Apa mungkin gadis kaya itu mencintai pria miskin sepertiku dengan tulus?
Namaku Aditya Pratama, aku adalah seorang musisi jalanan yang setiap hari harus menjajakan suaraku untuk mencari nafkah.
Aku lahir dan besar di Bandung, sudah setahun ini aku merantau di Ibukota untuk mencari pekerjaan agar aku bisa mendapatkan pekerjaan yang layak untuk menghidupi Ibu dan juga Adikku.
Malang betul nasibku, setahun sudah berlalu sejak pertama aku datang ke kota ini, tapi aku belum juga mendapatkan pekerjaan dan akhirnya aku harus tetap mengamen untuk menyambung hidup.
Dalam pekerjaanku tak jarang pula aku menghibur sepasang kekasih dengan suaraku, menyanyikan lagu-lagu cinta untuk mereka.
Tanpa pernah berpikir bagaimana dengan kehidupan cintaku sendiri, selama ini aku memang tak pernah memikirkan hal itu, saat ini yang terpenting bagiku adalah bagaimana caranya agar aku bisa menghidupi Ibu dan Adikku.
Tapi semua itu berubah semenjak aku mengenal seorang gadis bernama Riri, gadis cantik dan kaya raya anak pengusaha ternama dan sukses di negeri ini.
Apakah mungkin gadis populer, cantik dan juga kaya raya sepertinya mencintaiku yang hanya seorang pengamen jalanan.
UPDATE SETIAP HARI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Aditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat
Namun tak berapa lama kemudian Sinta memanggilku keruangan nya.
"Aduh kacau nih gara-gara telat tadi bakal di marahin deh gw." Pikirku
Aku bergegas pergi menemui Sinta di ruangannya.
"Adit, baru satu minggu lebih kamu kerja disini sudah mulai berani datang telat ya kamu, jangan mentang-mentang kamu titipan Pak Suryo ya jadi kamu bisa seenaknya."
"Iya Bu Sinta maaf saya tidak akan mengulanginya lagi."
Sinta pun terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ya sudah begini saja bagaimana jika satu Minggu ini kamu antar jemput saya menggunakan mobil saya, kebetulan kita searah kan." Ucapnya.
"Ta..Tapi Bu."
"Tidak usah membantah itu perintah atasan kamu langsung, sekarang kamu boleh keluar dari ruangan saya."
Kemudian akupun kembali menjalani rutinitas ku sebagai karyawan, sore itu jadwal lembur bulan ini sudah dibuat, setelah kulihat Sinta memberikan aku Lembur full selama 1 Minggu ini.
Malamnya pukul 21:00 malam akhirnya pekerjaan ku sudah kuselesaikan semua.
"Hadeuh kenapa Sinta ngasih lemburan ke gw seminggu full ya, padahal Minggu kemarin digilir perhari jatah lemburnya, tapi nggak apa-apa deh biar cape yang penting uang lemburan nya lumayan."
Kemudian Sinta keluar dari ruangan nya.
"Sudah selesai Dit?"
"Sudah Bu."
"Ayo kita pulang."
Akhirnya malam itu kami pulang bersama dengan menggunakan mobil Sinta.
"Dit maaf ya kalau tadi agak keras sama kamu, walau bagaimanapun aku harus tetap jaga image sebagai atasanmu di kantor."
"Iya Sin Aku ngerti kok."
"Jujur sebenernya aku nyuruh kamu seminggu ini pulang bareng aku dan kasih kamu lembur seminggu full karena aku masih takut pulang sendiri karena kejadian kemarin, kamu nggak apa-apa kan?"
"Oh jadi itu alasan nya Sin, ya udah nggak apa-apa kok, santai aja."
"Dan kalau aku suruh kamu pagi-pagi jemput aku itu untuk hukuman kamu karena sudah telat hari ini, hitung-hitung supaya kamu tidak telat lagi."
Sesampainya dirumah Sinta lalu dia menawariku mampir untuk minum, namun tentu saja kutolak karena malam sudah larut dan aku takut sudah tidak ada angkutan umum yang lewat lagi.
"Jangan lupa besok jam 7 kamu sudah sampai sini Dit, jangan sampai telat."
"Oke, siap bos." Sambil mengacungkan jempolku.
Sesampainya di kontrakan akupun kemudian hanya mengabari Riri melalui chat bahwa aku sudah pulang, karena waktu sudah menunjukan pukul 12 tengah malam.
keesokan harinya aku terbangun pukul 06:00 pagi, akupun bersiap dan kemudian menuju rumah Sinta.
"Eh Adit sudah sampai." Sambutnya.
"Iya Sin."
"Masuk dulu Dit, belum jam 7 sini sarapan bareng aku."
"Ngga usah ngerepotin Sin makasih."
"Jangan malu-malu, ini perintah bos kamu lho." Ucap Sinta sambil tersenyum.
Akhirnya dari awal aku kenal dengannya baru kali ini aku melihat dia tersenyum dan ternyata senyumannya itu terlihat sangat manis.
"Fokus...Fokus Inget Riri." Kataku dalam hati.
"Kenapa malah bengong disitu, ayo sini."
Akhirnya karena dia terus memaksa pagi itu aku sarapan dirumahnya.
"Gimana Dit, sudah satu Minggu lebih kamu bekerja, betah?"
"Betah kok Sin."
"Bagus kalau begitu, eh ngomong-ngomong waktu itu kita bertemu dirumah pak Direktur dan kamu bilang kamu mau jemput Riri, kamu pacaran sama dia?"
