Aku tidak bisa menceraikan mu shafa, tapi aku juga tidak bisa meningalkan alena, apa lagi saat ini alena tengah hamil anak ku, dan aku juga sudah berjanji untuk bertanggung jawab.
begitu lah ke egois san Cakra sebagai seorang suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja ardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecantikan Shafa
"Kini Shafa mengendarai kendaraan roda empat nya sendiri.
sengaja gak minta pak mamat untuk mengantarkan karena pengen menikmati perjalanan.
Mobil yang dikendarai Shafa tiba di pelataran cafe tempat yang sudah dijanjikan sebelum nya.
Ia melangkah kan kakinya berjalan masuk cafe. matanya mengarah ke setiap pengunjung cafe, mencari keberadaan pria yang katanya sudah datang lebih dulu.
Seseorang yang terletak di meja paling ujung terlihat melambaikan tangan.
Shafa melangkah mendekat untuk memastikan.
Dan benar saja pria itu Adit.
Tanpa diperintah Shafa menarik kursi, kemudian menjatuhkan bobot tubuh nya disana.
"Apa kabar Shafa,, ?
" Baik..! jawab Shafa dingin.
Sudah lama kita gak ketemu tiba-tiba kamu menghubungi aku, ucap Adit
"Iya,, ! aku mau minta bantuan mu.
dengar-dengar kamu sekarang sudah jadi pengacara terkenal.
" Buat kamu apa sih yang engak'!
jawab Adit terkekeh.
Adit adalah teman SMA dulu, keduanya memang berteman tak begitu dekat. namun Adit pernah beberapa kali menyatakan cintanya pada Shafa. meski selalu ditolak.
terakhir Adit menembak Shafa sebelum pria itu terbang keluar negri untuk melanjutkan kuliah nya disana.
namun lagi lagi di tolak dengan alasan masih pengen menyelesaikan kuliahnya.
sejak saat itu mereka jarang bertemu lagi.
Tanpa terasa hampir 1 jam keduanya asik ngobrol.
kini wanita itu memutuskan untuk kembali,
begitu juga dengan Adit yang juga harus kembali.
******
"Shafa, Mematutkan diri didepan cermin.
Kulit yang memang aslinya putih gak pualam, tanpa polesan pun membuat nya berseri.
Hanya saja Cakra dibutakan oleh cinta dan ambisi untuk memiliki alena.
sehingga secantik apa pun yang sudah merupakan halal untuk nya tanpak biasa saja.
sebab baginya kesempurnaan dan hanya ada pada Alena.
"Shafa mengambil beberapa alat make up, dan memulai mengaplikasikan nya tipis-tipis pada wajahnya.
Wajah yang sudah dipoles tipis-tipis itu kini tampak merona jauh levis segar dan menawan.
Wanita itu memang memiliki paras cantik alami yang mewarisi almarhum mah bundanya.
Hingga sedikit saja sentuhan make-up membuat nya terlihat berkali kali lipat lebih mempesona.
Terlebih dengan balutan hijab yang selalu menjadi mahkota dikepala nya.
serta gamis yang dipadukan dengan warna senada, membuat penampilan nya kali ini tampak Anggun.
"Hari ini panggilan sidang pertama perceraian nya dengan Cakra digelar.
ia akan hadir didampingi oleh pengacara Adit.
" Drruuut,,, drruuut,,, drruuut,,
Suara dering telepon terdengar menjerit.
Shafa mengambil dan memeriksa nya, ternyata Adit.
"Hallo,, Dit"! Assalamu'alaikum,"
Sapa Shafa setelah benda pipih itu ia tempelkan di daun telinga nya.
"Waalaikumsalam,, Fa'!
Aku sudah didepan rumah mu ini, kamu sudah siap,?
" Aku siap dit"!
Tunggu, aku akan turun sekarang juga.
"Baiklah"
Sahut Adit seraya menutup telepon nya.
" Shafa bergegas turu dan ternyata pengacara itu sudah dipersilahkan masuk oleh mbok nah.
dan tengah menunggu nya diruang tamu.
Shafa menyunggingkan senyum, mendekat kemudian menjatuhkan bokongnya di tempat duduk yang bersebrangan dengan Adit.
"Habiskan dulu teh nya Dit,,!
Ujar shafa seraya melirik jam di pergelangan tangan nya.
Adit mengangguk kemudian menyeruput teh buatan mbok nah yang masih mengepul asap
" Kamu yakin aku akan menang dipersidangan nanti Dit"?
Bagaimana kalau mas Cakra menghambat proses nya"?
tanya Shafa yang terlihat gusar.
Keputusan nya untuk berpisah dengan cakra sudah benar-benar bulat, dan ia tak ingin proses nya berjalan sulit.
" Yakinlah,, Fa,, "!
Apalagi mereka telah melakukan pernikahan siri tanpa seijin kamu, mereka berdua juga melakukan perselingkuhan dibelakang mu sampai hamil sebelum menikah.
Aku yakin suami mu tak bisa mengelak.
Adit meletakkan teh nya kembali di atas meja.
Shafa mengangguk mengerti.