Awalnya Su Lingyu adalah penggarap spiritual dari zaman modern. Namun karena sebuah kecelakaan konyol, ia terpaksa memasuki sebuah dunia novel percintaan zaman kuno, menjadi selir Pangeran Bupati Bo Mingchen sekaligus karakter penjahat wanita yang akan berakhir menyedihkan.
Su Lingyu tidak mau berakhir menyedihkan. Jadi dia dengan patuh menandatangani perjanjian perceraian lalu pergi. Dengan tubuh koi nya yang makmur, Su Lingyu berhasil melalui semua masalah yang timbul setelah bergesekan dengan pemeran utama wanita.
Namun, kenapa rasanya ada yang salah dengan plotnya? Dan apa yang salah dengan Bo Mingchen yang perlahan menipunya kembali ke istana pangeran bupati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemukan Harta Lainnya
Su Lingyu tidak tahu jika dirinya telah menjadi sasaran kebencian Ling Hua. Hari-hari nya sangat damai. Meski dia telah menjadi putri daerah, Bo Mingchen mengurus hampir semua urusannya.
Sekarang dimengerti alasan Kaisar Bo mengangkat Su Lingyu menjadi putri daerah. Selain untuk melindunginya, ini juga mencegah beberapa pihak yang memiliki ide buruk terhadapnya.
Dengan adanya Kaisar Bo di belakang, orang-orang itu tidak akan berani untuk membuat masalah.
Selebihnya lagi, Su Lingyu harus mengatasinya sendiri.
Beberapa hari kemudian, Bo Mingchen datang lagi ke rumahnya untuk mengecek bukit di kebun halaman belakang. Dia mengajak Su Lingyu untuk memeriksanya.
"Kenapa kamu mengajakku segala? Apakah kamu takut ada serigala dan macan tutul di sana?" canda gadis itu.
"Jika serigala dan macan tutul tinggal di sana, mereka pasti sudah lama memakan mu di malam hari," jawab Bo Mingchen seadanya.
Bicara dengan gadis itu membutuhkan banyak tenaga untuk berpikir. Jadi jangan anggap serius semua yang dikatakannya.
"Bagaimana mungkin itu terjadi? Yang ada, aku pasti akan menangkap dan menguliti bulu mereka. Lumayan untuk dijadikan kerajinan," jelas Su Lingyu terlihat bersungguh-sungguh.
"...."
Bo Mingchen bahkan tak bisa membayangkan jika Su Lingyu menangkap macan tutul dan serigala.
"Baiklah, tunggu sebentar," kata Su Lingyu berkompromi.
Dia memang belum punya waktu untuk pergi ke bukit kecil itu karena sibuk mengurus kebun sayurnya. Sekarang Bo Mingchen mengajaknya. Lebih baik pergi untuk mengawasinya sendiri. Siapa yang tahu apa yang akan dilakukan pria itu di sana.
Namun sebelumnya, Su Lingyu mengeluarkan buku novel dari ruang spiritualnya. Dia ingin tahu apa saja yang tercatat selama dia tidak memeriksanya akhir-akhir ini.
Rupanya, Ling Hua kini memiliki ketidaksukaan terhadap dirinya. Ini bukan hanya sekadar tidak suka, tapi kebencian. Alasannya sangat sederhana, hanya karena Su Lingyu sekarang adalah putri daerah. Oleh karena itu, Ling Hua ingin menggunakan cara kotor untuk menjebak Su Lingyu di masa depan.
“...” Su Lingyu yang membaca baris ini merasa tidak terduga.
Kenapa dia merasa jika Ling Hua adalah antagonis dan dia protagonisnya?
Apakah plotnya terbalik? Pikirnya.
“Kiwi,” panggilnya.
Seekor hamster putih muncul di bahu gadis itu. “Ada apa, tuanku.”
“Bukankah ini agak tidak masuk akal? Kenapa aku merasa jika Ling Hua mulai gelap (jahat) sekarang? Cepat atau lambat, dia mungkin tidak akan menjadi pemeran utama wanita yang baik hati lagi.”
“Bukankah itu bagus? Kamu menjadi baik dan dia jahat. Setidaknya kamu tidak akan berakhir menyedihkan seperti di cerita aslinya.” Kiwi tidak peduli sama sekali.
Su Lingyu menyimpan buku itu kembali ke ruang spiritualnya. Ia bukannya tidak mau, hanya saja agak disayangkan jika tidak melihat percintaan antara dua pemeran utama dalam novel tersebut.
Tak lama, suara Bo Mingchen terdengar dari luar. Pria itu tampaknya kesal karena menunggu lama. Su Lingyu yang cemberut akhirnya keluar kamar dan pergi ke dapur, mengambil beberapa bumbu.
Ketika tiba di bukit belakang, pasti ada hewan buruan. Ia bisa makan daging di sana. Jangan membuat diri sendiri kelaparan.
