedatangan saya kesini untuk menyampaikan konsep pernikahan. Berhubung orangtua Dimas sudah tidak ada saya yang mewakili serta Pamannya belum bisa meluangkan waktu saatini. Dan Dimas juga sedang dipingit." ucap Bi Chan menjelaskan.

"Seharusnya Nak Dimas tidak perlu merepotkan diri?" jawab Bapak.

"Dimas ingin, dia bisa memberikan kebahagiaan untuk calon istrinya." Bi Chan memandang Arum. "Cantik, Anggun, berhijab, kriteria Dimas." batin Bi Chan

Arum pun tersenyum dan pamit untuk kebelakang 'dapur'. "Saya permisi sebentar." di jawab anggukan Bi Chan.

"Assalamualaikum." salam Ibu, Baru pulang dari mejelis ta'lim Ibu-ibu perumahan.

"Waalaikumsalam." Jawab orang-orang yang berada di dalam serempak.

"Eh Bapak sama Alif sudah pulang. Ada tamu juga?" Ibu berjalan kearah tamu yang duduk membelakangi pintu, Dan mengulurkan tangan. Tapi kemudian Ibu terkejut dengan tamunya. Ibu pun memandang Bapak mencoba mencari jawaban. "Ini Bibinya Dimas Bu." jelas Bapak.

Ibu masih terlihat bingung karena Bibinya Dimas begitu mirip dengan wanita yang dulu pernah menyukai Suaminya. "Saraswati?" Ibu pun bersuara.

"Saya Suryani, Saya adiknya Almarhumah Saraswati, Kami kembar." Bi Chan menjelaskan.

"A..pa? Almarhumah?" Ibu dan Bapak terkejut mendengar kata Almarhumah Saraswati.

"Iya. Saraswati menderita kanker payudara dan sudah stadium 4 sewaktu pulang dari pondok pesantren." Bi Chan kembali memberi penjelasan.

Ibu dan Bapak Arum saling pandang. Pantasan Bapak merasa tidak asing dengan wajahnya ternyata kembaran Saraswati.

"Saya juga mengenali Bapak Ali, ketika baru masuk kedalam rumah ini. Ternyata Orangtua Arum adalah laki-laki yang pernah dulu Saraswati sukai." Bi Chan.

Fatimah teringat dulu saat waktu di pondok pesantren, Begitu dekat Ali suaminya dengan Saraswati. Sampai banyak yang menjodohkan mereka. Membuat hatinya cemburu, tapi Fatimah selalu menyembunyikan kecemburuannya, agar tidak ada murid pondok yang tahu kalau Fatimah juga menyukai Ali.

Tetapi entah mengapa takdir berkata lain. Ali menyatakan ingin berta'aruf dengannya, Membuat Fatimah bingung. Sebenarnya perasaan Ali untuk siapa. Mungkin takdir Allah berkata lain dengan kebingungannya.

"Maaf kami tidak tahu soal itu, selama di pondok, dulu Saraswati tidak pernah bilang apapun padaku." ucap Bapak Ali.

"Tidak apa. Itu juga sudah masa lalu." ucap Bi Chan.

Arum pun keluar dengan membawa nampan berisi minuman dan aneka kue kering yang tadi pagi dia buat.

Bi Chan pun mempersilakan Arum duduk di sampingnya..

"Monggo dicicipi Bu. ('Silahkan dicicipi Bu.") Arum menaruh minuman diatas meja.

"Panggil saja, saya Bi Chan." pinta Bi Chan.

"Kita kembali bicarakan konsep pernikahan yang di minta Dimas." Ucap Bi Chan sambil menyesap teh buatan Arum. "Enak, Manisnya pas." batin Bi Chan.

"Lalu Nak Dimas mau konsep yang seperti apa?" tanya Bapak.

"Dimas mau adat Jawa, beserta gamelan. Dan malam resepsi adat China. Dimas tidak ingin dia melupakan adat keduanya dihari bahagianya nanti." jelas Bi Chan.

"Baiklah, itu saran yang bagus, Nanti saya akan mempersiapkannya?" ucap Bu Fatimah.

"Maaf Bu Fatimah, Tapi Dimas dan Saya sudah memesan WO. Dimas ingin calon mempelai beserta keluarganya tidak ingin kerepotkan." jelas Bi Chan sembari menyunggingkan senyum.

"Baiklah jika itu keinginan Nak Dimas." Jawab Bapak.

Bi Chan lagi-lagi menatap Arum intens membuat Arum malu-malu dan menundukkan kepala. Tanpa bersuara.

"Tapi ada yang Saya ingin sampaikan..,?" ucap Bi Chan ragu.

"Bicara saja, Bu Suryani tidak perlu ragu." jawab Bapak.

"Memm.. Dimas ingin melakukan Akad dulu satu minggu sebelum resepsi," jelas Bi Chan membuat orang-orang yang ada di sana kaget atas permintaan Dimas.