"Emmm iya Sin sudah hampir 2 bulan ini aku sama Riri barengan."
"Oh begitu, ayo habiskan makanan nya lalu kita berangkat."
Kami pun kemudian menuju kantor, belum lama aku sampai di kantor kemudian Riri menelponku.
"Halo Ri, tumben pagi-pagi udah telpon."
"Iya, aku kangen kan semalem kamu gak telpon aku."
"Iya maaf aku semalam pulang udah larut, jadi aku ngga mau ganggu kamu tidur."
"Kok kamu pulang malem sih sayang, lembur lagi?"
"Iya nanti aja ya jam istirahat aku telpon lagi,aku jelasin, nggak enak nih udah jam masuk kantor nanti aku kena masalah lagi."
Akhirnya kami berdua mengakhiri telpon itu,Kemudian Sinta datang menghampiriku.
"Adit nanti jam 10 kamu ikut saya keluar untuk rapat ya."
"Baik Bu Sinta."
"Sekarang kamu siapkan dulu bahan-bahan rapat kita."
"Memang nya rapat mengenai apa bu?"
"Kita akan bertemu dengan kepala-kepala HRD Suryo grup membahas mengenai tata cara pengembangan dan training bagi karyawan."
"Baik Bu akan saya siapkan semuanya."
Dan waktu pun telah menunjukan pukul 10:00 saat itu, kemudian kami berdua berangkat menuju tempat rapat dan ketika sampai disana semua kepala HRD dari Suryo grup telah berkumpul, akhirnya rapat pun dimulai.
Ditengah rapat waktu sudah menunjukan pukul 12:00 siang dan belum ada tanda-tanda bahwa rapat akan berakhir, tiba-tiba saja ponsel ku berbunyi, sontak saja para kepala HRD yang sedari tadi serius mengikuti jalan nya rapat serentak mengarahkan pandangan mereka padaku, terlihat pula Sinta yang duduk di sebelahku memegang keningnya karena melihat ulahku.
"Bu Sinta bagimana sih anak buahnya ndak profesional sekali, masa lagi rapat ponsel nya ndak di matiken." Ucap salah seorang kepala HRD yang ada disana.
"Iya nih mengganggu saja."Timpal yang lain.
Lalu kami berdua meminta maaf dan akupun akhirnya mematikan ponsel ku.
Akhirnya pada pukul 13:00 siang rapat selesai dan ditutup kemudian para peserta rapat pun meninggalkan ruangan satu persatu, kamipun bergegas menuju mobil Sinta.
"Maaf ya Sin karena ulah aku kamu jadi malu dan meminta maaf pada para kepala HRD tadi."
"Gak apa-apa kok Dit, salah aku juga yang nggak kasih tau kamu untuk mematikan ponsel, aku lupa kalau kamu baru pertama ikut rapat, ya itung-itung buat pengalaman kamu juga."
"Sekarang kita mau langsung balik kantor atau gimana."
"Kita makan siang dulu ya, di dekat sini ada cafe yang makanan nya enak banget lho, pasti kamu suka, lagipula gara-gara rapat tadi kita kan belum makan siang, biar kali ini aku yang traktir."
"Wah serius nih ditraktir? Jadi enak kan aku nya ditraktir sama bos."
Sinta pun tersenyum mendengar kata-kataku lalu kemudian kami menuju cafe tersebut untuk makan siang.
"Kamu mau makan apa Dit? Oh iya steak disini enak lho, kamu mau coba."
"Emmm terserah kamu aja deh Sin, kalo aku sih dipesenin apapun pasti kumakan, maklum laper banget hahaha."
Kemudian Sinta memesankan makanan untuk kami, selagi menunggu makanan datang aku meminta izin Sinta untuk pergi sebentar karena hendak menghubungi Riri karena sebelumnya aku sudah berjanji akan menelpon nya.
"Halo Ri tadi kamu telpon aku ya?"
"Adiiiit jahat aku sebel, masa teleponku di reject sih udah gitu dihubungi lagi nggak bisa, kamu lagi apa sih."
"Maaf sayang, aku tadi diajak rapat sama Sinta terus lupa deh ngabarin kamu."
"Tuh kan udah mulai lupa sama aku...Sebel..Sebel..Sebel."
"Nggak gitu sayang, tadi tuh aku sibuk nyiapin bahan rapat terus pas sampai di tempat rapat rapatnya langsung mulai deh,kamu jangan marah ya."
"Iya iya aku ngga marah kok, lagian aku malah seneng kok kalau kamu serius kerja, tadi cuma kesel aja karena kamu reject teleponku."
"Oh iya Ri, minggu ini aku full lembur jadi pulang malem terus."
"Yaaaah jadi ngga bisa ketemu dong."
"Ya mau gimana lagi, tapi aku janji Sabtu ini kita jalan-jalan ya."
"Bener nih? awas ya kalo boong."
"Iya janji, udah dulu ya Syg aku lagi mau makan nih soalnya belum sempet makan siang."
Kemudian telepon itupun berakhir dan aku kembali ke tempat Sinta.
ceritanya...👍👍👍👍
tapi gw support banget dengan karya lu bg, walau banyak yg bilang mutar mutar tapi gw suka, spesifikasi dari setiap aktor nya jelas dan dapet, jadi bisa memahami hampir seluruh peran yang di bicarakan, dan menurut gw itu sih adrenalin banget.
lupain aja kata orang, mereka belum pernah baca novel one piece, dan lainnya kali lebih panjang dan blibet di tambah flashback nya wkwk
the best, gw support lu