“Apa yang kamu lakukan? Kenapa begitu lama?” Bo Mingchen melihatnya keluar, sudah tidak senang.
“Apa lagi, tentu saja siapkan banyak hal. Ini tidak seperti kamu yang bahkan tak membawa apa-apa.”
Su Lingyu memegang tas kecilnya dan berjalan duluan. Bo Mingchen melihatnya berganti pakaian dan memegang tas yang entah isinya apa, hanya mendengus. Dasar wanita! Terlalu merepotkan untuk diurus, pikirnya.
Jalan menuju ke bukit halaman belakang dipenuhi dengan gulma dan ilalang tinggi, ada beberapa tanaman obat di sana dan Su Lingyu menggalinya untuk dipindahkan ke kebun sayur. Tanam saja di sambil sayuran, tidak apa-apa.
Ada pun Bo Mingchen yang membuka jalan, tidak memperhatikannya.
Bukit halaman belakang tidak terlalu tinggi. Keduanya bisa berkeliling cukup lama, memeriksa apa saja yang ada di sana dan beristirahat. Memang tidak ada harimau atau macan tutul di sana.
“Bisakah kita istirahat dulu? Aku lapar,” kata gadis itu.
“Makanlah buah,” kata Bo Mingchen saat menemukan ada pohon pir berbuah di dekat batu besar.
“Aku ingin makan daging. Bisakah kamu berburu?”
Sudut mulut Bo Mingchen berkedut. Dia tidak membawa peralatan berburu jadi hanya meminta penjaga gelapnya untuk turun tangan.
Saat ini, Su Lingyu sedang menggali ubi jalar yang tumbuh liar di sana tak jauh dari puncak bukit. Ia terkejut. Dia tidak tahu bagaimana bisa ubi jalar ini tumbuh di masa lalu dan dari mana asalnya. Namun melihatnya ada di depan mata, ia senang.
Ubi jalar sangat enak dan empuk saat dipanggang, digoreng atau dikukus, rasanya manis. Kebetulan ubi jalar yang ditemukan Su Lingyu tergolong jenis yang madu.
“Apa yang kamu gali?” tanya Bo Mingchen penasaran.
“Ini ubi jalar. Pernahkah kamu memakannya?”
Bo Mingchen melihat ubi jalar yang menurutnya tak berbeda jauh dengan kentang, hanya menggelengkan kepala. Su Lingyu mengetahuinya.
“Benar juga, siapa yang akan memakan hal-hal seperti ini? Kamu seorang pangeran.”
“Aku bukannya tidak mau makan hal-hal seperti itu, tapi memang belum pernah menjumpainya. Jangan salah paham!” ralat pria itu.
Gadis itu senang sekali menuduhnya yang tidak-tidak. Apakah dia sebegitu jahatnya?
Su Lingyu tidak lagi berdebat dengannya. Dia menggali beberapa ubi jalar dan menyisakan beberapa untuk ditanam nanti. Menanam ubi jalar juga bagus.
Kemudian, Su Lingyu merasa ada yang salah dengan tanah yang baru saja dia gali, dia jelas menggali ubi jalar, kenapa tampaknya dia baru saja mencongkel sesuatu yang keras di dalamnya?
Akhirnya, Su Lingyu menggali lebih luas dan ingin tahu apa yang ada di bawah sana.
“Kiwi, ini bukan batu besar bukan?” tanyanya di dalam hati,
Kiwi mencicit di bahu Su Lingyu. “Tuan, ada harta di bawah sini!”
“Hah?”
Su Lingyu bingung. Dia menggali lebih dalam lagi dan akhirnya memang menemukan sesuatu yang keras. Ketika dilihat, itu memang batu. Tapi … kenapa ada yang aneh dengan batu tersebut.
“Bo Mingchen, datang dan lihat!” katanya antusias. Ia bahkan tidak sopan menyebut pria itu dengan namanya secara langsung.
“Apa?” Bo Mingchen yang tengah membuat tusukan untuk membakar daging buruan, menghampirinya.
“Coba lihat apa ini?”
Bo Mingchen berjongkok dan melihat sesuatu yang tengah digali gadis itu. Sudut mulutnya berkedut. “Itu hanya batu.”
“Kamu rabun, bukan? Lihatlah lebih hati-hati!”
Bo Mingchen kesal dan melihatnya dengan hati-hati. Baru kemudian ia berubah serius dan menyentuh permukaan batu yang terkubur di bawah tanah itu. Ini bukan batu biasa. Permukaannya berbeda. Samar-samar terlihat warna hijau di sekeliling permukaan.
Memikirkan beberapa kemungkinan, Bo Mingchen segera mengambil belati dari tangan Su Lingyu dan menggores sedikit batu itu. Setelah memastikannya, dia yakin ini adalah bahan mentah giok.
Lagi-lagi Su Lingyu yang menemukan harta, keberuntungan macam apa lagi ini?