Arum pun mendongakkan kepala menatap Bi Chan. "Kenapa tiba-tiba Dimas mau merubahnya?" tanya Arum ragu.

"Dimas ingin foto prewedding dan menyentuhmu secara halal." jelas Bi Chan dan di angguki orangtua Arum.

Bi Chan pun pamit setelah memberikan penjelasan mengenai konsep pernikahan Dimas. Bi Chan tidak menyangka Dimas akan menikah dengan Arum, Anak dari laki-laki yang di cintai kakaknya.

Takdir

🍂🍂🍂

"Bagaimana Bi? Apa keluarga Arum mau menerima konsepnya Bi." tanya Dimas was was setelah Bi Chan sampai di rumah.

"Tenang, sudah beres." jawab Bi Chan mengacungkan jempol.

"Alhamdulillah." Dimas menghela napas lega. "Lalu tentang Akad itu, Sudah Bibi bicarakan?" tanya Dimas.

Bi Chan pun mengangguk. "Mereka setuju, toh seminggu atau dua minggu lagi tidak ada yang dapat menghentikan keinginanmu untuk menikahinya." jawab Bi Chan.

Pak Danu satpam rumah Dimas menghampiri Dimas dan Bi Chan yang sedang mengobrol di taman belakang. "Maaf Den Dimas mengganggu. Ini ada paket untuk Den Dimas tapi tidak ada nama pengirimnya." ucap Pak Danu lalu memberikan kotak yang sama dengan kotak tiga hari lalu.

"Biar Bi Chan yang buka." ucap Bi Chan.

Dimas pun memberikan kota itu kepada Bi Chan. "Pak Danu boleh pergi." ucap Dimas kepada Pak Danu.

Bi Chan mulai membuka kotak itu dan mendapati secarik kertas bukan hanya tulisan seperti pertama Dimas menerima paket 3 hari lalu. Secarik kertas itu berlumuran darah "Jangan pernah sentuh milikiku" isi tulisan kertas itu.

Bi Chan terkejut dengan kertas itu. "Dim, Sejak kapan kamu menerima paket seperti ini, dan sudah berapa kali kamu menerima paket seperti ini?" Tanya Bi Chan.

"Dua kali. Sejak Aku melamar Arum. Sudahlah Bi mungkin itu hanya iseng." jawab Dimas santai.

"Tidak Dimas, Kamu harus menyelidiki dari mana asal paket ini. 4 hari lagi kamu akan melangsungkan Akad dan mungkin ini dari orang yang menyukai Arum." jelas Bi Chan mencoba mengingatkan Dimas.

Dimas pun berpikir mungkin kata Bi Chan ada benarnya juga. Dimas pun kekamarnya dan mengecek cctv yang tersambung ke televisi dikamarnya. Terlihat di luar gerbang rumahnya seorang laki-laki menaruh paket Kotak dengan mengendari sepeda motor. Wajahnya tidak terlihat karena memakai helm.

Dimas pun menghubungi Pak Danu melalui telepon rumah. "Pak Danu, tolong awasi jika ada yang mengirim paket lagi." ucap Dimas.

"Baik Den." ucap Pak Danu dari seberang sana.

"Siapa yang sedang mengerjai ku, Apa benar paket itu datang nya dari orang yang pernah menyukai Arum. Tapi darimana dia tau alamat rumahku." gumamnya.

🍂

1
Nurfanya Rudie Ajalah
baru mampir kak
salam kenal🙏
Marchel
Aku mampir kak...
🧭 Wong Deso: terimakasih
total 1 replies
Jaya Jaya
luar biasa
Maulana ya_Rohman
ahirnya selesai juga.....😌
walaupun jarang coend🤭
Maulana ya_Rohman
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Maulana ya_Rohman
masih nyimak thor
🧭 Wong Deso: terimakasih
total 1 replies
Maulana ya_Rohman
masih nyimak
Maulana ya_Rohman
masih nyimak thor
Maulana ya_Rohman
jadi oenasaran nih🤔🤔🤔siapaya🤔🤔🤔
Maulana ya_Rohman
masih nyimak thor
Maulana ya_Rohman
kalau di daerahku namanya MENDUT thor🤭
Maulana ya_Rohman
nyimak masih thor
Maulana ya_Rohman
masih nyimak thor
Maulana ya_Rohman
di part ini kenapa ada bawang😭😭😭😭😭😭😭
Maulana ya_Rohman
masih nyimak thor
Maulana ya_Rohman
aku kok gak ketemu ya sama Meiying😔
padahal aku di daerah BOROBUDUR😌
Maulana ya_Rohman
hatiku kok ikutan sakit ya🤧
Maulana ya_Rohman
myimak masih....
no cimend🤐🤐🤐😐😐
Maulana ya_Rohman
mampir lagi thor
🧭 Wong Deso: terimakasih 🙏🏼
total 1 replies
Selvy Anton
Biasa
Sadrina Oyeh: 9rrtt
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!